Lompat ke isi

Kendang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Kendhang)
Kendang
Alat musik perkusi
Klasifikasi Membranofon
Hornbostel–Sachs211.252.12
(Membranofon tabung tunggal, dua membran, berbadan kerucut)
PenciptaIndonesia

Kendang atau Gendang adalah alat bunyi-bunyian berupa kayu bulat panjang, di dalamnya ada rongga dan salah satu lubangnya atau kedua-duanya diberi kulit yang berasal dari Jawa [1][2] Alat musik ini termasuk salah satu bagian dalam gamelan dan karawitan Jawa.[3]

Kata Kendang (dari bahasa Jawa: ꦏꦼꦤ꧀ꦝꦁ, translit. Kêndhang[4][5])

Kendang adalah jenis alat musik membranofon yang terbuat dari kulit.[3] Keberadaannya sendiri dipercaya sudah ada sejak zaman logam prasejarah di Indonesia, alias zaman perunggu.[6] Kendang tertua yang ditemukan diyakini berasal dari masa neolitikum. Bentuknya sangat sederhana: sepotong batang kayu berongga yang ujungnya ditutup kulit ikan atau reptil. Alat tersebut dimainkan dengan ditepuk.[7]

Kendang di Indonesia pada abad pertengahan awalnya baru dikenal di Pulau Jawa tepatnya Jawa Tengah, alat musik ini dikenal masyarakat Jawa Kuno sejak pertengahan abad ke-9 Masehi.[8] dengan berbagai nama, seperti: padahi, pataha (padaha), murawaatau muraba, mrdangga, mrdala, muraja, panawa, kahala, damaru,[9] kendhang. Sumber sastra tertua tentang gendang (padahi dan muraba) ditemukan dalam dua piagam Jawa Kuno masing-masing tahun 821 dan 850 M.[10][11] yang dapat dijumpai pada prasasti Kuburan Candi yang berangka tahun 821 Masehi (Goris, 1930). Seperti yang tertulis pada Kakawin Nagarakretagama gubahan Empu Prapañca tahun 1365 Masehi (Pigeaud, 1960), istilah tersebut terus digunakan sampai dengan zaman Majapahit.[7]

Pada masyarakat Bali, kendang sudah dikenal sejak zaman dulu, hal ini dibuktikan adanya prasasti Sukawana, berangka tahun 882 M, berbahasa Bali Kuno yang menyebutkan keberadaan dari instrumen kendang. Beberapa istilah karawitan yang ditulis pada lembar IIa baris kedua menyebutkan kata 'parsangkha', 'parpadaha', 'balian' dan 'pamukul' (Roedolff Goris, 1954; Santosa, 2017).[12][13] Sedangkan pada masyarakat Sunda, kendang berkembang bersama dengan kesenian wayang golek. Pada waktu itu penggarap kesenian wayang golek dilaksanakan oleh para Walisanga.[14]

Penyebutan kendhang dengan berbagai nama menunjukkan adanya berbagai macam bentuk, ukuran serta bahan yang digunakan, antara lain: kendhang berukuran kecil, yang pada arca dilukiskan sedang dipegang oleh dewi Saraswati, kendhang ini disebut "Damaru".[9][15] Bukti keberadaaan dan keanekaragaman kendhang, dapat dilihat pada relief candi-candi sebagai berikut:

