Kelayangan Dandang

Kelayangan dandang atau Kalayangan dandang adalah permainan tradisional masyarakat di Kabupaten Tapin dan Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Pada 2024, permainan ini ditetapkan sebagai Warisan budaya takbenda dari Kemendikbud RI.
Penamaan
[sunting | sunting sumber]
Kalayangan dandang atau dalam bahasa Indonesia adalah layang-layang berukuran besar, biasanya dimainkan di area persawahan setelah musim panen selesai. Penerbangan Layang-layang ini menjadi tradisi dan telah dilaksanakan selama puluhan tahun yang lalu sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen yang telah diperoleh dan harapan agar hasil panen berikutnya lebih baik serta terhindar dari gagal panen.[1] Kata Dandang (dendang) berarti bunyi-bunyian yang muncul dari layangan tersebut. Bunyi ini muncul karena pembuat layang-layang umumnya menambahkan seruas bambu panjang yang berlubang (kukumbangan) sehingga akan mengeluarkan bunyi jika tertiup angin.[2]
Untuk menyingkat penyebutan ‘kalayangan dandang’, umumnya masyarakat menyebutnya dengan ‘dandang’. Sedangkan untuk menyebut bermain kalayangan dandang ialah ‘badandang’ dan pemainnya disebut dengan ‘padandangan’.[3]
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Versi 1
[sunting | sunting sumber]Kalayangan dandang diketahui berasal dari tradisi lisan masyarakat di Pegunungan Meratus. Masyarakat yang tinggal di pedalaman sering membuat Bubut Agung yaitu bambu besar atau batung yang diberi lubang dan menimbulkan bunyi “But.. but..”. Hingga saat ini, Bubut Agung dikenal juga sebagai Dangung di Kabupaten Tapin dan Kukumbangan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan.[3]
Biasanya, Bubut Agung akan dipasang di sekitar Balai Adat sebagai penanda arah jalan pulang ketika berburu. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, Bubut Agung dipakai juga untuk permainan dan dipasang di kalayangan cacanting yaitu kalayangan yang bentuknya lebih kecil dari kalayangan dandang.[3]
Tradisi budaya layang-layang dandang sebelum era 1900
[sunting | sunting sumber]Tradisi lisan versi lainnya menyebutkan bahwa Kalayangan dandang berawal dari cangkirik atau kincir angin yang dibuat oleh seseorang di Gunung Layang-Layang, Desa Tanah Bangkang.[2] Disebutkan bahwa Kincir angin tersebut terbuat dari dua potong bambu yang dilubangi, ketika angin bertiup mengenai kincir tersebut, maka akan berbunyi nyaring. Bunyi ini menimbulkan rasa penasaran masyarakat dan mereka mencari benda yang menghasilkan bunyi senyaring itu. Setelah ada warga yang mengetahui sumber suara tersebut, Ia mendatangi tempat kincir angin tersebut dan membawa pulang kayu kincir tersebut.
Versi 3
[sunting | sunting sumber]Terdapat juga tradisi lisan tentang seseorang dari Sungai Raya bernama Ning Sualir yang mampu membuat alat berbunyi tersebut. Ia kemudian memasangnya ke layang-layang menggunakan tali rotan. Awalnya, hanya sebelah saja yang diberikan, namun lama-kelamaan ketika kedua belah dipasang maka membuat bunyinya semakin nyaring dan merdu. Suara ini pun sampailah ke desa sebelah yaitu Desa Sarang Halang dan menarik perhatian seorang tokoh yang bernama Ning Samarang. Ia pun menemui Ning Sualir untuk belajar hingga mereka berdua pun saling mengangkat saudara.[3]
Versi 4
[sunting | sunting sumber]Masyarakat di Kabupaten Tapin mempercayai bahwa Kalayangan dandang berasal dari burung dandang (sejenis burung berukuran besar) yang mencuri tapih bahalai. Burung tersebut menari-nari di udara sambil bersuara indah. Hal ini pun menarik perhatian masyarakat dan berkeinginan untuk membuat tiruan burung berbentuk kalayangan. Seiring perkembangan zaman, kalayangan dandang dipasang dangung di bagian badan dandang, untuk menghasilkan bunyi ketika diterbangkan.[3]
Pada 19 November 2023, dibentuk sebuah perkumpulan bernama “Persatuan Layang-Layang Dandang Kabupaten Hulu Sungai Selatan” dengan visi dan misi untuk melestarikan kalayangan dandang. Selain itu juga diharapkan bahwa perkumpulan ini bisa memperkenalkan nilai-nilai budaya agar dapat diwariskan dari generasi ke generasi.[2]
Peralatan
[sunting | sunting sumber]
Layang-layang dandang memiliki ukuran panjang badan 5,5 m, lebar badan 1,5 cm, panjang papat (pinggul ekor) 2,4 m, lebar papat (pinggul ekor) 1,7 m, panjang kain sebagai ekor penyeimbang kurang lebih 10meter dan lebar 1,7 m serta kepala layang-layang dibentuk menyerupai paruh 1,2 m. Jika dilihat dari jauh, Kalayangan ini menyerupai burung Enggang.[2]
Namun, terdapat juga Layang-layang yang berukuran rentang lebarnya kisaran 6-9 m. Tergantung apakah pemiliknya membuat untuk anak-anak atau orang dewasa.[3]
Layang-layang dandang umumnya dimainkan oleh laki-laki baik oleh anak-anak atau orang dewasa, sementara anak perempuan umumnya hanya akan menonton. Untuk menerbangkan layang-layang dandang membutuhkan banyak orang minimal 3 orang untuk mengangkatnya dan mendirikannya sesuai dengan arah angin bertiup. Pemain lain akan memegang tali kenur dari jarak yang cukup jauh, misalnya 20 meter.[2]
Bagian layang-layang dandang
[sunting | sunting sumber]Kerangka Kalayangan dandang, pada umumnya memiliki bagian berikut:[2]
- Tulang belakang layang-layang dandang yang terbuat terbuat dari kayu sungkai berukuran 1-3 m.
