Kerusuhan Ürümqi Juli 2009

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Kerusuhan Ürümqi Juli 2009
Bagian dari Konflik Xinjiang
Ürümqi is in the northwest portion of China
Ürümqi is in the northwest portion of China
Ürümqi
Letak Ürümqi di Tiongkok
Lokasi Ürümqi, Wilayah Otonomi Uighur Xinjiang, Tiongkok
Tanggal 5 Juli 2009 (UTC+8)
Jenis serangan
anti-pemerintah / etnis
Korban tewas
sekitar 197[1][2]
Korban luka
1,721[3][4]
Kerusuhan Ürümqi 2009
Hanzi tradisional: 烏魯木齊7·5騷亂
Hanzi sederhana: 乌鲁木齐7·5骚乱
Makna literal: Kerusuhan 7·5 Ürümqi
Nama alternatif
Hanzi tradisional: 烏魯木齊七·五暴力事件
Hanzi sederhana: 乌鲁木齐七·五暴力事件
Makna literal: Peristiwa Kekerasan 7·5 Ürümqi

Kerusuhan Ürümqi Juli 2009[5] adalah serangkaian kerusuhan yang terjadi selama beberapa hari yang pecah pada 5 Juli 2009 di Ürümqi, ibukota Wilayah Otonomi Uighur Xinjiang (WOUX), barat laut Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Kerusuhan hari pertama, yang melibatkan sekitar 1,000 orang Uighur,[6] dimulai sebagai sebuah unjuk rasa namun meningkat menjadi serangan kekerasan yang utamanya menargetkan orang-orang Han. Kepolisian Bersenjata Rakyat dikerahkan, dan dua hari kemudian, ratusan orang Han bentrok dengan polisi dan Uighur. Para pejabat RRT berkata bahwa sepanyak 197 orang tewas, yang sebagian besar berasal dari suku Han,[2] dengan 1,721 lainnya luka-luka[3] dan beberapa kendaraan dan bangunan hancur; namun, kelompok-kelompok pengasingan Uighur menyatakan bahwa jumlah korban tewasnya lebih tinggi. Beberapa orang hilang saat pembersihan polisi berkala besar pada hari-hari setelah kerusuhan tersebut; Human Rights Watch (HRW) mendokumentasikan 43 kasus[7] dan berkata bahwa jumlah orang hilang nampaknya lebih tinggi.[8]

Kerusuhan dimulai ketika polisi berkonfrontasi dengan sebuah pawai yang menuntut penyelidikan penuh terhadap insiden Shaoguan, sebuah pertikaian di selatan Tiongkok beberapa hari sebelumnya dimana dua orang Uighur tewas.[9] Namun, para pengamat tidak sepakat dengan pernyataan bahwa unjuk rasa tersebut menyebabkan kekerasan. Pemerintah pusat RRT menuduh bahwa kerusuhan itu sendiri direncanakan dari luar negeri oleh Kongres Uighur Sedunia dan pemimpinnya Rebiya Kadeer,[10][11] sementara Kadeer menyangkal tuduhan tersebut dan menganggap kekerasan tersebut sebagai "pembelaan diri" Uighur.[12] Kelompok-kelompok pengasingan Uighur mengklaim bahwa puncaknya disebabkan karena polisi menggunakan pasukan khusus.[13][14]

Media Tiongkok sangat menyoroti kerusuhan Ürümqi tersebut, dan membandingkannya dengan ketegangan di Tibet pada 2008.[15] Saat kerusuhan dimulai, komunikasi-komunikasi di-putus hubung-kan. Pada minggu-minggu berikutnya, sumber-sumber resmi melaporkan bahwa lebih dari 1,000 orang Uighur ditangkap dan ditahan;[16] masjid-masjid yang dijalankan Uighur secara sementara ditutup.[17] Komunikasi dibatasi[18] dan pasukan bersenjata masih berjaga-jaga di tempat pada Januari 2010.[19] Pada November 2009, lebih dari 400 orang menghadapi dakwaan kriminal karena tindakan-tindakan mereka pada kerusuhan tersebut.[20] Sembilan orang dieksekusi pada November 2009,[21] dan pada Februari 2010, sekitar 26 orang telah meraih hukuman mati.[22]

