Kalimulyo, Jakenan, Pati

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kalimulyo
Desa
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Tengah
KabupatenPati
KecamatanJakenan
Kodepos59182
Luas... km²
Jumlah penduduk... jiwa
Kepadatan... jiwa/km²

Kalimulyo adalah desa di kecamatan Jakenan, Pati, Jawa Tengah, Indonesia.

Geografis[sunting | sunting sumber]

Desa Kalimulyo terletak arah 6 Km sebelah barat dari Kota Kecamatan dan terletak + 12 Km arah timur laut dari Kota Pati. Sebelah utara berbatasan dengan Desa Tondomulyo, sebelah timur berbatasan dengan Desa Glonggong, sebelah selatan berbatasan dengan desa Tambahmulyo dan sebelah barat berbatasan dengan Desa Sidoarum.

Desa Kalimulyo terdiri atas 3 (tiga) pedukuhan yaitu Kizingan, Kalipang dan Pengkol. Secara administratif terdiri atas 2 (dua) RW (Rukun Warga) dan 14 (empat belas) RT (Rukun tetangga).

Memiliki 2 (dua) buah masjid yang terdapat di pedukuhan Kizingan (Masjid Baitul Abidin) dan di Pedukuhan Kalipang. Masjid Baitul Abidin merupakan salah satu masjid tertua di Kecamatan Jakenan.

Karena letaknya yang berada di dataran rendah dan dekat dengan Sungai Juwana, bagian barat (persawahan) dan bagian Utara (perkampungan/dukuh Kizingan) menjadi daerah langganan banjir setiap tahun. Pada bulan Januari dan Februari 2008 silam, desa ini tenggelam dalam banjir hingga mencapai ketinggian 2 (dua) meter dan terjadi selama lebih dari satu bulan.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Tidak ada referensi yang pasti, memang. Sejarah Desa Kalimulyo hanya sebatas cerita dari mulut ke mulut yang diceritakan secara turun temurun. Bermula dari kisah Ki Ageng Talun yang menjadi pembuka desa Talun Kecamatan Kayen Kabupaten Pati yang pergi dari desanya untuk mencari ketenangan setelah mengakibatkan meninggalnya salah satu muridnya.

Setelah pengembaraan panjangnya, dia bermaksud untuk kembali ke desanya. Dengan menaiki sebuah rakit bambu dia menyusuri Sungai Juwana. Ditengah perjalanan, Kelapa Gading yang dibawanya terjatuh ke sungai. Ia berusaha untuk mengambilnya kembali, tetapi justru rakitnya oleng dan dia tercebur ke dalam sungai. Susah payah dia menuju tepi sungai. Daerah tersebut hingga sekarang dinamakan Desa Gadingrejo Kecamatan Juwana.

Ketika beristirahat di tepi sungai, terdengarlah suara burung perkutut yang merdu. Tak ayal itu menarik perhatian Ki Ageng Talun. Maka di carilah suara itu, hingga tanpa terasa dia semakin jauh masuk ke daerah di sebelah selatan Sungai Juwana tersebut sehingga sampailah dia di sebuah daerah yang dialiri oleh sebuah sungai kecil.

Ki Ageng Talun terpikat oleh ketengan daerah tersebut yang membuatnya merasa semakin dekat dengan Allah swt. Di sana Ki Ageng Talun memutuskan untuk beristirahat beberapa hari untuk menyendiri mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Esa. Dan akhirnya daerah itu terwujudlah menjadi suatu tempat dengan nama Mijen yang artinya sendiri. Dahulu kala, wilayah ini merupakan nama salah satu pedukuhan di Desa Kalimulyo yang terletak di ujung utara desa, namun karena kecilnya wilayah, lambat laun nama itu semakin jarang digunakan.

Sungai kecil di daerah tersebut ternyata menarik perhatian Ki Ageng Talun. Sungai di bagian bawah (utara) ternyata dihuni banyak binatang air bernama “Kijing”. Kizing adalah binatang bercangkang (moluska) pipih sejenis keong dan bukur yang hidup bersembunyi di dalam lumpur. Karena banyaknya Kizing, dia memberi nama daerah itu dengan nama Kizingan. Kizingan adalah salah satu pedukuhan yang terdapat di bagian utara Desa Kalimulyo, terdiri atas 7 RT (Rukun Tetangga) yang terhimpun dalam 1 RW (Rukun Warga) yaitu RW 01.

Sungai di bagian atas (selatan) ternyata memiliki dua cabang. Melihat keadaan ini, dia pun menamakan daerah tersebut dengan nama Kalipang yang merupakan akronim dari “Kali” (sungai) dan Ngepang (bercabang). Dukuh Kalipang dan Pengkol terdapat di bagian selatan Desa Kalimulyo dan masuk dalam RW (Rukun Warga) 02.

