Kisah si Bangau Merah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Kisah Si Bangau Merah merupakan cerita silat fiksi karya Kho Ping Hoo yang merupakan episode ke-15 dari 17 episode saga Bu Kek Sian Su. Kisah ini merupakan kelanjutan langsung dari Kisah si Bangau Putih. Cerita dari episode ini dilanjutkan dalam episode ke-16 yang berjudul Si Tangan Sakti.

Alur cerita[sunting | sunting sumber]

Episode ini diawali dengan cerita kedekatan hubungan Yo Han dan Tan Sian Li kecil. Karena watak Yo Han yang unik karena anti kekerasan sehingga tidak mau belajar silat, Tan Sin Hong dan Kao Hong Li khawatir akan menular kepada Tan Sian Li, suami istri itu lalu merencanakan untuk menitipkan Yo Han pada sebuah kuil, yang secara tidak sengaja bocor ke Yo Han hingga anak itu berencana untuk pergi atas inisiatif sendiri.

Kesempatan itu muncul saat Tan Sian Li diculik oleh Ang I Moli, Yo Han yang berhasil membuntuti menawarkan dirinya sebagai ganti Tan Sian Li, meski sempat dicegah oleh Kao Hong Li tetap saja Yo Han ngotot tidak mau melanggar janjinya sendiri. Untungnya dia bertemu dengan Gangga Dewi yang datang ke daratan tengah dari Bhutan untuk mencari khabar tentang ayahnya, meski sempat berhasil dibebaskan, akhirnya Yo Han jatuh lagi ke tangan Ang I Moli yang kali ini datang dengan dua temannya. Gangga Dewi selamat dari keroyokan itu setelah Suma Ciang Bun tiba-tiba muncul dan mengubah hasil pertempuran. Pertemuan kedua orang yang saling mengasihi ini membangkitkan kembali kisah roman masa muda mereka yang tragis. Kedua sejoli ini akhirnya memutuskan untuk menikah sebelum melanjutkan perjalanannya.

Sementara itu, perkumpulan Thian-li-pang pimpinan Ouw Ban yang dikenal sangat berambisi mengusir penjajah Mancu bekerjasama dengan Pek-lian-kauw yang diwakili Ang I Moli berencana mengadu domba perkumpulan-perkumpulan besar (Siauw-lim-pai, Bu-tong-pai, Go-bi-pai, dan Kun-lun-pai) yang mereka anggap sebagai penghalang perjuangan, rencana ini berjalan dengan mulus dan terjadilah kegemparan luar biasa akibat meningkatnya kekerasan di kang ouw. Keluarga Pulau Es dan Istana Gurun Pasir secara tidak sengaja terkena getah dari pertikaian ini akibat menolong salah seorang sobat mereka dari salah satu perkumpulan besar, bahkan Kao Cin Liong dan istrinya Suma Hui hampir saja menemui ajal jika saja tidak ditolong oleh Yok-sian Lo-kai. Merasa ada kejanggalan, dua keluarga pedekar ini berinisiatif mempertemukan semua kelompok-kelompok yang bertikai untuk meredakan kekacauan, rencana ini berlangsung dengan baik, akibatnya mereka semakin dibenci oleh Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw.

Saat peristiwa besar itu berlangsung, Yo Han secara ajaib menarik perhatian Lauw Han Kui, wakil ketua Thian-li-pang, yang memang sedang mencari anak berbakat untuk dipersembahkan kepada uwa-supeknya, Thian-te Tok-ong, yang sedang mencari murid. Keinginannya itu tercapai setelah menukarnya dengan 12 remaja yang akan digunakan oleh Ang I Moli sebagai korban kesuksesan ilmu barunya. Dengan segera Yo Han berpindah tangan dan menjadi murid Thian-te Tok-ong yang secara cerdik mengajarinya ilmu samadhi dan silat tangguh yang disamarkan menjadi ‘tarian’. Secara tidak sadar,Yo Han yang membenci silat justru perlahan terbentuk menjadi pendekar pilih tanding, bahkan Ang I Moli sendiri yang kemudian datang memamerkan ilmu barunya hanya bisa mencak-mencak karena cuma bisa imbang melawan Yo Han. Tan Sian Li sendiri juga berkembang menjadi pendekar wanita tangguh setelah mendapat gemblengan langsung dari ayah dan ibunya.

