Lompat ke isi

Kerajaan-kerajaan Hausa

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Kota-kota besar di Kasar Hausa. Perbatasan modern berwarna merah.

Kerajaan-kerajaan Hausa (Masarautun Hausa), juga dikenal sebagai Kasar Hausa,[1] adalah kumpulan negara yang diperintah oleh suku Hausa sebelum jihad Fulani. Wilayah ini terletak di antara Sungai Niger dan Danau Chad, di utara Nigeria saat ini. Kasar Hausa berada di antara kekaisaran Sudan Barat kuno seperti Ghana, Mali, dan Songhai, serta kekaisaran Sudan Timur Kanem-Bornu.[2]

Tradisi lisan Hausa menceritakan legenda Bayajidda, pahlawan asal Baghdad, yang membunuh seekor ular di sebuah sumur di Daura dan menikahi ratu setempat, Magajiya Daurama. Menurut legenda, keturunan Bayajidda mendirikan Hausa Bakwai (tujuh negara "sejati") serta Hausa Banza (negara "bastard" atau "tidak sah").

Asal usul

[sunting | sunting sumber]

Menurut tradisi lisan Hausa, pemukiman pertama didirikan di tempat-tempat yang dianggap dihuni iskoki (roh alam). Kasar Hausa memiliki potensi pertanian yang besar, dan posisi awal kekuasaan terkait dengan penguasaan tanah, yang diperkuat oleh hubungan kekerabatan. Kepala suku Hausa biasanya adalah kepala keluarga (gidaje) atau pejabat agama yang bertugas melakukan ritual untuk menjamin keberhasilan pertanian (sarkin noma, "raja pertanian").[3]

Tanggal pasti berdirinya kerajaan Hausa tidak diketahui, namun proses urbanisasi di utara Nigeria mendorong terbentuknya negara-negara dengan kota-kota benteng sebagai pusat kekuasaan. Kerajaan-kerajaan ini mengendalikan perdagangan di wilayah tersebut dan kemungkinan pertama kali disebut oleh Ya'qubi pada abad ke-9.[4] Pedagang Hausa mendirikan pemukiman baru (sabon gari) di berbagai tempat, membangun jaringan perdagangan yang efisien.[5] Warga sipil kadang mengikuti tentara sebagai pedagang atau penyedia jasa, menetap di luar wilayah asal, sehingga turut membentuk diaspora Hausa.[6]

Tradisi Hausa juga menjelaskan pembagian peran antar kerajaan: Kano dan Rano sebagai pusat industri tekstil (sarakuman babba, "raja indigo"), Katsina dan Daura sebagai pusat perdagangan (sarakuman kasuwa, "raja pasar"), Zazzau menyediakan tenaga budak untuk kerajaan lain (sarkin bayi, "raja budak"), dan Gobir, sebagai kota paling utara, bertugas mempertahankan Kasar Hausa dari invasi (sarkin yaki, "raja perang").[6]

Sejarah Kasar Hausa dipengaruhi oleh migrasi dari Sahel dan Sudan, termasuk penggembala, nelayan, petani, pedagang, mallam, dan beberapa aristokrat. Migrasi dari Bornu diperkirakan lebih lama berlangsung, sementara Tuareg dan Fulani mulai memasuki wilayah ini pada abad ke-14 dan ke-15. Sebagai penggembala nomaden, mereka kadang memasuki Kasar Hausa untuk mencari padang rumput. Kelompok Wangara, yang bermigrasi pada abad ke-14/15, berperan penting dalam penyebaran Islam di wilayah ini. Islam kemungkinan masuk ke Kasar Hausa dari utara melalui Gobir atau dari timur melalui Bornu, dan penguasa pertama yang memeluk Islam diyakini Yaji I dari Kano (1349-1385) atas undangan Wangara.[7] Wangara, seperti imigran Songhai, lama-kelamaan berasimilasi dan menjadi bagian dari masyarakat Hausa.[6]

Selama pemerintahan Yaji I (1349-1385), Kano menaklukkan dan menduduki Rano selama dua tahun; Rano tetap ada namun tidak pernah meraih kedaulatan penuh lagi. Pada abad ke-15, seorang mai Bornu yang digulingkan melarikan diri ke Kano, sehingga Bornu memperluas pengaruh ke barat dan menjadikan kerajaan Hausa sebagai vasal. Meskipun tidak jelas apakah semua kerajaan atau hanya Kano dan Biram yang tunduk, tetap dikirimkan upeti melalui Daura. Bornu terus memegang pengaruh di wilayah tersebut meskipun lamanya periode pengiriman upeti tidak diketahui.[6]

Hausa Bakwai

[sunting | sunting sumber]

Hausa Banza/Banza Bakwai

[sunting | sunting sumber]
  1. Beberapa tradisi memasukkan Zamfara ke dalam Hausa Bakwai.[9]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Lapidus, Ira M. (2014). A History of Islamic Societies (Edisi 3rd). New York: Cambridge University Press. hlm. 458–459. ISBN 978-0-521-51430-9.
  2. Cartwright, Mark (9 May 2019). "Hausaland". World History Encyclopedia (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2024-07-07.
  3. 1 2 3 4 5 6 Hansen, Mogens Herman (2000). "The Hausa City-States from 1450 to 1804". A Comparative Study of Thirty City-state Cultures: An Investigation (dalam bahasa Inggris). Kgl. Danske Videnskabernes Selskab. ISBN 978-87-7876-177-4.
  4. Levtzion, Nehemia; Hopkins, J. F. P. (1981). Corpus of early Arabic sources for West African history. Diakses tanggal 2025-07-17.
  5. Salamone, Frank (2005). "Hausa Polities: Origins, Rise". Encyclopedia of African History 3-Volume Set (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-135-45670-2.
  6. 1 2 3 4 5 Amadu, Mahdi (1984). "The Hausa and their neighbours in central Sudan". General History of Africa: Volume 4. UNESCO Publishing.
  7. Akinwumi, Olayemi; Raji, Adesina Y. (1990). "The Wangarawa Factor in the History of Nigerian Islam: The Example of Kano and Borgu". Islamic Studies. 29 (4): 375–385. ISSN 0578-8072.
  8. Akinlolu, Adelaja Abdulazeez (2016). "Facial Biometrics Using Akinlolu-Raji Image-processing Algorithm and Anthropological Facts Which Prove that Kebbi and Zamfara Hausas are Hausa Bakwai". Sub-Saharan African Journal of Medicine (dalam bahasa American English). 3 (1): 45. doi:10.4103/2384-5147.176320. ISSN 2384-5147.
  9. Falola, Toyin; Genova, Ann (2009-07-01). "Hausa Kingdoms". Historical Dictionary of Nigeria (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury Publishing PLC. ISBN 978-0-8108-6316-3.
  10. Bello, Zakariya Abubakar (July 2020). "History, Roles and the Challenges of the Institution of Aku Uka in Nation Building in the 21st Century". Fuwukari Journal of Politics & Devevelopment. 4 (1).