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Xinjiang adalah sebuah wilayah Asia tengah besar di Republik Rakyat Tiongkok yang terdiri dari sejumlah kelompok minoritas: 45% dari populasinya adalah Uighur, dan 40% adalah Han.[23] Ibukotanya yang sangat terindustrialisasi, Ürümqi, memiliki populasi lebih dari 2.3 juta, sekitar 75% adalah Han, 12.8% adalah Uighur, dan 10% berasal dari kelompok etnis lainnya.[23]

Pada umumnya, orang Uighur dan sebagian besar pemerintah Han tidak sepakat bahwa kelompok tersebut memiliki klaim sejarah besar pada wilayah Xinjiang: Uighur meyakini leluhur-leluhur mereka adalah orang asli di wilayah tersebut, sementara kebijakan pemerintah menganggap Xinjiang pada masa sekarang masuk ke Tiongkok sejak sekitar tahun 200 SM.[24] Menurut kebijakan RRT, Uighur diklasifikasikan sebagai Minoritas Nasional ketimbang kelompok orang asli—dalam kata lain, mereka diangkat tidak lebih dari pribumi di Xinjiang ketimbang Han, dan tak memiliki hak-hak istimewa atas tanah tersebut di bawah hukum.[24] Republik Rakyat tersebut memimpin migrasi jutaan orang Han ke Xinjiang, yang mendominasi wilayah tersebut secara ekonomi dan politik.[25][26][27][28]

Para nasionalis Uighur seringkali mengklaim bahwa 5% populasi Xinjiang pada 1949 adalah Han, yang 95% lainnya adalah Uighur, melupakan keberadaan Kazakh, Hui, Mongol, Xibe dan lain-lain, dan menghiraukan fakta bahwa orang-orang Han telah meliputi sekitar sepertiga populasi Xinjiang pada 1800, pada zaman Dinasti Qing.[29] Profesor Sejarah Tiongkok dan Asia Tengah di Universitas Georgetown, James A. Millward menyatakan bahwa orang-orang luar negeri seringkali salah mengira bahwa Urumqi aslinya adalah kota Uighur dan Tiongkok menghancurkan karakter dan budaya Uighur-nya, namun, Urumqi didirikan sebagai kota Tionghoa oleh Han dan Hui (Tungan), dan Uighur yang menjadi orang baru di kota tersebut.[30][31] meskipun beberapa orang berusaha untuk memberikan penggambaran yang salah terhadap keadaan sejarah Qing dalam sorotan situasi pada zaman migrasi Han ke Xinjiang, dan klaim bahwa pemukiman Qing dan kebun-kebun negara adalah sebuah rencana anti-Uighur untuk merampas tanah mereka, Profesor James A. Millward menyatakan bahwa koloni-koloni pertanian Qing pada kenyataannya tidak ada yang dimiliki Uighur, dan semenjak Qing melawan pemukiman Han di Cekungan Tarim Uighur dan pada kenyataannya mengarahkan para pemukim Han untuk bermukim di Dzungaria yang non-Uighur dan kota baru Urumqi sebagai gantinya, sehingga kebun-kebun negara yang dimukimkan 155,000 Tionghoa Han dari 1760-1830 semuanya berada di Dzungaria dan Urumqi, dimana hanya terdapat jumlah orang Uighur yang tidak siginifikan, selain oase-oase Cekungan Tarim.[32]

Pada permulaan abad ke-19, 40 tahun sebagai penaklukan kembali Qing, terdapat sekitar 155,000 Han dan Tionghoa Hui di utara Xinjiang dan sempat lebih dari dua kali lipat dari jumlah Uighur di selatan Xinjiang.[33] Sebuah sensus Xinjiang di bawah kekuasaan Qing pada awal abad ke-19 menyatakan bahwa pembagian etnis pada populasi terdiri dari 30% Han dan 60% Turkic, sementara secara tajam berubah menjadi 6% Han dan 75% Uighur dalam sensus 1953, namun keadaan sama pada demografi era Qing kembali terjadi pada tahun 2000 dimana Han meliputi 40.57% dan Uighur meliputi 45.21%.[34] Profesor Stanley W. Toops menyatakan bahwa kadaan demografi saat ini mirip dengan awal periode Qing di Xinjiang. Di utara Xinjiang, Qing membawa kolonis-kolonis Han, Hui, Uighur, Xibe, dan Kazakh setelah mereka menumpas Mongol Zunghar Oirat di wilayah tersebut, dimana sepertiga populasi Xinjiang meliputi Hui dan Han di bagian utara, sementara sekitar dua per tiga Uighur di Cekungan Tarim, selatan Xinjiang.[35]

