Lompat ke isi

Kemunculan Bersebab

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Bata bertuliskan sutta tentang Kemunculan Bersebab. Ditemukan di Gopalpur, Distrik Gorakhpur, Uttar Pradesh. Berasal dari ca500 M, periode Gupta. Ashmolean Museum.
Terjemahan dari
Kemunculan Bersebab
Indonesiakemunculan bersebab,
kemunculan bergantung,
dependensi kemunculan,
sebab musabab yang saling bergantung
Inggrisdependent origination,
dependent arising,
interdependent co-arising,
conditioned arising
Palipaṭiccasamuppāda
Sanskertaप्रतीत्यसमुत्पाद
(IAST: pratītyasamutpāda)
Tionghoa緣起
(Pinyin: yuánqǐ)
Jepang縁起
(rōmaji: engi)
Korea연기
(RR: yeongi)
Tibetརྟེན་ཅིང་འབྲེལ་བར་འབྱུང་བ་
(Wylie: rten cing 'brel bar
'byung ba
THL: ten-ching drelwar
jungwa
)
Bengaliপ্রতীত্যসমুৎপাদ
Myanmarပဋိစ္စ သမုပ္ပါဒ်
IPA: [bədeiʔsa̰ θəmouʔpaʔ]
Thaiปฏิจจสมุปบาท
(RTGS: patitcha samupabat)
Vietnamduyên khởi
Khmerបដិច្ចសមុប្បាទ
(padecchak samubbat)
Sinhalaපටිච්චසමුප්පාද
Daftar Istilah Buddhis

Kemunculan Bersebab (Pali: paṭiccasamuppāda; Sanskerta: pratītyasamutpāda; KBBI: paticasamupada), juga dikenal sebagai Dependensi Kemunculan, Kemunculan Bergantungan, dan Sebab Musabab yang Saling Bergantung, merupakan salah satu ajaran terpenting dalam Buddhisme,[1] yang menyatakan bahwa semua dhamma (fenomena) yang muncul senantiasa bergantung pada dhamma lainnya: “jika ini ada, itu ada; jika ini tidak ada lagi, itu juga tidak ada lagi”. Prinsip dasarnya adalah bahwa tidak ada satupun hal (dhamma, fenomena, prinsip) yang eksis secara independen; semuanya muncul karena adanya kondisi-kondisi yang saling bergantung.

Pentingnya ajaran ini ditekankan oleh Buddha dalam Mahāhatthipadopama Sutta (MN 28) melalui pernyataan-Nya:

Ajaran ini mencakup gambaran tentang munculnya penderitaan (anuloma-paṭiccasamuppāda, dalam urutan maju) dan gambaran tentang bagaimana rantai tersebut dapat dibalik (paṭiloma-paṭiccasamuppāda, dalam urutan mundur).[2][3] Proses-proses ini diekspresikan dalam berbagai daftar fenomena yang muncul secara bergantungan, yang paling terkenal adalah dua belas tautan mata rantai atau nidāna (Pāli: dvādasanidānāni). Penafsiran tradisional (terutama dalam Theravāda) dari daftar ini adalah bahwa nidāna menggambarkan proses kelahiran kembali makhluk hidup di saṃsāra, dan dukkha (penderitaan, ketidaknyamanan) yang dihasilkannya.[4] Kemunculan Bersebab juga memberikan analisis mengenai kelahiran kembali dan penderitaan yang menghindari pengasumsian adanya atta (Sanskerta: ātman) (diri yang tidak berubah, atau roh yang kekal).[5][6] Pembalikan rantai kausalitas tersebut dijelaskan sebagai jalan yang mengarah pada berhentinya siklus kelahiran kembali (dan dengan demikian, juga berhentinya penderitaan).[7][8]

Ajaran tentang Kemunculan Bersebab muncul di banyak bagian Tripitaka Pali. Ini merupakan topik utama dari ''Nidāna Saṁyutta'' dalam kitab Saṁyuttanikāya (selanjutnya disebut SN) dari tradisi Theravāda. Koleksi diskursus (sutta) paralel juga terdapat dalam kitab Saṁyuktāgama berbahasa Tionghoa (disingkat SA).[9]

Etimologi

[sunting | sunting sumber]

Istilah Pāli paṭiccasamuppāda (yang sejajar dengan istilah bahasa Sanskerta pratītyasamutpāda) terdiri dari dua unsur utama:

  • Paṭicca (sejajar dengan istilah Sanskerta pratītya): berarti "setelah bergantung".[10] Istilah Sanskertanya muncul dalam Weda dan Upanisad[note 1] dalam pengertian "konfirmasi, ketergantungan, pengakuan asal-usul".[11][12] Akar kata Sanskertanya adalah prati* yang maknanya "pergi menuju, kembali, mendekati" dengan konotasi "mengamati, mempelajari, meyakinkan diri sendiri akan kebenaran apa pun, yakin akan, percaya, memberi kredibilitas, mengenali". Dalam konteks lain, istilah terkait pratiti* berarti "menuju ke arah, mendekati, wawasan tentang apa pun".[12]
  • Samuppāda (sejajar dengan istilah Sanskerta samutpāda): berarti "kemunculan",[10] "timbul, produksi, asal mula".[13] Dalam literatur Weda, istilah ini berarti "muncul bersama, timbul, terjadi, efek, bentuk, hasil, berasal".[14]

