Kebun Binatang Bandung

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Kebun Binatang Bandung
Dibuka 1933[1]
Lokasi Jalan Kebun Binatang No.6, Lebak Siliwangi, Coblong, Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Luas tanah 135 ha (330 acre)[1]
Koordinat 6°53′26″LS 107°36′24″BT / 6,8906°LS 107,6068°BT / -6.8906; 107.6068Koordinat: 6°53′26″LS 107°36′24″BT / 6,8906°LS 107,6068°BT / -6.8906; 107.6068
Total koleksi 1,600[1]
Total spesies 218[1]

Kebun Binatang Bandung merupakan salah satu objek wisata alam flora dan fauna di Kota Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Kebun Binatang Bandung terletak berdampingan dengan kampus Institut Teknologi Bandung dan Sungai Cikapundung.[2]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Kebun Binatang Bandung ini pada awalnya dikenal dengan nama Derenten (dalam Bahasa sunda, dierentuin) yang artinya kebun binatang. Kebun Binatang Bandung didirikan pada tahun 1930 oleh Bandung Zoological Park (BZP), yang dipelopori oleh Direktur Bank Dennis, Hoogland. Pengesahan pendirian Kebun Binatang ini diwenangi oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan pengesahannya dituangkan pada keputusan 12 April 1933 No.32. Pada saat Jepang menguasai daerah ini, tempat wisata ini kurang terkelola, hingga pada tahun 1948, dilakukan rehabilitasi untuk mengembalikan fungsi tempat wisata ini.[3]

Pada tahun 1956, atas inisiatif dari Raden Ema Bratakusumah, Bandung Zoological Park dibubarkan dan berganti menjadi Yayasan Marga Satwa Tamansari pada tahun 1957.[3]

Kebun binatang ini menempati luas lahan 13,5 ha yang topografinya bergelombang dengan penggunaan 18,25% untuk areal perkandangan, 55,20% untuk pertamanan dan lesehan, 4,7% untuk taman ria dan kolam perahu, dan 2,4% untuk pengolahan sampah. Sisanya digunakan untuk bangunan kantor, museum aquarium, dan jalan.[2]

Koleksi[sunting | sunting sumber]

koleksi satwa di Kebun Binatang Bandung mencapai sekitar 213 jenis, terdiri dari 79 jenis satwa yang dilindungi dan 134 jenis satwa yang tidak dilindungi yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Penambahan koleksi satwa ini terus diupayakan, baik yang memiliki nilai konservasi maupun nilai estetis yang menarik bagi pengunjung, khususnya yang berasal dari Indonesia.[2]

Tanaman yang tumbuh di area kebun selain berfungsi sebagai pelindung bagi satwa dari sengatan sinar matahari dan angin, juga melindungi tanah dari air hujan serta menjadi daerah yang berfungsi sebagai paru-paru kota Bandung.[2]

Fasilitas[sunting | sunting sumber]

Adapun berbagai wahana rekreasi yang bisa dinimati di Kebun Binatang Bandung ini antara lain[3]:

  • Flying fox
  • Taman bermain
  • Kolam untuk perahu dan perahu bebek

Fungsi bagi masyarakat[sunting | sunting sumber]

  • Fungsi kebudayaan. Kebun Binatang Bandung sebagai tempat rekreasi yang di dalamnya terdapat wahana pergelaran seni budaya, tentunya mempunyai fungsi kebudayaan, yaitu dapat menanamkan kesadaran dan rasa cinta tanah air melalui pengamatan dan pemahaman kekayaan budaya, serta pengamatan dan pemahaman kekayaan flora dan fauna.
  • Fungsi pendidikan dan Iptek. Kebun Binatang Bandung merupakan sebuah wahana yang dapat dimanfaatkan oleh kalangan edukatif untuk menambah pengetahuan dan untuk menghasilkan butir-butir pengetahuan baru yang bermanfaat dan berguna bagi kehidupan masyarakat. Kebun Binatang Bandung ini juga dapat dimanfaatkan sebagai objek riset atau penelitian di berbagai keilmuan.
  • Fungsi perlindungan dan pelestarian kekayaan alam. Kebun Binatang Bandung sebagai tempat dimana wahana flora dan fauna dikembangkan dan dilestarikan, berkomitmen untuk menjaga dan melestarikan berbagai satwa flora dan fauna dengan tujuan menjaga kekayaan alam.
  • Fungsi rekreasi. Kebun binatang bandung tentunya mempunyai fungsi sebaga tempat rekreasi bagi masyarakat.