Yo Han yang merasa iba dengan seorang tahanan misterius, masuk ke dalam sumur dengan maksud untuk menolongnya. Keberuntungan menghampirinya karena tahanan itu ternyata adalah Ciu Lam Hok—orang termuda dan terhebat dari 3 serangkai pendiri Thian-li-pang—yang dicurangi oleh kedua kakak seperjuangannya karena perbedaan paham mengenai arah Thian-li-pang. Mengetahui hal itu, Thian-te Tok-ong dan Ban-tok Mo-ko murka dan mengubur sumur itu dengan bebatuan dengan harapan keduanya tewas, namun mereka tidak menyangka bahwa di dalam sumur itu ada gua lain yang membaut keduanya selamat. Yo Han pun diangkat menjadi murid Ciu Lam Hok—yang berhasil meruntuhkan prinsip Yo Han mengenai silat—dan mewarisinya dengan ilmu super sakti yang belum pernah tampil di dunia luar, Bu-kek Hoat-keng.

Beberapa tahun berlalu. Suma Ceng Liong dan istrinya Kam Bi Eng yang telah mempunyai seorang murid bernama Liem Sian Lun, menagih janji kepada Tan Sin Hong untuk menjadikan Tan Sian Li muridnya. Dalam keberangkatannya menuju kediaman Suma Ceng Liong, keluarga ini berpapasan dengan rombongan Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw yang sedang merencanakan pembunuhan para pangeran dengan memanfaatkan Permaisuri Harum (Hong-houw]] pada acara ulang tahunnya. Meski Tan Sian Li diculik, Tan Sin Hong tetap meneruskan niatnya untuk mencegah rencana itu, dan berhasil setelah mendapat bantuan tak terduga dari Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi yang ternyata adalah karib Permaisuri Harum. Akibatnya Ang I Moli dan beberapa anteknya tertangkap dan dijatuhi hukuman mati. Tan Sian Li sendiri yang sempat berganti penculik 2 kali akhirnya diselamatkan oleh nenek Bu Ci Sian yang juga sedang menuju kediaman menantunya, Suma Ceng Liong. Mereka semua akhirnya dapat berkumpul dan bertemu kembali di acara ulang tahun Suma Ceng Liong. Sementara itu Permaisuri Harum yang merasa bersalah menjadi sakit-sakitan dan akhirnya meninggal.

Yo Han sendiri yang telah berubah menjadi pendekar yang sulit dicari tandingannya, keluar dari gua untuk melaksanakan 3 amanat gurunya sebelum meninggal, yaitu: mengembalikan Thian-li-pang ke jalan kebenaran, mencari Ciu Ceng adik gurunya, dan menemukan kembali mutiara hitam di tanah selatan (Miauw). Kebetulan pada saat yang sama Thian-li-pang sedang tegang karena niat Ouw Ban untuk membalas kematian putranya kepada kerajaan ditentang oleh gurunya sendiri, Ban-tok Mo-ko, orang kedua dari 3 serangkai. Selisih paham ini berakhir dengan kematian Ouw Ban ditangan gurunya sendiri. Memanfaatkan situasi, Yo Han masuk dan mengabarkan tentang kematian gurunya, hal itu menyebabkan kedua kakak seperjuangannya shock dan saling menyalahkan, dua orang ini kemudian bertempur dan berakhir dengan kematian keduanya. Lauw Han Kui yang kemudian terpilih menjadi ketua baru berjanji untuk membawa kembali Thian-li-pang ke cita-cita luhurnya.