Paṭiccasamuppāda (Pali) dan/atau pratītyasamutpāda (Sanskerta) telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai dependent origination, dependent arising (kemunculan bergantungan), interdependent co-arising (kemunculan-bersama yang saling bergantung), dan conditioned arising (kemunculan terkondisi).[15][16][note 2]

Jeffrey Hopkins mencatat bahwa istilah Sanskerta yang sinonim dengan pratītyasamutpāda (Pali: paṭiccasamuppāda) adalah apekṣasamutpāda dan prāpyasamutpāda.[22]

Istilah ini juga dapat merujuk pada dua belas mata rantai (nidāna); dari bahasa Pāli: dvādasanidānāni (Sanskerta: dvādaśanidānāni), yang sejajar dengan kata Sanskerta dvādaśa ("dua belas") + nidānāni (bentuk jamak dari nidāna, yang berarti "sebab, motivasi, tautan").[quote 2] Secara umum, dalam tradisi Mahāyāna, istilah Sanskerta pratītyasamutpāda digunakan untuk merujuk pada prinsip umum kausalitas yang saling bergantung, sedangkan dalam tradisi Theravāda, istilah Pāli paṭiccasamuppāda digunakan untuk merujuk pada dua belas nidāna.

Kesalingbergantungan antarkondisi

[sunting | sunting sumber]

Dalam teks-teks Buddhis awal, prinsip dasar kesalingbergantungan kondisi-kondisi sering disebut sebagai "kepastian dhamma" (dhamma-niyāmatā), atau "kondisionalitas spesifik, ketergantungan pada kondisi ini/itu" (idappaccayatā).[24] Prinsip ini diekspresikan dalam bentuk rumusan logis umumnya sebagai berikut:[3][25]

Menurut Paccaya Sutta (SN 12.20), hukum alam tentang kesalingbergantungan kondisi-kondisi ini terus ada dan tetap berlaku terlepas dari apakah hukumnya ditemukan oleh seorang Buddha (seorang "Tathāgata") atau tidak. Hukum ini bersifat tetap dan stabil (dhamma-tthitatā), sedangkan proses-proses yang muncul secara bergantungan (paṭiccasamuppannā dhammā) merupakan variabel yang tidak kekal, terkondisi, dan tunduk pada kehancuran.[27][28]

Hubungan dengan Empat Kebenaran Mulia

[sunting | sunting sumber]

Prinsip Kemunculan Bersebab sangat erat kaitannya dengan ajaran inti Buddhisme mengenai penderitaan, yang dikenal sebagai Empat Kebenaran Mulia. Berdasarkan teks-teks sutta awal seperti AN 3.61, Kebenaran Mulia kedua dan ketiga berkorelasi langsung dengan prinsip Kemunculan Bersebab.[29][30]

Proses dua belas mata rantai dalam urutan maju (yang berujung pada dukkha) merupakan penjabaran rinci dari Kebenaran Mulia Kedua, yakni asal mula penderitaan (dukkha-samudaya). Sebaliknya, pembalikan urutan mata rantai tersebut (urutan mundur) yang memutus siklus ini adalah representasi dari Kebenaran Mulia Ketiga, yakni lenyapnya penderitaan (dukkha-nirodha).[30] Dengan demikian, Empat Kebenaran Mulia dapat dipandang sebagai penerapan prinsip Kemunculan Bersebab yang difokuskan secara khusus pada penderitaan.[16]

Dua belas mata rantai

[sunting | sunting sumber]
  12 Mata Rantai (nidāna) 
Kemunculan Bersebab:
 
Ketidaktahuan (avijjā)
Formasi (saṅkhārā)
Kesadaran (viññāṇa)
Batin-&-Jasmani (nāmarūpa)
6 Landasan Indra (saḷāyatana)
Kontak (phassa)
Perasaan (vedanā)
Nafsu (taṇhā)
Kemelekatan (upādāna)
Kemenjadian (bhava)
Kelahiran (jati)
Tua & Mati (jarā-maraṇa)

Daftar yang paling umum digunakan untuk menganalisis Kemunculan Bersebab adalah dua belas nidāna (penyebab, tautan, atau mata-rantai). Penjelasan rinci mengenai nidāna ini dapat ditemukan dalam Vibhaṅga Sutta (SN 12.2).[31] Setiap tautan biasanya diakhiri dengan penegasan bahwa itu adalah "penyebab dari seluruh kesusahan dan penderitaan."

