Ketidakpercayaan
Ketidakpercayaan adalah suatu sikap formal untuk tidak memberikan kepercayaan yang berlebihan kepada satu pihak pun dalam situasi yang sarat dengan risiko besar atau diliputi keraguan mendalam. Dalam ranah kewarganegaraan, ketidakpercayaan kerap diwujudkan dalam bentuk pembagian atau penyeimbangan kekuasaan; sementara dalam politik, ia hadir sebagai mekanisme untuk memastikan keabsahan syarat-syarat perjanjian. Sistem yang dibangun di atas asas ketidakpercayaan sesungguhnya berfungsi membagi tanggung jawab agar mekanisme pengawasan dan keseimbangan dapat berjalan. Ungkapan "percaya, tetapi verifikasi" secara khusus merujuk pada prinsip ini.
Dalam sistem pemerintahan
[sunting | sunting sumber]Setiap Sistem pemilihan pada hakikatnya bertumpu pada asas ketidakpercayaan, bukan sekadar pada [prasangka buruk]]. Para partai politik memang bersaing di dalam sistem, tetapi tidak bertujuan untuk menghancurkan sistem itu sendiri atau meraih keuntungan secara culas. Jika ada pihak yang mencoba, mereka akan mudah terungkap oleh pihak lain. Justru karena adanya ketidakpercayaan timbal-balik inilah, diperlukan sebuah sistem formal ketidakpercayaan. protokol diplomatik, misalnya, yang mengatur hubungan antar-negara berdaulat, berfungsi sebagai pernyataan resmi bahwa “kami tidak sepenuhnya memercayai pihak tersebut.” Selain itu, protokol tersebut berlandaskan etiket yang ketat, karena tidak memercayai kebiasaan masing-masing pihak sebagai penanda niat, maka dipilihlah standar perilaku global dalam pergaulan sosial yang sensitif.
Dalam Tata kelola korporasi, asas ketidakpercayaan dijalankan melalui peran dewan direksi yang tidak boleh serta-merta memercayai laporan dari pihak manajemen. Mereka diberi kewenangan untuk memeriksa, mempertanyakan, dan bertindak atas nama para pemegang saham berhadapan dengan manajer. Fakta bahwa hal ini jarang dilakukan dalam praktik perusahaan di Amerika Serikat menjadi indikator runtuhnya hubungan ketidakpercayaan tersebut yang kemudian melahirkan skandal akuntansi serta tuntutan atas reformasi akuntansi. Tujuan utama keberadaan mekanisme formal ini memang untuk mencegah terjadinya krisis kepercayaan yang lebih besar terhadap "Sistem" secara keseluruhan.
Dalam ilmu komputer
[sunting | sunting sumber]Dalam Ilmu komputer, sebuah protokol didefinisikan melalui konsep formal ketidakpercayaan. Bagian-bagian dari suatu sistem tidak seharusnya saling "percaya," melainkan saling memberikan pernyataan, permintaan, dan validasi yang terukur. Setelah prosedur ini dilalui, tanggung jawab atas kesalahan beralih secara tegas kepada pihak penerima informasi, bukan pada pihak pengirim. Penerapan prinsip ini di dalam sebuah program dikenal sebagai perancangan berbasis kontrak.
Kajian neurokimia
[sunting | sunting sumber]Neuroekonomi mencoba menjelaskan bagaimana para ekonom berusaha memahami alasan manusia saling memercayai atau justru tidak memercayai, dengan merekam respons fisiologis dalam eksperimen kepercayaan.[1] Dalam salah satu percobaan, subjek diminta untuk menyumbangkan sejumlah uang kepada subjek anonim lain, tanpa jaminan akan menerima imbalan. Berbagai kondisi percobaan diujikan, dan setelah setiap keputusan, tingkat hormon dihidrotestosteron (DHT) diukur. Hasilnya menunjukkan bahwa respons fisiologis terhadap ketidakpercayaan berbeda antara laki-laki dan perempuan; kadar DHT yang lebih tinggi pada laki-laki dikaitkan dengan peningkatan ketidakpercayaan. Namun, penelitian lebih lanjut tetap diperlukan untuk memastikan hubungan kausal antara kadar DHT pada pria dan respons terhadap ketidakpercayaan.[1]
Kajian sosiologis
[sunting | sunting sumber]Sejumlah pemikir berpendapat bahwa dengan mendukung adanya kecurigaan sehat serta kewaspadaan, ketidakpercayaan tidak selalu membawa akibat yang merugikan, bahkan dapat berkaitan dengan hasil-hasil yang positif.[2] Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa ketidakpercayaan dapat mempercepat laju kerja serta meningkatkan kinerja individu maupun kelompok[3] dalam tugas-tugas tertentu. Secara empiris terbukti bahwa ketidakpercayaan dapat meningkatkan performa pada tugas-tugas nonrutin (yang menuntut kreativitas dan bersifat tidak terstruktur), sementara sebaliknya menurunkan performa pada tugas-tugas rutin (yang bersifat kooperatif dan terstruktur).[4]
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]- 1 2 Zak, Paul J.; Karla Borja; William T. Matzner; Robert Kurzban (2005). "The Neuroeconomics of Distrust: Sex Differences in Behavior and Physiology" (PDF). The American Economic Review. 95 (2): 360–3. doi:10.1257/000282805774669709. hdl:10983/26303. PMID 29125276.
- ↑ Kramer, Roderick M. (1999). "TRUST AND DISTRUST IN ORGANIZATIONS: Emerging Perspectives, Enduring Questions". Annual Review of Psychology. 50 (1): 569–598. doi:10.1146/annurev.psych.50.1.569. ISSN 0066-4308. PMID 15012464. S2CID 14616152.
- ↑ Lowry, Paul Benjamin; Justin Scott Giboney; Ryan Schuetzler; Jacob Richardson; Tom Gregory; John Romney; Bonnie Anderson (5–8 January 2009). "The Value of Distrust in Computer-Based Decision-Making Groups". 43rd Annual Hawaii International Conference on System Sciences. SSRN 1487345.
- ↑ Schul, Y.; Mayo, R.; Burnstein, E. (2008). "The value of distrust". Journal of Experimental Social Psychology. 44 (5): 1293–1302. doi:10.1016/j.jesp.2008.05.003.
Bacaan lanjutan
[sunting | sunting sumber]- Ethan Zuckerman (2021). Mistrust: Why Losing Faith in Institutions Provides the Tools to Transform Them. W. W. Norton & Company. ISBN 978-1324002604.