Kirenaik
Kaum Kirenaik (The Cyrenaics, atau Kyrenaics; Yunani Kuno: Κυρηναϊκοί, Kyrēnaïkoí) adalah aliran filsafat hedonisme sensual dari Yunani kuno yang didirikan pada abad ke-4 SM, konon oleh Aristippos dari Kirene, meskipun banyak prinsip aliran ini diyakini kemudian diformalisasikan oleh cucunya, yang juga bernama Aristippos Muda. Nama aliran ini diambil dari Kota Kirene, tempat kelahiran Aristippos, dan merupakan salah satu mazhab awal yang berakar dari ajaran Socrates.
Kaum Kirenaik mengajarkan bahwa satu-satunya kebaikan intrinsik adalah kenikmatan—yang tidak hanya berarti ketiadaan rasa sakit (sebagaimana pandangan Epikuros), tetapi sensasi yang benar-benar menyenangkan. Menurut mereka, kenikmatan sesaat, terutama yang bersifat fisik, lebih kuat dibandingkan kenikmatan dari antisipasi atau kenangan. Selain itu, mereka juga mengakui nilai dari kewajiban sosial dan berpendapat bahwa kenikmatan dapat diperoleh melalui perilaku altruistik (menolong orang lain). Aliran Kirenaik punah dalam waktu sekitar satu abad dan kemudian digantikan oleh filsafat Epikurianisme.
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Sejarah aliran filsafat Cyrenaic berawal dari tokoh Aristippus dari Cyrene, seorang filsuf asal Libya yang lahir sekitar tahun 435 SM.[1] Aristippus dikenal sebagai salah satu murid langsung Socrates, dan melalui dirinya, pengaruh pemikiran Socratic diteruskan dengan arah yang sangat berbeda dari idealisme moral gurunya. Aristippus muda datang ke Athena untuk belajar di bawah bimbingan Socrates, tetapi setelah eksekusi gurunya pada tahun 399 SM, catatan mengenai kehidupannya menjadi lebih terbatas. Meski begitu, berbagai sumber menyebutkan bahwa ia pernah menghabiskan sebagian hidupnya di istana Dionysius dari Syracuse, di mana ia dikenal sebagai seorang filsuf yang hidup nyaman dan menikmati kemewahan—suatu hal yang mencerminkan prinsip dasar dari ajarannya tentang kenikmatan (hedonē).
Ajaran-ajaran Aristippus kemudian berkembang menjadi sistem pemikiran yang disebut aliran Cyrenaic (berasal dari nama kota kelahirannya, Cyrene). Meskipun tidak jelas secara pasti doktrin mana yang benar-benar dirumuskan oleh Aristippus sendiri dan mana yang dikembangkan oleh para pengikutnya, secara umum dapat dikatakan bahwa ia meletakkan fondasi utama filsafat hedonisme awal—yakni pandangan bahwa kenikmatan merupakan tujuan tertinggi dalam hidup dan ukuran utama segala tindakan moral. Namun, berbeda dari bentuk hedonisme kemudian seperti milik Epicurus, hedonisme kirenaik lebih menekankan pada kenikmatan sesaat dan pengalaman inderawi langsung, bukan kebahagiaan jangka panjang.
Penerus langsung Aristippus adalah putrinya, Arete dari Kirene, salah satu sedikit perempuan filsuf yang dikenal dalam sejarah Yunani Kuno. Arete memainkan peran penting dalam menjaga kesinambungan ajaran ayahnya, sekaligus mengajarkan filsafat tersebut kepada putranya, Aristippus Muda (Aristippus the Younger). Menurut sejarawan Aristocles, Aristippus Muda dianggap sebagai tokoh yang menyusun sistem Cyrenaic secara komprehensif dan sistematis, menjadikannya lebih dari sekadar kumpulan ajaran etika sederhana, melainkan sebuah filsafat moral yang utuh. Dengan demikian, garis keilmuan Cyrenaic terbentuk secara langsung melalui tiga generasi, dari Aristippus Tua kepada Arete, dan kemudian kepada Aristippus Muda.
