Perkembangan kanon Perjanjian Baru

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Kanonisasi Perjanjian Baru)
Lompat ke: navigasi, cari

Kanon dari Perjanjian Baru adalah sekumpulan kitab yang dipandang oleh umat Kristen sebagai terinspirasi secara ilahi (atau berwibawa) dan merupakan Perjanjian Baru (PB) dari Alkitab Kristen. Telah disepakati sebagian besar kalangan bahwa kanon Perjanjian Baru memuat 27 kitab yang mencakup Injil Kanonik, Kisah, surat dari para Rasul, dan Wahyu. Kitab-kitab dalam kanon Perjanjian Baru utamanya ditulis pada abad pertama dan terselesaikan sekitar tahun 150 M.

Bagi kalangan Ortodoks, pengakuan otoritatif atas tulisan-tulisan ini disahkan dalam Konsili Quinisextum pada tahun 692 kendati penerimaannya nyaris secara universal pada sekitar pertengahan tahun 300-an.[1] Kalangan Katolik membuat ketetapan dogmatis atas kanon Alkitab yang digunakannya pada Konsili Trente tahun 1546, dengan menegaskan kembali kanon-kanon dari Konsili Florence tahun 1442 dan Afrika Utara (Hippo dan Kartago) tahun 393–419.[2][3] Bagi Gereja Inggris, penetapan dogmatisnya termuat dalam 39 Artikel tahun 1563; sedangkan kalangan Calvinis memuatnya dalam Pengakuan Iman Westminster tahun 1647.

Koleksi awal mula[sunting | sunting sumber]

Tulisan-tulisan yang dikaitkan dengan para Rasul telah beredar di kalangan komunitas-komunitas Kristen paling awal. Surat-surat Paulus beredar pada akhir abad ke-1 M, mungkin dalam bentuk-bentuk kumpulan.[a] Yustinus Martir, pada pertengahan abad ke-2, menyebutkan "memoar para rasul" dibaca pada hari Minggu bersamaan dengan "tulisan para nabi".[4] Sebuah set yang terdefinisikan berisi empat injil (Tetramorph) dinyatakan oleh Ireneus, kr. 180, yang mengacu langsung padanya.[5][6]

Pada awal abad ke-3, Origen mungkin telah menggunakan kedua puluh tujuh kitab yang sama seperti dalam kanon Perjanjian Baru saat ini meskipun saat itu masih ada perdebatan seputar penerimaan atas Surat Ibrani, Yakobus, 2 Petrus, 2 Yohanes, 3 Yohanes, Yudas, dan Wahyu,[7] yang mana dikenal sebagai Antilegomena. Demikian pula fragmen Muratori memberikan bukti bahwa mungkin sejak tahun 200 telah ada sekumpulan tulisan Kristen yang agak mirip dengan 27 kitab dalam kanon PB, mencakup empat injil dan menentang keberatan atas kitab-kitab itu.[8] Dengan demikian, kendati ada perdebatan dalam Gereja perdana seputar kanon Perjanjian Baru, tulisan-tulisan yang utama diakui penerimaannya oleh hampir semua kalangan Kristen pada pertengahan abad ke-3.[9]

Dalam surat Paskah yang ditulisnya pada tahun 367, Athanasius, Uskup Aleksandria, memberikan suatu daftar kitab yang kemudian menjadi kanon PB yang berisikan 27 kitab,[10] dan ia menggunakan kata "dikanonisasi" (bahasa Yunani: κανονιζόμενα kanonizomena) sehubungan dengan kitab-kitab tersebut.[11][halaman dibutuhkan] Konsili pertama yang menerima kanon Perjanjian Baru saat ini kemungkinan adalah Sinode Hippo Regius di Afrika Utara (tahun 393). Suatu ringkasan singkat hasil sinode tersebut dibacakan dan diterima oleh Konsili Kartago pada tahun 397 dan 419.[12] Konsili-konsili tersebut berada di bawah pengaruh yang cukup besar dari Agustinus, yang menganggap seolah-olah kanon telah ditutup sejak saat itu.[13][14][15] Konsili Roma tahun 382 di bawah otoritas Paus Damasus I, di mana Decretum Gelasianum dianggap berkaitan dengan konsili ini, mengeluarkan sebuah kanon Alkitab yang identik dengan yang disebutkan di atas,[10] atau, jika tidak, daftar tersebut sekurang-kurangnya merupakan kompilasi dari abad ke-6.[16] Penugasan oleh Paus Damasus I untuk mengerjakan Alkitab edisi Vulgata berbahasa Latin, kr. 383, memiliki peranan penting dalam penetapan kanon di Barat.[17] Dalam sebuah surat (kr. tahun 405) kepada Eksuperius (seorang uskup dari Toulouse), Paus Innosensius I mengirimkan daftar kitab-kitab suci tersebut.[18] Para akademisi Kristen mengegaskan bahwa, ketika para uskup dan konsili ini berbicara mengenai hal tersebut, bagaimanapun mereka tidak mendefinisikan sesuatu yang baru, melainkan "meratifikasi apa yang telah menjadi pemikiran Gereja."[13][19][20]

Dengan demikian beberapa mengklaim bahwa sejak abad ke-4 telah ada kebulatan suara di Barat mengenai kanon Perjanjian Baru,[21] dan pada abad ke-5 Gereja Timur, dengan beberapa pengecualian, telah sampai pada penerimaan Kitab Wahyu dan karenanya berada dalam keselarasan dengan Barat perihal kanon tersebut.[2][22]

Kekristenan awal (kr. 30–325)[sunting | sunting sumber]

Kira-kira sepanjang tahun 50–150, sejumlah dokumen mulai beredar di antara gereja-gereja, seperti surat, injil, memoar, apokalipsis, homili, dan kumpulan ajaran-ajaran. Meskipun beberapa dokumen ini berasal dari para rasul, yang lainnya dapat ditelusuri dari tradisi yang digunakan para rasul tersebut dalam misi mereka masing-masing. Yang lainnya lagi merepresentasikan suatu ringkasan ajaran yang diberikan kepada suatu pusat gereja tertentu. Beberapa tulisan ini berupaya untuk memperluas, menafsirkan, dan menerapkan ajaran apostolik (para rasul) untuk memenuhi kebutuhan umat Kristen di sebuah wilayah tertentu.

Klemens dari Roma[sunting | sunting sumber]

Pada akhir abad ke-1, beberapa surat Paulus dapat diketahui dari tulisan Klemens dari Roma, bersama-sama dengan beberapa bentuk "perkataan Yesus"; kendati Klemens sangat menghargai surat-surat ini, ia tidak menganggapnya sebagai "Kitab Suci" ("graphe") —suatu istilah yang ia khususkan bagi Septuaginta. Bruce M. Metzger menarik kesimpulan berikut mengenai Klemens:[23]

Klemens... sesekali memberikan referensi kata-kata tertentu Yesus; kendati otoritatif baginya, tampaknya ia tidak mempertanyakan bagaimana keasliannya dipastikan. Dalam dua dari tiga kasus saat ia berbicara tentang mengingat-ingat 'kata-kata' Kristus atau Tuhan Yesus, sepertinya ia memiliki catatan tertulis dalam pikiran, tetapi ia tidak menyebutnya sebagai 'injil'. Ia tahu beberapa surat Paulus, dan sangat menghormatinya karena isinya; hal yang sama dapat dikatakan mengenai Surat Ibrani, yang mana ia kenal dengan baik. Meskipun tulisan-tulisan ini jelas cukup penting bagi Klemens, ia tidak pernah merujuknya sebagai 'Kitab Suci' otoritatif.

2 Petrus[sunting | sunting sumber]

Dalam Perjanjian Baru itu sendiri, ada referensi untuk setidaknya beberapa karya Paulus yang disebut sebagai Kitab Suci (Scripture). 2 Petrus 3:16 menuliskan:

Hal itu dibuatnya (Paulus) dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan (Scriptures) yang lain.