  • Candi Borobudur (awal abad ke-9 Masehi), dilukiskan bermacam-macam bentuk kendhang seperti bentuk: silindris langsing, bentuk tong asimetris, bentuk kerucut (Haryono, 1985; 1986).[16]
  • Candi Prambanan di Prambanan (pertengahan abad ke-9 Masehi), pada pagar langkan candi, kendhang ditempatkan dibawah perut dengan menggunakan semacam tali.
  • Candi Tegowangi, candi masa klasik muda (periode Jawa Timur), sekitar abad 14), dijumpai relief seseorang membawa kendhang bentuk silindris dengan tali yang dikalungkan pada kedua bahu.
  • Candi Panataran, candi masa klasik muda (periode Jawa Timur), sekitar abad 14, relief kendhang digambarkan hanya menggunakan selaput satu sisi dan ditabuh dengan menggunakan pemukul berujung bulat. (Kunst, Jaap (1968: 35-36) menyebut instrumen musik ini "dogdog",[17] Ada hal yang menarik mengenai asal muasal kendhang ini, yaitu adanya kesamaan penyebutan dari sumber tertulis Jawa Kuno dengan sumber tertulis di India. Hal ini membuktikan bahwa telah terjadi kontak budaya antara keduanya, termasuk dalam bidang seni pertunjukan. Namun, dalam sejarah alat musik gendang, tidak dapat disimpulkan bahwa gendang Jawa mempunyai pengaruh dari India. karena jenis alat musik membranofon ini diperkirakan sudah ada sebelum adanya kontak budaya dengan India. Sebab, kendang yang bersifat membranofon diyakini telah ada sebelum terjadinya kontak dengan India. Misalnya, telah dikenal Moko dan Nekara sejak zaman perunggu sebagai genderang. Selanjutnya, terdapat jenis alat musik lain yang berkaitan dengan selaput kulit, seperti trebang dan bedug.[18][19] Dalam kitab yang lebih muda, Kidung Malat, terdapat istilah bedug. Instrumen ini pun disebut dengan istilah tipakan dalam Kakawin Hariwangsa, Ghatotkacasraya, dan Kidung Harsawijaya.[20]

Jenis kendang

[sunting | sunting sumber]

Kendang yang besar disebut ageng, kendang yg ukurannya menengah disebut ciblon, sedangkan yang kecil disebut ketipung, pasangan ketipung bernama kendang kalih yang dimainkan pada tembang atau gending keling yang berkarakter halus seperti ketawang, gending ketuk kalih dan ladrang irama dadi.[7] Berikut nama-nama kendang beserta asalnya:[21][22]

Jawa Timur

[sunting | sunting sumber]
  • Kendang sentul, gendang yang terbuat dari kayu mahoni dan tutupnya menggunakan kulit sapi.[23]
  • Kendang ketipung, digunakan untuk iringan musik melayu dan turunannya, misalnya keroncong dan dangdut.[25]

Jawa Tengah

[sunting | sunting sumber]
  • Kendang ageng, digunakan untuk mengiringi musik karawitan atau kesenian yang dipadukan dengan harmonis.[28] Selain itu, kendang ageng juga dimainkan untuk mengisi musik dangdut.
  • Kendang ciblon, digunakan untuk mengiringi musik klenengan dan iringan tari, karena memiliki karakteristik suara yang lebih tinggi dibanding kendang jenis lainnya.[29][2]
  • Kendang penuntung, digunakan secara khusus untuk gending bonangan dan bedayan, penggunaannya sering dipadukan dan saling berjainan dengan kendang ageng.[30]
  • Kendang kalih, digunakan untuk mengiringi berbagai macam kesenian utamanya yang karakternya halus. Seperti gendhing kethuk kalih, ketawang maupun ladang irama dadi. Kendang ini dimainkan sebagai opening lagu irama cepat seperti lancaran.[31]
  • Kendang sabet, digunakan untuk mengiringi gending-gending sabet (gerakan perang) dalam wayang.[32]

Jawa Barat

[sunting | sunting sumber]
  • Kendang kiliningan, digunakan untuk mengiringi tarian kiliningan.[34]

Kepulauan Riau

[sunting | sunting sumber]
  • Kendang panjang, alat musik tradisional dari Kepulauan Riau,[36] digunakan bersama alat musik lain untuk mengiringi lagu daerah atau menyambut tamu dalam pesta pernikahan.[37][38]

Sumatera Barat

[sunting | sunting sumber]
  • Kendang tambua, dimainkan dengan cara disandang di salah satu bahu pemain dalam posisi berdiri dengan menggunakan dua pemukul tambua, semacam pemukul yang terbuat dari bahan kayu.[39][40][41]
  • Kendang beleq, alat musik tradisional Lombok,[42] digunakan bersama alat musik lain untuk mengiringi prajurit perang, acara kesenian, adat, perlombaan budaya dan hiburan masyarakat.[43] Kendang ini dibedakan lagi berdasarkan nada suaranya menjadi dua jenis, yakni gendang mama (laki-laki) dan gendang nina (perempuan). Nada suara pada gendang mama lebih nyaring dibandingkan dengan gendang nina.[44]
  • Gendang kode', alat musik tradisional Lombok dengan ukuran yang lebih kecil dibandingkan kendang beleq.[44]

