Kepulauan Pinnacle

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Senkaku Diaoyu Tiaoyu Islands.png

Kepulauan Senkaku adalah sekelompok pulau tak berpenghuni yang dipersengketakan yang saat ini bawah administrasi Jepang, tetapi juga diklaim oleh Republik Tiongkok dan Republik Rakyat Tiongkok sebagai bagian dari Kecamatan Toucheng, Kabupaten Yilan, Taiwan. Kepulauan ini terletak sekitar 120 mil laut sebelah timur laut Taiwan, 200 mil laut di sebelah barat daya Okinawa dan 200 mil laut sebelah timur dari pantai terdekat Tiongkok Daratan.

Status Kepulauan Senkaku tersebut telah muncul sebagai isu utama dalam hubungan luar negeri antara Republik Rakyat Tiongkok dan Jepang serta antara Jepang dan Republik Tiongkok. Pemerintah Jepang menganggap Kepulauan Senkaku tersebut sebagai bagian dari Prefektur Okinawa. Tetapi Tiongkok juga mengklaim kepulauan tersebut diduga karena sumber daya alam yang ada di kepulauan tersebut. Sementara itu meskipun kompleksitas hubungan RRT-Taiwan telah memengaruhi upaya untuk menunjukkan kedaulatan Tiongkok atas kepulauan tersebut, kedua pemerintah sepakat bahwa pulau-pulau tersebut adalah bagian dari Taiwan.

Perdana Menteri Jepang Yoshihiko Noda, Selasa (20/11/2012) sore dalam pertemuan dengan Presiden Obama di KTT ASEAN jelas-jelas dan resmi untuk ke sekian kali mengajak China ke mahkamah internasional guna memecahkan permasalahan sengketa pulau Senkaku milik Jepang yang oleh China dianggap miliknya. Obama pun menyambut dengan baik usulan tersebut. Meskipun demikian untuk kesekian kalinya China terus menerus menolak ajakan tersebut dan menganggap tidak perlu ke mahkamah internasional karena pulau itu jelas-jelas milik China dan direbut oleh Jepang.

Itulah sebabnya Pertengahan September lalu  muncul unjuk rasa anti-Jepang di China, terus menerus lebih dari 10 hari. Sedikitnya 125.000 partisipan unjuk rasa bahkan menjadi kerusuhan anti Jepang terbesar, turun ke jalan umum di lebih 100 kota di China. Mereka merusak berbagai tempat serta barang yang berbau Jepang. Saking takutnya Uniqlo, peritel fashion terbesar Jepang, menuliskan pada kaca depannya, “pulau Senkaku milik China”, agar toko Jepang itu tidak dirusak para pengunjuk rasa.

Kerusuhan terbesar anti Jepang di China itu, mengakibatkan beberapa orang Jepang cedera bahkan diperkirakan ada yang meninggal setelah dipukuli para perusuh tersebut. Sebuah Konsulat Jepang diserbu masuk para perusuh dan dirusak. PM Jepang Yoshihiko Noda pun saat itu membentuk tim khusus darurat untuk memonitor keamanan warga Jepang di Cina.

Di Shibuya Tokyo,  Duta Besar Jepang untuk China, Shinichi Nishimiya, yang baru dilantik 11 September lalu, dua hari kemudian, 13 September langsung jatuh sakit dan 16 September meninggal dunia. Komentar pemerintah Jepang, “Tidak ada hubungannya dengan kerusuhan anti Jepang di China.” Tetapi rumor yang beredar di Jepang, dubes tersebut dibunuh, entah bagaimana caranya, oleh orang China yang ada di Jepang, karena dubes baru itu diketahui tidak pro-China. Sedangkan Dubes Jepang sebelumnya sangatlah pro-China.

Begitu parah dan ribut sekali hubungan kedua negara ini sejak minggu kedua September. Bahkan 18 September (Insiden Mukden 1931), pada peringatan penjajahan Jepang atas China (masuk lewat Machuria), unjuk rasa menjadi hampir 200.000 orang di China. Bahkan sekitar 100 kapal China mendekati kepulauan Senkaku, dicegat ketat oleh puluhan kapal patroli Jepang, “Kita perlu meningkatkan kekuatan pasukan bela diri Jepang kalau sudah melihat ketegangan ini,” ungkap mantan Seretaris Kabinet Machimura saat kampanye di Tokyo 18 September lalu.

Survei TBS TV (Tokyo) yang dilakukan di China belum lama ini menghasilan jawaban bahwa sekitar 55 persen masyarakat China yakin siap dan akan berperang dengan Jepang karena marah sekali. Sedangkan masyarakat Jepang hanya sekitar 5 persen yang menyatakan adanya kemungkinan perang dengan China. Jadi orang Jepang justru melihat China sebagai rasa “kasihan” dan “cool” tidak ada rasa marah apalagi ingin perang terhadap China. Perasaan Heiwa, artinya damai.