- Kuku layang-layang dandang umumnya terbuat dari bilahan rotan sepasang kiri kanan atas bawah fungsinya untuk memperindah bentuk layang-layangnya.
- Sayap (halang kait) kiri kanan sebagai penyeimbang tekanan angin dari samping
- Papat (pinggul ekor) sebagai kemudi penyeimbang terhadap tekanan angin dan berfungsi sebagai pengikat kain ekornya
- Kepala menyerupai paruh lancip memperindah bentuk layang-layang dandang
- Kain buntut (ekor) kalau ukuran besar biasanya lebar 180cm panjang 12meter
- Tali nilon kecil untuk mengikat rangka layang-layang dandang
- Renda rumbai untuk memperindah bentuk layang-layang dandang dipasangkan di sisi ujung, bagian bawah tengah dan samping atas ekornya
Kukumbangan
[sunting | sunting sumber]Pelengkap Kalayangan yang diterbangkan adalah Kukumbang yaitu ruas bambu besar dengan jenis bambu batung yang dipasang pada kalayangan dan pada saat diterbangkan akan mengeluarkan bunyi yang mendengung seperti kumbang.[1] Selama ini, kukumbangan ada dua jenis yaitu bambu pering dan bambu petung. Kukumbangan merupakan bagian penting dari layang-layang dandang, bukan sekedar aksesoris. Kebanyakan kukumbangan ini akan diberi nama atau gelar oleh pemiliknya yang diambil dari nama tokoh pewayangan, makhluk mitologi, judul lagu, nama pejuang dan tokoh yang populer di daerah tersebut.[2]
Pariwisata
[sunting | sunting sumber]Setiap tahunnya, pada Agustus-September atau sewaktu angin Selatan pada musim kemarau diadakan Festival Kalayangan Dandang.[1] Festival ini diikuti ratusan peserta dari berbagai daerah baik dari Kabupaten Tapin maupun luar kabupaten.
Pada Festival Kalayangan Dandang 2023, sebanyak 250 peserta dari berbagai daerah datang untuk menerbangkan layang-layang bersama-sama.[4][5]
Sebagai komitmen menjaga warisan budaya ini, pada Juni 2025, sebuah Tim Kalayangan Dandang dari Hulu Sungai Selatan berangkat ke Denmark untuk menghadiri Fano World Kite Festival 2025. Festival ini diikuti oleh 5000 lebih pemain layang-layang dari seluruh dunia.[6]
Budaya populer
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]- 1 2 3 "SITUS DESA KALAYANGAN DANDANG DENGUNG – Meratus Geopark". meratusgeopark.org. Diakses tanggal 2026-02-02.
- 1 2 3 4 5 6 7 "Tradisi Budaya Banjar Layang-Layang Dandang". Kesultanan Banjar. 2025-06-13. Diakses tanggal 2026-02-02.
- 1 2 3 4 5 6 Fadli, Rasidi. "Kalayangan Dandang, Layang-Layang Raksasa Tradisional di Rantau dan Kandangan". Radar Banjarmasin. Diakses tanggal 2026-02-02.
- ↑ Aritonang, Tumpal Andani (2024-09-23). "Tradisi Kalayangan Dandang Tapin jadi warisan budaya tak benda". ANTARA News Kalimantan Selatan. Diakses tanggal 2026-02-02.
- ↑ Fadillah, M Fauzi (2023-09-28). "Lestarikan warisan bahari, ratusan "dandang" mengudara di langit di Tapin". ANTARA News Kalimantan Selatan. Diakses tanggal 2026-02-02.
- ↑ "Sultan Banjar Dukung Tim Kalayangan Dandang ke Eropa". kesultananbanjar.or.id. 2025-06-11. Diakses tanggal 2026-02-02.