Kerusuhan Buol 2010

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Kerusuhan Buol adalah sebuah insiden keamanan yang terjadi di ibu kota Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah pada selasa malam tanggal 31 Agustus 2010 yang diawali dengan penyerangan kantor Polsek Biau oleh sekelompok massa.

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Insiden penyerangan itu terkait dengan tewasnya seorang tahanan Polsek Biau bernama Kasmir Timumun pada Senin sore. Keluarga menduga tewasnya Kasmir Timumun, warga Kelurahan Leok II yang bekerja sebagai tukang ojek, akibat penganiayaan oknum polisi. Kasmir ditahan karena kasus kecelakaan lalu lintas yang melibatkan seorang anggota kepolisian di kota itu, tetapi hari Senin dia tewas di dalam tahanan.[1]

Insiden[sunting | sunting sumber]

Sebagai buntut dari kematian Kasmit Timumun, Selasa malam sekitar pukul 21.30 WITA, ribuan warga menuntut bela dengan mendatangi Mapolsek Biau di Kelurahan Kali (sekarang Kali masuk ke dalam kecamatan Lipunoto) dan berdekatan dengan Kantor Bupati Buol dan langsung menyerbu kantor Mapolsek Biau.

Aparat kepolisian mengeluarkan tembakan peringatan ke udara untuk mengendalikan massa, tetapi massa penyerang semakin beringas. Akibatnya, polisi mengeluarkan tembakan ke arah kerumunan massa. Tembakan tersebut mengenai dua orang dan langsung tewas. Massa pun semakin marah dan langsung menyerang polisi-polisi tersebut.

Hingga Rabu dini hari, tercatat dua orang tewas dan enam anggota polisi luka-luka. Informasi dari Buol menyebutkan, korban tewas terakhir yang dilarikan ke RSUD Buol pada Rabu dini hari itu bernama Ridwan. Warga Kelurahan Leok itu terkena tembakan di kepala.[2] Korban diduga sudah tewas di lokasi bentrokan sebelum dievakuasi ke rumah sakit. Korban tewas sebelumnya bernama Amran Abjalu (19). Warga Kelurahan Kali ini terkena tembakan di bagian mata.[3]

Sementara itu, dari enam anggota Polri yang terluka, satu di antaranya mengalami luka bakar serius akibat terkena lemparan bom molotov dari massa penyerang. "Anggota Polri yang terbakar itu adalah personel Brimob", ujar Kapolda Sulteng Amin Saleh pada rabu dini hari tersebut.[3]

Pada Rabu pagi tanggal 1 September 2010, korban bentrokan kerusuhan Buol kembali bertambah menjadi 5 warga tewas, belasan warga dan 19 anggota brimob luka-luka.[1][4] Ke-19 anggota Brimob yang luka itu umumnya terkena lemparan batu, sabetan senjata tajam, dan bom molotov dari massa yang mengamuk. Luka yang dialami para prajurit Brimob itu umumnya tidak parah kecuali satu orang yang tubuhnya terbakar setelah terkena lemparan bom molotov para penyerang. Selain melukai 19 anggota Brimob, Kapolres Amin Litarso mengatakan, aksi itu juga menimbulkan kerusakan di bagian depan kantor Mapolsek Biau. Beberapa atribut kepolisian, seperti motor operasional dan pakaian seragam di Balai Tempat Umum (BTU) Buol juga menjadi sasaran amuk massa. Di lokasi itu, tiga dari empat motor milik anggota di BTU dibakar, dan satu motor lainnya dirusak.[1]

Sementara itu, situasi Kota Biau, ibu Kota Kabupaten Buol, masih mencekam namun bentrokan sudah terhenti kendati konsentrasi kerumunan warga masih tampak di beberapa tempat.