Yang direferensikan (mungkin Septuaginta) sebagai tulisan-tulisan (kitab-kitab suci) "yang lain" menunjukkan bahwa penulis 2 Petrus memandang, setidaknya, karya-karya Paulus yang telah dituliskan pada zamannya sebagai Kitab Suci. Sulit untuk menentukan waktu penulisan surat 2 Petrus ini; berbagai buku referensi dan komentari menempatkan tarikhnya antara 60–160 M.[24]

Ignatius dan Polikarpus[sunting | sunting sumber]

Bukti lain sehubungan dengan distribusi awal tulisan-tulisan Paulus adalah dari Ignatius dan Polikarpus, keduanya menulis pada awal abad kedua. Sekitar tahun 117 M, Ignatius menulis dari Smirna ke jemaat di Efesus bahwa Paulus "di dalam semua suratnya menyebut kamu dalam Kristus Yesus". [25] Pada pertengahan abad kedua, Polikarpus menulis kepada jemaat di Filipi tentang Paulus bahwa "ketika ia tidak ada di antara kamu, ia menulis surat pada kamu, yang jika kamu pelajari hati-hati, kamu akan menemukan cara dalam membangun iman yang telah diberikan kepada kamu." Polikarpus juga mengutip pernyataan Paulus dalam Efesus 4:26 sebagai "Kitab Suci".[26]

Marsion dari Sinope[sunting | sunting sumber]

Marsion dari Sinope, seorang uskup dari Asia Kecil yang datang ke Roma dan kemudian diekskomunikasi karena pandangannya, adalah orang pertama yang tercatat memberikan suatu usulan daftar yang unik, eksklusif, dan definitif atas kitab-kitab suci Kristen, yang disusunnya antara tahun 130–140 M.[27] Sebelum Marsion, Ignatius dari Antiokhia telah menyinggung soal kitab suci Kristen[28] untuk melawan ajaran sesat Doketisme dan kalangan Kristen penganut Hukum Musa, namun ia tidak mendefinisikan suatu daftar kitab-kitab suci. Dalam buku Origin of the New Testament,[29] Adolf von Harnack berpendapat bahwa Marsion memandang gereja pada zaman itu terutama sebagai suatu gereja Perjanjian Lama (yang "mengikuti Perjanjian dari Allah Pencipta") tanpa menetapkan kanon Perjanjian Baru secara tegas, dan bahwa gereja secara bertahap merumuskan kanon Perjanjian Baru dalam menanggapi tantangan yang diajukan Marsion.

Marsion menolak teologi keseluruhan Perjanjian Lama dan memandang Allah yang dideskripsikan di dalamnya sebagai suatu Wujud yang rendah. Dalam Antitesis karyanya, ia mengklaim bahwa teologi Perjanjian Lama tidak sesuai dengan ajaran Yesus dalam Perjanjian Baru mengenai Allah dan moralitas. Marsion meyakini bahwa Yesus telah datang untuk membebaskan manusia dari otoritas Allah dalam Perjanjian Lama dan untuk memperlihatkan keunggulan Allah dari kebaikan dan kerahiman yang disebutnya Bapa. Paulus dan Lukas adalah satu-satunya penulis Kristen yang disukai oleh Marsion, meskipun versi-versi Marsion terkait tulisan mereka berbeda dengan yang kemudian diterima oleh Kekristenan arus utama (disebut juga Kekristenan proto-ortodoks).

Marsion menciptakan suatu kumpulan kitab yang pasti tentang apa yang ia anggap sebagai sepenuhnya berwibawa, untuk menggantikan semua yang lain. Kitab-kitab ini meliputi sepuluh surat Paulus (tanpa surat-surat Pastoral) dan Injil Lukas. Tidak dapat dipastikan apakah ia menyunting sendiri buku-buku ini, menghilangkan bagian-bagian yang tidak sesuai dengan pandangannya, atau versi-versinya itu merepresentasikan suatu tradisi tekstual yang terpisah.[b]

Injil Marsion, disebut Injil dari Tuhan, berbeda dengan Injil Lukas karena tidak memiliki bagian-bagian yang menghubungkan Yesus dengan Perjanjian Lama. Ia meyakini bahwa allah Israel, yang memberikan Taurat kepada bangsa Israel, adalah allah yang sama sekali berbeda dengan Allah Maha Tinggi yang mengutus Yesus dan mengilhami Perjanjian Baru. Marsion menyebut kumpulan surat Paulus yang dibuatnya sebagai Apostolikon, yang juga berbeda dengan versi-versi yang diterima kemudian oleh Ortodoksi Kristen.

Teologi dan daftarnya Marsion ditolak dan dipandang sesat oleh Gereja mula-mula; namun ia memaksa umat Kristen lainnya untuk mempertimbangkan teks-teks mana yang kanonik dan mengapa demikian. Ia menyebarkan keyakinannya secara luas, dan mereka dikenal sebagai Marsionisme. Dalam pengantar buku Early Christian Writings, Henry Wace menyatakan:

Suatu keilahian modern... tidak dapat menolak untuk membahas pertanyaan yang diajukan oleh Marsion, entah apa ada pertentangan seperti itu antara bagian-bagian berbeda dari apa yang dianggapnya sebagai firman Allah, bahwa semuanya tidak dapat berasal dari penulis yang sama.[33]

Robert M. Price berpendapat bahwa tidak ada kejelasan bukti kalau para Bapa Gereja awal, seperti Klemens, Ignatius, dan Polikarpus, mengenali surat-surat Paulus. Ia menyimpulkan bahwa Marsion adalah orang pertama yang mengumpulkan tulisan-tulisan Paulus untuk berbagai gereja dan untuk menangani sepuluh surat Paulus, beberapa di antaranya disusun oleh Marsion sendiri, bersama-sama dengan suatu versi awal dari Lukas (bukan Injil Lukas sebagaimana sekarang dikenal):

Tetapi kolektor pertama dari Surat-surat Paulus adalah Marsion. Tidak ada orang lain yang kita tahu adalah seorang kandidat yang tepat, tentu bukan Onesimus, Timotius, dan Lukas yang pada dasarnya fiktif. Dan Marsion, sebagaimana diperlihatkan oleh Burkitt dan Bauer, mengisi proposal tersebut dengan sempurna.[34]

Yustinus Martir[sunting | sunting sumber]

Pada pertengahan abad ke-2, Yustinus Martir (yang mana tulisan-tulisannya dibuat antara kr. 145–163) menyebutkan "memoar para rasul", yang disebut "injil-injil" oleh umat Kristen dan dianggap setara dengan Perjanjian Lama.[4][35][36] Para akademisi berbeda pendapat seputar apakah ada bukti bahwa Yustinus memasukkan Injil Yohanes dalam "memoar para rasul", atau, sebaliknya, ia mendasarkan doktrinnya tentang Logos di dalam memoar tersebut.[37][38] Yustinus mengutip surat-surat Paulus, 1 Petrus, dan Kisah dalam tulisan-tulisannya.[39]

Dalam tulisan-tulisan Yustinus, referensi-referensi yang berbeda ditemukan untuk Roma, 1 Korintus, Efesus, Kolose, dan 2 Tesalonika, serta kemungkinan untuk Filipi, Titus, dan 1 Timotius. Selain itu, ia mengacu pada suatu catatan dari sumber tanpa nama mengenai pembaptisan Yesus yang mana berbeda dengan yang tercantum dalam injil-injil sinoptik:

Ketika Yesus turun ke dalam air, api berkobar di Yordan; dan ketika Ia keluar dari air, Roh Kudus turun ke atas-Nya. Para rasul dari Kristus kita menuliskan ini.[40]

Tatian[sunting | sunting sumber]

Tatian dikonversi menjadi Kristen oleh Yustinus Martir dalam kunjungannya ke Roma sekitar tahun 150 dan, setelah menerima banyak pengajaran, kembali ke Suriah untuk mereformasi gereja di sana. Pada suatu waktu (kr. 160) ia menyusun sebuah "Injil" harmonis tunggal dengan merangkai isi dari Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes bersama dengan peristiwa-peristiwa yang tidak terdapat dalam teks-teks ini. Narasi tersebut utamanya mengikuti kronologi Yohanes. Karyanya ini disebut Diatessaron ("[Harmoni] Melalui Empat") dan menjadi teks Injil resmi dari gereja Siria yang berpusat di Edessa, Mesopotamia.

Ireneus[sunting | sunting sumber]

Ireneus secara langsung merujuk pada suatu daftar yang terdefinisikan berisi empat injil (Tetramorph) kr. 180.[5][41] Dalam karya utamanya yang berjudul Melawan Ajaran Sesat, Irenaeus mengecam beberapa kelompok Kristen yang menggunakan hanya satu Injil saja, seperti Marsionisme yang hanya menggunakan Injil Lukas versi Marsion, atau kaum Ebionit yang tampaknya menggunakan Injil Matius versi Aramaik, serta kelompok-kelompok yang menggunakan lebih dari empat injil, seperti kaum Valentinian (A.H. 1.11). Ireneus menyatakan bahwa keempat injil yang diakuinya adalah empat "Pilar Gereja": "tidak mungkin ada lebih atau kurang dari empat" katanya, sambil menyajikan analogi sebagai suatu logika bahwa ada empat penjuru bumi dan empat mata angin (3.11.8). Penggambaran yang ia buat tentang takhta Allah (diambil dari Yehezkiel 1 atau Wahyu 4:6–10) yang diwakili empat makhluk dengan empat wajah—"keempatnya memiliki muka manusia, dan muka singa di sisi kanan, serta keempatnya memiliki muka lembu di sisi kiri; keempatnya juga memiliki muka rajawali"—setara dengan injil "berwujud-empat". Penggambarannya itu merupakan asal mula simbol yang biasa dikenakan pada para Penginjil: singa (Markus), lembu (Lukas), rajawali (Yohanes), manusia (Matius). Ireneus pada akhirnya berhasil menyatakan bahwa keempat injil tersebut secara bersama-sama, dan hanya sebatas keempat injil ini saja, mengandung kebenaran. Dengan membaca masing-masing injil dalam terang yang lainnya, Ireneus menjadikan Yohanes sebagai suatu lensa yang digunakan untuk membaca Matius, Markus, dan Lukas.