Meskipun kebijakan minoritas RRT saat ini, yang berdasarkan pada aksi-aksi afirmatif, menganggap identitas etnis Uighur berbeda dari penduduk Han,[36][37] beberapa cendekiawan menyatakan bahwa Beijing secara tak resmi menerapkan model satu budaya dan satu bahasa yang berdasarkan pada penduduk mayoritas.[24][38] Otoritas juga meninda segala aktivitas yang dianggap menimbulkan perpecahan negara.[37][39] Kebijakan tersebut, selain untuk perbedaan budaya berjangka panjang,[40] terkadang mengakibatkan "gerakan" antara warga negara Uighur dan Han.[41] Di satu sisi, sebagai akibat dari imigrasi Han dankebijakan pemerintah, kebebasan beragama dan gerakan Uighur menjadi terbatasi,[42][43] sementara sebagian besar Uighur menganggap bahwa pemerintah telah sengaja merendahkan budaya tradisional dan sejarah mereka.[24] Di sisi lain, beberapa warga Han memandang Uighur menikmati hak-hak istimewa, seperti diijinkan untuk masuk universitas-universitas dan dikecualikan dari kebijakan satu anak,[44] dan sebagai "tempat berlabuhnya aspirasi-aspirasi separatis".[45]

Ketegangan antara Uighur dan Han telah mengakibatkan gelombang-gelombang protes pada tahun-tahun terkini.[46] Xinjiang telah menjadi tempat beberapa perpecahan etnis dan kekerasan, seperti Insiden Ghulja 1997, serangan Kashgar 2008, merebaknya ketegangan sebelum Permainan Olimpiade di Beijing, serta sejumlah serangan kecil.[25][47]

Penyebab imediasi[sunting | sunting sumber]

Shaoguan terletak di tenggara Tiongkok dan sangat jauh dari Ürümqi
Shaoguan
Shaoguan
Ürümqi
Ürümqi
Shaoguan, letak sebuah insiden protes menyeruak pada Juli 2009. Ürümqi ditandai dengan warna hijau.

Kerusuhan terjadi beberapa hari setelah sebuah insiden kekerasan di Shaoguan, Guangdong, dimana beberapa buruh migran dipekerjakan sebagai bagian dari program meringankan kekurangan buruh. Menurut media negara, seorang mantan buruh mendapatkan rumor pada akhir Juni bahwa dua wanita Han diperkosa oleh enam pria Uighur.[9][48] Sumber-sumber resmi kemudian menyatakan bahwa mereka tak menemukan bukti yang mendukung dakwaan pemerkosaan tersebut.[49] Pada malam 25–26 Juni, ketegangan di pabrik Guangdong berujuk pada pertikaian etnis antara Uighur dan Han, dimana dua buruh Uighur tewas.[50] Para pemimpin Uighur yang berada dalam pengasingan menuduh jumlah korban tewasnya berjumlah lebih tinggi.[51] Walau Xinhua News Agency melaporkan bahwa orang yang bertanggung jawab menyebarkan rumor tersebut telah ditangkap, orang-orang Uighur menuduh bahwa otoritas gagal melindungi kaum buruh Uighur, atau menangkap orang Han yang terlibat dalam pembunuhan tersebut.[51] Mereka menyelenggarakan unjuk rasa jalanan di Ürümqi pada 5 Juli untuk menyerukan ketidakpuasan mereka[9][10] dan menuntut penyelidikan penuh dari pemerintah.[52]

Tiga orang duduk di sebuah ruang kecil. Di tengah seorang wanita berusia menengah dengan rambut hitam, baju merah dan topi doppa Uighur.
Pemerintah RT menuduh bahwa Rebiya Kadeer (tengah) memainkan peran utama dalam merencanakan kerusuhan tersebut.