Pada tanggal 2 September 2010 di Istana Kepresidenan Jakarta, Kapolri Jendral Pol. Bambang Hendarso Danuri menyatakan bahwa korban tewas akibat bentrokan Buol sudah mencapai 7 orang karena dua orang meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.[5][6]

Korban tewas akibat Kerusuhan Buol bertambah satu orang pada sabtu pagi, 4 September 2010 di RSUD Buol. Korban tewas yang bernama Supriyadi (29) ini menghembuskan napas terakhirnya pada pukul 07.30 WITA. Supriyadi tertembak pada kantung kemihnya. Rencananya, korban dirujuk ke rumah sakit di Palu. Namun, hingga ajalnya tiba, Supriyadi belum sempat dirujuk. Pria yang berasal dari desa Diat, Bukal, Buol ini menjadi korban kedelapan yang tewas akibat Kerusuhan Buol sampai tanggal 4 September 2010.[7]

Penyelidikan[sunting | sunting sumber]

Hingga kini, kepolisian masih melakukan penyelidikan atas kerusuhan di Buol, Sulawesi tengah.[5] Hari ini, polisi memeriksa empat orang yang diduga sebagai provokator dalam kerusuhan tersebut dan Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah telah menetapkan 4 orang anggota polisi menjadi tersangka kasus penembakan yang menewaskan 8 orang warga sipil di Buol.

"Sudah empat orang yang anggota polisi yang ditetapkan sebagai tersangka penembakan yang menewaskan warga sipil di Buol," kata Kepala Bidang Humas Polda Sulteng Kompol Kahar Muzakkir di Buol, Kamis, 2 September 2010.[8]

Kronologi[sunting | sunting sumber]

Versi Komnas HAM[sunting | sunting sumber]

Dalam rilis pada Rabu 1 September 2010, Komnas HAM menjabarkan kronologi kejadian. Berikut ini adalah kronologi Kerusuhan Buol versi Komnas HAM:[9]

31 Agustus 2010

Waktu Peristiwa
23.25 11 orang terluka tertembak, 2 orang meninggal, satu orang berumur 17 tahun. Satu orang kena peluru tajam di bagian kaki.
23.26 14 orang luka-luka.
23.47 Satu korban tertembak.
23.59 18 korban masuk rumah sakit dan tiga dinyatakan meninggal. Suharto Dotutinggi tertembak pada bagian paha dari peluru nyasar.

1 September 2010

Waktu Peristiwa
00.33 Dari arah Polsek Biau masih terdengar suara tembakan.
00.39 Salah satu korban yang tertembak pada bagian perut dan mengakibatkan ususnya keluar, terindentifikasi. Namanya Ling, umur 17 tahun dan beralamat di Kelurahan Kali Kompleks MTS.
00.48 Sutarto Tarungku tertembak pada bagian perut.
01.02 Massa masih menyerang Polsek di kompleks stadion mini Buol.
01.15 JFC Buol memasukkan 16 nama korban luka-luka.
01.22 Massa berjatuhan di depan Polsek Biau.
01.25 Oi Suara Hati memasukkan anggotanya yang tertembak di pelipis atas nama Sunding.
01.32 Saktipan Kapuung, PNS, kena tembak di perut, Ading Turungku kena tembak di kaki.
02.49 Polisi membuang letusan kepada masyarakat yang mencoba keluar dari rumah di Leok I.
03.05 7 orang kritis, total korban berjumlah 26 orang. 4 truk polisi melewati rumah sakit Buol sambil membuang letusan karena pada saat itu massa sudah berkerumun di depan rumah sakit untuk melihat korban yang meninggal dan luka-luka.
03.18 Tiga jasad sudah dikembalikan kepada keluarga.
05.01 Tim AKBAR melaporkan nama-nama yang tertembak dalam kondisi koma: Alimin, Dadang, Ukeng.
05.21 Rasyid Johori meninggal di rumah sakit Buol. Sebelumnya, korban sempat kritis karena kepala tertembak hingga isi kepala berhamburan.
07.06 Tiga truk tentara dan dua truk polisi dari arah Toli-toli menuju Buol.

Korban[sunting | sunting sumber]

Hingga saat ini, tercatat 34 orang luka-luka dan delapan orang meninggal akibat Kerusuhan Buol berdasarkan informasi dari Rumah Sakit Umum Daerah Buol.[10]

Referensi[sunting | sunting sumber]