Keletihan mental

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Keletihan mental atau kelelahan kerja (bahasa Inggris: burnout atau occupational burnout) adalah istilah psikologi yang digunakan untuk menggambarkan perasaan kegagalan dan kelesuan akibat tuntutan yang terlalu membebankan tenaga dan kemampuan seseorang.[1] Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Freudenberger pada tahun 1974. Penelitian mengenai topik ini awalnya dilakukan dibidang pendidikan, terutama pada guru yang mengalami penurunan kinerja yang disebabkan oleh keletihan mental.

Stamm, B (2005) dalam ProQUOL Manual menjelaskan keletihan mental dalam perspektif penelitian, yaitu diasosiasikan dengan perasaan tanpa harapan dan kesulitan untuk melakukan pekerjaan atau kesulitan mengerjakan pekerjaan secara efektif. Selanjutnya, Stamm menjelaskan bahwa biasanya perasaan negatif itu muncul secara perlahan-lahan. Pekerja akan merasa bahwa usaha yang dilakukan tidak membawa perubahan apa pun.

Organisasi Kesehatan Dunia mempublikasikan definisi baru tentang kelelahan kerja sebagai sebuah sindrom, per Januari 2022.[2] Deskripsi kelelahan kerja menurut OKD adalah:

Burnout adalah sindrom yang dikonseptualisasikan sebagai akibat dari stres kronis di tempat kerja yang belum berhasil dikelola. Hal ini ditandai dengan tiga dimensi: 1) perasaan kehabisan energi atau kelelahan; 2) peningkatan jarak mental dari pekerjaan seseorang, atau perasaan negativisme atau sinisme yang terkait dengan pekerjaan seseorang; dan 3) rasa ketidakefektifan dan kurangnya pencapaian. Burn-out mengacu secara khusus pada fenomena dalam konteks pekerjaan dan tidak boleh diterapkan untuk menggambarkan pengalaman di bidang kehidupan lainnya.

Penanggulangan[sunting | sunting sumber]

Keletihan mental merupakan masalah psikologis, dan bisa kita atasi dengan mudah, asalkan kita disiplin untuk melakukannya. Beberapa cara mengatasi keletihan mental yang bisa dipraktikkan adalah:[3]

  1. Buat jadwal reguler aktivitas sosial.
  2. Olahraga rutin.
  3. Nikmati hobi.
  4. Jadilah sukarelawan.
  5. Tulis tujuan hidup.
  6. Jangan malu untuk minta bantuan.
  7. Buat orang lain tertawa.
  8. Keluarlah dari kebiasaan.
  9. Ciptakan ritual pagi.
  10. Berhenti beralasan.
  11. Bertanggung jawab.

Referensi[sunting | sunting sumber]