Sejak menjelang masa kemerdekaan RI, sungai kecil yang membujur di tengah-tengah desa Kalimulyo mengalami pendangkalan, sehingga akhirnya hilang sama sekali. Namun hingga saat ini, di sekitar bekas sungai kecil itu menjadi daerah yang mempunyai sumber air yang lebih besar dibandingkan dengan daerah lainnya. Selain itu setiap kali diadakan penggalian, seperti untuk pembuatan sumur, sering kali ditemukan potongan-potongan kayu dan berbagai benda lain yang terkubur di dalam tanah.

Ki Ageng Talun sendiri, menetap di daerah Kizingan Desa Kalimulyo Kecamatan Jakenan hingga meninggal dan dimakamkan di Pemakaman Umum Kamandowo yang terletak di perbatasan antara pedukuhan Kizingan dan Kalipang. Makam ini dikeramatkan oleh warga sekitar hingga sekarang. Dan sejak tahun 60-an, lewat jerih payah K. Lazimun, ulama Desa Kalimulyo saat itu, diadakan Haul setelah mengadakan penyelidikan tentang makam dan asal usul Ki Ageng Talun yang salah satunya melakukan cros ceck dengan masyarakat dari Desa Talun Kecamatan Kayen Kabupaten Pati. Haul Ki Ageng Talun sampai sekarang tetap dilaksanakan setiap tanggal 10 Muharam.

Ekonomi dan Budaya[sunting | sunting sumber]

Hampir seluruh penduduk Desa Kalimulyo menggantungkan hidup pada usaha pertanian yang berupa sawah tadah hujan, walaupun pada beberapa tahun terakhir, setiap musim kemarau ada usaha untuk menaikkan air dari Sungai Juwana yang terletak lebih kurang 1,5 Km di sebelah barat laut desa. Sawah-sawah tersebut hanya dapat ditanami dengan padi dan beberapa jenis palawija serta kacang-kacangan.

Sebagian lagi, utamanya kaum wanita, bekerja sebagai buruh. Diantaranya di PT. Garudafood yang memiliki beberapa pabrik di Kota Pati dan beberapa industri kelas menengah yang terdapat di Kota Pati maupun Juwana.

Selain itu, karena kurangnya lapangan pekerjaan yang tersedia, tidak sedikit yang pergi merantau ke lain daerah, pulau maupun negara. Golongan perantau ini hanya pulang sesekali saja ke Desa Kalimulyo, terutama menjelang Idul Fitri.

Keramaian di desa Kalimulyo, selain terjadi pada saat Idul Fitri, juga terasa saat dilangsungkannya Sedekah Bumi, Haul Ki Ageng Talun dan Haul K. Sadiman.

  • Sedekah Bumi, sebagaimana di desa-desa lain, merupakan perwujudan rasa syukur masyarakat desa kepada Allah swt atas segala karunia yang telah dilimpahkan-Nya. Sedekah Bumi di desa Kalimulyo dilangsungkan setiap bulan Apit atau disebut juga bulan Selo dalam penanggalan jawa dengan mengadakan selamatan di Balai Desa dan Masjid. Kadang perayaan sedekah bumi ini diikuti dengan gelaran kesenian rakyat semisal Ketoprak ataupun Orkes Dangdut.
  • Haul Ki Ageng Talun dilaksanakan setiap tanggal 10 Muharram dengan acara Tahlil, Bukak Selambu (prosesi mengganti kain penutup makam), Lelang selambu bekas penutup makam, pawai keliling desa, aneka perlombaan, dan pengajian umum. Kegiatan di fokus kan di Pemakaman Umum Kamandowo.
  • Haul K. Sadiman merupakan Haul K. Sadiman bersama putranya K. Kasturi dan Cucunya K. Lazimun serta segenap keluarga dan sahabat-sahabat seperjuangannya. Ketiga ulama ini dimakamkan dalam satu kompleks di Desa Bungasrejo yang terletak 1 km arah timur laut Desa Kalimulyo. Haul dilaksanakan setiap tanggal 12 Rabiul awal. Kegiatan ini yang sekaligus sebagai Peringatan maulid Nabi Muhammad diisi dengan Temu Keluarga Bani K. Sadiman, aneka perlombaan dan Pengajian Umum.

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Siswa kelas VI MI Tarbiyatusy Syubban sedang mengikuti tes

Desa Kalimulyo memiliki 3 (tiga) Sekolah Dasar yaitu, SDN Kalimulyo 01 (terdapat di RW 02/Dukuh Kalipang), SDN Kalimulyo 02 (terdapat di RW 01/Dukuh Kizingan) dan MI Tarbiyatusy Syubban (terdapat di RW 01/Dukuh Kizingan). Di jenjang pendidikan non formal terdapat 2 (dua) Taman Kanak-kanak yaitu TK Pertiwi dan RA (Raudlatul Atfal) Nurul Ilmi dan memiliki 2 (dua) TPQ (Taman Pendidikan Quran) yaitu TPQ Kalipang dan TPQ Ar Rosyad (Kizingan).