Mata rantai (nidāna) Terjemahan Indonesia Penjelasan
(berdasarkan SN 12.2)
Avijjā
(Sanskerta: avidyā)
Ketidaktahuan, kebodohan batin Tidak mengetahui penderitaan, asal mula penderitaan, lenyapnya penderitaan, dan jalan menuju lenyapnya penderitaan.[32]
Saṅkhāra
(Skt.: saṃskāra)
Formasi kehendak, bentukan karma Tiga jenis formasi: formasi jasmani, formasi ucapan, dan formasi pikiran.[32]
Viññāṇa
(Skt.: vijñāna)
Kesadaran Enam jenis kesadaran: kesadaran mata, telinga, hidung, lidah, jasmani, dan pikiran.[32]
Nāmarūpa Batin-dan-jasmani (batin-dan-rupa) Nāma meliputi perasaan (vedanā), persepsi (saññā), kehendak (cetanā), kontak (phassa), dan perhatian (manasikāra). Rūpa adalah empat unsur pokok (tanah, air, api, angin) dan jasmani yang terbentuk darinya.[32]
Saḷāyatana
(Skt.: ṣaḍāyatana)
Enam landasan indra Landasan indra mata, telinga, hidung, lidah, jasmani, dan pikiran (daya akal budi).[32]
Phassa
(Skt.: sparśa)
Kontak Pertemuan antara objek indra, landasan indra, dan kesadaran (viññāṇa) terkait. Terdapat enam jenis phassa.[32]
Vedanā Perasaan, sensasi Perasaan menyenangkan, tidak menyenangkan, atau netral ("bukan-tidak-menyenangkan-dan-bukan-menyenangkan") yang muncul akibat enam jenis kontak indrawi.
Taṇhā
(Skt.: tṛṣṇā)
Kehausan, nafsu-keinginan Nafsu akan bentuk, suara, bau, rasa, sentuhan, dan gagasan (objek pikiran).[32]
Upādāna Kemelekatan Kemelekatan pada kenikmatan indrawi, kemelekatan pada pandangan salah, kemelekatan pada ritual/adat, dan kemelekatan pada doktrin tentang jati diri (attavāda).[32]
Bhava Kemenjadian,
penjelmaan,
keberadaan
Tiga alam kemenjadian/penjelmaan: penjelmaan alam indrawi, penjelmaan alam rūpa, dan penjelmaan alam arūpa.[32]
Jāti Kelahiran Pelahiran, penurunan, permulaan, kemunculan gugusan (khandha), dan perolehan landasan indra makhluk di berbagai alam.[32]
Jarāmaraṇa Penuaan dan kematian Penuaan, pelemahan, hilangnya vitalitas; serta kematian, putusnya indra-kehidupan (jīvitindriya) dari makhluk-makhluk.[32]

Penafsiran Theravāda

[sunting | sunting sumber]

Tiga masa kehidupan

[sunting | sunting sumber]

Dalam tradisi tafsir Theravāda, yang selaras dengan metode Abhidhamma Theravāda, khususnya melalui kitab risalah Visuddhimagga gubahan Buddhaghosa, dua belas mata rantai (nidāna) umumnya dijelaskan dalam skema yang mencakup "tiga masa kehidupan" yang saling terhubung.[3][33]

Kemunculan Bersebab dengan penggambaran skema penafsiran "tiga masa kehidupan", sebagaimana diperkenalkan oleh Y.M. Rerukane Chandawimala Thera, berasal dari Pokunuwita, Sri Lanka.

Model ini membagi nidāna sebagai berikut:

  • Kehidupan masa lalu: Avijjā (ketidaktahuan) dan saṅkhāra (formasi kehendak) bertindak sebagai proses karma (kamma-bhava) yang menjadi dasar bagi kehidupan saat ini.
  • Kehidupan saat ini: Mencakup mata rantai ketiga hingga kesepuluh. Ini dimulai dari viññāṇa (kesadaran, dalam konteks ini merujuk pada kesadaran penyambung kelahiran kembali) yang turun ke rahim (atau jenis kelahiran lainnya), membawa nāmarūpa (batin-dan-jasmani), hingga berkembangnya saḷāyatana (enam landasan indra), phassa (kontak indra), dan vedanā (perasaan); sebagai keseluruhan proses kelahiran kembali atau uppatti-bhava. Respons terhadap perasaan memicu taṇhā (kehausan, nafsu-keinginan) dan upādāna (kemelekatan, keterikatan), yang pada gilirannya menciptakan bhava (kemenjadian, keberadaan) baru (proses kamma saat ini).
  • Kehidupan masa depan: Dua mata rantai terakhir, yakni jāti (kelahiran) serta jarāmaraṇa (penuaan-dan-kematian), yang merupakan hasil tak terhindarkan dari kamma yang dibentuk di kehidupan saat ini.[34]

Tujuan utama penafsiran ini adalah untuk menunjukkan bagaimana fenomena siklus kematian dan kelahiran (samsara) beroperasi murni melalui hubungan sebab-akibat tanpa perlu mengasumsikan keberadaan suatu roh, jiwa, atau diri yang kekal (anattā).[25]

Tiga putaran pengotor batin

[sunting | sunting sumber]

Kitab Visuddhimagga, sebuah kitab risalah abad ke-5 M, dalam pembahasannya tentang "Kemunculan Bersebab" (Pali: paṭicca-samuppāda) (Vsm. XVII), menyajikan berbagai metode penjelasan untuk memahami dua belas mata rantai (nidāna). Salah satu metode (Vsm. XVII, 298) membagi dua belas faktor tersebut ke dalam tiga "putaran" (tivaṭṭa):

  • "putaran pengotor batin" (kilesa-vaṭṭa)
  • "putaran perbuatan berkehendak" (kamma-vaṭṭa)
  • "putaran resultan/akibat perbuatan" (vipāka-vaṭṭa).[35][36]
12 nidāna   3 putaran
tua-mati   aspek-aspek vipāka (resultan)[37]
 
kelahiran  
 
keberadaan   kamma
 
kemelekatan   kilesa
(2 putaran)
 
nafsu  
 
perasaan   vipāka
(resultan)
 
kontak  
 
landasan indra  
 
batin-jasmani  
 
kesadaran  
 
formasi   kamma
 
ketidaktahuan   kilesa
(1 putaran)
Figur: "Tiga putaran" dari Kemunculan Bersebab (Vsm. XVII, 298).