Berdasarkan argumen-argumen yang dikemukakan Ireneus untuk mendukung hanya empat injil asli, beberapa penafsir menyimpulkan bahwa "Injil rangkap empat" tersebut tentu masih merupakan suatu hal yang baru pada zamannya.[42] Melawan Ajaran Sesat 3.11.7 mencatat bahwa banyak umat Kristen yang menyimpang dari ajaran resmi hanya menggunakan satu injil, sedangkan 3.11.9 mencatat bahwa beberapa menggunakan lebih dari empat. Kesuksesan Diatessaron karya Tatian pada masa yang kurang lebih sama merupakan "...suatu indikasi kuat bahwa Injil rangkap empat yang secara serentak disponsori oleh Ireneus tidak diakui secara luas, apalagi universal."[43]

Ireneus sepertinya mengutip 21 kitab Perjanjian Baru dan menyebutkan masing-masing penulisnya yang ia anggap menuliskan teks tersebut.[44] Ia menyebutkan keempat Injil, Kisah, surat-surat Paulus (selain Ibrani dan Filemon), surat pertama Petrus, surat pertama dan kedua Yohanes, serta kitab Wahyu.[c] Ireneus berpendapat bahwa tidaklah logis untuk menolak Kisah Para Rasul tetapi menerima Injil Lukas, karena keduanya berasal dari penulis yang sama;[45] dalam Melawan Ajaran Sesat 3.12.12[46] ia mencela mereka yang berpikir dirinya lebih bijaksana daripada para Rasul karena bagaimanapun para Rasul tersebut masih mewarisi pengaruh Yahudi. Ia mungkin juga merujuk Ibrani (Buku 2, Bab 30), Yakobus (Buku 4, Bab 16), dan bahkan 2 Petrus (Buku 5, Bab 28), tetapi tidak mengutip Filemon, 3 Yohanes ataupun Yudas.[47][48]

Ia berpikir bahwa surat kepada jemaat di Korintus, sekarang dikenal sebagai 1 Klemens, adalah sangat berharga tetapi tampaknya ia tidak percaya bahwa Klemens dari Roma merupakan penulisnya dan tampaknya memiliki status yang sama rendahnya seperti Suratnya Polikarpus (Buku 3, Bab 3, Ayat 3). Ia merujuk pada suatu bagian dalam Gembala Hermas sebagai kitab suci (Amanat 1 atau Perintah Pertama),[49] tetapi dalam hal ini terdapat beberapa masalah konsistensi pada pihaknya. Hermas mengajarkan bahwa Yesus bukanlah makhluk ilahi, namun seorang saleh yang kemudian dipenuhi dengan Roh Kudus dan diangkat sebagai Anak[50][51] (suatu doktrin yang disebut adopsionisme). Karya Ireneus sendiri, seperti kutipannya atas Injil Yohanes (Yoh. 1:1), menunjukkan kalau Ireneus percaya bahwa Yesus adalah selalu Allah.

Upaya awal penentuan proto-ortodoks[sunting | sunting sumber]

Pada akhir abad ke-4 Epifanius dari Salamis (meninggal tahun 402) menuliskan dalam Panarion 29 bahwa sekte Nasrani menolak surat-surat Paulus. Ireneus dalam Melawan Ajaran Sesat 26.2 mengatakan bahwa kaum Ebionit menolaknya. Kisah 21:21 mungkin mencatat suatu rumor bahwa Paulus bermaksud membatalkan Perjanjian Lama, sementara Roma 3:8, 31 tampaknya menentang rumor tersebut. 2 Petrus 3:16 mengatakan bahwa surat-suratnya telah disalahgunakan oleh para bidat yang memutarbalikkannya "sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain." Pada abad ke-2 dan ke-3 Eusebius dari Kaisarea menulis dalam Sejarah Gereja 6.38 bahwa Elkasai "menggunakan teks-teks dari setiap bagian Perjanjian Lama dan Injil, serta menolak Rasul (Paulus) sama sekali"; 4.29.5 menyebutkan bahwa Tatian menolak surat-surat Paulus dan Kisah Para Rasul; 6.25 menyebutkan bahwa Origen menerima 22 kitab kanonik orang Ibrani ditambah Makabe dan keempat Injil tetapi Paulus "tidak begitu banyak menulis untuk semua gereja di mana ia mengajar, dan bahkan untuk mereka yang ia kirimkan beberapa baris kalimat saja."[52] Origen juga tercatat menerima Gembala Hermas, Surat Barnabas, dan Didache.[53]

Antara tahun 140-220, desakan dari dalam maupun luar menyebabkan Kekristenan proto-ortodoks mulai melakukan sistematisasi doktrin dan pandangannya tentang wahyu. Banyak dari sistematisasi ini terjadi sebagai suatu pertahanan terhadap beraneka ragam sudut pandang dalam Gereja perdana yang bersaing dengan perkembangan Proto-Ortodoksi. Pada tahun-tahun awal periode ini timbul beberapa gerakan keagamaan yang kuat, yang kemudian dinyatakan sesat oleh gereja di Roma: Marsionisme, Gnostisisme, dan Montanisme.

Marsion mungkin orang yang pertama kali memiliki suatu daftar kitab-kitab Perjanjian Baru yang didefinisikan secara jelas, meskipun pertanyaan tentang siapa yang lebih dahulu masih diperdebatkan hingga sekarang.[54] Proses penyusunan daftar ini mungkin saja suatu tantangan dan dorongan atas perkembangan proto-ortodoksi; jika mereka menyangkal bahwa daftar Marsion adalah benar, maka mereka berkewajiban menentukan apa yang benar. Tahap perkembangan kanon Perjanjian Baru bisa jadi dimulai sebagai tanggapan atas usulan kanon terbatas Marsion.

Fragmen Muratori[sunting | sunting sumber]

Fragmen Muratori[55] adalah contoh paling awal yang pernah diketemukan seputar daftar yang terdefinisikan dari sebagian besar kitab Perjanjian Baru.[56] Fragmen ini terlestarikan dalam rupa suatu terjemahan Latin yang buruk, dengan kondisi telah rusak dan karenanya tidak lengkap. Tertulis bahwa fragmen ini berasal dari teks Yunani yang tidak lagi ada, yang umumnya dikatakan berasal dari akhir abad ke-2,[57][58][59][60][61][62][63][64] kendati beberapa akademisi lebih suka menyebutnya berasal dari abad ke-4.[65][66][67] Berikut ini kutipan dari terjemahan Metzger (bahasa Inggris):[68]

Kitab Injil ketiga adalah menurut Lukas... Yang keempat... adalah dari Yohanes... kisah dari semua rasul... Adapun Surat-surat Paulus... Pertama kepada jemaat di Korintus, kedua kepada jemaat di Efesus, ketiga kepada jemaat di Filipi, keempat kepada jemaat di Kolose, kelima kepada jemaat di Galatia, keenam kepada jemaat di Tesalonika, ketujuh kepada jemaat di Roma... satu lagi kepada jemaat di Korintus dan kepada jemaat di Tesalonika... satu kepada Filemon, satu kepada Titus, dan dua kepada Timotius... kepada jemaat di Laodikia, [dan] lainnya kepada jemaat di Aleksandria, [keduanya] dipalsukan atas nama Paulus untuk [mendukung] ajaran sesat Marsion... surat dari Yudas dan dua dari Yohanes yang disebutkan di atas (atau, yang namanya digunakan)... dan [kitab] Kebijaksanaan... Kita hanya menerima apokalipsis Yohanes dan Petrus, meskipun beberapa dari kita tidak bersedia kalau yang terakhir ini dibacakan di gereja. Tetapi Hermas menulis Gembala baru-baru ini... Dan oleh karena itu seharusnya memang untuk dibaca; tetapi tidak dapat dibacakan di depan umum kepada jemaat di gereja.

Hal ini merupakan bukti bahwa mungkin pada tahun 200 telah ada sekumpulan tulisan Kristen yang agak mirip dengan apa yang sekarang dikenal sebagai 27 kitab Perjanjian Baru, yang mana mencakup empat injil dan menentang keberatan-keberatan atasnya.[8]

Klemens dari Aleksandria[sunting | sunting sumber]

Klemens dari Aleksandria (kr. 150 – kr. 215) menggunakan suatu kanon terbuka. Ia tampaknya "dapat dikatakan tidak peduli tentang kanonisitas. Baginya, yang penting adalah inspirasi (pengilhaman)."[69] Selain kitab-kitab yang tidak menjadi 27 kitab PB final tetapi diakui penerimaannya secara lokal (Barnabas, Didache, 1 Klemens, Apokalipsis Petrus, Gembala, Injil Jemaat Ibrani), ia juga menggunakan Injil Yunani Jemaat Mesir, Khotbah Petrus, Injil Matias, Ramalan Para Sibil, dan Injil Oral. Bagaimanapun ia lebih mengutamakan keempat injil gereja daripada yang lainnya, meskipun ia menjadikan mereka sebagai pelengkap bersama dengan injil-injil apokrif. Ia adalah orang pertama[butuh rujukan] yang memperlakukan surat-surat rasul selain dari Paulus (selain 2 Petrus) sebagai kitab suci —ia menerima 1 Petrus, 1–2 Yohanes, dan Yudas sebagai kitab suci.

