Lompat ke isi

Komando Pertahanan Udara Nasional

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Kohanudnas)
Komando Pertahanan Udara Nasional
Lambang Kohanudnas
DibentukFebruari 9, 1962; 63 tahun lalu (1962-02-09)
Negara Indonesia
Tipe unitPertahanan Udara Nasional
Bagian dariTentara Nasional Indonesia
MotoLabda Prakasa Nirwikara
Baret HITAM 
Situs webhttps://tni.mil.id/
Tokoh
PanglimaMarsekal Madya TNI Andyawan Martono Putra
Kepala StafMayor Jenderal TNI Trias Wijanarko
InspekturLaksamana Pertama TNI Mohammad Nazif
Kepala Kelompok Staf AhliMarsekal Pertama TNI Nurtantio Affan

Komando Pertahanan Udara Nasional (disingkat Kohanudnas) merupakan komando utama terpenting dalam kekuatan Markas Besar TNI. Kohanudnas berfungsi sebagai 'mata dan telinga' yang mengawasi berbagai pergerakan pesawat udara yang melintasi wilayah Indonesia.

Sebagai pengawal keamanan wilayah Indonesia, dalam melaksanakan tugasnya Kohanudnas didukung oleh Satuan antariksa-antariksa di berbagai daerah.

Latar belakang

[sunting | sunting sumber]

Setelah dibentuk, Kohanudgab memiliki peran yang besar dalam rangka pembebasan Irian Barat. Kohanudnas sendiri telah terbentuk sejak tanggal 9 Februari 1962, tetapi untuk merebut Irian Barat maka unsur Kohanudnas tergabung dalam Komando Pertahanan Udara Gabungan (Kohanudgab) yang berada di bawah Komando Operasi Mandala (Kola) yang dibentuk pada tanggal 2 Januari 1962 dengan Panglima AU Mandala Kolonel Udara Leo Wattimena (kemudian naik menjadi Komodor Udara). Tugas Kohanudgab dalam operasi Trikora adalah merencanakan, mempersiapkan, dan menyelenggarakan operasi-operasi militer dengan tujuan mengembalikan wilayah Irian Barat ke dalam kekuasaan Negara Republik Indonesia dan mengembangkan situasi militer di wilayah Irian Barat sesuai militer di wilayah Irian Barat sesuai dengan taraf perjuangan di bidang diplomasi agar dalam waktu sesingkat-singkatnya di wilayah Irian Barat secara de facto dapat diciptakan daerah bebas atau dapat didudukan unsur-unsur kekuasaan pemerintah daerah Republik Indonesia. Ada 4 unit Radar yang ditempatkan di Wilayah ADC II Kohanudgab, yaitu 1 unit radar EW berada di Morotai, 1 unit radar EW berada di Ambon, 1 unit radar GCI/EW di Bula, dan 1 unit radar EW berada di Langgur (pindah ke Letfuan). Di antara 4 unit radar, unit radar yang paling efektif dalam operasi adalah adalah radar di Bula dipimpinan Mayor Udara Aried Riyadi. Radar ini terletak di sebelah Timur Pulau Seram dan di tengah mandala operasi.

Dalam Kola, unsur rudal belum dilibatkan, tetapi beberapa senjata banyak berperan untuk melindungi pasukan sendiri, mulai dari PSU (Penangkis Serangan Udara) dari AURI maupun ALRI, sampai dengan ARSU (Artileri Sasaran Udara). Di bawah kendali PSU ada 3 batalyon dan di bawah ARSU ada 4 batalyon. Batalyon-batalyon ARSU tersebut adalah Batalyon Pattimura (tersebar di sekitar Pangkalan Udara di Morotai), Batalyon Amahai, Batalyon Laha, dan Batalyon Letfuan. Senjata yang dimiliki berupa triple gun kaliber 30 mm buatan Oerlikon di Swiss.

