Kacaunya Dunia Persilatan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Kacaunya Dunia Persilatan
Sutradara Hilman Mutasi
Produser Helfi Kardit
Pemeran Tora Sudiro
Darius Sinathrya
Aming
Juhana Sutisna
Iang Darmawan
Agung Saga
Vicky Monica
Guntur Nugraha
Ery Makmur
Zahra Jasmine
Perusahaan
produksi
Durasi
95 menit
Negara  Indonesia
Bahasa Indonesia

Kacaunya Dunia Persilatan adalah film komedi Indonesia yang dirilis pada 22 Januari 2015.

Sinopsis[sunting | sunting sumber]

Dunia persilatan dihebohkan dengan hilangnya sebuah Pedang Pusaka Dewa yang selama ini tersimpan aman di Perguruan Silat Kera Emas. Pedang Pusaka Dewa adalah lambang kedamaian dunia persilatan, bila jatuh ke tangan yang tak bertanggung jawab, maka kacaulah dunia persilatan.

Maha Guru Perguruan Silat Kera Emas, Beruk Sepuh memerintahkan murid-muridnya untuk segera mencari ke mana pun sampai ketemu. Beruk Sepuh pun meminta bantuan teman-teman pendekar dari golongan putih, seperti Si Buta dari Gua Buat Elu, Broma Membara, Mantiloh dan Wira Sobling. Investigasi hilangnya Pedang Pusaka pun dimulai dengan metoda CSI (Crime Scene Investigation) tapi manual dan tradisional. Gayanya hampir mirip dengan Sherlock Holmes, meski banyak salahnya

Lewat hasil investigasi, olah TKP, kronologi dan statusisasi, Golongan Putih akhirnya mencurigai, Golongan Hitam yang berada di balik kasus ini. Mereka adalah Panci Tengkorak, Datuk Berdahak, Siluman Antik dan Pendekar Mabuk Asmara. Masing-masing Pendekar berbeda Golongan itu kemudian saling adu kekuatan. Pertarungan antara Para Pendekar pun tak terelakkan, jurus-jurus sakti pun dikeluarkan.

Pertarungan pun silih berganti, Panci Tengkorak melawan Mantiloh, jurus-jurus yang dipakai antara lain Selendang Berbisa, bisa dipakai ke kondangan, Bisa dipakai ikat kepala (terserah yang menggunakan). Dan masih banyak lagi jurus-jurus aneh, unik dan absurd yang muncul di kekacauan dunia persilatan ini. Pertarungan antara Golongan Putih melawan Golongan Hitam pun dimenangkan oleh Golongan Putih, tapi Pedang Pusaka Dewa tetap tidak ditemukan. [1]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]