Dalam kerangka ini (lihat Diagram "12 Nidāna dan 3 Putaran", dimulai dari bagian bawah), kilesa (berupa avijjā, "ketidak-tahuan") mengondisikan kamma (yang adalah saṅkhāra, "formasi") yang mengondisikan hasil (berupa viññāṇa, "kesadaran"; hingga vedanā, "perasaan"), yang pada gilirannya mengondisikan kilesa (berupa taṇhā, "nafsu-keinginan"; dan upādāna, "kemelekatan") yang mengondisikan kamma (berupa bhava, "keberadaan") dan seterusnya.[38] Buddhaghosa (Vsm. XVII, 298) menyimpulkan:

Maka bhavacakka (roda keberadaan) ini, yang mempunyai tiga putaran dengan tiga putaran ini, harus dipahami berputar, berputar lagi dan lagi, selamanya; karena kondisi-kondisi tidak terputus selama putaran pengotor-pengotor batin tidak terputus.[35]

Seperti yang dapat dilihat, dalam kerangka ini, putaran pengotor batin terdiri dari:

Di bagian lain kitab Visuddhimagga (Vsm. XXII, 88), dalam konteks empat individu mulia (ariya-puggala, lihat Empat tingkat kemuliaan), teks tersebut mengacu pada pertanda pencapaian Nirwana sebagai penghapusan total "pengotor batin yang merupakan akar dari putaran" (vaṭṭa-mūla-kilesā).[39]

Kemunculan Bersebab adiduniawi

[sunting | sunting sumber]

Memahami Kemunculan Bersebab sangat penting dalam Theravāda karena memberikan pengetahuan tentang bagaimana siklus kematian dan kelahiran (samsara) dapat diakhiri (mencapai Nibbāna). Tradisi membedakan antara siklus duniawi (lokiya) yang menjebak makhluk dalam penderitaan, dan siklus adiduniawi (lokuttara paṭicca-samuppāda) yang menggambarkan proses pelepasan dari siklus tersebut.[40]

Dalam Upanisā Sutta (SN 12.23), Sang Buddha menjabarkan urutan kondisi yang mengarah pada pembebasan. Penderitaan (dukkha) justru menjadi prasyarat (kondisi pendukung) bagi munculnya keyakinan (saddhā):[41]

  1. Penderitaan (dukkha) mengondisikan keyakinan (saddhā)
  2. Keyakinan mengondisikan kegirangan (pāmojja)
  3. Kegirangan mengondisikan kegembiraan/kegiuran (pīti)
  4. Kegembiraan/kegiuran mengondisikan ketenteraman (passaddhi)
  5. Ketenangan mengondisikan kebahagiaan (sukha)
  6. Kebahagiaan mengondisikan konsentrasi (samādhi)
  7. Konsentrasi mengondisikan pengetahuan dan penglihatan sebagaimana adanya (yathābhūta-ñāṇadassana)
  8. Pengetahuan dan penglihatan mengondisikan kejijikan/kejemuan pada duniawi (nibbidā)
  9. Kejijikan/kejemuan mengondisikan kebebasan dari nafsu (virāga)
  10. Kebebasan dari nafsu mengondisikan pembebasan (vimutti)
  11. Pembebasan mengondisikan pengetahuan tentang hancurnya noda batin (āsava-khaye-ñāṇa)

Penafsiran Mahāyāna

[sunting | sunting sumber]

Buddhisme Mahāyāna, yang memandang Kemunculan Bersebab sangat erat kaitannya dengan ajaran tentang kekosongan (śūnyatā), menyatakan dengan tegas bahwa semua fenomena dan pengalaman kosong dari identitas independen. Hal ini sangat penting bagi tradisi Mādhyamaka, salah satu tradisi pemikiran Mahāyāna yang paling berpengaruh. Sementara itu, tradisi Yogācāra memahami Kemunculan Bersebab melalui filosofi idealistiknya, dan memandang Kemunculan Bersebab sebagai proses yang menghasilkan ilusi dualitas antara subjek dan objek.

Salah satu sutra yang paling penting dan banyak dikutip mengenai Kemunculan Bersebab dalam tradisi Mahāyāna India adalah Śālistamba Sūtra (Sutra Bibit Padi).[42] Sutra ini memperkenalkan perumpamaan terkenal tentang benih padi dan kecambahnya sebagai cara untuk menjelaskan kondisionalitas. Sutra ini juga mengandung kutipan berpengaruh: "Barang siapa melihat Kemunculan Bersebab, ia melihat dharma. Barang siapa melihat dharma, ia melihat Buddha."[42] Sutra ini memuat banyak bagian yang paralel dengan sumber-sumber Buddhis awal (seperti MN 38 Theravāda), dan juga menguraikan dua belas mata rantai klasik. Sutra ini juga mengandung beberapa elemen unik seperti figur Maitreya, gagasan tentang ilusi (māyā), dan gagasan tentang dharmaśarīra (tubuh-dharma).[43] Banyak ulasan ditulis untuk sutra ini, beberapa di antaranya dikaitkan dengan Nāgārjuna (meskipun hal ini diragukan).[43]