Alogi[sunting | sunting sumber]

Ada kalangan yang menolak Injil Yohanes (mungkin juga Wahyu dan Surat-surat Yohanes) karena mereka menganggapnya tidak apostolik (atau tidak berasal dari para rasul), ditulis oleh Cerinthus (seorang Gnostik), atau tidak sesuai dengan Injil Sinoptik. Epifanius dari Salamis memberi sebutan Alogi kepada orang-orang ini karena mereka menolak doktrin Logos dari Yohanes dan ia mengklaim mereka tidak logis. Mungkin juga saat itu telah ada perdebatan tentang doktrin Parakletos.[70][71] Gaius atau Caius, seorang presbiter Roma pada awal abad ke-3, tampaknya dikaitkan dengan gerakan Alogi ini.[72]

Periode Tujuh Konsili Ekumenis (325–787)[sunting | sunting sumber]

Eusebius[sunting | sunting sumber]

Dalam Sejarah Gereja (kr. 330), Eusebius dari Kaisarea menyebutkan kitab-kitab Perjanjian Baru menurutnya:[73][74]

1. […] adalah tepat untuk meringkas tulisan-tulisan dari Perjanjian Baru yang mana telah disebutkan. Maka pertama-tama haruslah menempatkan angka empat yang suci dari Injil; setelahnya Kisah Para Rasul... surat-surat Paulus... surat Yohanes... surat Petrus... Setelah itu seharusnya, jika tampaknya benar-benar tepat, Apokalipsis Yohanes, yang mana tentangnya kita akan memberikan pendapat-pendapat berbeda pada waktu yang tepat. Semua ini kemudian termasuk dalam tulisan-tulisan yang diterima [Homologoumena].
3. Di antara tulisan-tulisan yang diperdebatkan [Antilegomena], yang mana tetap diakui oleh banyak kalangan, yang masih ada yaitu yang disebut surat dari Yakobus dan yang dari Yudas, juga surat Petrus yang kedua, dan yang disebut surat Yohanes kedua dan ketiga, entah berasal dari sang penginjil atau orang lain dengan nama sama.
4. Di antara tulisan-tulisan yang ditolak [terjemahan Kirsopp Lake: "tidak asli"] juga patut diperhitungkan Kisah Paulus, dan yang disebut Gembala, dan Apokalipsis Petrus, dan selain ini semua ada surat Barnabas yang masih ada, dan yang disebut Ajaran Para Rasul; dan selain itu, sebagaimana saya katakan, Apokalipsis Yohanes, jika tampaknya tepat, yang mana beberapa kalangan, sebagaimana saya katakan, menolaknya, tetapi kalangan lainnya menggolongkannya dengan kitab-kitab yang diterima.
5. Dan di antara tulisan-tulisan ini beberapa kalangan menempatkan juga Injil menurut Jemaat Ibrani... Dan semuanya ini mungkin diperhitungkan di antara kitab-kitab yang diperdebatkan... kitab-kitab seperti Injil dari Petrus, dari Tomas, dari Matias, atau dari yang lainnya selain mereka, dan Kisah Andreas serta Yohanes dan rasul lainnya ... kitab-kitab itu jelas menunjukkan diri sebagai cerita fiksi dari para bidat. Karenanya kitab-kitab itu tidak ditempatkan bahkan di antara tulisan-tulisan yang ditolak, tetapi semuanya disingkirkan karena absurd dan fasik.

Apokalipsis Yohanes, juga disebut Wahyu, diterima (terjamah Kirsopp Lake: "Diakui") sekaligus diperdebatkan, sehingga telah menyebabkan beberapa kebingungan atas apa yang sebenarnya dimaksud Eusebius. Perdebatan tersebut mungkin dikaitkan dengan Origen[75] (lihat pula Pamphili c. 330, 3.24.17–18).[76] Pamphili c. 330, 3.3.5 menambahkan rincian lebih lanjut mengenai Paulus: "Empat belas surat Paulus dikenal baik dan tidak perlu dipersoalkan. Memang tidak benar mengabaikan kenyataan bahwa beberapa kalangan menolak Surat kepada Orang Ibrani, yang mengatakan bahwa tulisan tersebut dipersoalkan oleh Gereja Roma, dengan alasan bahwa bukan Paulus yang menulisnya." Pamphili c. 330, 4.29.6 menyebutkan Diatessaron: "Namun penemu aslinya, Tatian, membentuk suatu koleksi dan kombinasi tertentu dari Injil-injil, ... yang ia beri judul Diatssaron, dan yang masih ada di tangan beberapa kalangan. Tetapi mereka mengatakan bahwa ia memberanikan diri untuk mengutip perkataan tertentu sang rasul [Paulus], dalam rangka memperbaiki gaya mereka."

Kodeks Claromontanus[sunting | sunting sumber]

Kodeks Claromontanus[77] (kr. 303–367)[78] merupakan halaman yang ditemukan sebagai sisipan dalam sebuah salinan Surat-surat Paulus dan Ibrani dari abad ke-6. Kodeks ini memuat daftar Perjanjian Lama, termasuk Tobit, Yudit, Kebijaksanaan, Sirakh, 1–2,4 Makabe, dan Perjanjian Baru, ditambah Kisah Paulus, Apokalipsis Petrus, Barnabas, dan Gembala Hermas, tetapi tidak ada Filipi, 1–2 Tesalonika, dan Ibrani.

Theodor Zahn dan Harnack berpendapat bahwa daftar tersebut awalnya telah disusun dalam bahasa Yunani di Aleksandria atau sekitarnya pada kr. 300 M. Menurut Adolf Jülicher daftar tersebut berasal dari abad ke-4 dan mungkin berasal dari Barat.[butuh rujukan]

Konstantinus Agung[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 331, Kaisar Konstantinus I menugaskan Eusebius untuk mengirimkan 50 Alkitab untuk Gereja Konstantinopel. Athanasius (Apol. Const. 4) mencatat para ahli kitab dari Aleksandria sedang mempersiapkan Alkitab-Alkitab untuk Kaisar Konstans pada sekitar tahun 340. Hanya sedikit hal lainnya yang diketahui, kendati ada banyak spekulasi seputar hal tersebut. Sebagai contoh, ada dugaan bahwa hal ini mungkin mendorong adanya pendaftaran kanon, dan bahwa Kodeks Vaticanus dan Kodeks Sinaiticus merupakan beberapa contoh dari Alkitab-Alkitab ini. Bersama dengan Peshitta dan Kodeks Alexandrinus, Kodek Vaticanus dan Sinaiticus merupakan Alkitab-Alkitab Kristen paling awal yang masih ada hingga sekarang.[79]

Sirilus dari Yerusalem[sunting | sunting sumber]

McDonald & Sanders 2002, Appendix D-2, mencatat daftar kitab Perjanjian Baru berikut ini dari Catechetical Lectures 4.36 karya Sirilus dari Yerusalem (kr. 350):

Injil (4), Kisah, Yakobus, 1–2 Petrus, 1–3 Yohanes, Yudas,[80] surat-surat Paulus (14), dan Injil Tomas dicatat sebagai pseudopigrafa.

Konsili Laodikia[sunting | sunting sumber]

Konsili Laodikia (kr. 363) adalah salah satu konsili pertama yang menetapkan penilaian kitab-kitab mana saja untuk dibacakan di gereja-gereja. Dekrit-dekrit ini dikeluarkan oleh tiga puluh klerus atau lebih yang menghadirinya, dan disebut kanon. Kanon 59 menetapkan bahwa hanya kitab-kitab kanonik yang seharusnya dibaca, tetapi tidak ada daftar yang dilampirkan dalam naskah-naskah Latin dan Siria yang mencatat dekrit-dekrit tersebut. Kanon 60 berisikan daftar kitab-kitab kanonik yang terkadang dikaitkan dengan Konsili Laodikia, berisikan 22 kitab PL dan 26 kitab PB (selain Wahyu); kebanyakan akademisi menganggap kanon ini merupakan penambahan di kemudian hari.[81][82]

Athanasius[sunting | sunting sumber]

Dalam surat Paskah yang ditulisnya pada tahun 367[83] Athanasius, Uskup Aleksandria, memberikan sebuah daftar kitab yang persis sama dengan apa yang menjadi kanon 27 kitab Perjanjian Baru,[10] dan menggunakan ungkapan "yang dikanonisasikan" (kanonizomena) berkenaan dengan kitab-kitab tersebut.[84]

Daftar Cheltenham/Mommsen[sunting | sunting sumber]

Daftar Cheltenham (kr. 365–90) adalah daftar berbahasa Latin yang ditemukan oleh Theodor Mommsen, seorang akademisi klasika Jerman, dalam sebuah naskah abad ke-10 (utamanya patristik) milik perpustakaan Thomas Phillips di Cheltenham, Inggris; Mommsen mempublikasikannya pada tahun 1886. Daftar tersebut mungkin berasal dari Afrika Utara pada paruh kedua abad ke-4.[85][86]

Daftar Cheltenham berisikan 24 kitab Perjanjian Lama[87] dan 24 kitab Perjanjian Baru yang memuat perhitungan baris dan suku kata tetapi tidak mencantumkan Yudas dan Yakobus, dan mungkin Ibrani, serta tampaknya mempersoalkan surat-surat Yohanes dan Petrus selain yang pertama.