Yo Han kemudian berhasil menemukan adik gurunya yang ternyata adalah bangsawan kerajaan, putranya Gan Seng adalah pengawas harta negara. Namun keluarga Ciu Ceng sedang dalam kesulitan berat, Yo Han menawarkan bantuannya untuk mencari beberapa pusaka yang hilang dicuri dari gudang kerajaan. Penyelidikannya mengarah ke Coan Ciangkun, seorang panglima yang sedang marah kepada keluarga itu akibat lamarannya ditolak oleh Gan Bi Kim, putri Gan Seng. Penyeldikannya berhasil dan pusaka itu berhasil dikembalikan setelah lebih dulu Yo Han memaksa Coan Ciangkun membuat perjanjian untuk tidak lagi mengganggu keluarga Gan Seng. Untuk berterimakasih, Ciu Ceng berniat menjodohkan Yo Han dengan Gan Bi Kim, namun Yo Han menolak dengan alasan belum memenuhi pesan ketiga dari suhunya, padahal alasan utamanya adalah karena dia belum bisa melupakan Tan Sian Li. Yo Han lalu meneruskan pengembaraannya mencari pusaka mutiara hitam peninggalan gurunya ke selatan.

Setelah lewat lima tahun, Tan Sian Li telah berubah sosok menjadi pendekar wanita pilih tanding, kombinasi Pek-ho Sin-kun yang telah dimodifikasi ayahnya menjadi Ang-ho Sin-kun serta suami-istri Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng yang mengajarinya jurus-jurus Pulau Es dan lembah Bukit Nelayan ditambah ilmu-ilmu pengobatan dari Yok-sian Lo-kai, membuat gadis ini sudah sulit untuk ditemui tandingannya. Saat Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi mampir dalam perjalanannya menuju Bhutan, Tan Sian Li berkeras untuk ikut dan ditemani oleh suhengnya Liem Sian Lun. Perjalanan itu sempat terhambat oleh perselisihannya dengan kelompok pemberontak pimpinan Lulung Lama dan muridnya Cu Ki Bok, dua pembesar kelompok Ang I Lama di Tibet, yang menyamar menjadi rombongan penghibur jalanan.

Dalam perjalanannya pulang dari Bhutan, Tan Sian Li yang kali ini hanya ditemani oleh Liem Sian Lun yang diam-diam mencintainya bersua kembali dengan kelompok Ang I Lama. Pertikaian tak terelakkan antara keduanya, maski akhirnya Ang I Lama yang kali ini dibantu oleh pangeran Gulam Sing dan Pek-lian-kauw berhasil memojokkan Tan Sian Li dan Liem Sian Lun, beruntung datang pertolongan dari seorang pendekar misterius berjuluk Sin-ciang Tai-hiap (Pendekar Tangan Sakti), pendekar penolong yang tidak pernah membunuh musuh-musuhnya, bahkan cenderung menyadarkannya dari jalan sesat. Meski Tan Sian Li berhasil dibawa kabur, namun Lien Sian Lun tertawan.

Belakangan Tan Sian Li shock saat tahu secara tidak sengaja bahwa sebenarnya Sin-ciang Tai-hiap adalah orang yang selama ini dinanti dan dirindukannya, Yo Han. Identitas asli Yo Han yang tidak banyak diketahui orang justru memudahkannya untuk menyamar menjadi utusan Sin-ciang Tai-hiap dan menantang orang terkuat di Ang I Lama untuk bertanding sebuah bukit dengan perjanjian bila menang maka Liem Sian Lun harus dibebaskan, bila kalah maka akan membantu perjuangan Ang I Lama mencapai tujuannya. Dhobin Lama, sesepuh Ang I Lama dan guru Lulung Lama, menyanggupinya.

Saat mempersiapkan tempat pibu, secara tidak terduga Tan Sian Li bertemu dengan Souw Hwi Lan—istri mendiang sepasang garuda dari Beng-san (Beng-san Sian-eng)--dan Gak Ciang Hun putranya. Meski dalam pertarungannya Yo Han menang, namun Liem Sian Lun yang secara licik telah dipedaya dan dipengaruhi sihir Pek-lian Sam-li, malah justru menculik Tan Sian Li dan membawanya ke markas Ang I Lama. Mengetahui hal itu, Yo Han segera menghubungi para pendekar taklukannya dan Souw Hwi Lan ke Potala untuk membentuk pasukan guna menghadapi Ang I Lama dan kroni-kroninya.