Pada beberapa titik unjuk rasa menjadi kekerasan. Pemerintah menuduh kerusuhan tersebut sebagai sebuah "sebuah kejahatan kekerasan terorganisir [...] yang dirancang dan didalangi dari luar negeri, dan dilakukan oleh para pembangkang hukum."[53]Nur Bekri, ketua pemerintah regional Xinjiang, berkata pada 6 Juli bahwa kelompok separatis di luar negeri telah merencanakan insiden Shaoguan "untuk membuat ketegangan di Hari Minggu dan mengganggu kesatuan etnis dan stabilitas sosial".[53] Pemerintah menuduh kelompok kemerdekaan dalam pengasingan Kongres Uighur Sedunia (KUS) telah merencanakan dan mendalangi kerusuhan tersebut melalui internet.[53] Sumber-sumber pemerintah menuduh pemimpin KUS Rebiya Kadeer, dengan mengutip pidato-pidato publiknya setelah ketegangan Tibet dan rekaman telepon dimana ia dituduh berkata tentang peristiwa yang bakal terjadi di Ürümqi.[54] Otoritas menuduh seorang pria yang mereka tuduh menjadi anggota penting KUS menyalakan ketegangan etnis dengan mengedarkan sebuah video kekerasan, dan berkata di forum online agar Uighur "menyerang balik [melawan suku Han] dengan kekerasan".[55] Jirla Isamuddin, walikota Ürümqi, mengklaim bahwa para pengunjuk rasa telah dikumpulkan melalui layanan dunia maya seperti QQ Groups.[56] China Daily menyatakan bahwa kerusuhan tersebut dilakukan untuk separatisme penuh dan untuk menarik perhatian organisasi-organisasi teroris Timur Tengah.[57][58] Kadeer membantah telah terlibat dalam kekerasan tersebut,[12] dan menyatakan bahwa unjuk rasa Ürümqi dan peristiwa kelanjutannya yang berujung pada kekerasan disebabkan oleh kebijakan keras yang tidak mengenakan di Shaoguan dan pada "tahun-tahun penekanan Tiongkok", ketimbang keterlibatan separatis atau teroris;[59] Kelompok pengasingan Uighur mengklaim bahwa kekerasan memuncak saat polisi menggunakan pasukan khusus untuk membubarkan kerumunan.[13][14]

Seluruh pihak sepakat bahwa unjuk rasa tersebut sebelumnya telah diorganisir; titik utama permasalahannya adalah apakah kekerasan tersebut direncanakan atau terjadi secara spontan,[60] dan apakah ketegangan tersebut menunjukkan kecenderungan separatis atau tuntutan keadilan sosal.[52]

Peristiwa[sunting | sunting sumber]

Unjuk rasa awal[sunting | sunting sumber]

Peta jalan Ürümqi, yang menampilkan dimana unjuk-unjuk rasa terjadi dan dimana peristiwa-peristiwa tersebut memuncak, dan dimana polisi dikerahkan. Unjuk rasa terjadi di Alun-Alun Besar di tengah peta, di Lapangan Rakyat di timur laut, dan di perlintasan Jalan Longquan dan Jiefang; unjuk-unjuk rasa memuncak di dua lokasi terakhir. Polisi kemudian dikerahkan  di dua lokasi selatan Alun-Alun Besar.
Lokasi-lokasi dimana unjuk rasa dan konfrontasi dikabarkan terjadi

Unjuk rasa dimulai pada sore 5 Juli dengan sebuah unjuk rasa di Alun-Alun Besar, sebuah tempat wisata terkenal,[52][61] dan kerumunan dikabarkan berkumpul di kawasan Lapangan Rakyat.[62] Unjuk rasa mula-mula berlangsung damai,[10][56] dan catatam resmi dan saksi mata mengabarkan bahwa unjuk rasa tersebut melibatkan sekitar 1,000 orang Uighur;[6][63][64] KUS berkata bahwa unjuk rasa tersebut diikuti oleh sekitar 10,000 pengunjuk rasa.[6]

Pada 6 Juli, ketua WOUX Nur Bekri mengeluarkan garis waktu resmi pada hari sebelumnya, yang menyatakan bahwa lebih dari 200 pengunjuk rasa berkumpul di Lapangan Rakyat Ürümqi pada pukul 17:00 waktu setempat, dan sekitar 70 pemimpin mereka ditangkap. Kemudian, sebuah kerumunan berkumpul di sebagian besar wilayah Uighur Jalan Jiefang Selatan, Erdaoqiao, dan Gang Shanxi; pada pukul 19:30, lebih dari seribu orang berkumpul di depan sebuah rumah sakit di Gang Shanxi. Sekitar pukul 19:40., lebih dari 300 orang memblokir jalan-jalan di Jalan Renmin dan kawasan Nanmen. Menurut Bekri, para pengunjuk rasa mulai menyerang bus-bus pada pukul 20:18, setelah polisi "mengendalikan dan menangkapi" kerumunan tersebut.[65]