Kendang-kendang berbahan dasar kulit, kayu, dan rotan ini dipukul dengan alat pemukul atau tangan kosong untuk mengiringi tarian atau mengatur tempo dan dinamika dalam orkestra.[44]

Kalimantan

[sunting | sunting sumber]
  • Kendang beriak, alat musik tradisional suku Dayak, yang dipakai dalam pertunjukan bernama sama, dan dimainkan oleh dua orang laki-laki yang memakai pakaian adat Dayak. Juga digunakan untuk menyambut tamu agung atau saat panen raya.[48]

Gorontalo

[sunting | sunting sumber]
  • Kendang gedombak, alat musik yang terbuat dari kayu, kulit hewan, dan rotan, digunakan untuk mengiringi teater Mak Yong yang populer di Riau.[51][52]
  • Kendang silat, berbentuk kepala ganda, terbuat dari kayu, rotan, dan kulit binatang, digunakan untuk mengatur irama dalam mengiringi suatu lagu.[53]

Bagian kendang

[sunting | sunting sumber]

Bagian kendang terdiri dari:[56]

  • Urung (badan kendang yang terbuat dari kayu nangka atau jati),
  • Tebokan (kulit sapi yang dibentangkan pada kedua sisi urung),
  • Janget (tali dari rotan atau kulit untuk memancang kedua tebokan), dan
  • Suh ( pengait antar janget yang berfungsi untuk mengencangkan/mengendurkan tebokan)[56]

Pembuatan

[sunting | sunting sumber]

Kendang yang baik terbuat dari kayu nangka, kelapa atau cempedak. Kulit kerbau sering digunakan untuk bam (permukaan bagian yang memancarkan ketukan bernada rendah) sedangkan kulit kambing digunakan untuk chang (permukaan luar yang memancarkan ketukan bernada tinggi). Pada tali kulit yang berbentuk "Y" atau tali rotan, yang dapat dikencangkan atau dikendurkan untuk mengubah nada dasar. Semakin kencang tarikan kulitnya, maka semakin tinggi pula suara yang dihasilkannya.[57][58]

Jenis kendang jika dilihat dari bahan terbagi menjadi dua yaitu: kendang berbahan dasar kayu dan kendang berbahan dasar tembaga. Kendang berbahan dasar kayu lebih populer di masyarakat daripada kendang berbahan dasar tembaga. Banyak tersedianya bahan serta proses pengerjaan yang mudah, menjadi alasan para perajin untuk membuat kendang dari bahan dasar kayu, diantaranya kayu Nangka,[59][60] Mahoni[61] dan Glugu.[62]

Bahan dasar kayu selama ini dianggap memiliki kualitas paling baik jika dibandingkan dengan bahan dasar lainnya. Kualitas baik ini menyangkut karakter bunyi yang dihasilkan serta keawetan bahan yang dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama. Adapun kayu yang paling baik untuk membuat kendang adalah kayu nangka karena serat-seratnya lebih jelimet sehingga kendang tidak mudah pecah jika kena panas sinar matahari atau ketika dilaras dalam nada gamelan.[63]

Jenis kendang yang kedua adalah kendang yang terbuat dari tembaga. Pembuatan dan penggunaan kendang berbahan dasar tembaga ini belum banyak dilakukan oleh para perajin kendang di Indonesia. Kendang tembaga hadir atas dasar kreativitas seniman karena kebutuhan rasa musikal sehingga kendang tembaga termasuk hasil modifikasi atau perkembangan pada masa sekarang. Modifikasi ini tujuannya untuk mencari alternatif lain dalam rangka menghasilkan warna bunyi dan teknik yang baru. Keberadaan kendang ini terdapat di segelintir para seniman saja seperti halnya yang berada di grup musik Patareman Bandung pimpinan Ubun Kubarsah. Kendang berbahan dasar tembaga ini dinamakan kendang taga dengan bentuk menyerupai kendang kulanter. Meskipun berbahan dasar tembaga, tetapi wangkis (bidangnya) tetap menggunakan bahan kulit hewan kerbau atau sapi.[64]

Kendang berdasarkan ukuran yakni ketegori kendang berdasarkan besar kecilnya. Secara umum, kendang berdasarkan besar kecilnya terdiri dari dua yaitu kendang besar (Ageng; Jw, Indung; Sd) dan kendang anak atau kecil (ketipung; Jw, kulantér; kutiplak; Sd).[3]