Dalam operasi Mandala di laut Kohanudgab mengandalkan kekuatan KRI yang berada di Pulau Plang, Bitung, dan Ambon. ALRI mengerahkan beberapa jenis kapal cepat roket (fast rocket ship) sebanyak 12 kapal buatan Rusia, kapal anti kapal selam (sub chaser) buatan Yugoslavia kemudian 4 kapal motor torpedo boat (MTB) ditambah 3 kapal LST (landing ship tank). Kapal-kapal tersebut beroperasi di daerah Dobo, Pulau Ujir, Pulau Kasir di Kepulauan Aru, dan Tanjung Weda, Kepulauan Kei. Selama kegiatan operasi pangkalan kapal berada di Halong, Ambon, kemudian kekuatan Udara TNI AL berada di bagian Utara Pulau Ambon dengan 6 Pesawat Gannet dan 2 Pesawat Albatross.

Pada saat itu, tidak semua KRI dilengkapi radar pertahanan udara, beberapa KRI hanya memiliki persenjataan meriam antiserangan udara. Selain itu, kekuatan KRI ini tidak dapat dimanfaatkan sebagai gap filler (pengisi celah kosong) bagi radar pertahanan udara, sedangkan pesawat Gannet dan Albatross berfungsi untuk pengamanan KRI dan jalur pelayarannya.

Angkatan Udara Belanda (Militaire Luchtvaart) yang berpusat di Biak berusaha mempertahankan penjajahan di bumi Irian Barat. Pada April 1960, Belanda semakin meningkatkan kekuatannya dengan menghadirkan kapal induk “Karel Doorman” untuk memperkuat Detasemen AU Belanda (Zcommando Luchtverdediging Nederlauds Nieuw/CLUNNG). Komposisi kekuatannya adalah 12 pesawat tempur Neptune P2V-7, 6 pesawat helicopter, 4 pesawat Dakota C-47, dan 2 unit radar Type 15 MK-IV (Early Warning). Dua Radar tersebut berada di Pulau Numfor Biak dan Pulau Raja Zumpat, Sorong. Radar EW dengan jarak jangkau 200 NM penempatannya telah dipersiapkan sejak tahun 1954, sedangkan kekuatan pesawat buru sergap berada di Sorong, dengan wilayah patroli sepanjang garis pantai Selatan Irian Barat dan Sorong Fakfak, Kaimana hingga Merauke. Sedangkan wilayah operasi pertahanan udara berada di pantai Utara Irian Barat dari Sorong, Manokwari, Biak, dan Jayapura. Selain 2 unit radar darat di atas, Belanda juga telah memasang sebuah Radar di Pulau Wundi dan diperkuat dengan Radar kapal perang.

Pada operasi Trikora ini keunggulan udara berada di pihak Indonesia karena Hanud Kohanudgabla juga diperkuat dengan pesawat pembom strategis Tu-16 yang mampu menjangkau pusat konsentrasi kekuatan tempur Belanda yang berada di Biak.

Alih komando dan pengendalian

[sunting | sunting sumber]

Pada Tanggal 26 Januari 2022 Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Fadjar Prasetyo, S.E., M.P.P., menerima Alih Komando dan Pengendalian (Kodal) Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) di Aula Gatot Soebroto, Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur. Kodal Kohanudnas yang semula berada di bawah jajaran Mabes TNI dialihkan menjadi di bawah jajaran Mabesau, ditandai dengan penyerahan Pataka Kohanudnas dari Panglima TNI kepada Kasau.[1]

Menghidupkan kembali

[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 10 Agustus 2025, Presiden RI Prabowo Subianto melalui Peraturan Presiden Nomor 84 Tahun 2025 meresmikan pembentukan sejumlah satuan baru, diantaranya adalah pembentukan kembali Kohanudnas, yang kini dipimpin oleh seorang perwira bintang tiga. Marsekal Madya TNI Andyawan Martono Putra P., S.I.P. dilantik menjadi Panglima Kohanudnas (Pangkohanudnas).[2][3][4]

Pangkohanudnas melantik pejabat-pejabat utama Kohanudnas pada tanggal 16 Oktober 2025, beberapa di antaranya adalah Mayor Jenderal Trias Wijanarko sebagai Kepala Staf, Laksamana Pertama Mohammad Nazif sebagai Inspektur, dan Marsekal Pertama Nurtantio Affan sebagai Kepala Kelompok Staf Ahli.[5]