Tanpa-kemunculan

[sunting | sunting sumber]

Beberapa sūtra Mahāyāna memuat pernyataan yang berbicara tentang sifat dharma yang "tanpa-kemunculan" atau "tidak-dihasilkan" (anutpāda). Menurut Edward Conze, dalam sūtra-sūtra Prajñāpāramitā, status ontologis dharma dapat digambarkan sebagai tidak pernah dihasilkan (anutpāda), tidak pernah dimunculkan (anabhinirvritti), serta tidak-terlahirkan (ajata). Hal ini diilustrasikan melalui berbagai perumpamaan seperti mimpi, ilusi, dan fatamorgana. Conze juga menyatakan bahwa "penerimaan dengan sabar atas tanpa-munculnya para dharma" (anutpattika-dharma-kshanti) adalah "salah satu kebajikan yang paling khas dari orang suci Mahāyāna."[44]

Mungkin yang tertua dari sutra-sutra ini, Aṣṭasāhasrikā Prajñāpāramitā, memuat bagian yang menggambarkan kedemikianan (tathatā) dari dharma menggunakan berbagai istilah termasuk śūnyatā, pelenyapan (nirodha), dan tanpa-kemunculan (anutpāda).[45] Yang paling terkenal, Sutra Hati menyatakan:

Sariputra, dengan cara itu, semua fenomena adalah kosong, yaitu, tanpa karakteristik, tidak dihasilkan, tidak dihentikan, tidak ternoda, tidak murni, tidak berkurang, tidak bertambah.[46]

Sutra Hati juga meniadakan dua belas mata rantai Kemunculan Bersebab: "Tidak ada ketidaktahuan, tidak ada pelenyapan ketidaktahuan, hingga dan termasuk tidak ada penuaan dan kematian serta tidak ada pelenyapan penuaan dan kematian."[47]

Mādhyamaka

[sunting | sunting sumber]

Dalam filosofi Mādhyamaka, dikatakan bahwa suatu objek muncul secara bergantungan adalah sinonim dengan mengatakan bahwa objek tersebut "kosong" (śūnya). Hal ini dinyatakan secara langsung oleh Nāgārjuna dalam Mūlamadhyamakakārikā (MMK):[48]

Apa pun yang muncul secara bergantungan, dijelaskan sebagai kekosongan. Demikianlah atribusi bergantungan, yang merupakan jalan tengah. Oleh karena tidak ada apa pun, yang tidak eksis secara bergantungan. Oleh karena alasan itu, tidak ada apa pun yang tidak kosong. – MMK, Bab 24.18–19[49]

Menurut Nāgārjuna, semua fenomena (dharma) kosong dari svabhāva (hakikat intrinsik, keberadaan inheren) yang merujuk pada identitas yang mandiri, independen secara kausal, dan kekal/permanen. Karya-karya filosofis Nāgārjuna menganalisis semua fenomena untuk menunjukkan bahwa tidak ada satu pun yang dapat eksis secara independen, tetapi fenomena tersebut juga tidak dianggap tidak eksis karena mereka eksis secara konvensional, yaitu sebagai kemunculan bergantungan yang kosong.[50]

Yogācāra

[sunting | sunting sumber]

Tradisi Yogācāra menafsirkan ajaran Kemunculan Bersebab melalui skema pusatnya tentang "tiga hakikat" (yang sebenarnya merupakan tiga cara memandang satu realitas yang muncul secara bergantungan).[51] Dalam skema ini, hakikat yang dikonstruksi atau difabrikasi adalah penampakan ilusi (dari diri yang dualistik), sementara "hakikat bergantungan" merujuk secara spesifik pada proses Kemunculan Bersebab itu sendiri. Dalam Yogācāra, proses kausal ini sepenuhnya bersifat mental; sehingga tubuh seseorang, landasan indra, dan sebagainya merupakan penampakan ilusi.[52]

Buddhisme Tibet

[sunting | sunting sumber]
Dalam Buddhisme Tibet, 12 nidana biasanya ditampilkan pada lingkaran luar roda eksistensi. Ini adalah genre seni umum yang ditemukan di kuil dan biara Tibet.[53] Tiga racun (keserakahan, kebencian, dan delusi) berada tepat di pusat roda tersebut.