Epifanius[sunting | sunting sumber]

McDonald & Sanders 2002, Appendix D-2, mencantumkan daftar berikut ini yang mana dikaitkan dengan Epifanius dari Salamis (kr. 374–77) dari Panarion 76.5:

Injil (4), surat-surat Paulus (13), Kisah, Yakobus, Petrus, 1–3 Yohanes, Yudas, Wahyu, Kebijaksanaan, Sirakh

Kanon Para Rasul #85[sunting | sunting sumber]

Pada kr. 380 redaktur dari Konstitusi-konstitusi Apostolik (Constitutions of the Holy Apostles, bahasa Latin: Constitutiones Apostolorum) menghubungkan suatu kanon dengan Keduabelas Rasul sendiri, yakni dekrit ke-85 dari Kanon Para Rasul (Ecclesiastical Canons of the Same Holy Apostles, Kanon Apostolik):[88][89]

Kanon 85. Baiklah kitab-kitab berikut ini dipandang terhormat dan suci oleh Anda sekalian, baik klerus maupun awam. [Suatu daftar kitab-kitab Perjanjian Lama ...] Dan kitab-kitab suci kita, dari Perjanjian Baru, yaitu keempat Injil, dari Matius, Markus, Lukas, Yohanes; keempat belas Surat Paulus; dua Surat Petrus; tiga dari Yohanes; satu dari Yakobus; satu dari Yudas; dua Surat Klemens; dan Konstitusi-konstitusi yang didedikasikan untuk Anda, para uskup, oleh saya, Klemens, dalam delapan buku, yang mana tidaklah tepat jika dipublikasikan terlebih dahulu, karena misteri-misteri yang terkandung di dalamnya; dan Kisah tentang kita para Rasul. —Dari versi Latin

Dikatakan bahwa terjemahan Koptik dan beberapa versi Arab memuat Kitab Wahyu.[88]

Amfilokius dari Ikonium[sunting | sunting sumber]

Uskup Amfilokius dari Ikonium, dalam Iambics for Seleucus[90]—sebuah puisi yang dituliskan sekitar tahun 394 dan umumnya dikaitkan dengannya—membahas perdebatan seputar dimasukkannya sejumlah kitab yang seharusnya diterima, dan ia tampak tidak yakin mengenai Wahyu, Yudas, serta surat-surat Petrus dan Yohanes yang kemudian.[91]

Paus Damasus I[sunting | sunting sumber]

Penugasan oleh Paus Damasus I kepada Hieronimus untuk mengerjakan Alkitab edisi Vulgata berbahasa Latin,[2] kr. 383, memiliki peranan penting dalam penetapan kanon di Barat.[17] Paus Damasus I seringkali dianggap sebagai bapa dari kanon Katolik, karena apa yang dipandang sebagai daftarnya sesuai dengan kanon Katolik saat ini.[2] Apa yang disebut sebagai "daftar Damasian", yang mana sebagian kalangan mengaitkannya dengan Decretum Gelasianum,[92] dianggap merujuk pada Konsili Roma tahun 382 di bawah kepemimpinan Paus Damasus I. Daftar tersebut identik dengan apa yang kemudian dirumuskan dalam Kanon Trente,[10] dan kendati ada yang menganggap teks tersebut bukan Damasian, setidaknya dianggap sebagai suatu kompilasi yang berharga dari abad ke-6.[93][94] Daftar di bawah ini konon disahkan oleh Paus Damasus I:

[Suatu daftar kitab-kitab Perjanjian Lama ...], dan dalam Perjanjian Baru: 4 kitab Injil, 1 kitab Kisah Para Rasul, 13 kitab Rasul Paulus, 1 darinya kepada Jemaat Ibrani, 2 dari Petrus, 3 dari Yohanes, 1 dari Yakobus, 1 dari Yudas, dan Apokalipsis Yohanes.

Yang disebut sebagai Decretum Gelasianum de libris recipiendis et non recipiendis ini secara tradisi dikaitkan dengan Paus Gelasius I, Uskup Roma pada tahun 492–496. Bagaimanapun secara keseluruhan dokumen ini mungkin berasal dari Perancis Selatan (abad ke-6), tetapi beberapa bagiannya dapat ditelusuri ke Paus Damasus I dan mencerminkan tradisi Roma. Bagian keduanya merupakan suatu katalog kanon, dan bagian kelimanya merupakan suatu katalog tulisan apokrifa yang harus ditolak. Katalog kanon tersebut mencantumkan keseluruhan 27 kitab Perjanjian Baru Katolik.

Hieronimus[sunting | sunting sumber]

McDonald & Sanders 2002, Appendix D-2, mencantumkan daftar kitab Perjanjian Baru menurut Hieronimus, kr. 394, dari Epistle 53:

"Empatnya Tuhan": Matius, Markus, Lukas, Yohanes, Surat-surat Paulus (14), 1–2 Petrus, 1–3 Yohanes, Yudas, Yakobus, Kisah, Wahyu.

Agustinus dan konsili-konsili Afrika Utara[sunting | sunting sumber]

Agustinus dari Hippo menyatakan bahwa seseorang seharusnya "lebih memilih apa yang diterima oleh semua Gereja Katolik daripada apa yang tidak diterima oleh beberapa dari mereka. Di antara itu, sekali lagi, yang mana tidak diterima oleh semuanya, ia akan lebih memilih yang mendapatkan persetujuan dari jumlah yang jauh lebih banyak dan yang dari otoritas lebih tinggi, daripada yang dipegang oleh jumlah yang lebih kecil dan yang dari otoritas lebih rendah." (De doctrina christiana 2.12, bab 8).[95]

Agustinus secara efektif mendesak agar pendapatnya diterima oleh Gereja dengan mengorganisir tiga sinode/konsili terkait kanonisitas: Sinode Hippo tahun 393, Konsili Kartago tahun 397, dan satu lagi di Kartago pada tahun 419 (M 237-8). Masing-masing sinode ini menegaskan hukum Gereja yang sama: "tidak ada satu pun yang dapat dibacakan dalam gereja atas nama kitab-kitab suci ilahi" selain Perjanjian Lama (termasuk kitab-kitab Deuterokanonika) dan 27 kitab kanonik Perjanjian Baru. Tampaknya dekrit-dekrit ini juga dinyatakan dengan fiat (semacam pemakluman) bahwa Surat kepada Orang Ibrani dituliskan oleh Paulus, untuk mengakhiri segala perdebatan seputar subjek tersebut.

Konsili pertama yang menerima kanon saat ini dari kitab-kitab Perjanjian Baru mungkin adalah Sinode Hippo Regius di Afrika Utara (tahun 393). Rangkuman singkat tentang riwayat konsili tersebut dibacakan dan diterima oleh Konsili Kartago pada tahun 397 dan 419.[12] Konsili-konsili ini diselenggarakan di bawah pengaruh yang cukup besar dari Agustinus, yang mana menganggap kanon telah ditutup sejak saat itu.[13][14][15] Kanon Afrika Utara ini ditegaskan kembali di Konsili Trente tahun 1546.[2][3]

Paus Innosensius I[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 405 Paus Innosensius I menuliskan daftar kitab suci dalam suratnya kepada Eksuperius, seorang uskup dari Toulouse,[96] yang mana memuat daftar kitab kanonik yang identik dengan Kanon Trente.[97][98][99] Surat tersebut menyatakan "empat belas" Surat Paulus, namun F.F. Bruce lebih suka menganggapnya "tiga belas" dengan mengeluarkan Surat Ibrani.[96] Menurut Catholic Encyclopedia, setelah pergantian abad ke-5, Gereja Barat di bawah kepemimpinan Paus Innosensius I menerima suatu kanon Alkitab yang meliputi keempat Injil dari Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes, yang mana sebelumnya telah ditetapkan pada sejumlah sinode regional yaitu Konsili Roma (382), Sinode Hippo (393), dan dua Konsili Kartago (397 dan 419).[2]

Kanon-kanon Timur[sunting | sunting sumber]

