Kaisar bersuluk

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Daijō Hōō atau Daijō Hō (keduanya adalah pembacaan dari 太上法皇), istilah yang terkadang diterjemahkan menjadi kaisar bersuluk, adalah seorang kaisar Jepang yang turun dari takhtanya dan masuk ke dalam komunitas monastik Buddhis dengan meraih ritus Pravrajya. Istilah tersebut juga dapat dipendekkan menjadi Hōō (法皇, artinya "kaisar yang mempraktikkan Dharma").

Para kaisar bersuluk terkadang bertindak sebagai Daijō Tennō ("kaisar pensiun"), sehingga masih memegang kekuasaan efektif. Gelar tersebut mula-mula dipegang oleh Kaisar Shōmu dan kemudian dipakai oleh beberapa kaisar lainnya yang "melakukan tonsur", mensignifikasikan sebuah keputusan untuk menjadi seorang biarawan Buddhis.[1]

Zaman Heian[sunting | sunting sumber]

Para kaisar yang mengadopsi pemerintahan yang bersuluk adalah:

  • Kaisar Shirakawa (1053–1129, memerintah 1073–1087 dan pemerintahan terkloister 1087–1129)
  • Kaisar Toba (1103–1156, memerintah 1107–1123 dan pemerintahan terkloister 1129–1156)
  • Kaisar Go-Shirakawa (1127–1192, memerintah 1155–1158 dan pemerintahan terkloister 1158–1192)
  • Kaisar Go-Toba (1180–1239, memerintah 1183–1198 dan pemerintahan terkloister 1198–1221)
  • Kaisar Go-Horikawa (1212–1234, memerintah 1221–1232 dan pemerintahan terkloister 1232–1234)
  • Kaisar Go-Saga (1220–1272, memerintah 1242–1246 dan pemerintahan terkloister 1246–1272)

Kaisar Go-Hanazono turun dari takhta pada 1464 (tahun ke-5 Kanshō), tetapi tak lama setelahnya, Perang Ōnin (Ōnin-no-ran) pecah, dan tak ada abdikasi pada masa selanjutnya sampai 1586 (tahun ke-5 Tensho), saat Kaisar Ōgimachi turun dari takhtanya dan cucunya Kaisar Go-Yōzei naik. Hal ini karena ganggung kenegaraan di negara tersebut; dan pada kenyataannya, terdapat sebuah rumah bagi seorang mantan kaisa serta tunjangan untuk mendukungnya selama bersuluk.[2]

Periode Edo[sunting | sunting sumber]

Kaisar bersuluk terakhir adalah Kaisar Reigen, pada periode Edo.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Ponsonby-Fane, Richard. (1963). Vicissitudes of Shinto, p. 27.
  2. ^ Ponsonby-Fane, Kyoto, pp. 340-341.

Referensi[sunting | sunting sumber]