Lembaga-lembaga pendidikan islam yang ada di Kalimulyo di kelola oleh sebuah Yayasan bernama Yayasan Perguruan Islam Al Lazimiyah. Yayasan ini mengambil nama salah satu tokoh ulama desa Kalimulyo K. Lazimun yang sejak sebelum masa kemerdekaan RI telah merintis pondok pesantren dan Madrasah Diniyah. Madrasah Diniah tersebut yang semenjak tahun 1957 diubah menjadi Madrasah Ibtidaiyah Tarbiyatusy Syubban.

Tokoh[sunting | sunting sumber]

Ki Ageng Talun[sunting | sunting sumber]

Ki Ageng Talun. Merupakan salah satu murid Sunan Kudus yang menjadi pembuka desa Talun Kecamatan Kayen Kabupaten Pati dipercaya juga menjadi pembuka beberapa desa seperti desa Bakaranwetan Kecamatan Juwana, Bakarankulon Kecamatan Juwana (bersama Nyi Ageng Bakaran), desa Gadingrejo Kecamatan Juwana, Desa Tondomulyo Kecamatan Jakenan dan Desa Kalimulyo Kecamatan Jakenan. Dimakamkan di Pemakaman Umum Kamandowo desa Kalimulyo.

K. Sadiman[sunting | sunting sumber]

Salah satu penyebar agama di desa Kalimulyo dan sekitarnya. Dari garis keturunan dialah lahir tokoh-tokoh agama berikutnya di desa Kalimulyo dan sekitarnya. Ayahnya bernama KH. Mansyur, seorang penghulu di Solo yang harus meninggalkan kampung halamannya karena diuber-uber Pemerintah Kolonial Belanda. Dalam pengembaraannya, KH. Mansyur menikah dengan Nyai Rabithah (Dorokandang Juwana) dari perkawinan inilah lahir K. Sadiman.

Karena terus diuber Belanda, KH. Mansyur menyingkir ke Jombang Jawa Timur ketika K. Sadiman masih dalam kandungan. Ketika beranjak dewasa, K. Sadiman berusaha menemui ayahnya, namun oleh KH. Mansyur, dia diberikan sebuah kitab berbahasa arab yang harus mampu dibaca oleh K. Sadiman jika ingin diakui sebagai anaknya.

K. Sadiman pulang untuk mempelajari kitab tersebut. Kegiatan ini semakin menebalkan keimanan dan keinginan untuk menyiarkan agama islam. Akhirnya sampailah dia di Desa Kalimulyo dan menetap di sana. Istrinya bernama Yanti, putri Kepala Desa Pencil (Tondomulyo Kec. Jakenan) waktu itu. Mempunyai 5 (lima) putra yaitu, Kasmin, Sukinah, Kasturi, Sukimah dan Sukemi.

K. Sadiman dimakamkan di Desa Bungasrejo Kecamatan Jakenan. Dan setiap tanggal 12 Rabiul awal diadakan Haul.

K. Kasturi[sunting | sunting sumber]

Merupakan putra ketiga dari K. Sadiman. Ialah yang tetap menetap di Kalimulyo untuk meneruskan perjuangan ayahnya menyebarkan agama islam di Desa Kalimulyo dan sekitarnya. Muridnya berasal dari berbagai daerah di Jakenan, Winong, Pucakwangi, Juwana dan Pati. K. Kasturi mempunyai 6 (enam) putra yaitu Sunaini, Lazimun, Tasrifah, Nurwi, Rofi’i dan Rohamah. K. Kasturi dimakamkan di Desa Bungasrejo Kecamatan Jakenan bersama dengan ayahnya. Dan setiap tanggal 12 Rabiul awal diadakan Haul.

K. Lazimun[sunting | sunting sumber]

Merupakan putra kedua dari K. Kasturi. Bersama para saudara dan sahabatnya dia mendirikan tempat pemondokan bagi para santri yang belajar kepada dia. Mendirikan lembaga pendidikan agama (Madrasah Diniyah) pertama di Kecamatan Jakenan.

Kegemarannya untuk bersilaturrahmi dan berdakwah ke berbagai pelosok daerah meskipun dengan berjalan kaki semakin menambah banyak satrinya.

K. Lazimun dimakamkan di Desa Bungasrejo Kecamatan Jakenan bersama dengan ayah dan Kakek dia. Dan setiap tanggal 12 Rabiul awal diadakan Haul.

K. Ahmad Sholih Lazimun[sunting | sunting sumber]

b Merupakan putra dari K Lazimun. Meskipun sudah menginjak usia lanjut tetapi semangatnya untuk menyiarkan agama islam di daerahnya tidak pernah pudar. Menjabat sebagai Ketua Mutasyar Pengurus MWC. Nadlatul Ulama Kecamatan Jakenan. Juga menjabat sebagai Ketua Penasehat Yayasan Perguruan Islam Al Lazimiyah.


m