Cendekiawan Buddhis Tibet mengandalkan karya-karya India utara dari para sarjana seperti Asaṅga, Vasubandhu, dan Nāgārjuna dalam menafsirkan dua belas mata rantai. Sebagai contoh, Je Tsongkhapa mencoba menyelaraskan penyajian dua belas mata rantai yang ditemukan dalam karya Nāgārjuna dan Asaṅga.[54] Tradisi Buddhisme Tibet mengalokasikan dua belas mata rantai secara berbeda di antara berbagai kehidupan (masa lalu, masa sekarang, dan masa depan), tidak seperti pendekatan tradisi Theravāda, karena melibatkan konsep bardo atau "keadaan-antara", suatu keadaan yang berada di antara kematian dan kelahiran kembali (Theravāda tidak setuju dengan konsep bardo).[54]

Saling bergantung

[sunting | sunting sumber]

Tradisi Huayan mengajarkan ajaran tentang "bulat dan melebur" atau "harmonis sempurna" (yuánróng, 圓融) dari semua fenomena, seperti yang diekspresikan dalam metafora Jaring Indra. Satu hal mengandung semua hal lain yang ada, dan semua hal yang ada mengandung satu hal tersebut. Filosofi ini didasarkan pada Sutra Avataṁsaka. Thích Nhất Hạnh menjelaskan konsep ini dengan istilah "inter-be" (kesaling-adaan). Dia menggunakan contoh selembar kertas yang hanya dapat eksis karena setiap penyebab dan kondisi lainnya (sinar matahari, hujan, pohon, manusia, pikiran, dll) juga telah eksis. Menurut Hanh "selembar kertas ini ada karena segala sesuatu yang lain ada."[55]

Perbandingan dengan filsafat Barat

[sunting | sunting sumber]

Konsep paṭiccasamuppāda (Pali) atau pratītyasamutpāda (Sanskerta) juga telah dibandingkan dengan metafisika Barat, dalam studi tentang realitas. Schilbrack menyatakan bahwa ajaran sebab musabab yang saling bergantung tampak memenuhi definisi ajaran metafisika dalam filsafat karena mempertanyakan apakah ada sesuatu yang eksis sama sekali.[56] Hoffman tidak setuju dan menegaskan bahwa Kemunculan Bersebab tidak seharusnya dianggap sebagai ajaran metafisika dalam arti yang paling ketat karena ajaran tersebut tidak mengonfirmasi maupun menyangkal entitas atau realitas tertentu.[note 3]

Filsafat Helenistik Pironisme memiliki kemiripan dengan pandangan Buddhis mengenai Kemunculan Bersebab, sebagaimana juga dalam banyak hal lainnya.[58][59][60] Aulus Gellius dalam Attic Nights mendeskripsikan bagaimana penampakan dihasilkan oleh interaksi relatif antara pikiran dan tubuh, serta bagaimana tidak ada hal yang bersifat mandiri (bahasa Inggris: self-dependent).[61] Ulasan kuno atas Theaetetus karya Plato juga membela sejenis relativisme yang menyatakan bahwa tidak ada sesuatu pun yang memiliki karakter intrinsiknya sendiri.[62]

Jay L. Garfield menyatakan bahwa Mūlamadhyamakakārikā karya Nāgārjuna menggunakan hubungan kausal untuk memahami hakikat realitas dan hubungan kita dengannya. Upaya ini mirip dengan penggunaan kausalitas oleh David Hume, Immanuel Kant, dan Arthur Schopenhauer saat mereka memaparkan argumen masing-masing. Nāgārjuna menggunakan kausalitas untuk menyajikan argumennya tentang bagaimana seseorang mengindividualisasikan objek-objek, menata pengalaman seseorang terhadap dunia, dan memahami kepelakuan atau daya bertindak (bahasa Inggris: agency) di dunia.[18]