  • Satuan Antariksa (segera terbentuk)

Saat ini, Kohanudnas dipimpin oleh seorang Komandan yang berpangkat Marsekal Madya TNI. Saat ini jabatan Panglima Kohanudnas (Pangkohanudnas) diduduki oleh Marsdya TNI Andyawan Martono Putra

Pada tanggal 2 Juli 2003 sekitar 11:38, Military-Civil Coordination (MCC) di Bandar Udara (Bandara) Ngurah Rai, Bali, menangkap pergerakan manuver beberapa pesawat asing di wilayah sebelah barat laut Pulau Bawean. Dalam pemantauan melalui radar, penerbangan gelap itu jumlahnya berubah-ubah antara empat pesawat kadang-kadang hingga sembilan pesawat yang melakukan manuver di atas Pulau Bawean tanpa memiliki izin perlintasan di lintasan udara (air way) Indonesia yang ada. (Indonesia memiliki lebih dari 1.000 perlintasan domestik dan 42 perlintasan internasional). Penerbangan gelap itu pun kadang berada di ketinggian 15.000 kaki, tetapi kadang naik sampai 30.500 kaki dengan kecepatan sampai 450 knot. Kemudian menghilang beberapa waktu dan setelah beberapa saat kemudian muncul kembali di daerah tersebut. Akibat manuver penerbangan gelap tersebut, sejumlah penerbangan sipil Indonesia yang melintas di wilayah tersebut mendapat gangguan, antara lain seperti penerbangan pesawat Bouraq dari Banjarmasin menuju Surabaya. Pilot pesawat Bouraq mengira itu pesawat tempur TNI AU sehingga hal tersebut dilaporkan ke Air Traffic Controller (ATC) di Bandara Juanda, Surabaya.

Selain tidak memiliki izin, penerbangan gelap tersebut juga mencurigakan karena tidak mengadakan kontak radio sama sekali ke ATC yang berada di Bandara Soekarno-Hatta (Tangerang), Bandara Juanda (Surabaya), atau dengan ATC Bandara Ngurah Rai (Denpasar). Untuk itulah, setelah melalui perkembangan yang terekam, Panglima Kosek Hanudnas II Makassar Marsekal Pertama TNI Pandji Utama Iskaq memerintahkan satu penerbangan yang terdiri dari dua pesawat F-16 Fighting Falcon I dari Skadron Udara 3 Lanud Iswahyudi, Madiun, untuk melaksanakan identifikasi visual. Sekitar pukul 18.15, kedua pesawat F-16 TNI AU mendarat kembali di Lanud Iswahyudi setelah menyergap dan memperingati kelima pesawat F-18 Hornet, yang mengaku dari US Navy yang tengah mengawal armada Navy yang mengarah ke timur melalui perairan internasional. Setelah penyergapan tersebut, kelima pesawat F-18 Hornet tersebut langsung pergi menjauh.

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. "Kasau Terima Alih Kodal Kohanudnas"
  2. Erik Purnama Putra (8 Agustus 2025). "Kohanudnas: Dihapus Era Jokowi, Prabowo Hidupkan Lagi". Republika.co.id. Diakses tanggal 17 Oktober 2025.
  3. M Nurhadi (9 Agustus 2025). "Sejarah Kohanudnas: Bubar Era Jokowi, Muncul Kembali Masa Presiden Prabowo". Suara.com. Diakses tanggal 17 Oktober 2025.
  4. Nikolaus Harbowo (28 Mei 2025). "Dilebur sejak Tiga Tahun Silam, Reaktivasi Kohanudnas Jadi Strategi TNI Hadapi Perang Masa Depan?". Kompas.id. Diakses tanggal 17 Oktober 2025.
  5. "Pelantikan Pejabat Utama, Kohanudnas Kukuhkan Langkah Menuju Pertahanan Udara Kuat, Adaptif dan Integratif". Akun Instagram Resmi Kohanudnas (@kohanud_nasional). 16 Oktober 2025. Diakses tanggal 17 Oktober 2025.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]