Gereja-gereja Timur secara umum memiliki firasat yang lebih lemah dibandingkan dengan Barat berkenaan dengan kebutuhan untuk membuat suatu gambaran yang jelas terkait kanon Alkitab. Mereka lebih sadar akan adanya tingkatan kualitas rohaniah di antara kitab-kitab yang mereka terima (misalnya klasifikasi dari Eusebius; lihat pula Antilegomena) dan lebih jarang menegaskan bahwa kitab-kitab yang mereka tolak tidak memiliki kualitas rohaniah sama sekali.[butuh rujukan] Demikian pula dalam kanon-kanon Perjanjian Baru dari Gereja Siria, Armenia, Georgia, Koptik Mesir, dan Ethiopia terdapat sedikit perbedaan antara satu dengan yang lainnya.[100][halaman dibutuhkan] Wahyu kepada Yohanes dikatakan sebagai salah satu kitab yang paling tidak pasti; di Timur, khiliasme dan Montanisme membuatnya dicurigai;[101] kitab tersebut tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Georgia sampai dengan abad ke-10, dan tidak pernah dimasukkan dalam leksionari resmi Gereja Ortodoks Timur sejak zaman Bizantium hingga saat ini. Namun demikian status kanoniknya diakui.[102]

Perkembangan dalam Protestan (sejak kr. 1517)[sunting | sunting sumber]

Encyclopedia of Theology mengatakan bahwa 27 kitab yang membentuk kanon Perjanjian Lama dari Kitab Suci tidak didasarkan pada suatu daftar Alkitabiah yang mengotentikasinya sebagai terilhami atau terinspirasi, sehingga legitimasi kitab-kitab tersebut dipandang mustahil untuk dibeda-bedakan dengan pasti tanpa peranan sumber infalibel (yang tidak dapat salah) lainnya, seperti Magisterium dari Gereja Katolik yang pertama kali berkumpul dan mengkonfirmasi daftar ini dalam Konsili Roma.[103] Katolikisme menganggap Magisterium, yakni kewenangan mengajar, memiliki posisi yang setara dan saling terkait dengan Tradisi Suci dan Kitab Suci, yang mana masing-masing bertindak dengan caranya sendiri demi kebaikan Gereja.[104] Karena menolak hal-hal ini, para reformator Protestan berfokus pada doktrin sola scriptura, yaitu otoritas tertinggi pada Kitab Suci saja. Sola scriptura adalah salah satu dari kelima sola yang dipandang oleh beberapa kelompok Protestan sebagai pilar teologis dari Reformasi Protestan.[105]

Martin Luther[sunting | sunting sumber]

Martin Luther merasa terganggu dengan empat kitab, yang disebut sebagai Antilegomena Luther: Yudas, Yakobus, Ibrani, dan Wahyu; dan kendati Luther menempatkannya dalam posisi yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan kitab lainnya, ia tidak mengeluarkannya. Ia mengusulkan untuk mengeluarkan kitab-kitab tersebut dari kanon, dengan menyinggung dukungan dari beberapa umat Katolik seperti Kardinal Thomas Cajetan dan Desiderius Erasmus, serta sebagian lagi karena kitab-kitab tersebut dianggap bertentangan dengan doktrin-doktrin Protestan seperti sola gratia dan sola fide, tetapi hal ini tidak diterima secara umum di antara para pengikutnya. Namun demikian kitab-kitab ini tetap ditaruh dalam urutan terakhir di Alkitab Luther berbahasa Jerman hingga saat ini.[106][107]

Pengakuan iman Protestan[sunting | sunting sumber]

Di antara pengakuan-pengakuan iman yang disusun oleh kalangan Protestan, beberapa mengidentifikasi 27 kitab dari kanon Perjanjian Baru, misalnya Pengakuan Iman Perancis (1559), Pengakuan Belgia (1561), dan Pengakuan Iman Westminster (1647) pada saat Perang Saudara Inggris. 39 Artikel yang dikeluarkan oleh Gereja Inggris pada tahun 1563 menyebutkan kitab-kitab Perjanjian Lama, tetapi tidak mencantumkan Perjanjian Baru. Tidak ada satu pun pernyataan Pengakuan yang dikeluarkan oleh Gereja Lutheran mana pun yang memuat suatu daftar eksplisit terkait kitab-kitab kanonik.

Perkembangan dalam Katolik (sejak kr. 1546)[sunting | sunting sumber]

Konsili Trente[sunting | sunting sumber]

Konsili Trente pada tanggal 8 April 1546 menyetujui pemberlakuan Kanon Alkitab Katolik Roma sebagaimana adanya saat ini, yang memuat Kitab-kitab Deuterokanonika, sebagai sebuah tulisan keimanan (isi kanon itu sendiri telah ditegaskan kembali secara aklamasi), dan keputusan ini dikonfirmasi dengan anatema melalui pemungutan suara (24 setuju, 15 tidak, 16 abstain).[108] Kanon Trente dikatakan berisi daftar yang sama seperti yang dihasilkan dalam Konsili Florence (Sesi 11, tanggal 4 Februari 1442),[109] Konsili Kartago tahun 397-419,[3] dan mungkin Konsili Roma tahun 382.[10][110] Saat itu daftar tersebut tidak dianggap mengikat bagi Gereja Katolik, dan karena tuntutan Martin Luther, Gereja Katolik mengkaji ulang kanon tersebut pada Konsili Trente, yang mana kemudian menegaskan kembali kanon dari konsili-konsili sebelumnya dan menambahkan klausul anatema terhadap segala upaya untuk mengubah isi kanon tersebut.

Perkembangan kemudian[sunting | sunting sumber]

Konsili Vatikan I pada tanggal 24 April 1870 mengesahkan penambahan pada Injil Markus (v. 16:9–20), Lukas (22:19b–20, 43–44), dan Yohanes (7:53–8:11), yang mana tidak terdapat dalam naskah-naskah awal tetapi dimuat dalam Vulgata.[111]

Paus (Katolik Roma) Pius XI pada tanggal 2 Juni 1927 memutuskan bahwa Comma Johanneum dalam Perjanjian Baru menjadi terbuka untuk diperdebatkan.

Paus Pius XII pada tanggal 3 September 1943 mengeluarkan ensiklik Divino afflante Spiritu, yang mana mengizikan penerjemahan Alkitab atas dasar teks-teks selain Vulgata berbahasa Latin.

Perkembangan dalam Ortodoks (sejak kr. 1672)[sunting | sunting sumber]

Sinode Yerusalem[sunting | sunting sumber]

Sinode Yerusalem pada tahun 1672 menetapkan Kanon Ortodoks Timur, serupa dengan yang diputuskan oleh Konsili Trente. Mereka "menyebutnya Kitab Suci semua kitab yang dikumpulkan Cyril dari Sinode Laodikia, dan memperhitungkan, menambahkan pada Kitab Suci kitab-kitab yang dengan bodoh dan bebalnya, atau lebih tepatnya berbahaya, ia sebut Apokrifa; secara spesifik, [Daftar kitab-kitab deuterokanonika...]."[112]

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Tiga bentuk yang diterima, dari Gamble, Harry Y, "18", The Canon Debate, p. 300, note 21, (1) Koleksi Marsion yang diawali dengan Galatia dan diakhiri dengan Filemon; (2) Papirus 46, bertarikh sekitar tahun 200, yang mana mengikuti urutan yang ditetapkan kelak selain menukar Efesus dan Galatia; (3) surat-surat kepada tujuh gereja, yang memperlakukan surat-surat tersebut sebagai gereja yang sama dalam rupa satu surat dan mendasarkan urutannya menurut panjangnya, sehingga Korintus adalah yang pertama dan Kolose (mungkin termasuk Filemon) yang terakhir. 
  2. ^ John Knox[30] (penulis modern, bukan John Knox reformis Protestan) adalah orang pertama yang mengemukakan bahwa Injil Marsion telah ada sebelum Injil Lukas dan Kisah,[31] namun tetap menganggap bahwa Marsion menyunting atau mengubah sumber-sumber yang ada padanya itu.[32]
  3. ^ * Matius (Buku 3, Bab 16):
    • Markus (Buku 3, Bab 10)
    • Lukas (Buku 3, Bab 14)
    • Yohanes (Buku 3, Bab 11)
    • Kisah Para Rasul (Buku 3, Bab 14)
    • Roma (Buku 3, Bab 16)
    • 1 Korintus (Buku 1, Bab 3)
    • 2 Korintus (Buku 3, Bab 7)
    • Galatia (Buku 3, Bab 22)
    • Efesus (Buku 5, Bab 2)
    • Filipi (Buku 4, Bab 18)
    • Kolose (Buku 1, Bab 3)
    • 1 Tesalonika (Buku 5, Bab 6)
    • 2 Tesalonika (Buku 5, Bab 25)
    • 1 Timotius (Buku 1, Pengantar)
    • 2 Timotius (Buku 3, Bab 14)
    • Titus (Buku 3, Bab 3)
    • 1 Petrus (Buku 4, Bab 9)
    • 1 Yohanes (Buku 3, Bab 16)
    • 2 Yohanes (Buku 1, Bab 16)
    • Wahyu kepada Yohanes (Buku 4, Bab 20)

