Khayr al-Nisa Begum
| Khayr al-Nisa Begum | |
|---|---|
| Mahd-i Ulya | |
Adil Giray bermesraan dengan Khayr al-Nisa Begum. Şeca'atname (1598) | |
| Istri utama Syah Safawiyyah | |
| Masa berkuasa | 11 Februari 1578 – 26 Juli 1579[1] |
| Kelahiran | Mazandaran, Iran Safawi |
| Kematian | 26 Juli 1579 Qazvin, Safavid Iran |
| Pemakaman | Pemakaman Fatima Masumeh |
| Pasangan | |
| Keturunan |
|
| Wangsa | Safawiyyah (dengan pernikahan) |
| Ayah | Mir Abdollah Khan II |
| Ibu | Fakhr al-Nesa Begum |
| Agama | Syiah Dua Belas Imam |
Khayr al-Nisa Begum (bahasa Persia: خیرالنساء بیگم; juga dikenal dengan gelar Mahd-i Ulya (مهد علیا), "momongan peringkat tertinggi"; wafat 26 Juli 1579) adalah seorang putri dinasti Marashi dari etnis Mazandarani Iran. Ia merupakan istri dari Mohammad Khodabanda (syah Safawiyyah yang memerintah dari 1578 hingga 1587) dan ibu dari Abbas I. Ia memiliki pengaruh politik yang kuat di masa-masa awal pemerintahan suaminya dan memerintah Iran secara de facto antara Februari 1578 dan Juli 1579. Kekuasaan tersebut ia peroleh setelah terjadi pembunuhan terhadap Pari Khan Khanum.[2]
Biografi
[sunting | sunting sumber]Latar belakang
[sunting | sunting sumber]Mahd-i Ulya merupakan putri dari Mir Abdollah Khan II, penguasa Marashi di provinsi Mazandaran. Keluarganya diklaim sebagai keturunan dari Zayn al-Abidin, Imam Syiah keempat.[3] Keluarga Mahd-i Ulya telah memerintah Mazandaran sejak masa pertengahan abad ke-14. Pada tahun 1565–66 Mahd-i Ulya melarikan diri ke wilayah kekuasaan Safawiyyah setelah ayahnya dibunuh oleh sepupu Mahd-i Ulya, Mir Sultan-Murad Khan. Shah Tahmasp I, penguasa Safawiyyah saat itu, menikahkan Mahd-i Ulya dengan Mohammad Khodabanda. Selama masa hidupnya, Mahd-i Ulya menyimpan rasa dendam kepada pembunuh ayahnya.[2]
Masa berkuasa
[sunting | sunting sumber]Pada tahun 1578, Ismail II meninggal dunia. Saudaranya, Mohammad Khodabanda naik tahta menjadi Syah Iran. Menurut sumber, Mohammad memerintah secara tidak efektif. Saudara perempuannya, Pari Khan Khanum berusaha mengambil kesempatan untuk berkuasa, didukung persekutuannya dengan faksi tentara Qizilbash. Selain Pari Khan, Mahd-i Ulya menyadari kekurangan suaminya, dan sejak Mohammad naik takhta, mengambil alih kendali urusannya memerintah dinasti Safawiyyah.[4]
Mohammad Khodabanda dan Mahd-i Ulya memasuki wilayah Qazvin pada 12 Februari 1578. Kedatangan mereka mengakhiri masa kekuasaan Pari Khan Khanum yang baru berjalan selama dua bulan dan dua puluh hari. Meskipun Pari Khan tetap efektif menjadi penguasa Safawiyyah, dia menghadapi penentangan dari Mahd-i Ulya dan sekutunya. Ketika Mahd-i Ulya tiba di kota, Pari Khan Khanum muncul dengan gembira menyambut mereka dengan mewah, sembari duduk di tandu yang disepuh emas, dijaga oleh 4.000–5.000 pengawal pribadi, asisten pribadi harem dan petugas istana.[4]