Demi memastikan keselamatan Tan Sian Li, Yo Han nekat memasuki sarang Ang I Lama yang sedang berkabung akibat kematian Dhobin Lama dengan mengaku sebagai utusan Sin-ciang Tai-hiap, meski diizinkan, keduanya tetap dikurung. Beruntung Cu Ki Bok yang diam-diam mencintai Tan Sian Li justru menempatkan mereka di suatu tempat yang nyaman, meski untuk itu dia harus bersilat lidah dengan Gulam Sing yang dari pertama sudah menginginkan Tan Sian Li untuk dirinya. Liem Sian Lun yang menyesali kecerobohannya sehingga bisa dipedayai dan menjadi budak nafsu Pek-lian Sam-li, berniat menyelamatkan sumoi-nya itu jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Hal itu benar-benar terjadi saat dalam sebuah perjamuan Lulung Lama mulai menyadari bahwa Yo Han sebenarnya adalah Sin-ciang Tai-hiap itu sendiri dan berniat untuk menghabisinya saat itu juga. Liem Sian Lun yang berniat mengabari Yo Han dan Tan Sian Li justru harus berhadapan dengan pangeran Gulam Sing dan berakhir dengan kematiannya. Cu Ki Bok yang tidak ingin Tan Sian Li celaka segera mengantarkan mereka berdua ke jalan rahasia di belakang gunung, malang, mereka tersusul oleh Lulung Lama dan Pek-lian Sam-li, Cu Ki Bok yang tidak ingin bertempur dengan gurunya sendiri justru tewas terkena senjata maut roda emas punya gurunya. Beruntung gabungan para pendekar dan Lama Potala menyerbu pada saat yang sama, sehingga keadaan menjadi berbali 180 derajat. Ditambah dengan kehadiran tiba-tiba dari Pendekar Suling Naga Sim Houw dan istrinya Can Bi Lan yang dalam pengembaraannya mencari putrinya yang hilang, semakin menambah beban kelompok pemberontak. Gulam Sing yang pada awalnya betempur melawan Yo Han, kini harus menghadapi Tan Sian Li dan suami-istri Pendekar Suling Naga, hingga pada satu kesempatan Sim Houw berhasil merobohkannya dan riwayatnya diakhiri Tan Sian Li dengan serangan sulingnya. Yo Han sendiri akhirnya berhasil melumpuhkan dan menawan Lulung Lama. Sisa pemberontak ada yang tertawan ada pula yang terbunuh, termasuk diantaranya Pek-lian Sam-li.

Setelah pertempuran mereda, Tan Sian Li, Souw Hwi Lan, Gak Ciang Hun, dan Yo Han memilih pulang ke daratan tengah, sedangkan Sim Houw dan Can Bi Lan tetap meneruskan pencarian anaknya. Kematian Liem Sian Lun cukup membuat shock Suma Ceng Liong dan istrinya, namun mereka berencana mengambil kembali seorang murid untuk terakhir kalinya dan mereka warisi semua kehebatan yang mereka miliki.

Kepulangan Tan Sian Li memang membuat hati suami-istri Tan Sin Hong dan Kao Hong Li sangat gembira, namun kehadiran kembali Yo Han di tengah mereka memunculkan kembali friksi lama yang mengganggu hubungan di antara mereka. Apalagi saat mereka mengetahui bagaimana perasaan Tan Sian Li terhadap Yo Han, meski mereka amat menyayangi Yo Han, namun mereka risih dengan kenyataan bahwa Yo Han beribukan seorang mantan wanita sesat. Diatmbah dengan perjanjian jodoh yang telah dibuat Tan Sin Hong dengan salah seorang cucu angkat kaisar, pangeran Cia Sun. Kegalauan suhu dan subonya ini sangat kentara di hadapan Yo Han. Meski dia sadar benar bagaimana perasaannya terhadap Tan Sian Li tidak bertepuk sebelah tangan, namun dia memilih untuk berbhakti kepada gurunya dan kembali memutuskan untuk pergi tanpa pamit dengan alasan mencari putri bibi gurunya.

