Lompat ke isi

Kariadi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Untuk nama rumah sakit, lihat: Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Kariadi.

Kariadi
LahirKarjadi
(1905-09-15)15 September 1905
Singosari, Malang, Hindia Belanda
Meninggal14 Oktober 1945(1945-10-14) (umur 40)
Semarang, Masa Pendudukan Jepang
MakamTaman Makam Pahlawan Giri Tunggal
AlmamaterNederlandsch-Indische Artsen School
PekerjaanDokter

dr. Kariadi[1] (15 September 1905  14 Oktober 1945) adalah seorang dokter dan pejuang kemanusiaan Indonesia yang dikenal atas dedikasinya dalam penanggulangan penyakit menular, khususnya malaria dan filariasis, serta kematiannya dalam Pertempuran Lima Hari.

Kehidupan Awal dan Pendidikan

[sunting | sunting sumber]

Kariadi dilahirkan di Singosari, Malang, Jawa Timur, pada tanggal 15 September 1905. Ia menempuh pendidikan dasar di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) di Malang dan Sidoarjo. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan kedokterannya di Nederlandsch-Indische Artsen School (NIAS) di Surabaya, salah satu sekolah kedokteran untuk pribumi pada masa kolonial. Ia berhasil lulus sebagai dokter pada tahun 1931.

Karier Kedokteran

[sunting | sunting sumber]

Setelah lulus, Kariadi mengabdikan diri di berbagai wilayah di Indonesia.

Kariadi memiliki keahlian khusus dalam bidang pemberantasan penyakit menular. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Djawatan Pemberantasan Malaria di Jawa Tengah. Ia bahkan berhasil menemukan minyak "Oleum Pro-microscopieKar" yang sangat penting untuk membantu diagnosis dan penanganan penyakit malaria dan filariasis yang merebak di Indonesia.

Pada masa pendudukan Jepang, tepatnya 1 Juli 1942, dr. Kariadi dipindahkan ke Semarang dan dipercaya menjabat sebagai Kepala Laboratorium Malaria di Rumah Sakit Purusara (kini RSUP Dr. Kariadi).

Gugur dalam Pertempuran Lima Hari

[sunting | sunting sumber]

Peristiwa yang menyebabkan gugurnya dr. Kariadi terjadi menjelang meletusnya Pertempuran Lima Hari di Semarang (15-19 Oktober 1945).

Pada tanggal 14 Oktober 1945, tersiar desas-desus bahwa tentara Jepang telah meracuni Reservoir Siranda, sumber air utama bagi warga Semarang. Kekhawatiran akan nasib ribuan warga membuat pimpinan Rumah Sakit Purusara menelepon dr. Kariadi, yang saat itu menjabat Kepala Laboratorium, agar segera berangkat untuk menyelidiki kebenaran kabar tersebut dengan mengambil sampel air.

Meskipun istrinya, drg. Soenarti, sudah mencoba mencegah mengingat situasi politik dan keamanan yang sangat genting, dr. Kariadi bertekad untuk tetap pergi karena menyangkut keselamatan nyawa orang banyak.

Dalam perjalanan menuju Reservoir Siranda pada malam hari, mobil yang ditumpangi dr. Kariadi bersama seorang tentara pelajar dicegat oleh tentara Jepang. Mereka pun ditembak secara keji. Dr. Kariadi sempat dilarikan kembali ke Rumah Sakit Purusara, tetapi nyawanya tidak tertolong. Ia gugur pada tanggal 14 Oktober 1945, di usia 40 tahun.

Gugurnya dr. Kariadi menjadi salah satu pemicu utama meletusnya Pertempuran Lima Hari di Semarang keesokan harinya.

Penghargaan dan Warisan

[sunting | sunting sumber]

Untuk menghargai jasa dan pengorbanannya, beberapa bentuk penghormatan telah diberikan kepada dr. Kariadi:

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. "Sejarah dr. Kariadi". 11 Agustus 2012. Diakses tanggal 12 Agustus 2012.