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]
  1. Seperti dalam himne 4.5.14, 7.68.6 dari Rigweda dan 19.49.8 dari Atharwaweda
  2. Istilah pratītyasamutpāda (Sanskerta) dan/atau paṭiccasamuppāda (Pali) telah diterjemahkan ke bahasa Inggris sebagai conditioned arising,[16] conditioned genesis,[17] dependent arising,[18][quote 1] dependent co-arising,[20] atau dependent origination[21]
  3. Hoffman menyatakan: "Cukuplah untuk menekankan bahwa ajaran Kemunculan Bersebab bukanlah ajaran metafisika, dalam artian ia tidak menegaskan atau menyangkal beberapa entitas atau realitas super-sensibel; sebaliknya, ini adalah sebuah proposisi yang dicapai melalui pemeriksaan dan analisis dunia fenomena ..."[57]
  1. Dari sudut pandang tradisi Gelug Tibet, Dalai Lama menjelaskan: "Dalam Sanskerta, kata untuk kemunculan-bergantungan adalah pratītyasamutpāda. Kata pratītya memiliki tiga arti berbeda—bertemu, mengandalkan, dan bergantung—tetapi ketiganya, dalam hal kepentingan dasarnya, berarti ketergantungan. Samutpāda berarti kemunculan. Oleh karena itu, arti dari pratītyasamutpāda adalah apa yang muncul dalam ketergantungan pada kondisi-kondisi, melalui kekuatan kondisi-kondisi."[19]
  2. Dari sudut pandang Mahāyāna, Nalanda Translation Committee menyatakan: "Pratītya-samutpāda (Pali: paṭicca-samuppāda) adalah nama teknis untuk ajaran Buddha tentang sebab dan akibat. Beliau mendemonstrasikan bagaimana semua situasi muncul melalui perpaduan berbagai faktor. Dalam Hīnayāna, istilah ini merujuk secara khusus pada dua belas nidāna, atau tautan dalam rantai kemenjadian samsara."[23]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Boisvert 1995.
  2. Fuller, Paul (2004). The Notion of Diṭṭhi in Theravāda Buddhism: The Point of View. hlm. 65. Routledge.
  3. 1 2 3 Harvey, Peter. The Conditioned Co-arising of Mental and Bodily Processes within Life and Between Lives, in Steven M. Emmanuel (ed) (2013). "A Companion to Buddhist Philosophy", hlm. 46-69. John Wiley & Sons.
  4. Harvey 2015.
  5. Shulman 2008.
  6. Jurewicz 2000.
  7. Harvey 2015, hlm. 50–59.
  8. Robert E. Buswell Jr.; Donald S. Lopez Jr. (2013). The Princeton Dictionary of Buddhism. Princeton University Press. hlm. 583. ISBN 978-1-4008-4805-8.
  9. Choong, Mun-keat (2000). The Fundamental Teachings of Early Buddhism: A Comparative Study Based on the Sutranga Portion of the Pali Samyutta-Nikaya and the Chinese Samyuktagama, hlm. 150. Otto Harrassowitz Verlag.
  10. 1 2 Hopkins 1983.
  11. ऋग्वेद: सूक्तं ७.६८, Rigveda 7.68.6, Wikisource; Kutipan: उत त्यद्वां जुरते अश्विना भूच्च्यवानाय प्रतीत्यं हविर्दे । अधि यद्वर्प इतऊति धत्थः ॥६॥
  12. 1 2 Monier Monier-Williams (1872). A Sanskrit-English Dictionary. Oxford University Press.
  13. "samutpada". spokensanskrit.de. Diarsipkan dari versi asli pada 2015-05-02.
  14. Monier Monier-Williams (1872). A Sanskrit-English Dictionary. Oxford University Press.
  15. Lopez 2001.
  16. 1 2 3 Harvey 1990.
  17. Walpola Rahula 2007, Kindle Locations 791-809.
  18. 1 2 Garfield 1994.
  19. Dalai Lama 1992.
  20. Thanissaro Bhikkhu 2008.
  21. "Paticca-samuppada". Encyclopædia Britannica. Diakses 25 Februari 2011.
  22. Jeffrey Hopkins (2014). Meditation on Emptiness. Wisdom Publications. ISBN 978-0-86171-705-7.
  23. "Dependent Arising/Tendrel". Nalanda Translation Committee. 14 September 2003.
  24. Shì hùifēng, “Dependent Origination = Emptiness”—Nāgārjuna’s Innovation? An Examination of the Early and Mainstream Sectarian Textual Sources, JCBSSL VOL. XI, hlm. 175-228.
  25. 1 2 Brahm (2002), Dependent Origination, Bodhinyana Monastery
  26. "Assutavā Sutta: Uninstructed (1)". Access to Insight (BCBS Edition). Diterjemahkan oleh Thanissaro Bhikkhu. 30 November 2013. (SN 12.61).
  27. Paccayasutta SN 12.20 (SN ii 25) https://suttacentral.net/sn12.20/
  28. "Paccaya Sutta: Requisite Conditions". Access to Insight (BCBS Edition). Diterjemahkan oleh Thanissaro Bhikkhu. 30 November 2013. (SN 12.20).
  29. Frauwallner 1973.
  30. 1 2 Gethin 1998.
  31. Choong, Mun-keat (2000). The Fundamental Teachings of Early Buddhism: A Comparative Study Based on the Sutranga Portion of the Pali Samyutta-Nikaya and the Chinese Samyuktagama, hlm. 161. Otto Harrassowitz Verlag.
  32. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 "Paticca-samuppada-vibhanga Sutta: Analysis of Dependent Co-arising". Access to Insight (BCBS Edition). Diterjemahkan oleh Thanissaro Bhikkhu. 30 November 2013. (SN 12.2).
  33. Wayman, Alex. Buddhist Dependent Origination. History of Religions, Vol. 10, No. 3, (Feb., 1971), hlm. 185-203. The University of Chicago Press.
  34. Buddhaghosa 2010.
  35. 1 2 3 Buddhaghosa 1991, hlm. 599, v. 298.
  36. Lihat "putaran penderitaan, putaran tindakan, putaran pengotor batin" di kitab parakanonika Nettipakaraṇa (dukkhavaṭṭo kammavaṭṭo kilesavaṭṭo) (Nett. i.95). "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2011-07-19. Diakses tanggal 2008-07-16.
  37. Sesungguhnya, dalam kerangka ini, kitab Visuddhimagga (Vsm. XVII, 298) tidak secara eksplisit mengidentifikasi "kelahiran" (jāti) dan "penuaan-kematian" (jarāmaraa) dengan hasil/resultan (vipāka).
    Meskipun demikian, dalam paragraf sebelumnya (Vsm. XVII, 297), Buddhaghosa menulis: "Dan di masa depan, lipat-lima buah: lima yang dimulai dengan kesadaran. Ini diungkapkan dengan istilah 'kelahiran'.
    Akan tetapi, 'penuaan-dan-kematian' adalah penuaan dan kematian dari [lima] ini sendiri" (; tanda kurung siku dalam aslinya). Dengan demikian, "kelahiran" dan "penuaan dan kematian" menjadi korelasi atau ekspresi dari urutan "hasil/resultan" lipat-lima.
  38. Buddhaghosa 1991, hlm. hlm. 599, v. 297.
  39. Buddhaghosa 1991, hlm. 715.
  40. Jayarava Attwood, The Spiral Path or Lokuttara Paṭicca-samuppāda, Western Buddhist Review 2013 (6): 1–34
  41. Bhikkhu Bodhi (1 Desember 2013). "Transcendental Dependent Arising: A Translation and Exposition of the Upanisa Sutta". Access to Insight (BCBS Edition).
  42. 1 2 Tatz, Mark. Reviewed work(s): The Śālistamba Sūtra and Its Indian Commentaries by Jeffrey D. Schoening in Journal of the American Oriental Society volume 118, 1998, hlm. 546.
  43. 1 2 Reat, N. Ross. The Śālistamba sūtra : Tibetan original, Sanskrit reconstruction, English translation, critical notes (including Pali parallels, Chinese version, and ancient Tibetan fragments). Delhi : Motilal Banarsidass Publishers, 1993, hlm. 2, 31.
  44. Conze, Edward; The Ontology of the Prajnaparamita, Philosophy East and West Vol.3 (1953) hlm. 117-129, University of Hawaii Press.
  45. Orsborn, Matthew Bryan (2012). “Chiasmus in the Early Prajñāpāramitā: Literary Parallelism Connecting Criticism & Hermeneutics in an Early Mahāyāna Sūtra”, hlm. 233. University of Hong Kong.
  46. Lopez, Donald S. (1988). The Heart Sutra Explained: Indian and Tibetan Commentaries, hlm. 19. SUNY Press.
  47. Lopez, Donald S. (1988). The Heart Sutra Explained: Indian and Tibetan Commentaries, hlm. 20. SUNY Press.
  48. Mabja Tsondru 2011.
  49. Geshe Sonam Rinchen 2006.
  50. Garfield, Jay L. Dependent Arising and the Emptiness of Emptiness: Why Did Nāgārjuna Start with Causation? Philosophy East and West, Vol. 44, No. 2 (Apr., 1994), hlm. 219-250. University of Hawai'i Press.
  51. Gold, Jonathan (2014). Paving the Great Way: Vasubandhu's Unifying Buddhist Philosophy, hlm. 150. Columbia University Press.
  52. Gold, Jonathan (2014). Paving the Great Way: Vasubandhu's Unifying Buddhist Philosophy, hlm. 149. Columbia University Press.
  53. Samuel Brandon (1965). History, Time, and Deity: A Historical and Comparative Study of the Conception of Time in Religious Thought and Practice. Manchester University Press. hlm. 100–101.
  54. 1 2 Wayman 1984.
  55. Thich Nhat Hanh (2012) The Heart Sutra: the Fullness of Emptiness, Lion's Roar.
  56. Schilbrack 2002.
  57. Hoffman 1996, hlm. 177.
  58. Adrian Kuzminski, Pyrrhonism: How the Ancient Greeks Reinvented Buddhism 2008
  59. McEvilley 2002, hlm. bab 17.
  60. Matthew Neale Madhyamaka and Pyrrhonism 2014
  61. Aulus Gellius (1927). "Book XI Chapter 5 Sections 6-7". Attic Nights (Edisi Loeb Classical Library).
  62. (anon.) (2019), Commentary on Plato's Theaetetus, diterjemahkan oleh George Boys-Stones

