Kediktatoran sipil-militer di Uruguay
Republik Oriental Uruguay República Oriental del Uruguay | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1973–1985 | |||||||||
| Ibu kota | Montevideo | ||||||||
| Bahasa yang umum digunakan | Spanyol | ||||||||
| Pemerintahan | Kesatuan Republik Presidensial di bawah sebuah Korporasi Kediktatoran militer Otoriter | ||||||||
| Presiden | |||||||||
• 1973–1976 | Juan María Bordaberry | ||||||||
• 1976 | Alberto Demicheli | ||||||||
• 1976–1981 | Aparicio Méndez | ||||||||
• 1981–1985 | Gregorio Álvarez | ||||||||
• 1985 | Rafael Addiego | ||||||||
| Era Sejarah | Perang Dingin | ||||||||
| Juni 27, 1973 | |||||||||
| 25 November 1984 | |||||||||
| 1 Maret, 1985 | |||||||||
| IPM (1980) | 0,658[1] sedang | ||||||||
| Mata uang | Peso (1973−1975) Nuevo peso (1975−1985) | ||||||||
| Kode ISO 3166 | UY | ||||||||
| |||||||||
Kediktatoran Sipil-Militer Uruguay adalah periode pemerintahan otoriter di Uruguay dari 1973 hingga 1985, di mana kekuasaan politik dipegang secara dominan oleh militer dengan dukungan unsur sipil.[2] Rezim ini muncul akibat krisis politik, meningkatnya aksi kekerasan, dan ketidakmampuan pemerintah sipil mengendalikan negara. Pemerintahan ini dikenal dengan represi politik, pelanggaran hak asasi manusia, dan sensor media.[3]
Latar Belakang
[sunting | sunting sumber]Pada awal 1970-an, Uruguay menghadapi krisis ekonomi dan ketegangan politik. Kelompok bersenjata sayap kiri, seperti Tupamaros, melakukan aksi kekerasan terhadap pejabat dan institusi keuangan, sementara pemerintah sipil gagal mengendalikan situasi.[4] Militer memperoleh pengaruh besar dan akhirnya mendukung kudeta.
Kudeta 1973
[sunting | sunting sumber]Pada 27 Juni 1973, Presiden Juan María Bordaberry dengan dukungan militer membubarkan parlemen dan mengambil alih kekuasaan eksekutif secara langsung.[5] Bordaberry tetap menjadi presiden secara formal, tetapi kekuasaan sesungguhnya berada di tangan militer.
Pemerintahan dan Kebijakan
[sunting | sunting sumber]- Penekanan terhadap oposisi politik melalui penahanan, penyiksaan, dan penghilangan paksa.[6]
- Sensor media dan pembatasan kebebasan pers.
- Dominasi militer dalam pemerintahan, meskipun beberapa pejabat sipil mendukung rezim.
- Kebijakan ekonomi konservatif dan neoliberalisme awal untuk menstabilkan negara.
Represi dan Pelanggaran HAM
[sunting | sunting sumber]Ribuan warga Uruguay ditahan sewenang-wenang, banyak menjadi korban torture dan desapariciones.[7] Kasus ini kemudian menjadi fokus investigasi hak asasi manusia setelah transisi ke demokrasi.
Akhir Kediktatoran
[sunting | sunting sumber]Pada awal 1980-an, tekanan dari masyarakat sipil, krisis ekonomi, dan tekanan internasional memaksa rezim melakukan transisi.[8] Pemilu demokratis diselenggarakan pada 1984, dan Julio María Sanguinetti menjadi presiden pada 1 Maret 1985.
Catatan
[sunting | sunting sumber]- Tupamaros adalah kelompok pemberontak sayap kiri di Uruguay pada 1960–1970an.
- Desapariciones merujuk pada penghilangan paksa politik yang terjadi selama kediktatoran.
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ "Human Development Report 2014" (PDF). hdr.undp.org.
- ↑ Finch, Michael (1988). Uruguay: A Modern History. University Press.
- ↑ Rock, David (2010). Authoritarian Regimes in Latin America. Cambridge University Press.
- ↑ Comisión Nacional de Verdad y Justicia (1985). Informe sobre la represión y desapariciones.
- ↑ Finch, 1988.
- ↑ Rock, 2010.
- ↑ Comisión Nacional de Verdad y Justicia, 1985.
- ↑ Finch, 1988.
- Finch, Michael (1988). Uruguay: A Modern History. University Press.
- Rock, David (2010). Authoritarian Regimes in Latin America. Cambridge University Press.
- Comisión Nacional de Verdad y Justicia (1985). Informe sobre la represión y desapariciones.