Fungsi kendang digunakan sebagai iringan tarian tradisional, adat, wayang, menyambut tamu, lomba budaya, hiburan masyarakat, prajurit perang, dan lain sebagainya.[65]

Referensi/Catatan kaki

[sunting | sunting sumber]
  1. KBBI
  2. 1 2 Muis, M. (2009). Pendefinisian lema alat musik di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. hlm. 48
  3. 1 2 3 Soedjiono, S. (1995). Album alat musik tradisional. hlm. 40 Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.
  4. (1) kêndhang : 1 two-headed gamelan drum held horizontally and beaten with the fingers. 2 480-sheet ream (of paper). [x]-an 1 drumbeat; drum playing. 2 to drum idly, for one's own amusement. [x]-an dhêngkul to sit around taking it easy. [x]-an kuping ear drum. ng/di-[x]-(i) to play a drum. pa-ng-[x] 1 gamelan drummer. 2 act or way of drumming. [x] batang-an a certain medium sized gamelan drum. Sumber: Javanese-English Dictionary, Horne, 1974, #1968. (2) kêndhang : KN. 1. een langwerpige trom, die bij de gamělan gebruikt wordt; de groote trom bij de Europeesche muziek (vrg. bêdhug. en kêtipung). BG. 90 als maat (met sa, er voor) voor de dikte v. e. slang. — ngêndhang, op de kêndhang, slaan. — ngêndhangi, met de kêndhang, accompagneeren; ook kadhělé in schoven binden SG. — kêndhangan. het ribbevlies, buikvlies; ook het tromvel; zich amuseeren met op de kêndhang, te slaan. ° cangkêm. met den mond de kêndhang, nadoen Wk.; ook het trommelvlies van het gehoor, vgl. silir, Dj. M. 1867, n°. 11, 3. kêndhanganing utêk, het hersenvlies, vgl. kanthong. — 2. met een telwoord er vóor: riem papier. Sumber: Javaansch-Nederlandsch Handwoordenboek, Gericke en Roorda, 1901, #918. (3) Etimologi Kendang
  5. Soedjiono, S. (1995). Album alat musik tradisional. hlm.53 Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.
  6. Budi, Riko (2024-05-08). "Asal Usul Alat Musik Gendang yang Berasal Dari Bahasa Jawa – Sumedang Ekspres". sumedang.jabarekspres.com. Diakses tanggal 2026-01-24.
  7. 1 2 3 Rizki, Anisa. "Gendang Berasal dari Daerah Mana? Siswa Perlu Tahu Sejarahnya Nih". detikedu. Diakses tanggal 2026-01-18.
  8. Kunst, Jaap (1968) Alat Musik Hindu-Jawa
  9. 1 2 Muis, M. (2009). Pendefinisian lema alat musik di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. hlm.46
  10. Kunst, Jaap (1968) Alat Musik Hindu-Jawa
  11. Permainan Kendang Bali
  12. Kunst, Jaap (1968) Alat Musik Hindu-Jawa
  13. Permainan Kendang Bali
  14. Kendang Sunda
  15. "Kendhang · Wesleyan University Virtual Instrument Museum 2.0". wesomeka.wesleyan.edu. Diakses tanggal 2026-01-18.
  16. Kurnia, Linda. "Jenis dan Pembuatan Gendang Melayu". id.scribd.com. Diakses tanggal 2026-01-18.
  17. Muis, M. (2009). Pendefinisian lema alat musik di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. hlm. 47
  18. Kunst, Jaap (1968) Alat Musik Hindu-Jawa
  19. McPhee, Colin. 1960. Tabuh-Tabuhan: Toccata for Orchestra and 2 Pianos. New York: Assciated Music.
  20. Gendang Punya Beragam Nama, Bisa Dilihat di Relief-relief Candi, di Antaranya Borobudur & Prambanan
  21. 10 Alat Musik Kendang: Asal-Usul, Jenis, dan Cara Memainkannya
  22. Alat Musik Kendang
  23. Minatin, Arum. "Kendang Sentul, Menghidupkan Desa Santren Sebagai Pusat Kerajinan Kendang di Blitar - Blitar Kawentar". Kendang Sentul, Menghidupkan Desa Santren Sebagai Pusat Kerajinan Kendang di Blitar - Blitar Kawentar. Diakses tanggal 2026-01-22.
