Kelelawar mahkota emas

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kelelawar mahkota emas
Acerodon jubatus by Gregg Yan.jpg
Status konservasi
Klasifikasi ilmiah
Kingdom: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Chiroptera
Famili: Pteropodidae
Genus: Acerodon
Spesies: A. jubatus
Nama binomial
Acerodon jubatus
(Eschscholtz, 1831)
Giant Golden-crowned Flying Fox area.png
Giant golden-crowned flying fox range
(green — extant, orange — possibly extirpated, black — extirpated)

Kelelawar Mahkota Emas (Acerodon jubatus) adalah salah satu spesies kelelawar langka dengan karakteristik sayap yang sangat panjang. Nyatanya, sayap jenis kelelawar ini seringkali terlihat menyelimuti tubuh mereka seperti menggunakan mantel. Saat terlihat utuh, panjang sayap mereka dapat mencapai hingga lima kaki. Sayap tersebut memiliki berat sebesar 2,5 pound.

Kelelawar ini disinyalir sebagai spesies kelelawar terbesar di dunia. Kelelawar ini memiliki wajah yang menyerupai rubah. Spesies kelelawar ini memiliki moncong panjang yang menyerupai moncong seekor anjing (canine). Spesies kelelawar ini juga memiliki telinga yang runcing, bukan bulat seperti spesies kelelawar pada umumnya. Mereka kerap disebut juga dengan panggilan Rubah Bersayap.

Kelelawar spesies ini juga memiliki bulu berwarna coklat keemaasan di kepala mereka yang merepresentasikan nama mereka. Namun bulu di seluruh tubuh mereka termasuk di sayap mereka, berwarna hitam. Namun demikian, "profiling DNA" menunjukan bahwa spesies kelelawar ini tidak memiliki hubungan dengan rubah. Selain itu, mereka juga tidak memiliki ekor seperti umumnya spesies kelalawar buah lainnya.[2]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Mildenstein, T.; et al. (2008). "Acerodon jubatus". IUCN Red List of Threatened Species. Version 2008. International Union for Conservation of Nature. Diakses tanggal 13 Januari 2009. 
  2. ^ https://www.batworlds.com/giant-golden-crowned-flying-fox/"bat world". GIANT GOLDEN-CROWNED FLYING-FOX. Diakses tanggal 2 Desember 2018.