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ (Inggris) Pelikan, Jaroslav (2005). Whose Bible Is It?. New York, NY: Penguin. ISBN 0-670-03385-5. 
  2. ^ a b c d e f (Inggris) Wikisource-logo.svg "Canon of the New Testament". Catholic Encyclopedia. New York: Robert Appleton Company. 1913. 
  3. ^ a b c (Inggris) Philip Schaff, "Chapter IX. Theological Controversies, and Development of the Ecumenical Orthodoxy", History of the Christian Church, CCEL 
  4. ^ a b Martyr, Justin, First Apology, 67.3 .
  5. ^ a b Ferguson 2002, hlm. 301.
  6. ^ Irenaeus, Adversus Haereses, 3.11.8 .
  7. ^ Noll 1997, hlm. 36–37.
  8. ^ a b de Jonge 2003, hlm. 315.
  9. ^ Ackroyd & Evans 1970, hlm. 308.
  10. ^ a b c d e Lindberg 2006, hlm. 15.
  11. ^ Brakke 1994.
  12. ^ a b McDonald & Sanders 2002, Appendix D-2, note 19.
  13. ^ a b c Ferguson 2002, hlm. 320.
  14. ^ a b Bruce 1988, hlm. 230.
  15. ^ a b Augustine, 22.8.
  16. ^ Bruce 1988, hlm. 234.
  17. ^ a b Bruce 1988, hlm. 225.
  18. ^ (Inggris) Innocent I, Bible Research 
  19. ^ Metzger 1987, hlm. 237–38.
  20. ^ Bruce 1988, hlm. 97.
  21. ^ Bruce 1988, hlm. 215.
  22. ^ Ackroyd & Evans 1970, hlm. 305.
  23. ^ Metzger 1987, hlm. 43.
  24. ^ (Inggris) Bauckham, RJ (1983), Word Bible Commentary, Vol.50, Jude-2 Peter, Waco
  25. ^ Ignatius to the Ephesians, ch. 12;The Ante-Nicene Fathers, vol. 1, halaman 55
  26. ^ Polycarp to the Philippians, ch. 3; The Ante-Nicene Fathers, vol. 1, halaman 33.
  27. ^ (Inggris) Marcion, Early Christian writings .
  28. ^ (Inggris) Ignatius, NT Canon .
  29. ^ (Inggris) von Harnack, Adolf (1914). Origin of the New Testament. 
  30. ^ (Inggris) Knox, John, Marcion and the New Testament: An Essay in the Early History of the Canon, ISBN 0-404-16183-9 
  31. ^ (Inggris) Marcion, On truth .
  32. ^ (Inggris) Marcion, Christian origins .
  33. ^ (Inggris) Wace, Henry (1911). "Marcion". Early Christian Writings. 
  34. ^ Price.
  35. ^ Ferguson 2002, hlm. 302–3.
  36. ^ Justin Martyr, First Apology 67.3.
  37. ^ Ferguson 2002, hlm. 302–3 note 32.
  38. ^ (Inggris) Craig D. Allert, Revelation, Truth, Canon, and Interpretation (BRILL 2002 ISBN 978-9-00412619-0), p. 178
  39. ^ (Inggris) Saint Justin Martyr, Encyclopædia Britannica, Inc. 
  40. ^ Dialogue, 88:3 .
  41. ^ Irenaeus, Adversus Haereses 3.11.8.
  42. ^ McDonald & Sanders 2002, hlm. 277.
  43. ^ McDonald & Sanders 2002, hlm. 280, 310, summarizing 3.11.7: the Ebionites use Matthew's Gospel, Marcion mutilates Luke's, the Docetists use Mark's, the Valentinians use John's.
  44. ^ (Inggris) Streeter, Tom. The Church and Western Culture. Bloomington, IN: AuthorHouse. p. 115. ISBN 978-1-42595349-2. 
  45. ^ McDonald & Sanders 2002, hlm. 288, claims Acts was first "clearly and extensively" used by Irenaeus, though it seems to have been known by Justin (1 Apol. 50.12, cf. 2 Apol. 10.6).
  46. ^ (Inggris) Irinæus, Adversus Hæreses.
  47. ^ (Inggris) Wallace, J. Warner (2013). "How the Ante-Nicene Church Fathers Preserved the Eyewitness Gospel Accounts". Cold Case Christianity. Diakses tanggal 10 January 2014. 
  48. ^ (Inggris) Dillon, John J. (1991). St. Irenaeus of Lyons Against the Heresies. Mahwah, NJ: Paulist Press. p. 9. ISBN 978-0-80910454-3. 
  49. ^ Against Heresies iv 20,2
  50. ^ "The Holy Pre-existent Spirit. Which created the whole creation, God made to dwell in flesh that he desired. This flesh, therefore, in which the Holy Spirit dwelt, was subject unto the Spirit, walking honorably in holiness and purity, without in any way defiling the Spirit. When then it had lived honorably in chastity, and had labored with the Spirit, and had cooperated with it in everything, behaving itself boldly and bravely, he chose it as a partner with the Holy Spirit; for the career of this flesh pleased [the Lord], seeing that, as possessing the Holy Spirit, it was not defiled upon the earth. He therefore took the son as adviser and the glorious angels also, that this flesh too, having served the Spirit unblamably, might have some place of sojourn, and might not seem to have lost the reward for its service; for all flesh, which is found undefiled and unspotted, wherein the Holy Spirit dwelt, shall receive a reward." [1]
  51. ^ (Inggris) Patrick W. Carey, Joseph T. Lienhard (editors), Biographical Dictionary of Christian Theologians, page 241 (Greenwood Press, 2008). ISBN 0-313-29649-9 : "Hermas never mentions Jesus Christ, or the Word, but only the Son of God, who is the highest angel. As holy spirit the Son dwells in the flesh; this human nature is God's adopted son"
  52. ^ (Inggris) Lightfoot, Joseph Barber, Commentary on the Epistle to the Galatians, At this point [Gal 6:11] the apostle takes the pen from his amanuensis, and the concluding paragraph is written with his own hand. From the time when letters began to be forged in his name (2 Thess 2:2, 3:17) it seems to have been his practice to close with a few words in his own handwriting, as a precaution against such forgeries... In the present case he writes a whole paragraph, summing up the main lessons of the epistle in terse, eager, disjointed sentences. He writes it, too, in large, bold characters (Gr. pelikois grammasin), that his hand-writing may reflect the energy and determination of his soul. 
  53. ^ Commentaria in Matthaeum, Tomus XVII. 30.
  54. ^ Metzger 1997, hlm. 98: "The question whether the Church's canon preceded or followed Marcion's canon continues to be debated. ...Harnack... John Knox..."
  55. ^ (Inggris) The Muratorian Canon, Early Christian writings, diakses tanggal April 10, 2007 
  56. ^ Bauckham 2006, hlm. 425–26.
  57. ^ (Inggris) Ferguson, E (1982), "Canon Muratori: Date and Provenance", Studia Patristica 17: 677–83 .
  58. ^ (Inggris) Ferguson, E (1993), "The Muragorian Fragment and the Development of the Canon", Journal of Theological Studies 44: 696 .
  59. ^ (Inggris) Bruce, FF (1983), "Some Thoughts on the Beginning of the New Testament Canon", Bulletin of the John Rylands Library 65: 56–57 
  60. ^ Metzger 1987, hlm. 193–94.
  61. ^ (Perancis) Henne, P (1993), "La datation du Canon de Muratori" [The dating of the Muratorian canon], Revue Biblique 100: 54–75 .
  62. ^ (Inggris) Horbury, W (1994), "The Wisdom of Solomon in the Muratorian Fragment", Journal of Theological Studies 45: 146–59 
  63. ^ (Inggris) Hill, CE (1995), "The Debate over the Muratorian Fragment and the Development of the Canon", Westminster Theological Journal 57 .
  64. ^ Bauckham 2006, hlm. 426.
  65. ^ (Inggris) Hahneman, GM (1992), The Muratorian Fragment and the Development of the Canon, Oxford: Oxford University Press .
  66. ^ (Inggris) Anchor Bible Dictionary 
  67. ^ McDonald & Sanders 2002, hlm. 595, note 17: "The Muratorian Fragment. While many scholars contend that this was a late second-century C.E. fragment originating in or around Rome, a growing number hold that it was produced around the middle of the fourth century (ca. 350–375) and that it originated somewhere in the eastern part of the Roman Empire, possibly in Syria."
  68. ^ (Inggris)(Latin) The Muratorian Fragment, Bible Research 
  69. ^ (Inggris) Lieuwen, Daniel F, NT canon emergence, Orthodox info .
  70. ^ Metzger 1987, hlm. 150.
  71. ^ (Inggris) The Oxford Dictionary of the Christian Church. p. 45. 
  72. ^ (Inggris) Wikisource-logo.svg "Montanists". Catholic Encyclopedia. New York: Robert Appleton Company. 1913.  Montanism in the West: "The old notion that the Alogi were an Asiatic sect (see ALOGI) is no longer tenable; they were the Roman Gaius and his followers, if he had any."
  73. ^ Pamphili c. 330, Book 3, chapter XXV: The Divine Scriptures that are accepted and those that are not.
  74. ^ Templat:Harvc "Eusebius divides the writings he has been discussing into three categories, the homologoumena (the universally acknowledged writings), the antilegomena (the writings that have been spoken against and are thus disputed—or, in a certain sense, rejected, even though in wide use) and the heretical writings. Only the twenty-one or twenty-two books in the first category are in the church's New Testament (are canonical). It is the ancient church's tradition of what the apostles wrote and handed down that is the criterion for evaluating these writings from the apostolic era, and only these twenty-one or twenty-two pass the test. In important recent contributions on this passage both Robbins and Baum agree that for Eusebius the church's canon consists of these twenty-one or twenty-two books. ... Given what we see in Eusebius in the early fourth century it is virtually impossible to imagine that the church had settled upon a twenty-seven book collection, or even one that approximated that, in the late second century. Moreover, whatever the merits of David Trobisch's intriguing and important proposal that a twenty-seven book edition of the New Testament was produced in the second century, that notion seems hard to reconcile with what we have found in Eusebius regarding the church's acceptance of apostolic writings in earlier centuries."
  75. ^ (Inggris) Kalin, ER (1990), "Re-examining New Testament Canon History: 1. The Canon of Origen", Currents in Theology and Mission 17: 274–82 
  76. ^ McDonald & Sanders 2002, hlm. 395.
  77. ^ (Inggris) Codex Claromontanus, Bible Researcher .
  78. ^ McDonald & Sanders 2002, hlm. 584.
  79. ^ McDonald & Sanders 2002, hlm. 414–15.
  80. ^ (Inggris) Cyril of Jerusalem on the Canon, Bible Research 
  81. ^ (Inggris) Schaff (ed.), Nicene and Post Nicene Fathers XIV, The Christian classics ethereal library .
  82. ^ (Inggris) Council of Laodicea, Bible Research 
  83. ^ (Inggris) Athanasius (367), Schaff, ed., Easter letter, The Christian classic ethereal library 
  84. ^ (Inggris) Brakke, David (1994), "Canon Formation and Social Conflict in Fourth Century Egypt: Athanasius of Alexandria's Thirty Ninth Festal Letter", Harvard Theological Review 87: 395–419 .
  85. ^ (Inggris) "The Cheltenham List". Bible Research. Diakses tanggal 2007-07-08. 
  86. ^ (Inggris) "The Cheltenham Canon". NT canon. Diakses tanggal 2007-07-08. ; (also known as Mommsen’s)
  87. ^ From Cheltenham, Bible researcher  which references Metzger: 1. Genesis, 2. Exodus, 3. Numbers, 4. Leviticus, 5. Deuteronomy, 6. Joshua, 7. Judges, 8. Ruth, 9. I Kingdoms, 10. II Kingdoms, 11. III Kingdoms, 12. IV Kingdoms, 13. Chronicles I, 14. Chronicles II, 15. Maccabees I, 16. Maccabees II, 17. Job, 18. Tobit, 19. Esther, 20. Judith, 21. Psalms, 22. Solomon (probably to include the Wisdom of Solomon), 23. Major prophets, 24. Twelve Prophets
  88. ^ a b (Inggris) Apostolic Canons, NT canon .
  89. ^ (Inggris) Michael D. Marlowe. "The "Apostolic Canons" (about A.D. 380)". Bible Research. Diarsipkan dari versi asli tanggal 29 August 2010. Diakses tanggal 2 September 2010. 
  90. ^ (Inggris)"The Canon of Amphilochius of Iconium (after 394 CE)". 
  91. ^ (Inggris) The Canon Debate, page 400, note 78, translation attributed to Metzger's Canon of the NT page 314 ["/" indicates newline]: "And again the Revelation of John,/ Some approve, but the most/ Say it is spurious." and "Paul ... [wrote]/ Twice seven epistles:... But some say the one to the Hebrews is spurious, not saying well, for the grace is genuine." and on the Catholic Epistles: "Some say we must receive seven, but others say/ Only three [James, 1 Peter, 1 John] should be received..."
  92. ^ (Inggris) Decretum Gelasianum, Tertulian .
  93. ^ Bruce 1988, hlm. 234.
  94. ^ (Inggris) Turner, CH, ed. (1900), "Damasian Canon", JTS 1: 554–60 .
  95. ^ (Inggris) Augustine, Aurelius, On Christian Doctrine, Book II, Georgetown .
  96. ^ a b (Inggris) "Letter of Innocent I on the Canon of Scripture". Bible Research. 
  97. ^ (Inggris) Matthew J. Ramage, Dark Passages of the Bible (CUA Press 2013 ISBN 978-0-81322156-4), p. 67
  98. ^ (Inggris) Lee Martin McDonald, Formation of the Bible (Hendrickson Publishers 2012 ISBN 978-1-59856838-7), p. 149
  99. ^ (Inggris) John L. Mckenzie, The Dictionary of the Bible (Simon and Schuster 1995 ISBN 978-0-68481913-6), p. 119
  100. ^ Metzger 1987.
  101. ^ (Inggris) Eugenia Scarvelis Constantinou (editor) Commentary on the Apocalypse by Andrew of Caesarea (CUA Press 2011 ISBN 978-0-81320123-8), p. 3
  102. ^ (Inggris) "The Longer Catechism of The Orthodox, Catholic, Eastern Church • Pravoslavieto.com". 
  103. ^ (Inggris) Karl Rahner, ed. (1999). Encyclopedia of Theology: A Concise Sacramentum Mundi. Burns & Oates. p. 172. ISBN 978-0860120063. 
  104. ^ Dei verbum, n. 10.
  105. ^ (Inggris) Michael Horton (March–April 1994). "Reformation Essentials". Modern Reformation. Diakses tanggal 2008-07-10. 
  106. ^ (Jerman) "Gedruckte Ausgaben der Lutherbibel von 1545".  note order: ...Hebräer, Jakobus, Judas, Offenbarung
  107. ^ (Inggris) "German Bible Versions". Bible researcher. 
  108. ^ Metzger 1997, hlm. 246: "Finally on 8 April 1546, by a vote of 24 to 15, with 16 abstensions, the Council issued a decree (De Canonicis Scripturis) in which, for the first time in the history of the Church, the question of the contents of the Bible was made an absolute article of faith and confirmed by an anathema."
  109. ^ (Inggris) "Council of Basel 1431-45 A". Papalencyclicals.net. Diakses tanggal 7 January 2015. 
  110. ^ (Inggris) F.L. Cross, E.A. Livingstone, ed. (1983), The Oxford Dictionary of the Christian Church (2nd ed.), Oxford University Press, p. 232 
  111. ^ (Inggris) "2", Session 3, Daily Catholic, Item 6, The complete books of the old and the new Testament with all their parts, as they are listed in the decree of the said council and as they are found in the old Latin Vulgate edition, are to be received as sacred and canonical.  In the context, the "decree of the said Council" is the decree of the Council of Trent defining the canon of the Scriptures.
  112. ^ (Inggris) Dennis Bratcher (ed.), The Confession of Dositheus (Eastern Orthodox, 1672), Question 3, CRI / Voice, Institute 