Mahd-i Ulya memahami kuasa Pari Khan di Qazvin melalui acara pertemuan sosial kerajaan, dan mengukuhkan apa yang telah diberitahukan kepadanya oleh Mirza Salman Jaberi, mantan wazir Ismail II tentang kekuasaan Pari Khan. Dia kemudian menyadari bahwa selama Pari Khan Khanum masih hidup, dia tidak akan mampu mengendalikan urusan negara Safawiyyah dan menjadi penguasa de facto dinasti. Menghadapi hal ini, Mahd-i Ulya merencanakan untuk membunuhnya.[4]
Rencana pembunuhan tersebut dilaksanakan pada tanggal 12 Februari 1578, dan dilaksanakan oleh Khalil Khan Afshar, yang pernah menjabat sebagai guru Pari Khan Khanum pada masa pemerintahan Tahmasp. Khalil Khan mencekik Pari Khan Khanum hingga mati.[4] Paman dari Pari Khan Khanum yang memiliki pengaruh yang besar, Shamkhal Sultan, dieksekusi tak lama kemudian. Tidak berhenti sampai di situ, putra Ismail II yang saat itu masih bayi, Shoja al-Din Mohammad Safavi juga dibunuh oleh Mahd-i Ulya.[3]
Kini, Mahd-i Ulya secara efektif adalah pemegang kekuasaan terbesar di wilayah Iran. Dia terus mengawasi seluruh perkembangan politik di negaranya dan membangun jaringan pendukung dengan melantik teman-teman dan kerabat ke jabatan-jabatan penting. Mahd-i Ulya disebut-sebut lebih menyukai orang-orang Tajik (Persia) ketimbang orang-orang Qizilbash. Salah satu hal yang ia perjuangkan adalah memajukan karier putra sulungnya Hamza Mirza (dengan mengorbankan saudaranya Abbas) dan melaksanakan pembalasan dendam atas kematian ayahnya. Karena pembunuh ayahnya, Sultan-Murad Khan, telah meninggal, dia melampiaskan dendamnya kepada Mirza Khan, putra dari Sultan Murad Khan. Para pemimpin Qizilbash telah berjanji kepada Mirza Khan untuk mengawalnya ke Qazvin, tetapi di tengah perjalanan menuju Qazvin, para pendukung Mahd-i Ulya menangkap dan membunuhnya.[2][3]
Kejatuhan
[sunting | sunting sumber]Para penguasa Qizilbash, tidak terima atas kematian Mirza Khan, mengirim petisi kepada Mohammad Khodabanda berisi permintaan untuk menyingkirkan Mahd-i Ulya dari kekuasaan, dan mengancam Qizilbash akan memberontak bila permintaan ini tidak dituruti. Khodabanda mempertimbangkan mengasingkan Mahd-i Ulya, tetapi Mahd-i Ulya menolak untuk menuruti tuntutan mereka. Akhirnya, sekelompok konspirator dari Qizilbash menyebarkan tuduhan bahwa Mahd-i Ulya memiliki hubungan gelap dengan Adil Giray, saudara laki-laki Tatar Khan Krimea, yang ditawan di istana Safawiyyah oleh Brajan Bodo. Para 26 Juli 1579, para konspirator menyerbu harem dan mencekik Mahd-i Ulya dan ibunya hingga meninggal.[2][3]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Munshi, Eskandar Beg (1629). History of Shah 'Abbas the Great (Tārīkh-e 'Ālamārā-ye 'Abbāsī) / Roger M. Savory, translator. hlm. xxv. Diakses tanggal 6 May 2025.
- 1 2 3 4 Nashat, Guity; Beck, Lois (2003). Women in Iran from the Rise of Islam to 1800 (dalam bahasa Inggris). University of Illinois Press. ISBN 978-0-252-07121-8.
- 1 2 3 4 Savory, Roger (2007-09-24). Iran Under the Safavids (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-04251-2.
- 1 2 3 4 "PARIḴĀN ḴĀNOM". Encyclopaedia Iranica (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-07-02.