Joko Seger dan Roro Anteng
Joko Seger dan Roro Anteng adalah tokoh legendaris yang diyakini sebagai leluhur dan asal-usul Suku Tengger di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur. Nama "Tengger" sendiri secara etimologis dipercaya merupakan akronim dari akhiran nama kedua tokoh ini, yakni "Anteng" dan "Seger". [1] Kisah mereka merupakan perpaduan antara elemen sejarah akhir masa Kerajaan Majapahit, mitologi, dan praktik spiritual yang mendasari tradisi ritual Yadnya Kasada.[2]
Latar Belakang Tokoh
[sunting | sunting sumber]Roro Anteng dikisahkan sebagai seorang putri dari kasta bangsawan (beberapa sumber menyebutkan keturunan Raja Majapahit) yang melarikan diri ke kawasan pegunungan saat terjadi pergolakan politik di kerajaan. Nama "Anteng" diberikan karena saat lahir ia tidak menangis, melainkan diam dan tenang. [3][4]
Joko Seger adalah putra seorang brahmana yang tinggal di wilayah pegunungan tersebut. Pertemuan keduanya berujung pada pernikahan, dan mereka kemudian membangun pemukiman di wilayah Tengger. Namun, untuk waktu yang lama, pasangan ini tidak dikaruniai keturunan.[5]
Legenda dan Perjanjian Kawah Bromo
[sunting | sunting sumber]Dalam upaya mendapatkan keturunan, Joko Seger dan Roro Anteng melakukan pertapaan di puncak Gunung Bromo dan memohon kepada Sang Hyang Widhi atau Dewa Kusuma. Permohonan mereka dikabulkan dengan syarat: anak bungsu atau anak ke-25 mereka harus dikorbankan kembali ke kawah Gunung Bromo sebagai bentuk persembahan.[6] [7]
Setelah memiliki 25 orang anak, mereka sempat ingkar janji karena tidak rela kehilangan putra bungsu mereka yang bernama Raden Kusuma. Hal ini memicu kemarahan dewa yang ditandai dengan erupsi Gunung Bromo. Akhirnya, Raden Kusuma menceburkan diri ke dalam kawah untuk menyelamatkan keluarga dan masyarakatnya, seraya berpesan agar keturunannya tetap memberikan sesaji pada hari ke-14 bulan Kasada. [2][5]
Signifikansi Budaya dan Ritual
[sunting | sunting sumber]Kisah Joko Seger dan Roro Anteng bukan sekadar dongeng, melainkan fondasi hukum adat dan religiositas masyarakat Tengger. Hingga saat ini, masyarakat setempat rutin menggelar upacara Yadnya Kasada di Pura Luhur Poten yang terletak di kaki Gunung Bromo. [1] Ritual ini melibatkan pelarungan hasil bumi dan ternak ke dalam kawah sebagai simbol pengingat akan pengorbanan Raden Kusuma dan kesetiaan terhadap leluhur. [2]
Tinjauan Arkeologis dan Spiritual
[sunting | sunting sumber]Secara arkeologis, jejak keberadaan masyarakat Tengger memang memiliki keterkaitan erat dengan eksodus masyarakat Hindu dari Majapahit pada abad ke-15. [1] Tradisi lisan mengenai Roro Anteng dan Joko Seger berfungsi sebagai pengikat identitas kultural yang menjaga ekosistem sosial dan spiritual di sekitar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. [3]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- 1 2 3 Publikasi, Seksi Dokumentasi (2025-06-26). "RORO ANTENG DAN JOKO SEGER: SEJARAH LELUHUR YANG BELUM TERTULIS (Mengungkap Jejak Spiritual dan Arkeologis di Tengah Tradisi Lisan Tengger) | Cak Durasim". Diakses tanggal 2026-02-23.
- 1 2 3 Siti, Khodijah (2025-06-17). "Roro Anteng and Joko Tengger: The Legend Behind Yadnya Kasada". TIMES Indonesia. Diakses tanggal 2026-02-23.
- 1 2 Soegiarto, Rudhi (2016). "MOTION COMIC LEGENDA GUNUNG BROMO: JOKO SEGER DAN RORO ANTENG". CALYPTRA (dalam bahasa Inggris). 4 (2): 1–10. ISSN 2302-8203.
- ↑ Media, Kompas Cyber (2023-05-23). "Roro Anteng dan Joko Seger, Cerita Rakyat Suku Tengger Halaman all - Kompas.com". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2026-02-23.
- 1 2 "Roro Anteng dan Joko Seger, Legenda Suku Tengger dan Kisah Cinta Abadi yang Terukir di Gunung Bromo". SINDOnews Daerah. Diakses tanggal 2026-02-23.
- ↑ "Joko Seger dan Roro Anteng » Budaya Indonesia". budaya-indonesia.org. Diakses tanggal 2026-02-23.
- ↑ Media, Kompas Cyber (2023-05-23). "Roro Anteng dan Joko Seger, Cerita Rakyat Suku Tengger Halaman all - Kompas.com". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2026-02-23.