Kathāvatthu
| Kathāvatthu | |
|---|---|
| Jenis | Kitab kanonis |
| Induk | Abhidhammapiṭaka |
| Atribusi | Moggaliputtatissa; Bhāṇaka |
| Komentar | Pañcapakaraṇa-aṭṭhakathā (Kathāvatthu-aṭṭhakathā) |
| Pengomentar | Buddhaghosa |
| Subkomentar | Pañcapakaraṇamūlaṭīkā |
| Subsubkomentar | Pañcapakaraṇa-anuṭīkā |
| Singkatan | Kv; Kvu |

| Bagian dari seri |
| Tipiṭaka |
|---|
| Buddhisme Theravāda |
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme Theravāda |
|---|
| Buddhisme |
Kitab Kathāvatthu (Pali; disingkat Kv) adalah sebuah kitab suci Buddhisme sebagai kitab kelima dari tujuh kitab dalam Abhidhammapiṭaka, yang merupakan salah satu dari "tiga keranjang" yang menyusun Tripitaka Pali sebagaimana dilestarikan oleh aliran Theravāda. Kitab ini berisi perbandingan posisi terkait sejumlah isu antara Theravāda ortodoks dan pandangan heterodoks dari berbagai narasumber; pemilik pandangan heterodoks tersebut tidak disertakan dalam teks sumber utama, tetapi diidentifikasi sebagai aliran pemikiran Buddhis tertentu dalam kitab-kitab komentar (yang secara historis muncul belakangan). Secara historis, teks aslinya diperkirakan berasal dari masa pemerintahan Raja Asoka (sekitar 240 SM), tetapi hal ini juga masih bisa diperdebatkan.[1] Meskipun inti teks dari kitab ini mungkin sudah mulai terbentuk selama masa pemerintahan Asoka, Bhikkhu Sujato mencatat bahwa "karya tersebut secara keseluruhan tidak mungkin disusun pada saat itu, karena merupakan hasil dari periode penyusunan yang panjang, dan membahas banyak pandangan aliran-aliran Buddhis yang baru muncul setelah masa Aśoka."[2]
Susunan
[sunting | sunting sumber]Kitab Kathāvatthu mendokumentasikan lebih dari 200 poin pertentangan.[3] Pokok-pokok yang diperdebatkan dibagi dalam empat paṇṇāsaka (terj. har. 'kelompok lima puluh'). Setiap paṇṇāsaka dibagi lagi menjadi 20 bab (vagga). Selain itu, ada tiga vagga lagi setelah keempat paṇṇāsaka.[4]
Setiap bab berisi pertanyaan dan jawaban yang dengannya berbagai pandangan aliran Buddhis lain disajikan, dibantah, dan ditolak. Susunan perdebatan tidak menyertakan identitas peserta debat, dan tidak keluar dari perdebatan untuk menyatakan secara eksplisit pihak mana yang benar (meskipun umumnya secara implisit mendukung pendirian pihak Theravāda dengan ditolaknya pandangan yang dibahas).
Pandangan yang dianggap tidak sesat oleh penafsiran kitab komentar terhadap Kathāvatthu diterima oleh aliran Theravāda. Menurut kitab komentar, pandangan yang ditolak termasuk pandangan-pandangan aliran Sarvāstivāda.[5]
Pendirian doktrinal
[sunting | sunting sumber]Kitab ini berfokus pada sanggahan terhadap pandangan berbagai aliran Buddhis lain selain Theravāda, termasuk:[1]
- Pandangan aliran Pudgalavāda, yang menyatakan bahwa 'pribadi' ada sebagai realitas hakiki dan bahwa 'pribadi' tersebut berpindah dari satu kehidupan ke kehidupan berikutnya.
- Bahwa makhluk yang telah sempurna (Arahat) dapat jatuh dari kesempurnaan.
- Pandangan para pengikut aliran Sarvāstivāda, bahwa "semua [dhamma] (fenomena) ada" dalam tiga masa (masa lalu, masa kini, masa depan), suatu bentuk eternalisme temporal.
- Seorang Arahat dapat mimpi basah di malam hari.
- Seorang Arahat mungkin kurang pengetahuan, memiliki keraguan, atau diungguli oleh orang lain.
- Durasi suatu peristiwa kesadaran dapat berlangsung sehari atau lebih.
- Penetrasi dan pandangan terang ke dalam berbagai tingkatan kemuliaan dicapai secara bertahap.
- Ucapan duniawi Sang Buddha entah bagaimana bersifat adiduniawi (lokuttara).
- Semua kekuatan Sang Buddha juga dimiliki oleh para murid utama-Nya.