Daftar pustaka

[sunting | sunting sumber]

Bacaan lanjutan

[sunting | sunting sumber]
Theravāda
Buddhisme Tibet
  • Chogyam Trungpa (1972). "Karma and Rebirth: The Twelve Nidanas, by Chogyam Trungpa Rinpoche." Karma and the Twelve Nidanas, A Sourcebook for the Shambhala School of Buddhist Studies. Vajradhatu Publications.
  • Dalai Lama (1992). The Meaning of Life, diterjemahkan dan disunting oleh Jeffrey Hopkins, Boston: Wisdom.
  • Geshe Sonam Rinchen (2006). How Karma Works: The Twelve Links of Dependent Arising. Snow Lion
  • Khandro Rinpoche (2003). This Precious Life. Shambala
  • Thrangu Rinpoche (2001). The Twelve Links of Interdependent Origination. Nama Buddha Publications.
Kajian akademis
  • Frauwallner, Erich (1973), "Chapter 5. The Buddha and the Jina", History of Indian Philosophy: The philosophy of the Veda and of the epic. The Buddha and the Jina. The Sāmkhya and the classical Yoga-system, Motilal Banarsidass
  • Bucknell, Roderick S. (1999), "Conditioned Arising Evolves: Variation and Change in Textual Accounts of the Paticca-samupadda Doctrine", Journal of the International Association of Buddhist Studies, 22 (2)
  • Jurewicz, Joanna (2000), "Playing with Fire: The pratityasamutpada from the perspective of Vedic thought", Journal of the Pali Text Society, 26
  • Shulman, Eviatar (2008), "Early Meanings of Dependent-Origination" (PDF), Journal of Indian Philosophy, 36 (2), doi:10.1007/s10781-007-9030-8, S2CID 59132368, diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 10 Oktober 2016
  • Gombrich, Richard (2009), "Chapter 9. Causation and non-random process", What the Buddha Thought, Equinox
  • Jones, Dhivan Thomas (2009), "New Light on the Twelve Nidanas", Contemporary Buddhism, 10 (2), doi:10.1080/14639940903239793, S2CID 145413087

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]
Sutta
Ulasan

Sumber edukasi