Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Diponegoro

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota
Fakultas Teknik Universitas Diponegoro
Undip
MotoMenjadi Sekolah Perencanaan Bereputasi Internasional pada Tahun 2020.
JenisPerguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum
Didirikan20 September 1992
Jumlah mahasiswaLebih kurang 800 mahasiswa
Lokasi, ,
KampusUrban
AlamatFakultas Teknik Universitas Diponegoro, Jalan Prof. Sudharto, Tembalang, Semarang, Kampus Undip Tembalang
WarnaMerah
Situs webhttp://www.pwk.undip.ac.id/
Informasi Umum
JenjangD3, S1, S2
Jalur MasukPSSB D3, SNMPTN, SBMPTN, Ujian Mandiri D3, Ujian Mandiri S1, Ujian Mandiri S2
Guru Besar AktifSekitar 50 orang[1]
Laboratorium
  • Pengembangan Kota
  • Perancangan Ruang Fisik Kota dan Wilayah
  • Pengembangan Wilayah dan Manajemen Lingkungan
  • Geomatika dan Komputasi Perencanaan

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Diponegoro merupakan salah satu jurusan yang ada di lingkup Fakultas Teknik Universitas Diponegoro, Semarang. Berdiri pada tanggal 20 September 1992 menjadikan jurusan ini sebagai Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota tertua kedua di Indonesia setelah Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Institut Teknologi Bandung dan telah menyandang akreditasi A bersama dengan Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Institut Teknologi Bandung dan Universitas Gadjah Mada. Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota sering kali disingkat sebagai PWK atau lebih sering disebut sebagai Planologi. Planologi berasal dari Bahasa Belanda, yaitu Planologie yang berarti Perencanaan Kota.

Latar Belakang[sunting | sunting sumber]

Urbanisasi, baik yang diartikan sebagai proses perpidahan penduduk dari desa ke kota atau perubahan pola hidup masyarakat agraris (gemeinschaft) kepada masyarakat industri (gesellschaft) merupakan suatu keniscayaan sejarah yang sulit untuk ditolak. Kota yang menawarkan berbagai kesempatan, kemudahan dan kesenangan, telah menjadi daya tarik bagi penduduk desa untuk bermigrasi ke kota sementara kehidupan yang keras di perkotaan telahmenuntut mereka untuk hidup lebih rasional, individualis dan bahkan materialistis. Saat ini lebih dari 50% penduduk Indonesia bermukim di perkotaan. Angka ini diperkirakan akan terus meningkat pada masa yang akan datang. Di samping berdampak positif, fenomena ini juga memberi dampak negatif apabila tidak dikelola dan direncanakan sejak dini. Seperti saat ini, banyak kita temui kota-kota yang mengalami masalah kemacetan, kelangkaan air bersih, munculnya lingkungan permukiman kumuh yang rentan terhadap banjir,tanah longsor, wabah penyakit, sampah dan limbah yang tidak terkedali, kesenjangan sosial, kriminalitas, dan sebagainya. Belajar dari pengalaman ini pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut. Diterbitkannya Undang-Undang No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan berbagai peraturan terkait lainnya merupakan bentuk usaha tersebut. Akan tetapi, penerapan undang-undang tersebut di dalam dunia nyata tidaklah mudah, pemerintah membutuhkan kerjasama dan dukungan dari semua pihak terutama dukungan dari lembaga pendidikan yang mencetak para perencana. Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Diponegoro yang telah berdiri sejak tahun 1992 adalah lembaga pendidikan yang bertujuan untuk mencetak para perencana tersebut. Hingga kini Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Diponegoro telah mencetak banyak sarjana atau para perencana profesional. Mereka telah mengisi berbagai lapangan kerja baik di institusi pemerintah, swasta, maupun lembaga swadaya masyarakat.

Bidang Keahlian[sunting | sunting sumber]

  • Pengembangan Kota
  • Perancangan Ruang Fisik Kota dan Wilayah
  • Pengembangan Wilayah dan Manajemen Lingkungan
  • Geomatika dan Komputasi Perencanaan

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ sampai dengan Januari 2015

Pranala luar[sunting | sunting sumber]