Kontroversi[sunting | sunting sumber]

Pada bulan Januari 2017, Kebun Binatang Bandung mendapat sorotan tajam pasca beredarnya video seekor beruang madu di salah satu kandang yang terlihat kurus sambil meminta agar diberi makanan oleh pengunjung.[4] Video tersebut diunggah oleh situs berita internasional, Daily Mail[5] dan di-posting oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) pemerhati fauna bernama Scorpion Wildlife Monitoring Group pada 11 Januari 2017.[6] Video tersebut menuai reaksi keras dari berbagai aktivis satwa maupun media nasional dan internasional.[7] LSM Scorpion telah memohon Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat untuk menyelidiki Kebun Binatang Bandung, melalui sebuah petisi yang mereka buat dengan 1.500 tanda tangan agar beruang tersebut mendapatkan perhatian.[7] Petisi yang mereka buat di situs Change.org tersebut ditujukan untuk Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar, Dirjen Konservasi Sumber Daya alam dan Ekosistemnya, serta Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati.[8]

Namun, Humas Yayasan Margasatwa Tamansari, Sudaryo seperti dikutip dari BBC mengatakan tak ada masalah dengan beruang-beruang madu itu, dan menegaskan bahwa seluruh satwa di Kebun Binatang mereka 'diperiksa kesehatannya oleh dokter hewan' secara rutin.[4] Pengelola Kebun Bintang Bandung bahkan berencana melaporkan LSM Scorpion kepada Kepolisian Daerah Jawa Barat. Sudaryo menilai LSM Scorpion telah mencemarkan nama baik kebun binatang di Indonesia.[9]

Sementara itu, Walikota Bandung, Ridwan Kamil melalui akun media sosialnya[10] menyatakan bahwa Pemerintah Kota Bandung tidak berwenang menindak Kebun Binatang Bandung secara hukum karena kebun binatang tersebut dimiliki oleh swasta, dalam hal ini Yayasan Margasatwa Tamansari.[11] Pihaknya bahkan telah melayangkan surat komplain ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sejak setahun lalu terkait masalah ini serta telah mengirim surat teguran ke yayasan kebun binatang supaya memperbaiki perawatan hewan.[12] Dia menganggap tindakan yayasan membiarkan hewan kelaparan memalukan nama baik Kota Bandung.[13] Wakil Walikota Bandung, Oded Muhammad Danial meminta pihak pengelola bertanggung jawab atas masalah tersebut. Oded menambahkan, pihak yayasan seharusnya belajar dari pengalaman kejadian matinya gajah Yani karena sakit beberapa bulan lalu, serta meminta mereka segera menyelesaikan permasalahan ini.[14]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d "Bandung Zoo: The Elephant Safari Ride". bandungdailyphoto.com. Bandung Daily Photo. Diakses tanggal 24 Desember 2015. 
  2. ^ a b c d Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat (28 April 2016). "Kebun Binatang Bandung". Diakses tanggal 27 Mei 2016. 
  3. ^ a b c Panduan Wisata Bandung. "Melihat-lihat Binatang Langka di Kebun Binatang Bandung". Diakses tanggal 12 Desember 2015. 
  4. ^ a b "'Beruang kelaparan' di Kebun Binatang Bandung". 18 Januari 2017. Diakses tanggal 20 Januari 2017. 
  5. ^ Rudd, Matilda (17 Januari 2017). "Skeletal Sun Bears Beg Food Indonesian Zoo". Daily Mail. Diakses tanggal 20 Januari 2017. 
  6. ^ Ramdhani, Dendi (18 Januari 2017). "Beruang Kelaparan "Mengemis", Kebun Binatang Bandung Kembali Disorot". Kompas.com. Diakses tanggal 20 Januari 2017. 
  7. ^ a b Yulianingsih, Tanti (18 Januari 2017). "Beruang Kurus di Kebun Binatang Bandung Jadi Keprihatinan Dunia". Liputan6.com. Diakses tanggal 20 Januari 2017. 
  8. ^ Yudiawan, Deni (17 Januari 2017). "Daily Mail Beritakan Beruang Kelaparan di Kebun Binatang Bandung". Pikiran Rakyat. Diakses tanggal 20 Januari 2017. 
  9. ^ Ramdhani, Dendi (18 Januari 2017). "Pengelola KBB Tuding LSM Scorpion Rekayasa Video soal Beruang Kelaparan". Kompas.com. Diakses tanggal 20 Januari 2017. 
  10. ^ "For those of you who are concerned about Bandung Zoo, pls read these facts". Twitter Ridwan Kamil. 18 Januari 2016. 
  11. ^ "Kang Emil: Kebun Binatang Bandung Mempermalukan Nama Baik Kota". Okezone.com. 19 Januari 2017. Diakses tanggal 20 Januari 2017. 
  12. ^ Hidayat, Avit (19 Januari 2017). "Beruang Kelaparan, Ridwan Kamil: Kebun Binatang Milik Swasta". Tempo.co. Diakses tanggal 20 Januari 2017. 
  13. ^ Yudiawan, Deni (18 Januari 2017). "Ridwan Kamil: Saya Kecewa dengan Kebun Binatang Bandung". Pikiran Rakyat. Diakses tanggal 20 Januari 2017. 
  14. ^ Ageng (18 Januari 2017). "Oded: Pihak Pengelola Kebun Binatang Bandung Tanggungjawab". FokusJabar.com. Diakses tanggal 20 Januari 2017.