(END)

Tokoh-tokoh[sunting | sunting sumber]

Protagonis[sunting | sunting sumber]

  • Tan Sin Hong si Bangau Putih
  • Kao Hong Li, istri Tan Sin Hong
  • Tan Sian Li si Bangau Merah, putri Tan Sin Hong
  • Yo Han Sin-ciang Tai-hiap (Pendekar Besar Tangan Sakti)
  • Gangga Dewi
  • Suma Ciang Bun
  • Kao Cin Liong
  • Suma Hui, istri Kao Cin Liong
  • Yok-sian Lo-kai (Pengemis Tua Dewa Obat)
  • Suma Ceng Liong
  • Kam Bi Eng, istri Suma Ceng Liong
  • Liem Sian Lun, murid Suma Ceng Liong, tewas oleh Ghulam Singh
  • Bu Ci Sian, ibu Kam Bi Eng
  • Souw Hwi Lan
  • Gak Ciang Hun, putra Souw Hwi Lan
  • Sim Houw Pendekar Suling Naga
  • Can Bi Lan, istri Sim Houw

Antagonis[sunting | sunting sumber]

  • Tee Kui Cu Ang I Moli (Iblis Wanita Baju Merah), tewas dihukum mati
  • Kwan Thian-cu
  • Kui Thian-cu
  • Pek Hong Siansu
  • Hek-bin-houw (Harimau Muka Hitam), tewas oleh Hek-pang Sin-kai
  • Pek-lian Sam-li (Tiga Wanita Teratai Putih): Ji Kui, Ji Hwa, dan Ji Kim (tewas oleh para pendeta Lama)
  • Hek-pang Sin-kai (Pengemis Sakti Tongkat Hitam)
  • Ghulam Singh, pangeran, tewas oleh Tan Sian Li
  • Thian-te Tok-ong (Raja Ra¬cun Langit Bumi), tewas terluka dalam
  • Ban-tok Mo-ko (Iblis Selaksa Racun), tewas oleh Thian-te Tok-ong
  • Ciu Lam Hok, mati tua
  • Ouw Ban, ketua, tewas oleh Ban-tok Mo-ko
  • Lauw Kang Hui, wakil ketua
  • Ouw Cun Ki, panglima, putra Ouw Ban, tewas dihukum mati
  • Ciang Sun, tewas oleh pengawal istana
  • Lulung Ma, ketua
  • Cu Ki Bok, murid Lulung Ma, tewas oleh Lulung Ma (berubah baik)
  • Badhu, tewas oleh para pendeta Lama
  • Sagha, tewas oleh para pendeta Lama

Figuran[sunting | sunting sumber]

  • Kian Liong, Kaisar
  • Siang Hong-houw (Permaisuri Harum)
  • Mo Si Lim, thaikam, tewas oleh Ciang Sun
  • Liu-tai ciangkun, panglima
  • Kian Ban Kok, pangeran, tewas oleh racun Ang I Moli
  • Ciu Ceng, adik Ciu Lam Hok
  • Gan Seng, putra Ciu Ceng
  • Gan Bi Kim, putri Gan Seng
  • Coan Ciangkun, panglima
  • Tong Gu, pengawal Coan Ciangkun
  • Cong Kak, pengawal Coan Ciangkun
  • Dobhin Lama, sesepuh Ang I Lama, mati tua
  • Go-bi Nung-jin (Petani Gobi), tokoh Go bi pai, tewas oleh Kui Thian-cu
  • Ciang Tosu, tosu Kun lun pai, tewas oleh Kwan Thian-cu
  • Phoa Cin Su, murid Bu tong pai, tewas oleh Lauw Kang Hui
  • Loan Hu Hwesio, murid Siauw lim pai, tewas oleh Lauw Kang Hui
  • Thian Kwan Hwesio, murid Siauw lim pai, tewas oleh serangan gelap Thian Li Pang
  • Acun, penduduk Nepal
  • Thong Nam, kepala suku Miau

Tempat-tempat[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]