Mengapa kerusuhan anti Jepang meledak di China? Selasa 11 September pemerintah Jepang menandatangani kesepakatan dengan pemilik 3 pulau Senkaku, keluarga Kurihara, membeli pulau itu dengan harga 2,05 miliar yen.

“Pembelian pulau itu untuk memastikan keamanan navigasi perairan di sekitarnya dan akan mengelola dengan stabil serta aman bagi sekelilingnya,” komentar Menlu Jepang Koichiro Gemba

Kepulauan Senkaku terdiri dari lima pulau. Dua pulau telah dimiliki pemerintah Jepang yaitu pulau  Diaoyu dan pulau Tiaoyutai. Sedangkan 3 pulau lain dimiliki perorangan Jepang, Mr. Kurihara, yaitu pulau Uotsuri Usland, pulau Kitakojima dan pulau  Minamikojima, yang disewanya bertahun-tahun.

Sejak beberapa tahun belakangan ini kepulauan Senkaku memanas kembali, diperebutkan oleh China, mengaku milik mereka, terutama setelah terungkap ada sumber daya alam yang sangat berharga.

"Kegiatan unjuk rasa anti Jepang di China yang tidak masuk akal sekarang ini dipastikan akan meningkatkan ketegangan dan krisis kedua negara seperti yang diharapkan mungkin oleh kelompok kanan Jepang,” ungkap Liu Jiangyong, Wakil Dekan Institute of Modern International Relations di Universitas Tsinghua Beijing.

Sejarah Pulau Senkaku

Coba kita lihat sejarah sejenak. Pulau Senkaku semula adalah pulau tak bertuan sampai dengan akhir tahun 1894, tak ada penghuninya dan semua orang tak ada yang melirik, tak ada yang tertarik kepada pulau tersebut. Lalu Jepang menganggap sebagai pulau miliknya.

Pada jaman restorasi Meiji tepatnya tahun 1885, pemerintah Jepang melakukan survei yang hasilnya, pulau tersebut tidak ada pemiliknya. Saat itu, Menteri Dalam Negeri Jepang, Aritomo Yamagata, mengajukan permintaan resmi agar pulau dimasukkan ke Jepang.

Tanggal 14 Januari 1895, Jepang mengumumkan secara resmi memiliki pulau tersebut pada saat perang Cina-Jepang dan kemenangan pada tentara Jepang atas China. Hal itu terjadi tiga bulan sebelum penandatanganan Pakta Shimonoseki, pakta perdamaian penghentian perang dan pengakuan Cina kalah terhadap Jepang. Lalu Jepang membuat tanda di Kubajima (pulau Kuba) dan Uotsurijima (pulau Uotsuri) sebagai tanda pulau tersebut milik Jepang. Keputusan politik itu baru terungkap tahun 1950.

Kepulauan Senkaku yang terdiri dari lima pulau dengan luas keseluruhan tujuh kilometer persegi terdiri dari pulau Uotsuri (Diaoyu Dao), pulau Taisho (Chiwei Yu),  Kubajima (Huangwei Yu), pulau Kita Kojima (Bei Xiaodao) dan pulai Minami Kojima (Nan Xiaodao).

Pemerintah Jepang sejak tahun 1930 memperkenankan swasta, keluarga Jepang bernama Tatsuhiro Koga, membeli dan mengelola pulau tersebut dan membayar pajak kepada pemerintah Jepang setiap tahun. Saat ini uang pajak dari pulau itu sekitar 24 juta yen setahun.

Koga membuat usaha (perikanan) Katsuobushi di pulau tersebut sehingga jumlah penduduk menjadi sekitar 200 orang. Setelah perang dunia kedua berakhir, pulau itu yang menjadi bagian dari Okinawa, diambil pihak Amerika Serikat. Lalu tahun 1971 Okinawa termasuk pula pulau Senkaku dikembalikan kepada Jepang. Kepemilikan berganti dari keluarga Koga tahun 1970-an dibeli keluarga Kurihara hingga kini.

Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) tahun 1969 mengumumkan bahwa di kepulauan Senkaku banyak sumber alam mineral dengan nilai sekitar satu triliun dolar AS kalau dikelola dengan baik. Gara-gara pengumuman PBB tersebutlah, pulau yang tak tertarik bagi siapa pun, kecuali Jepang, akhirnya jadi perhatian dunia terutama China yang langsung ingin merebut balik sampai detik ini kepulauan Senkaku. Ternyata inti persoalan adalah kekayaan alam tersebut

Sidang Keamanan PBB tanggal 20 Mei 1972 memutuskan Amerika Serikat mengembalikan Okinawa termasuk pulau Senkaku (China menyebut pulau Diaoyu) kepada Jepang. Sejak lepas dari Amerika, hingga kini banyak kasus terjadi persengketaan antara China dan Jepang. China tak mengakui kepulauan Senkaku milik Jepang. Persengketaan internasional tak terhindari, muncul  penembakan kapal laut antar kedua negara berulang kali.

