Kandat, Kandat, Kediri
Kandat | |||||
|---|---|---|---|---|---|
Bekas menara air lori tebu di Dusun Galuhan | |||||
| Negara | |||||
| Provinsi | Jawa Timur | ||||
| Kabupaten | Kediri | ||||
| Kecamatan | Kandat | ||||
| Kode pos | 64173 | ||||
| Kode Kemendagri | 35.06.05.2004 | ||||
| Luas | ... km² | ||||
| Jumlah penduduk | ... jiwa | ||||
| Kepadatan | ... jiwa/km² | ||||
| |||||
Kandat adalah ibu kota wilayah Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur, Indonesia.
Sejarah dan legenda
[sunting | sunting sumber]Nama Kecamatan Kandat diambil dari Desa Kandat yang menjadi pusat pemerintahan dan ekonomi kecamatan ini. Menurut cerita masyarakat lokal yang ditulis dalam buku “Cerita Rakyat dari Kediri” (2004) karya Edy Susanto dan Oemaryanto, asal-usul nama Kandat berhubungan dengan legenda pedati atau Cikar Mbah Gleyor yang sekarang berada di Musholla Nurul Huda di gang kecil selatan Pasar Kandat. Cikar kayu ini dimiliki oleh Adipati Kediri RM Djojohadiningrat dan ditarik oleh kerbau. Dalam cerita tersebut, Sang Adipati berusaha lari dari kejaran prajurit Belanda. Namun, di tengah perjalanan kerbau yang menarik cikar kelelahan dan berhenti. Peristiwa ini menjadi asal-usul penamaan Kandat yang berasal dari kata "Kandeg" yang berarti terhenti. Menurut penuturan masyarakat, cikar ini tergeletak di tengah kebun yang jauh dari pemukiman dan kerap dijadikan lokasi pesugihan. Sehingga cikar tersebut kemudian direlokasi. Namun ketika direlokasi, cikar tersebut secara ajaib kembali ke tempat semula dan hal ini terjadi berulang kali. Akhirnya warga mengadakan ritual keagamaan dan cikar berhasil dipindah ke posisi sekarang.[1]
Pada zaman Belanda, terdapat kawasan bernama Djiboen yang dijadikan lokasi pos pantau dan depo kereta uap pengangkut tebu sekitar tahun 1930-an. Hal ini karena Djiboen lokasinya strategis di persimpangan jalan raya dan rel kereta yang menghubungkan Pabrik Gula (PG) Pesantren di Kota Kediri, Perkebunan Djengkol Plosoklaten, PG Ngadirejo di Kras, dan Blitar. Djiboen sendiri adalah penyebutan orang Belanda untuk Jimbun, yaitu sebuah kawasan pemukiman yang didirikan oleh Mbah Jimbun yang merupakan pengikut Pangeran Diponegoro. Sekarang nama Jimbun masih dipakai dan masuk wilayah Desa Pule.[2]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Adi Nugroho (2020-06-16). "Kisah Cikar Keramat Mbah Gleyor dengan Umur Lebih dari Seabad". RADAR KEDIRI.
- ↑ Kholisul Fatikhin (2021-03-25). "Jimbun, Bengkel Besar Kereta Uap Pengangkut Tebu". Kediripedia.com.
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]- (Indonesia) Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 050-145 Tahun 2022 tentang Pemberian dan Pemutakhiran Kode, Data Wilayah Administrasi Pemerintahan, dan Pulau tahun 2021
- (Indonesia) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 72 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan
- (Indonesia) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan
