Kapak perimbas

Para arkeolog mendefinisikan kapak perimbas (bahasa Inggris: chopper) sebagai alat kerakal dengan tepian tajam tak beraturan yang terbentuk melalui pelepasan serpih dari satu sisi batu.
Kapak perimbas adalah bentuk kasar dari alat batu dan ditemukan dalam industri sejak Paleolitikum Bawah sekitar 2,5 juta tahun yang lalu. Spesimen tertua yang diketahui ditemukan di Ngarai Olduvai di Tanzania oleh Louis Leakey pada tahun 1930-an. Nama Oldowan diberikan pada alat-alat tersebut berdasarkan situs tempat penggaliannya. Jenis alat ini digunakan dalam perkiraan rentang waktu 2,5 hingga 1,2 juta tahun yang lalu.[1]
Pembentukan
[sunting | sunting sumber]Untuk membuat alat ini, seseorang harus menggunakan batu pukul untuk memangkas serpihan pada batu guna menciptakan satu sisi batu dengan tepian yang sangat tajam, yang memungkinkan untuk memotong dan menetak objek. Ini adalah jenis reduksi litik yang unik, karena hanya satu sisi batu yang diretus untuk menghasilkan permukaan potong pada batu tersebut. Sisi yang tidak digunakan untuk memotong dibiarkan utuh, sebuah praktik yang tidak biasa. Instrumen tua ini terbuat dari bahan-bahan khusus. Awalnya, alat ini tersusun dari kuarsa, kuarsit, basalt, atau obsidian. Pada tahun-tahun kemudian di zaman Oldowan, dua bahan lain digunakan: rijang dan batu api. Bahan-bahan ini dapat mempertahankan ketajaman sekaligus cukup mudah dibentuk sesuai keinginan. Alat ini dirancang agar pas di telapak tangan, dan tidak dipasang pada gagang lain yang mungkin bisa digunakan. Dikenal sebagai salah satu alat paling awal (jika bukan yang paling awal), desainnya merupakan teknologi yang sangat sederhana, namun kinerjanya sangat sukses dalam berbagai skenario berbeda. Melihat sejarah benda-benda ini dan berapa banyak budaya yang menggunakannya, tidak mengherankan jika benda-benda ini ditemukan tersebar di seluruh dunia. Massa batu potensial yang ditemukan saat ini dapat diklasifikasikan sebagai kapak perimbas jika memiliki tepian aus yang menunjukkan bukti penggunaan alat.[2]
Lokasi
[sunting | sunting sumber]
Kapak perimbas tidak hanya terbatas pada satu wilayah di Bumi:
- Seperti disebutkan sebelumnya, Afrika dikenal telah menyediakan kapak perimbas tertua yang diketahui, yang secara khusus dikenal sebagai Oldowan. Banyak negara memiliki situs yang mengandung banyak alat batu ini, termasuk Mesir, Etiopia, Kenya, Tanzania, dan Afrika Selatan.
- Di Amerika Utara, alat batu serupa telah ditemukan di negara bagian selatan dan barat daya, seperti Oklahoma.
- Eropa juga menjadi rumah bagi kapak perimbas, dengan himpunan alat batu yang ditemukan di Eropa. Banyak negara memiliki alat Oldowan yang ditemukan di dalamnya, termasuk Swedia, Portugal, Georgia, Bulgaria, Rusia, Spanyol, Italia, Prancis, Jerman, Hungaria, Republik Ceko, dan Britania Raya.
- Alat batu, termasuk kapak perimbas, yang bertarikh 1,66 juta tahun yang lalu, telah ditemukan di Asia. Negara-negara ini termasuk Tiongkok, Pakistan, Israel, dan Iran.[3][4]
- Kumpulan besar litik batu ditemukan di Thailand Utara, pada penggalian Sao Din. Dari 139 artefak yang ditemukan, banyak di antaranya masuk dalam kategori kapak perimbas. Temuan ini membantu membedakan teknologi batu Asia Tenggara dari himpunan Acheulean Eropa klasik.[5]
Meskipun banyak kapak perimbas telah ditemukan di setiap wilayah, ini tidak berarti bahwa alat-alat yang ditemukan dibuat dengan cara yang sama. Perbedaannya meliputi bentuk, panjang, bahan yang digunakan, dan faktor lainnya. Hal ini menunjukkan variasi di antara budaya kuno pada masa itu dan bagaimana masing-masing menyesuaikan dengan kebutuhan spesifik bagi setiap komunitas.
Penggunaan
[sunting | sunting sumber]
Masyarakat kuno yang menghuni bumi memiliki banyak alat batu berbeda untuk melakukan berbagai aktivitas. Kapak perimbas digunakan dalam jumlah yang sama untuk pengerjaan kayu, mungkin untuk menajamkan tombak, dan pemrosesan daging. Namun, kapak perimbas digunakan untuk banyak tujuan yang berbeda. Digunakan untuk menetak, memotong, dan mencacah, kapak perimbas memungkinkan manusia purba memotong bahan lunak, terutama daging dan kayu. Salah satu kegunaan utama kapak perimbas adalah untuk memotong daging dan kulit hewan buruan guna memperoleh makanan, kulit mentah, dan bulu. Ketajaman alat ini meningkatkan proses tersebut secara keseluruhan. Galur dan bekas sayatan pada tulang dapat membuktikan penggunaannya untuk tugas tersebut. Selain itu, alat-alat ini digunakan pada tanaman, seperti menggali akar serta menyerut dan memotong kayu.[6]
Kemajuan seiring waktu
[sunting | sunting sumber]Di kemudian hari dalam sejarah, tampaknya kapak perimbas mulai ditinggalkan karena adanya teknologi yang lebih baru. Alat genggam untuk mengerik dan memotong tidak lagi dicari, karena alat dengan bentuk yang pas di tangan tampaknya menjadi tren yang akan datang. Bermula sekitar 1,6 juta tahun yang lalu, evolusi teknologi baru ini muncul, yang dikenal sebagai tradisi Acheulean. Alat-alat yang diklasifikasikan dalam kategori ini dikenal sebagai indikator awal penggunaan kapak genggam. Perbedaan terbesar dari alat Oldowan awal, atau kapak perimbas, adalah fakta bahwa kedua sisinya telah dipangkas serpihannya, berbeda dengan kapak perimbas yang hanya satu sisi.[7]
Gagasan awal
[sunting | sunting sumber]Teori awal yang diajukan oleh G. Isaac (1970-an) menyatakan bahwa kapak perimbas digunakan untuk berburu dan menjagal. Namun, ukuran kapak perimbas tidak menunjukkan bahwa alat itu cukup kuat untuk benar-benar membunuh hewan seperti kudanil. L. Binford kemudian mengajukan pendapat bahwa hewan-hewan tersebut dibunuh oleh karnivora dan Homo hanyalah pemakan bangkai. Teori ini diuji oleh P. Shipman dan R. Potts. Karena tulang yang memiliki bekas sayatan juga memiliki bekas gigitan dan tidak ada bangkai atau disartikulasi dari sisa-sisa apa pun, bukti tersebut mengarah pada gagasan bahwa Homo adalah pemakan bangkai.
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ "Oldowan and Acheulean Stone Tools." Museum of Anthropology, College of Arts and Science, University of Missouri. N.p., n.d. Web. 19 Nov. 2013.
- ↑ "Choppers." Choppers. N.p., n.d. Web. 19 Nov. 2013.
- ↑ "Chopper." News. N.p., n.d. Web. 19 Nov. 2013.
- ↑ Zhu, R. X., et al. "New Evidence on the Earliest Human Presence at High Northern Latitudes in Northeast Asia." Nature 431.7008 (2004): 559-62. ProQuest. Web. 18 Nov. 2013.
- ↑ Zeitoun V, Forestier H, Auetrakulvit P, Khaokhiew C, Rasse M, Davtian G, Winayalai C and Tiamtinkrit C 2012. Discovery of a prehistoric site at Sao Din (Nanoi, Nan province, Northern Thailand): Stone tools and new geological insights. Comptes Rendus Palevol 11
- ↑ "Early Human Evolution: Early Human Culture." Early Human Evolution: Early Human Culture. N.p., n.d. Web. 18 Nov. 2013.
- ↑ "Oldowan and Acheulean Stone Tools." Museum of Anthropology, College of Arts and Science, University of Missouri. N.p., n.d. Web. 19 Nov. 2013.v
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]- https://web.archive.org/web/20130914145745/http://www.ou.edu/cas/archsur/OKArtifacts/choppers.htm
- https://web.archive.org/web/20130820225555/http://anthro.palomar.edu/homo/homo_4.htm
- http://hearstmuseum.berkeley.edu/blog/chopper Diarsipkan 2016-06-24 di Wayback Machine.
- http://anthromuseum.missouri.edu/minigalleries/handaxes/intro.shtml Diarsipkan 2013-12-01 di Wayback Machine.