Senin, 16 April 2012, Gubernur Tokyo, Shintaro Ishihara, 79, mengumumkan pada konferensi persnya di Washington bahwa pemda Tokyo akan membeli pulau Senkaku milik keluarga Kurihara. Hal ini membuat China meledak marah. Ishihara berhasil mengumpulkan uang sumbangan rela dari masyarakat Jepang dalam empat bulan terakhir ini sebanyak 1,45 miliar yen. Tapi akhirnya persoalan diambil alih pemerintah pusat Jepang dan 11 September menandatangani jual beli kontrak dengan Kurihara.

Bukti Kuat Jepang

Jepang memiliki bukti-bukti kuat kepemilikan kepulauan Senkaku. Setelah kasus tenggelamnya sebuah kapal milik China tahun 1920, sebuah surat resmi tertanggal 20 Mei 1921, dikirimkan oleh Konsul Cina di Nagasaki, Feng Mien, kepada pemerintah Jepang bahwa atas nama Pemerintah China, dia mengakui kepulauan Senkaku sebagai bagian dari Jepang dengan merujuk penulisan kata-kata “Senkaku Islands, Yaeyama District, Okinawa Prefecture, the Empire of Japan".  Surat resmi itu bisa dilihat di Museum Yaeyama, di Okinawa, Jepang.

Bukti kedua, koran harian China, The People's Daily, yang jelas merupakan organ Komite Pusat Partai Komunis China (CPC), pada tahun 1953, beberapa kali pernah menuliskan bahwa kepulauan Senkaku merupakan bagian dari kekuasaan Jepang.

Bukti ketiga, sejak tahun 1895 hingga tahun 1940, sudah ada pabrik Katsuobushi (pengelupasan/penyerutan ikan) milik orang Jepang. Tahun 1978 kelompok nasional Jepang, Nihonseinensha membangun Mercusuar di pulau Uotsuri Jima. Kemudian Japan Coast Guard (Pasukan Perairan Jepang) mulai mengambil alih penjagaan atas pulau tersebut.

Bukti lain, sebuah buku geografi yang diterbitkan pemerintah Taiwan tahun 1970 dengan sangat jelas memperlihatkan bahwa kepulauan Senkaku adalah milik kekuasaan Jepang.

Mantan Presiden Republic of China, Lee Teng-hui, seperti dikutip koran Taipei Times tanggal 6 September 2009, mengatakan bahwa kepulauan Senkaku dianggap sebagai bagian dari Okinawa.

Informasi kepemilikan kepulauan Senkaku itulah yang sangat kurang dipublikasikan Jepang ke berbagai negara, sehingga banyak negara tidak tahu permasalahan utamanya. Kelemahan diplomatik Jepang, khususnya mengenai informasi kepulauan Senkaku kepada masyarakat internasional, dimanfaatkan pemerintah China dengan baik dan sangat meyakinkan terutama kepada masyarakatnya bahwa kepulauan itu milik China.

Hal baru yang muncul, mungkin kurang diperhitungkan pemerintah China, adalah kepemilikan internet oleh lebih dari 500 juta masyarakat China, membuat satu info ajakan unjuk rasa, pada saat yang sama menyebar ke berbagai pelosok China, sehingga sedikitnya 57 kota di China, terpicu ajakan unjuk rasa. Hal ini membuat mereka serentak turun ke jalanan umum, membuat kegiatan anti-Jepang semakin merebak luas dan cepat di China. Apalagi setelah kedua pimpinan utamanya berkomentar.

Presiden, Hu Jintao, mengomentari, “Pembelian Diaoyu adalah ilegal dan cacat hukum dan China menentang tegas hal tersebut.” Ditambah lagi komentar PM Cina, Wen Jiabao, “Tidak ada konsesi apa pun soal kepulauan Diaoyu karena menyangkut kedaulatan negara China.”

Langsung saja masyarakat China tersulut api semakin panas, serentak turun ke jalan setelah membaca dari internet. Pemerintah China kaget, terbukti tidak siap menerjunkan polisi dan pihak keamanannya pada waktunya untuk mencegah gerakan anti Jepang yang meluas cepat, bahkan menjadi huru-hara, perusakan, dan kemungkinan juga terjadi korban pembunuhan oleh perusuh, seperti kejadian di Jakarta Mei 1998 lalu.

Kerusuhan ini tidak bisa dianggap ringan. Bukan tidak mungkin emosi anti-Jepang menyebar ke berbagai negara termasuk Indonesia. Apalagi belum lama, bulan Agustus lalu terjadi unjuk rasa di depan kedutaan Jepang di Jakarta, akibat masalah PHK dan Serikat Buruh di sebuah perusahaan Jepang yang ada di Semarang. Kita berdoa saja agar perasaan anti Jepang tidak masuk ke Indonesia seperti kejadian Malari 1972.

Guna memecahkan persoalan perasaan anti-Jepang ini sebenarnya perlu sensitivitas kedua pihak. Keduanya perlu melakukan diplomasi yang lebih baik lagi. Pihak China pun perlu bersabar, menahan diri berkomentar. Bukan malah memanaskan rakyatnya.

Sedangkan pihak Jepang harus lebih agresif lagi mendekati China, mencari solusi bersama masalah ini, karena berbagai “pipa” kedua negara selama ini cukup banyak, pasti bisa di solusikan berama.

Upaya terakhir tentu kerelaan kedua negara mau membawa masalah kepulauan Senkaku ke Mahkamah Internasional (MI). Pihak Jepang bersedia membawa ke MI, tetapi pihak China berkeberatan karena yakin penuh kepulauan Senkaku milik China.

Tanpa upaya jalan tengah MI rasanya masalah ini sampai kapan pun tak akan selesai. Kerawanan dan ketidaknyamanan akan berdampak ke negara sekitar. Mungkin perlu masa cooling down bersama agar semua pihak menjauhkan diri dari kegiatan yang dapat memancing kemarahan kedua pihak. Bukan malah emosi balas dendam seperti dilakukan dua laki-laki Jepang yang sengaja mendarat di pulau Senkaku dan segera ditangkap pihak kepolisian laut Jepang.

Bisa dibayangkan, apabila hubungan kedua negara semakin kacau, 22.000 perusahaan Jepang di China akan kabur, 9,2 miliar pekerja China di perusahaan Jepang tak bekerja lagi, dan sedikitnya 5,9 miliar USD pajak perusahaan Jepang di China tak dapat masuk kas negara China lagi. Tidak ada yang untung dari ketegangan ini. Sentimen anti Jepang atau anti China berkembang di banyak negara.

Sementara itu Pemimpin Redaksi suratkabar Keizai Shinpo, Masatomo Takahashi di Tokyo khusus kepada Tribunnews.com mengatakan bahwa pulau itu jelas milik Jepang.

“Dulu pulau ini tidak diketahui dan tidak ada yang melirik sama sekali. Warga Jepang sudah ada di sana mengelola berbagai kegiatan usaha. Lalu saat diketahui ada sumber alam yang menarik belakangan ini, China mulai mengklaim hak kepemilikan,” kata Takahashi.

China sebenarnya harus berterima kasih kepada Jepang dengan bantuan ekonomi di masa lalu sehingga ekonomi Cina jadi hidup seperti sekarang, “Mudah-mudahan saja China bersedia menyelesaikan di mahkamah internasional sehingga cepat berakhir masalah ini.”

Pengusaha Jepang lain, CEO Trend Japan Co.Ltd, Ryuji Kitagawa juga berpendapat sama bahwa Senkaku adalah sepenuhnya milik Jepang, “Saya bingung masalah Senkaku ini ini malah jadi meluas ke mana-mana, padahal jelas milik Jepang,” katanya.

Menurutnya, China harus menghormati hukum internasional seperti perdagangan bebas yang telah diatur internasional, permasalahan dua negara baiknya diselesaikan di mahkamah internasional, bukan dengan ngotot maunya sendiri menyatakan miliknya. Biar lembaga internasional yang memutuskan.

China meremehkan kekuatan teknologi Jepang. Embargo yang dilakukan terhadap Jepang menghentikan pengiriman bahan baku tertentu, tidak berpengaruh besar. Bahkan kini dengan kemajuan teknologi Jepang menemukan sendiri bahan dasar pengganti yang lain. Lalu kapan-kapal Cina menabrakkan dirinya ke kapal petugas penjaga laut Jepang di sekitar Senkaku. Semua itu jelas memalukan sekali di mata internasional,” tekannya lagi.

Memang permasalahan dua negara ini sebenarnya mudah diselesaikan, tapi upaya China selalu menolak maju ke mahkamah internasional membuat masalah ini tak pernah selesai.

Penamaan[sunting | sunting sumber]

Dalam bahasa Tionghoa, kepulauan ini disebut Kepulauan Diaoyu, Diaoyutai (Hanzi tradisional: ; Hanzi: ; Pinyin: Diàoyútái Qúndǎo, arti harfiah: "kepulauan memancing ikan"). Sementara itu, dalam bahasa Jepang pulau ini bernama Senkaku (, Senkaku Shotō).

Pranala luar[sunting | sunting sumber]