Bibliografi[sunting | sunting sumber]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

Bacaan lanjutan[sunting | sunting sumber]

  • Ackroyd, PR; Evans, CF, ed. (1970), The Cambridge History of the Bible 1, Cambridge University Press .
  • Bauckham, Richard (2006), Jesus and the Eyewitnesses, Cambridge: Eerdmans .
  • BeDuhn, Jason (2013), The First New Testament. Marcion's Scriptural Canon, Polebridge Press .
  • Bourgel, Jonathan, "Do the Synoptic Narratives of the Passion Contain a Stratum Composed in Judea on the Eve of the Great Revolt?", NTS 58 (2012), 503-21, (French).
  • Brakke, David (1994), "Canon Formation and Social Conflict in Fourth Century Egypt: Athanasius of Alexandria's Thirty Ninth Festal Letter", Harvard Theological Review 87: 395–419 .
  • Bruce, FF (1988), The Canon of Scripture, Intervarsity Press .
  • de Jonge, HJ (2003), "The New Testament Canon", di de Jonge, HJ; Auwers, JM, The Biblical Canons, Leuven University Press 
  • Ferguson, Everett (2002), "Factors leading to the Selection and Closure of the New Testament Canon", di McDonald, LM; Sanders, JA, The Canon Debate, Hendrickson .
  • Gamble, Harry (1985), The New Testament Canon. Its Making and Meaning, Fortress Press .
  • Kruger, Michael (2012), Canon Revisited. Establishing the Origins and Authority of the New Testament Books, Crossway .
  • Kruger, Michael (2013), The Question of Canon. Challenging the Status Quo in the New Testament Debate, InterVarsity Press .
  • Lindberg, Carter (2006), A Brief History of Christianity, Blackwell, ISBN 1-4051-1078-3 .
  • McDonald, LM; Sanders, JA, ed. (2002), The Canon Debate, Hendrickson .
  • Metzger, Bruce (1987), The Canon of the New Testament: Its Origins, Development, and Significance, Oxford: Clarendon .
  • Noll, Mark A (1997), Turning Points.Decisive Moments in the History of Christianity, Baker Academic .