Penyebab para pengunjuk rasa menjadi melakukan kekerasan tidak jelas.[66][67][68] Beberapa orang berkata bahwa polisi menggunakan pasukan khusus untuk melawan para pengunjuk rasa;[66][69][70] Kongres Uighur Sedia dengan cepat mengeluarkan perilisan pers yang menyataskan bahwa polisi menggunakan pasukan mematikan dan membunuh "sejumlah" pengunjuk rasa.[71][72] Kadeer menuduh bahwa terdapat provokator pada kerumunan tersebut.[73][74] Klaim lainnya menyatakan bahwa para pengunjuk rasa memang berniat melakukan kekerasan; contohnya, seorang saksi mata Uighur berkata kepada The New York Times bahwa para pengunjuk rasa mulai melempari batu kepada polisi.[9] Pernyataaan resmi pemerintah menyatakan bahwa kekerasan tersebut tidak hanya niatan dari para penjuk rasa, namun juga direncanakan dan didalangi oleh para separatis Uighur di luar negeri.[53][56] Biro keamanan masyarakat lokal berkata bahwa mereka menemukan bukti bahwa beberapa orang Uighur telah berkunjung dari kota lainnya untuk berkumpul pada pemberontakan tersebut, dan mereka mulai menyiapkan senjata dua atau tiga hari sebelum pemberontakan tersebut.[75]

Memuncak dan menyebar[sunting | sunting sumber]