  24. r.search.yahoo.com https://r.search.yahoo.com/_ylt=AwrKHQnqTYRp8wEAiWnLQwx.;_ylu=Y29sbwNzZzMEcG9zAzIEdnRpZAMEc2VjA3Ny/RV=2/RE=1771487979/RO=10/RU=https://www.gramedia.com/literasi/alat-musik-kendang//RK=2/RS=64sMUO3zwgbZShuMviebAfcJLug-. Diakses tanggal 2026-02-05.
  25. "Ketipung, Tetabuhan Pengiring Musik Melayu". Indonesia Kaya. Diakses tanggal 2026-01-22.
  26. Berpacu dalam Kendang Kempul
  27. Geliat Kendang Jimbe Kota Blitar Menembus Pasar Ekspor
  28. Setyawan, A. D., Arief, A., & Al Masjid, A. (2017). Analisis instrumen kendang dalam karawitan Jawa ditinjau dari nilai luhur Tamansiswa. Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar (JPSD), 4(2).
  29. A, Rifda. "10 Alat Musik Kendang: Asal-Usul, Jenis, dan Cara Memainkannya". Diakses tanggal 2026-01-19.
  30. r.search.yahoo.com https://r.search.yahoo.com/_ylt=Awr1RVAdToRpIAIAsQ_LQwx.;_ylu=Y29sbwNzZzMEcG9zAzIEdnRpZAMEc2VjA3Ny/RV=2/RE=1771488029/RO=10/RU=https://sites.google.com/view/tabuhwiragakendang/jenis-kendang/RK=2/RS=TpQ3knXXv6PeQMAvCNGZWYv9gdM-. Diakses tanggal 2026-02-05.
  31. r.search.yahoo.com https://r.search.yahoo.com/_ylt=Awrx_Lg5ToRpHQIAaRvLQwx.;_ylu=Y29sbwNzZzMEcG9zAzIEdnRpZAMEc2VjA3Ny/RV=2/RE=1771488057/RO=10/RU=https://www.musikalisasi.com/2022/08/sejarah-macam-macam-alat-musik-kendang.html/RK=2/RS=tVs9uhPmyKQ2VeCrjw2jw_dVOoo-. Diakses tanggal 2026-02-05.
  32. Kriswanto (2007). Dominasi karawitan gaya Surakarta di Daerah Istimewa Yogyakarta. Departemen Pendidikan Nasional, Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri, Program Beasiswa Unggulan. hlm. 3. ISBN 978-979-8217-43-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  33. Saepudin, A. (2013). Garap Tepak Kendang Jaipongan dalam Karawitan Sunda. BP ISI Yogyakarta.
  34. Izal, R. R. (2024). Pengembangan media pembelajaran kendang kiliningan berbasis audio visual untuk siswa kelas XI di SMKN 10 Bandung (Tesis, Universitas Pendidikan Indonesia). Repository UPI.
  35. Sunarto (S.Kar.) (2001). Pola-pola dasar tepak kendang Ketuk Tilu: laporan penelitian. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung.
  36. Ensiklopedi musik Indonesia. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah. 1985. hlm. 47. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  37. "Ketahui 6 Jenis Gendang sebagai Alat Musik Ritmis, Materi Kelas 5 SD Tema 9 - Bobo". bobo.grid.id. Diakses tanggal 2026-01-22.
  38. A, Rifda. "10 Alat Musik Kendang: Asal-Usul, Jenis, dan Cara Memainkannya". Diakses tanggal 2026-01-22.
  39. Budaya masyarakat suku bangsa Minangkabau dan lingkungannya di Kabupaten Pasaman, Propinsi Sumatera Barat. Departemen Pendidikan Nasional. 2000. hlm. 84. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  40. 1 2 Sudarsono (1999). Seni pertunjukan Indonesia & pariwisata. Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia. hlm. 379. ISBN 978-979-95773-0-6. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  41. Fungsi dan Pola Ritem Gandang Tambua dalam Upacara Baralek Minangkabau di Kecamatan Medan Sunggal Kabupaten Deli Serdang. Repositori.usu.ac.id.
  42. Prahana, Lalu Muhammad Gitan; Pratama (2022). Gendang beleq (dalam bahasa Indonesia). LIPI Press. ISBN 978-602-496-271-5. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  43. Paluseri, Dais Dharmawan; Murdiartono, Dwi; Syahdenal, Lintang Maraya (2013). Warisan budaya takbenda Indonesia: penetapan tahun 2013. Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. hlm. 21–22. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  44. 1 2 3 Satyananda, I Made; Ayu Armini, I Gusti; Sudharma Putra, I Ketut (2015). KECIMOL SENI KOLABORASI KAJIAN BENTUK FUNGSI DAN NILAI DI LOMBOK (PDF). Yogyakarta: Penerbit Kepel Press. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  45. 1 2 3 admin (2011-06-17). "Jenis-Jenis Kendang Bali". ISI BALI (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-01-22.
