Lompat ke isi

Kejelekan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
The Ugly Duchess (lukisan karya Quentin Matsys, sekitar tahun 1513)

Buruk rupa atau kejelekan adalah sejauh mana ciri-ciri fisik seseorang dianggap tidak menyenangkan secara estetika.

Terminologi

[sunting | sunting sumber]

Kejelekan merupakan sifat dari seseorang atau sesuatu yang menimbulkan rasa tidak enak dipandang dan menghasilkan penilaian yang sangat negatif. Inti dari kejelekan adalah ketidakmenarikan secara estetika—tidak sedap dipandang, menjijikkan, atau bahkan menyinggung perasaan.[1] Banyak istilah yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang tidak menarik secara visual atau tidak diinginkan secara estetis, termasuk hideousness dan unsightliness; sementara istilah yang lebih informal antara lain turn-offs.[butuh rujukan]

Jean-Paul Sartre memiliki strabismus serta wajah yang bengkak dan asimetris. Ia mengaitkan banyak gagasan filosofisnya dengan pergulatannya sepanjang hidup untuk menerima apa yang ia sebut sebagai kejelekannya sendiri.[2] Socrates juga memanfaatkan kejelekannya sebagai titik tolak pemikiran filosofis, dengan menyimpulkan bahwa filsafat dapat menyelamatkan seseorang dari kejelekan lahiriahnya.[2]

Tokoh lain yang terkenal karena penampilan fisiknya yang dianggap jelek pada zamannya adalah Abraham Lincoln.[3] Seorang sezamannya menulis, “mengatakan bahwa ia jelek saja belum cukup; menambahkan bahwa sosoknya grotesk pun belum dapat memberikan gambaran yang memadai.” Namun, penampilannya justru menjadi aset dalam hubungan pribadi maupun politiknya. Rekan seprofesinya, William Herndon, menulis: “Ia bukan pria yang tampan, tetapi juga bukan benar-benar jelek; ia hanyalah sosok yang sederhana, tak peduli pada penampilan, bersahaja dalam tindakan. Ia tidak punya kemegahan atau formalitas; penampilannya tampak polos dan apa adanya. Ia tampak murung—kesedihan menetes dari dirinya saat ia berjalan. Kesuraman yang tampak itu justru menyentuh hati orang-orang di sekitarnya dan menumbuhkan simpati kepadanya—salah satu kunci keberhasilannya yang besar.”[4]

Persoalan mengenai kejelekan juga memiliki sejarah panjang dalam teologi dan pemikiran Kristen, di mana ia sering dikaitkan dengan stereotip yang berbahaya dan eksklusi terhadap “yang berbeda.”[5]

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Perpinyà, Núria (2014). Ruins, Nostalgia and Ugliness. Five Romantic perceptions of Middle Ages and a spoon of Game of Thrones and Avant-garde oddity. Berlin: Logos Verlag. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2016-03-13. Diakses tanggal 2017-03-27.
  2. 1 2 Martin, Andy (August 10, 2010). "The Phenomenology of Ugly". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal August 15, 2010. Diakses tanggal August 24, 2010.
  3. "David S. Reynold's Book 'Abe' Reveals New Information About Lincoln". NPR.org. 29 September 2020. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 September 2020. Diakses tanggal 29 September 2020.
  4. Carpenter, F. B. (1866). Six Months at the White House with Abraham Lincoln. New York: Hurd and Houghton. ISBN 1-58218-120-9.
  5. Cielontko, D. and Zámečník J. (2023). When you do not fit in: Ugliness as a Theological Problem. AUC Theologica, Vol. 12, No. 2, 2022, hlm. 9–26.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]