Setelah konfrontasi dengan polisi berujung kekerasan, para pengunjuk rasa mulai melempari batu, merusak kendaraan, menghancurkan toko-toko, dan menyerang warga Han.[9][13] Sekitar 1,000 orang Uighur terlibat dalam kerusuhan tersebut ketika peristiwa tersebut dimulai,[6][63] dan jumlah pengunjuk rasa meningkat menjadi sekitar 3,000 orang.[11] Jane Macartney dari The Times mengkarakteristikan kerusuhan hari pertama utamanya meliputi peristiwa "Han diserang oleh oleh sekelompok Uighur";[76] sebuah laporan dalam The Australian beberapa bulan berikutnya menyatakan bahwa orang-orang Uighur moderat juga diserang oleh para pengunjuk rasa.[19] Meskipun mayoritas pengunjuk rasa adalah Uighur, tidak semua Uighur terlibat dalam pemberontakan tersebut; terdapat penuturan bahwa warga sipil Han dan Uighur saling menolong satu sama lain untuk melarikan diri dari kekerasan tersebut dan bersembunyi.[77] Sekitar 1,000 perwira polisi dikerahkan; mereka menggunakan pentungan, amunisi, senjata kejut listrik, gas air mata dan siraman air untuk menghalau para pengunjuk rasa, dan memblokir jalan-jalan dan menempatkan kendaraan-kendaraan bersenjata di seluruh kota.[14][61][63][66]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama CD197
  2. ^ a b Yan Hao, Geng Ruibin and Yuan Ye (18 July 2009). "Xinjiang riot hits regional anti-terror nerve". Chinaview.cn. Xinhua. Diarsipkan dari versi asli tanggal 17 April 2010. Diakses tanggal 21 July 2009. 
  3. ^ a b "Initial probe completed and arrest warrants to be issued soon, Xinjiang prosecutor says". South China Morning Post. Associated Press. 17 July 2009. p. A7. 
  4. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama NYTtrials
  5. ^ Kerusuhan tersebut juga disebut sebagai Insiden Urumqi 5 Juli (Hanzi Sederhana: 乌鲁木齐7·5事件; Hanzi Tradisional: 烏魯木齊7·5事件), atau disingkat Insiden 5 Juli. Media negara dan pejabat pemerintah menyebutnya sebagai Insiden Kejahatan Kekerasan Pemberontakan Serius 7·5 Ürümqi (Hanzi Sederhana: 乌鲁木齐“7·5”打砸抢烧严重暴力犯罪事件; Hanzi Tradisional: 烏魯木齊「7·5」打砸搶燒嚴重暴力犯罪事件).
  6. ^ a b c d "Scores killed in China protests". BBC News. 6 July 2009. Diakses tanggal 6 July 2009. 
  7. ^ Riley, Ann (21 October 2009). "China officials 'disappeared' Uighurs after Xinjiang riots: HRW". Paper Chase Newsburst (University of Pittsburgh School of Law). Diakses tanggal 13 October 2014. 
  8. ^ Bristow, Michael (21 October 2009). "Many 'missing' after China riots". BBC News. Diakses tanggal 25 February 2010. 
  9. ^ a b c d e Wong, Edward (5 July 2009). "Riots in Western China Amid Ethnic Tension". The New York Times. Diakses tanggal 5 July 2009. 
  10. ^ a b c "China calls Xinjiang riot a plot against its rule". Reuters. 5 July 2009. Diakses tanggal 18 January 2009. 
  11. ^ a b Macartney, Jane (5 July 2009). "China in deadly crackdown after Uighurs go on rampage". The Times (London). Diakses tanggal 5 July 2009. 
  12. ^ a b "Profile: Rebiya Kadeer". BBC News. 17 March 2005. Diakses tanggal 4 January 2010. 
  13. ^ a b c Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Timewestwar
  14. ^ a b c Barriaux, Marianne (5 July 2009). "Three die during riots in China's Xinjiang region: state media". Sydney Morning Herald. Agence France-Presse. Diakses tanggal 5 September 2009. 
  15. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama ft00144
  16. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama BBC1500
  17. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama bbcJ10
  18. ^ "Internet Service In China's Xinjiang Will Soon Recover". China Tech News. 31 December 2009. Diarsipkan dari versi asli tanggal 17 April 2010. Diakses tanggal 3 January 2010. 
  19. ^ a b Sainsbury, Michael (2 January 2010). "The violence has ended in Urumqi but shadows remain in hearts and minds". The Australian. Diakses tanggal 2 January 2010. 
  20. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama riotwoman
  21. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama bbcnov
  22. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama 26sentences
  23. ^ a b (Tionghoa) 2000年人口普查中国民族人口资料,民族出版社 ("Year 2000 China census materials: Ethnic groups population". Minzu Publishing House),2003/9 (ISBN 7-105-05425-5)
  24. ^ a b c d Gladney, Dru C. (2004). "The Chinese Program of Development and Control, 1978–2001". Di S. Frederick Starr. Xinjiang: China's Muslim borderland. M.E. Sharpe. pp. 112–114. ISBN 978-0-7656-1318-9. 
  25. ^ a b Rudelson, Justin Ben-Adam (16 February 2000). "Uyghur "separatism": China's policies in Xinjiang fuel dissent". Central Asia-Caucasus Institute Analyst. Diakses tanggal 29 January 2010. 
  26. ^ Jiang, Wenran (6 July 2009). "New Frontier, same problems". The Globe and Mail. p. parag. 10. Diakses tanggal 18 January 2010. But just as in Tibet, the local population has viewed the increasing unequal distribution of wealth and income between China's coastal and inland regions, and between urban and rural areas, with an additional ethnic dimension. Most are not separatists, but they perceive that most of the economic opportunities in their homeland are taken by the Han Chinese, who are often better educated, better connected, and more resourceful. The Uyghurs also resent discrimination against their people by the Han, both in Xinjiang and elsewhere. 
  27. ^ Ramzy, Austin (14 July 2009). "Why the Uighurs feel left out of China's boom". Time. Diakses tanggal 5 September 2009. 
  28. ^ Larson, Christina (9 July 2009). "How China Wins and Loses Xinjiang". Foreign Policy. Diakses tanggal 5 September 2009. 
  29. ^ Bovingdon 2010, hlm. 197
  30. ^ Millward 1998, p. 133.
  31. ^ Millward 1998, p. 134.
  32. ^ Millward 2007, p. 104.
  33. ^ Millward, James A. (2007). Eurasian crossroads: A history of Xinjiang. ISBN 978-0-231-13924-3. p. 306
  34. ^ Toops, Stanley (May 2004). "Demographics and Development in Xinjiang after 1949" (PDF). East-West Center Washington Working Papers (East–West Center) (1): 1. 
  35. ^ ed. Starr 2004, p. 243.
  36. ^ Bovingdon, Gardner (2005). Autonomy in Xinjiang: Han nationalist imperatives and Uyghur discontent (PDF). Political Studies 15. Washington: East-West Center. p. 4. ISBN 1-932728-20-1. 