Selain ketiga tokoh utama tersebut, aliran Cyrenaic juga melahirkan sejumlah pengikut dan pemikir penting lain, seperti Epitimides, Antipater dari Cyrene, Paraebates, Aristoteles dari Cyrene,[2] serta kemungkinan Dionysius the Renegade dan Aristoxenus dari Cyrene. Meskipun masing-masing tokoh ini memiliki variasi pandangan, mereka semua mempertahankan semangat dasar ajaran Aristippus, yaitu bahwa kenikmatan dan rasa bahagia merupakan hal yang baik secara alami, sementara rasa sakit adalah hal yang buruk secara alami. Tujuan hidup manusia, karenanya, adalah mencapai kenikmatan sebanyak mungkin dan menghindari penderitaan sejauh kemampuan memungkinkan.[3]
Namun, perlu dicatat bahwa dalam tradisi Cyrenaic, “kenikmatan” tidak selalu berarti kebahagiaan jangka panjang atau kebajikan moral seperti yang diajarkan oleh filsuf lain, melainkan kenikmatan langsung dan personal yang dirasakan pada saat itu. Dengan demikian, pandangan Cyrenaic menekankan subjektivitas pengalaman manusia—bahwa hanya individu itu sendiri yang dapat mengetahui dan menilai apa yang ia rasakan sebagai menyenangkan atau menyakitkan. Pandangan ini juga membawa implikasi epistemologis penting: Cyrenaic berpendapat bahwa pengetahuan manusia hanya terbatas pada sensasi langsung (immediate sensations) dan bahwa kita tidak pernah benar-benar mengetahui hakikat dunia luar, melainkan hanya bagaimana dunia itu terasa bagi kita.[4]
Dari sudut pandang sejarah filsafat, aliran Cyrenaic menjadi salah satu rantai awal dalam evolusi hedonisme Yunani, sebelum kemudian dimodifikasi dan dipertegas oleh Epicurus pada abad berikutnya menjadi bentuk hedonisme yang lebih reflektif dan rasional. Meskipun ajaran Cyrenaic akhirnya memudar,[5] pengaruhnya tetap terasa dalam perdebatan filosofis mengenai etika, kesenangan, dan hakikat kebahagiaan manusia. Aristippus dan para penerusnya telah meninggalkan warisan penting berupa pemikiran bahwa kehidupan yang baik bukanlah tentang menolak kesenangan, melainkan tentang menjalani pengalaman hidup dengan penuh kesadaran terhadap kenikmatan dan penderitaan yang menyertainya.
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Annas, Julia Elisabeth (1993). The morality of happiness. New York London: Oxford university press. ISBN 978-0-19-509652-1.
- ↑ CARRIKER, A. J. (1996-10-01). "SOME USES OF ARISTOCLES AND NUMENIUS IN EUSEBIUS' PRAEPARATIO EVANGELICA". The Journal of Theological Studies. 47 (2): 543–549. doi:10.1093/jts/47.2.543. ISSN 0022-5185.
- ↑ Reale, Giovanni; Catan, John R.; Reale, Giovanni; Reale, Giovanni (1987). From the Origins to Socrates. A history of ancient philosophy / Giovanni Reale. Albany, NY: State Univ. of New York Press. ISBN 978-0-88706-290-2.
- ↑ Copleston, Frederick Charles; Copleston, Frederick Charles (2011). Greece and Rome. A history of philosophy / Frederick Copleston (Edisi Reprinted). London: Continuum. ISBN 978-0-8264-6895-6.
- ↑ Lampe, Kurt (2017-05-09). The Birth of Hedonism: The Cyrenaic Philosophers and Pleasure as a Way of Life (dalam bahasa Inggris). Princeton University Press. ISBN 978-0-691-17638-3.