- Seorang umat awam dapat menjadi seorang Arahat. Umumnya, Theravāda meyakini bahwa, jika seorang umat awam akan segera menjadi Arahat, ia akan langsung tergugah untuk bergabung dengan Saṅgha.
- Seseorang dapat mencapai kecerahan pada saat momen kelahiran kembali.
- Empat Kebenaran Mulia, alam-alam kehidupan nonmateri, ruang, dan Kemunculan Bersebab merupakan fenomena (dhamma) yang tidak terkondisi (asaṅkhāra).
- Ada alam peralihan (bardo) dari keberadaan. Pandangan ini umum diyakini oleh pengikut Buddhisme Tibet.
- Semua dhamma hanya berlangsung sesaat (khaṇa).
- Semua hal itu terjadi [semata-mata] karena karma (lihat Niyāma).
- Tidak boleh dikatakan bahwa ordo monastik menerima persembahan.
- Sang Buddha sendiri tidak mengajarkan Dhamma, tetapi diajarkan oleh ciptaan gaibnya.
- Orang yang telah mencapai jhāna (penyerapan meditatif) tetap terus dapat mendengar suara.
- Lima karma buruk paling berat (membunuh ibu, membunuh ayah, membunuh arahat, melukai Buddha, dan memecah belah sangha) mengakibatkan buah karma langsung, bahkan ketika dilakukan tanpa sengaja.
- Pembebasan akhir dapat diperoleh tanpa menghilangkan belenggu tertentu.
Kanonisitas
[sunting | sunting sumber]| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme Awal |
|---|
| Buddhisme |
Dimasukkannya kitab Kathāvatthu ke dalam Abhidhammapiṭaka terkadang dianggap sebagai sebuah anomali. Pertama, kitab ini tidak dianggap sebagai sabda Sang Buddha sendiri. Secara tradisional, kepengarangannya diatribusikan kepada Moggaliputtatissa (bukan Sāriputta). Namun, hal ini bukanlah sesuatu yang aneh: catatan Vinaya mengenai dua Sidang Buddhis pertama jelas juga bukan merupakan sabda Sang Buddha secara langsung (meskipun konsensus tradisi kemudian menganggap bahwa semua kitab yang telah berstatus kanonis secara teknis merupakan buddhavacana).[6] Kedua, pokok bahasan kitab Kathāvatthu sangat berbeda dari kitab-kitab lain dalam Abhidhammapiṭaka, tetapi hal ini juga berlaku untuk kitab Puggalapaññatti.
Menanggapi anomali pertama, Hinüber menjelaskan:[6]
"... kanonisitas Kathāvatthu tidak diterima secara universal, karena kitab ini jelas bukan buddhavacana. Namun, statusnya diselamatkan oleh pandangan bahwa Sang Buddha telah membabarkan mātikā [skema klasifikasi Abhidhamma] di surga (As 4,3-30), yang kemudian dijabarkan oleh Moggalliputtatissa ... pada Sidang Buddhis Ketiga setelah Aśoka membersihkan Saṃgha (Kv-a 6,2-7,29). Ketika pelafalan kanon diulang pada kesempatan [Sidang Buddhis] ini, Kathāvatthu disertakan. Jelas, tradisi ini selalu sadar akan tanggal penyusunan Kathāvatthu yang relatif baru."
Untuk anomali kedua, Hinüber menjelaskan:[7]
"Tidak sepenuhnya jelas mengapa Kathāvatthu dimasukkan ke dalam Abhidhammapiṭaka. Bentuk isi kitabnya, yang berisi diskusi, lebih dekat dengan gaya Suttapiṭaka daripada Abhidhammapiṭaka.... Alasannya mungkin bersifat kronologis. Pada saat Kathāvatthu dibentuk di bawah pemerintahan Aśoka, empat kitab nikāya utama (Dīghanikāya, Majjhimanikāya, Saṁyuttanikāya, dan Aṅguttaranikāya) mungkin sudah menjadi koleksi kanonis yang tertutup (tidak boleh diubah lagi), sementara bagian Abhidhammapiṭaka masih terbuka."