  37. ^ a b Dillon, Michael (2004). Xinjiang – China's Muslim Far Northwest. RoutledgeCurzon. p. 51. ISBN 0-415-32051-8. 
  38. ^ Dwyer, Arienne (2005). The Xinjiang Conflict: Uyghur Identity, Language Policy, and Political Discourse (PDF). Political Studies 15. Washington: East-West Center. p. 2. ISBN 1-932728-29-5. 
  39. ^ Bovingdon, Gardner (2005). Autonomy in Xinjiang: Han nationalist imperatives and Uyghur discontent (PDF). Political Studies 15. Washington: East-West Center. p. 19. ISBN 1-932728-20-1. 
  40. ^ "China's Minorities and Government Implementation of the Regional Ethnic Autonomy Law". Congressional-Executive Commission on China. 1 October 2005. Diakses tanggal 6 May 2010. [Uyghurs] live in cohesive communities largely separated from Han Chinese, practice major world religions, have their own written scripts, and have supporters outside of China. Relations between these minorities and Han Chinese have been strained for centuries. 
  41. ^ Sautman, Barry (1997). "Preferential policies for ethnic minorities in China: The case of Xinjiang" (PDF). Working Papers in the Social Sciences (Hong Kong University of Science and Technology) (32): 35. Diakses tanggal 6 May 2010. 
  42. ^ Moore, Malcolm (7 July 2009). "Urumqi riots signal dark days ahead". The Daily Telegraph (London). Diakses tanggal 7 July 2009. 
  43. ^ Bovingdon, Gardner (2005). Autonomy in Xinjiang: Han nationalist imperatives and Uyghur discontent (PDF). Political Studies 15. Washington: East-West Center. pp. 34–5. ISBN 1-932728-20-1. 
  44. ^ Sautman, Barry (1997). "Preferential policies for ethnic minorities in China: The case of Xinjiang" (PDF). Working Papers in the Social Sciences (Hong Kong University of Science and Technology) (32): 29–31. Diakses tanggal 6 May 2010. 
  45. ^ Pei, Minxin (9 July 2009). "Uighur riots show need for rethink by Beijing". Financial Times. Diakses tanggal 18 January 2010. Han Chinese view the Uighurs as harbouring separatist aspirations and being disloyal and ungrateful, in spite of preferential policies for ethnic minority groups. 
  46. ^ Hierman, Brent (2007). "The Pacification of Xinjiang: Uighur Protest and the Chinese State, 1988–2002". Problems of Post-Communism 54 (3): 48–62. doi:10.2753/PPC1075-8216540304. 
  47. ^ Gunaratna, Rohan; Pereire, Kenneth George (2006). "An al-Qaeda associate group operating in China?" (PDF). China and Eurasia Forum Quarterly 4 (2): 59. Since [the Ghulja incident], numerous attacks including attacks on buses, clashes between ETIM militants and Chinese security forces, assassination attempts, attempts to attack Chinese key installations and government buildings have taken place, though many cases go unreported. 
  48. ^ "'No Rapes' in Riot Town". Radio Free Asia. 29 June 2009. Diakses tanggal 18 January 2010. 
  49. ^ Beattie, Victor (8 July 2009). "Violence in Xinjiang Nothing New Says China Analyst". VOA news. Diakses tanggal 18 January 2010. 
  50. ^ "Man held over China ethnic clash". BBC News. 30 June 2009. Diakses tanggal 18 January 2010. 
  51. ^ a b "China Says 140 Die in Riot, Uighur Separatists Blamed (Update2)". Bloomberg News. 5 July 2009. 
  52. ^ a b c Interview with Dru Gladney. Council on Foreign Relations (9 July 2009). "Uighurs and China's Social Justice Problem" (Podcast). http://www.cfr.org/china/uighurs-chinas-social-justice-problem/p19760. Diakses pada 17 January 2010. 
  53. ^ a b c d "Civilians, officer killed in Ürümqi unrest". China Daily. Xinhua. 6 July 2009. Diarsipkan dari versi asli tanggal 17 April 2010. Diakses tanggal 18 January 2010. 
  54. ^ "World Uyghur Congress behind violence: expert". China Daily. Xinhua. 7 July 2009. Diarsipkan dari versi asli tanggal 17 April 2010. Diakses tanggal 18 January 2010. 
  55. ^ "Violence Video about Urumqi Riot is Fake". China Radio International. Xinhua. 29 July 2009. Diarsipkan dari versi asli tanggal 17 April 2010. Diakses tanggal 18 January 2010. 
  56. ^ a b c 视频-乌鲁木齐"7·5"打砸抢烧严重暴力犯罪事件新闻发布会 (dalam Tionghoa). China Central Television. 7 July 2009. Diarsipkan dari versi asli (video) tanggal 17 April 2010. Diakses tanggal 7 July 2009. 
  57. ^ Wu Chaofan (16 July 2009). "Urumqi riots part of plan to help Al-Qaeda". China Daily. Diarsipkan dari versi asli tanggal 17 April 2010. Diakses tanggal 18 January 2010. 
  58. ^ "Xinjiang riot hits regional anti-terror nerve". China Daily. Xinhua. 18 July 2009. Diakses tanggal 18 January 2010. 
  59. ^ Kadeer, Rebiya (8 July 2009). "The Real Uighur Story". Wall Street Journal. Diakses tanggal 18 January 2010. 
  60. ^ Sainsbury, Michael (2 January 2010). "The violence has ended in Urumqi but shadows remain in hearts and minds". The Australian. Diakses tanggal 2 January 2010. There is little doubt [the WUC] helped promote protests, but there is no evidence they fomented violence. 
  61. ^ a b Branigan, Tania; Watts, Jonathan (5 July 2009). "Muslim Uighurs riot as ethnic tensions rise in China". The Guardian (London). Diakses tanggal 5 July 2009. 
  62. ^ "China for unequivocal stand against ethnic separation". The New Nation. 9 July 2009. Diakses tanggal 18 January 2010. 
  63. ^ a b c Agencies (5 July 2009). "Civilians die in China riots". Al Jazeera. Diakses tanggal 5 July 2009. 
  64. ^ Epstein, Gady (5 July 2009). "Uighur Unrest". Forbes. Diarsipkan dari versi asli tanggal 24 July 2014. Diakses tanggal 5 July 2009. 
  65. ^ 新疆披露打砸抢烧杀暴力犯罪事件当日发展始末 (dalam Chinese). 中新网 Chinanews.com.cn. 6 July 2009. 
  66. ^ a b c ""Justice, justice": The July 2009 Protests in Xinjiang, China" (PDF). Amnesty International. 2 July 2010. Diakses tanggal 2 July 2010. 
  67. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama afraidtoevenlook
  68. ^ "美新疆问题专家鲍文德访谈 (Interview with American "Xinjiang problem" expert Gardiner Bovingdon)". Deutsche Welle. 23 July 2009. Diakses tanggal 5 September 2009.
    Pewawancara: 您认为事件的过程已经非常清楚了吗? (Apakah kau pikir proses pemberontakan tersebut telah jelas?)
    Bovingdon: 不清楚,而且我觉得可以说很不清楚。 (Tidak, peristiwa tersebut tidak jelas, dan Aku pikir kami dapat berkata bahwa peristiwa tersebut tidak jelas.)
     
