Klompen

Klomp (pelafalan [klɔmp] ⓘ, bentuk jamak: klompen pelafalan [ˈklɔmpə(n)] ⓘ) adalah alas kaki tradisional Belanda yang terbuat dari kayu, menutupi seluruh kaki. Bersama keju, bunga tulip, dan kincir angin, klompen telah menjadi ikon budaya Belanda yang diakui secara luas sebagai salah satu simbol nasional negara tersebut.
Sejarah
[sunting | sunting sumber]
Sulit melacak kapan persisnya klompen muncul dan bagaimana bentuknya berevolusi. Dari sandal bersol kayu, pada awal abad ke-12 muncul patijn (atau platijn, trip, atau tripklomp) – sejenis alas kaki dengan sol kayu berkaki dua atau tiga dan pengikat dari kulit. Diduga, klompen kemudian berkembang dari patijn ini. Sol kayu dengan pengikat kulit atau kain sebenarnya sudah ada sebelum klompen, ditemukan di Eropa maupun Asia, termasuk di zaman Romawi dan Galia. Klompen kayu tinggi yang tertutup rapat adalah ciri khas Eropa, terutama di Belgia, Belanda, dan Prancis. Arkeolog menemukan klompen abad ke-12 di berbagai lokasi Eropa, sementara di luar Eropa misalnya ada klompen yang dipakai pendeta Shinto Jepang.
Sejak awal, klompen dibuat di pedesaan saat musim dingin. Para petani membuatnya sendiri saat tak ada pekerjaan di ladang. Pekerja seperti tukang batu, petani kebun, nelayan, dan pekerja logam juga memakainya. Pada abad ke-19, hampir setiap desa di Belgia dan Belanda punya perajin klompen untuk memenuhi kebutuhan warga. Profesi ini berkembang pesat dari pertengahan abad ke-19 hingga setelah Perang Dunia II. Saat perang, klompen kembali banyak dipakai karena sepatu kulit langka. Namun sejak 1950-an, popularitasnya menurun seiring merebaknya sepatu kulit dan bot karet, serta meningkatnya kemakmuran. Klompen pun mulai dianggap sebagai simbol kemiskinan. Popularitasnya sempat naik lagi akhir 1960-an hingga awal 1970-an ketika kaum hippie dan kalangan alternatif mulai memakainya.[1] Kini, klompen masih dipakai sebagai alas kerja, terutama oleh petani, meski versi kayunya semakin tergantikan sepatu klompen kulit yang lebih nyaman. Pada tahun 2017, hanya tersisa 15 perajin klompen di Belanda.[2]
Klompen biasanya dibuat dari kayu dedalu atau poplar Kanada, meski sebenarnya hampir semua jenis kayu bisa digunakan (kecuali yang bergetah karena akan membuat pisau lengket saat pembuatan). Pada hari biasa orang memakai klompen polos, sementara untuk ke gereja di hari Minggu dipakai klompen yang dicat atau dihias. Satu orang biasanya memakai lebih dari sepasang klompen per tahun. Tapi mereka sangat hemat - klompen retak tidak langsung dibuang, melainkan diperbaiki dengan memberi alur dan diikat dengan kawat besi. Jika sudah benar-benar rusak, klompen dijadikan tempat pakan ternak, kotak sarang burung, atau kayu bakar. Klompen juga bisa disebut sebagai sepatu keselamatan sebelum istilah itu populer - misalnya dipakai pekerja SIDMAR untuk melindungi kaki dari percikan logam panas.
Di Belanda
[sunting | sunting sumber]Sepatu klompen tertua yang ditemukan di Belanda berasal dari abad ke-11. Pusat pembuatan klompen tradisional Belanda terutama terletak di bagian timur dan selatan negara itu. Sint-Oedenrode menjadi lokasi Klompenbeurs (Pasar Klompen), sementara Museum Klompen Internasional berada di Eelde. Beberapa museum klompen lain tersebar di Noordbergum, Luttenberg, dan Goor.
Hingga kini, klompen tetap populer sebagai cenderamata khas Belanda. Biasanya klompen ini dihiasi lukisan kincir angin atau bunga tulip. Beberapa versi bahkan tidak terbuat dari kayu, melainkan dari keramik biru Delft. Dalam pakaian tradisional Staphorst, para perempuan mengenakan klompen putih. Sementara di Pulau Marken, klompen tradisional biasanya berwarna cokelat tua dengan hiasan mawar merah atau merah muda dan daun hijau, serta nama pemakainya yang ditulis di antara hiasan tersebut.
Klompen pengantin juga memiliki tradisi unik. Calon mempelai pria akan membuat klompen pengantin yang diukir dengan motif "toverknopen" (simpul sihir) atau "krakelingen" (simpul tiga) selama masa pelayaran, yang hanya dikenakan selama masa pertunangan. Setelah menikah, klompen biasanya dipajang di bangku depan tempat tidur pengantin.
Sejak tahun 1920-an, Sint-Oedenrode menyelenggarakan Hari Pembuat Klompen tahunan yang mencakup penilaian nasional. Klompen dinilai berdasarkan kenyamanan, model, dan kualitas. Pemenang klompen buatan tangan mendapat Penghargaan Zilveren Effer (sejak 1997), sementara klompen buatan mesin memenangkan Zilveren Klomp (sejak 1930).
Galeri
[sunting | sunting sumber]- Seorang pria memakai klompen
- Klompen digantung di pagar
- Miniatur klompen
- Mesin pembuat klompen
- Tiga orang gadis memakai klompen dan pakaian tradisional Belanda, 1919
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Koers, Anneke (19 September 2019). "Klompen en hun schepper" (PDF).
- ↑ "Nog maar 15 klompenmakers in Nederland". ad.nl. Diarsipkan dari asli tanggal 22 Mei 2022. Diakses tanggal 10 Maret 2020.