  46. 1 2 Sadguna, I. Gde Made Indra (2012). The Kendang Bebarongan in Balinese Music: An Organological Study (dalam bahasa Inggris). UPT. Penerbitan, ISI Denpasar. hlm. 5. ISBN 978-602-9164-07-7. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  47. Sadguna, I. Gde Made Indra (2012). The Kendang Bebarongan in Balinese Music: An Organological Study (dalam bahasa Inggris). UPT. Penerbitan, ISI Denpasar. hlm. 12. ISBN 978-602-9164-07-7. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  48. "Gendang Beriak, Pertunjukan Gendang Khas Masyarakat Dayak". Indonesia Kaya. Diakses tanggal 2026-01-22.
  49. Sopandi, Atik; Kusumah, Siti Dloyana; Yunus (Drs.), Ahmad (1987). Peralatan hiburan dan kesenian tradisional daerah Jawa Barat. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.
  50. Ijzerdraat, Bernard (1954). Bentara senisuara Indonesia. J.B. Wolters.
  51. admin (2017-12-15). "Gedombak". Diakses tanggal 2026-01-22.
  52. Pengolahan data seni dan budaya unggulan: direktori seni dan budaya unggulan. Kerjasama antara Direktorat Jenderal Seni dan Budaya, Departemen Pariwisata, Seni dan Budaya dengan Biro Statistik Perdagangan dan Jasa, Badan Pusat Statistik. 2000.
  53. AGUSRIZAL (2005). "Ansambel Gendang Silat dalam Upacara Perkawinan di Kabupaten Bengkalis Propinsi Riau :: Fungsi, Struktur, dan bentuk penyajiannya". Universitas Gadjah Mada.
  54. Budaya tradisional Melayu Riau. Kerja sama Dinas Kebudayaan, Kesenian, dan Pariwisata dengan Pusat Penelitian Kebudayaan dan Kemasyarakatan, Universitas Riau. 2005. hlm. 149. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  55. Salleh (Nik.), Mustapha Nik Mohd (2009). Alat muzik tradisional dalam masyarakat Melayu di Malaysia (dalam bahasa Melayu). Jabatan Kebudayaan dan Kesenian Negara, Kementerian Penerangan Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia. hlm. 102. ISBN 978-967-903-013-6. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  56. 1 2 Adriyana, Lasenta (2021-06-01). "Repositori institusi untuk Mahasiswa". Media Informasi. 30 (1): 79–89. doi:10.22146/mi.v30i1.4038. ISSN 0854-2066.
  57. "Alat Musik khas Provinsi DKI Jakarta - #DaftarSB19 » Budaya Indonesia". budaya-indonesia.org. Diakses tanggal 2026-01-18.
  58. Sugiarto, R. Toto (2016-01-01). Ensiklopedi Seni Dan Budaya 2: Alat Musik Tradisional. Media Makalangan. hlm. 40. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  59. Kayu Nangka, Bahan Terbaik untuk Kendang Jawa
  60. Menengok Pengrajin Gendang yang Kian Langka di Gianyar
  61. Kendang Sentul Blitar
  62. Kendang Daerah Banyuwangi untuk Jaranan Buto dan Kesenian Janger
  63. "Alat Musik Kendang, Salah Satu Alat Musik Tradisional yang Populer di Kalangan Masyarakat Indonesia". BDM. Diakses tanggal 2026-01-18.
  64. A, Rifda. "Asal-usul Kendang dan Mengenal Jenis-Jenisnya". Diakses tanggal 2026-01-18.
  65. "Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta | Peran Kendang Dalam Karawitan Iringan". aknyogya.ac.id. Diakses tanggal 2026-01-18.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]