  69. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama BBC090707
  70. ^ Demick, Barbara (6 July 2009). "140 slain as Chinese riot police, Muslims clash in north-western city". Los Angeles Times. Diakses tanggal 18 January 2010. 
  71. ^ "WUC Condemns China's Brutal Crackdown of a Peaceful Protest in Urumchi City". World Uyghur Congress. 6 July 2009. Diakses tanggal 5 September 2009. 
  72. ^ "World Uyghur Congress' Statement on July 5th Urumqi Incident". World Uyghur Congress. 7 July 2009. Diakses tanggal 5 September 2009. 
  73. ^ Kadeer, Rebiya (20 July 2009). "Unrest in East Turkestan: What China is not telling the media". Uyghur American Association. Diakses tanggal 29 September 2009. 
  74. ^ Marquand, Robert (12 July 2009). "Q&A with Uighur spiritual leader Rebiya Kadeer". Christian Science Monitor. Diakses tanggal 18 January 2010. [Kadeer:] I was quite surprised by the loss of so many lives. Initially the protest was peaceful. You could even see Uighurs in the crowd holding Chinese flags. There were women and children, and that seemed at first like a good thing. But the Uighurs were provoked by Chinese security forces – dogs, armoured cars. What has not been noted are the plain clothes police who went in and provoked the Uighurs. My view is that the Chinese wanted a riot in order to justify a larger crackdown; it's an attempt to create solidarity between the Han and the government at a time when there is insecurity. Provoking the crowd justifies that this was a Uighur mob. 
  75. ^ "Urumqi riots: Weapons prepared beforehand, division of tasks clear". Chinaview.cn. Xinhua. 21 July 2009. Diakses tanggal 15 December 2009. 
  76. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama times-escalates
  77. ^ "Kindness found amid the violence |". Shanghai Daily. 9 July 2009. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]