Lebih lanjut, Hinüber berpendapat bahwa Abhidhammapiṭaka "ditutup" pada abad kedua Masehi, tetapi kitab nikāya kelima (Khuddakanikāya) "selalu tetap terbuka untuk kitab-kitab baru seperti Paṭisambhidāmagga dan lainnya."[7]
Para cendekiawan terkadang juga menganggap bahwa dimasukkannya beberapa bagian Kathāvatthu yang jelas-jelas dibuat kemudian (relatif baru) ke dalam Tripitaka Pali merupakan indikasi bahwa Kanon Pali awalnya lebih 'terbuka' daripada yang diperkirakan selama ini, dan sebagai gambaran proses kodifikasi kitab-kitab baru menjadi berstatus kanonis. Faktanya, hal ini pun tidak aneh, karena ada cukup banyak materi yang relatif muncul lebih belakangan di dalam Kanon.[7]
Penafsiran
[sunting | sunting sumber]Perdebatan-perdebatan doktrinal yang dijabarkan dalam kitab ini dipahami oleh tradisi, dan diikuti oleh banyak cendekiawan, sebagai perselisihan antara aliran-aliran Buddhisme yang berbeda. Namun, L. S. Cousins, yang dideskripsikan oleh Profesor Gombrich sebagai cendekiawan tradisi Abhidhamma terkemuka di Barat,[8] mengatakan:[9]
Dalam tradisi spiritual di seluruh dunia, para pengajar sering kali menggunakan penjabaran kontradiksi yang tampak sebagai bagian dari metode pengajaran mereka—mungkin untuk mendorong kesadaran yang lebih besar pada murid atau untuk menghasilkan pandangan yang lebih dalam dan lebih luas tentang subjek yang dibahas. Kanon Pāli mengandung banyak contoh eksplisit dari metode semacam itu. (Memang, sebagian besar isi dari Kathāvatthu lebih masuk akal jika dipandang dari sudut pandang ini daripada sebagai kontroversi sektarian.)
Catatan
[sunting | sunting sumber]- 1 2 James P. McDermott, KATHAVATTHU; Encyclopedia of Indian Philosophies, Volume VII: Abhidharma Buddhism to 150 A.D.
- ↑ Sujato, Bhante (2012), Sects & Sectarianism: The Origins of Buddhist Schools, Santipada, hlm. 108–109, ISBN 9781921842085
- ↑ Hinüber (2000), hlm. 72, mencatat: "Ada lebih dari 200 pokok bahasan yang didiskusikan dalam Kv [Kathāvatthu], meskipun tradisi yang berkembang tampaknya mengasumsikan jumlah yang lebih besar." Geiger & Ghosh (2004), hlm. 10, mencatat: "Kitab ini berisi bantahan terhadap 252 ajaran sesat yang berbeda...."
- ↑ Hinüber (2000), hlm. 71, para. 145. Hinüber berkomentar: "Struktur [Kathāvatthu] yang terkesan tidak sistematis ini tampaknya menunjukkan bahwa kitab ini berkembang seiring berjalannya waktu; dan setiap kali perdebatan baru muncul, perdebatan itu pun turut dimasukkan ke dalamnya."
- ↑ Hinüber (2000), hlm. 73, mencatat:
- "Kelemahan utama dari penyajian perdebatan dalam Kv [Kathāvatthu] adalah tidak adanya petunjuk apa pun mengenai aliran yang menjadi asal dari pandangan-pandangan heterodoks (sesat/menyimpang) yang sedang didiskusikan. Hal ini baru disebutkan jauh di kemudian hari, hanya dalam kitab komentarnya (aṭṭhakathā).... Dalam hal ini, Kv berbeda dari Vijñānakāya [kitab sejenis dari aliran Sarvāstivāda], yang di dalamnya nama-nama pihak yang berdebat disebutkan secara langsung."
- 1 2 Hinüber (2000), hlm. 71.
- 1 2 3 Hinüber (2000), hlm. 73.
- ↑ The State of Buddhist Studies in the World 1972-1997, ed Swearer & Promta, Chulalongkorn University, Bangkok, 2000, hlm. 182
- ↑ Gatārē Dhammapāla; Richard Francis Gombrich; Kenneth Roy Norman, ed. (1984). Buddhist Studies: In Honour of Hammalava Saddhātissa. Sri Lanka: Hammalava Saddhātissa Felicitation Volume Committee, University of Sri Jayawardenpura. hlm. 67.
Daftar pustaka
[sunting | sunting sumber]- Geiger, Wilhelm (terj. dr. Jerman oleh Batakrishna Ghosh) (2004). Pāli Literature and Language. New Delhi: Munshiram Manoharlal Publishers. ISBN 81-215-0716-2.
- Hinüber, Oskar von (2000). A Handbook of Pāli Literature. Berlin: Walter de Gruyter. ISBN 3-11-016738-7.
- McDermott, James P. (1975). "The Kathavatthu Kamma Debates" dalam Journal of the American Oriental Society, Vol. 95, No. 3 (Jul. - Sep., 1975), hlm. 424–433.
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]- Pali text and English translation di suttacentral.net