John Dijkstra

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Pater Johanes Baptista Dijkstra, SJ. Gambar dibuat saat memperingati 1000 hari meninggalnya Pater Dijkstra.

John Dijkstra (Johannes Baptista Dijkstra, SJ, lahir di Amsterdam, Belanda, 26 Oktober 1911 – meninggal di Ungaran), Kabupaten Semarang, 20 Mei 2003 pada umur 91 tahun), adalah seorang Imam dari ordo Serikat Yesus. Terkenal sebagai seorang Pastor yang peduli terhadap kaum miskin dan tersingkirkan.

Lahir dari orang tua yang berprofesi sebagai pengusaha mantel wanita, dengan toko yang terletak tak terlalu jauh dari rumahnya. Ayah John Dijkstra meninggal pada usia agak muda, 50 tahun. Salah seorang kakak John Dijkstra kemudian meneruskan usaha ini, termasuk melanjutkan pendidikan adik-adiknya.

Biografi[sunting | sunting sumber]

Datang ke Indonesia sebagai bagian dari karya misi Jesuit tahun 1936. Semasa pendudukan Jepang, dia ikut diinternir. Dijkstra bersama Josephus Gerardus Beek, SJ dikenal sebagai moderator Gerakan Pancasila pada tahun 1950an. Membentuk Pilot Project "Aksi Puasa Pembangunan (1955); Promotor Workshop Development of Human Resources in Rural Asia (DHRRA) di Bangkok (1974); Membentuk Center for the Development of Human Resources in Rural Asia (CENDHRRA), di Manila (1975); dan Indonesian Development of Human Resources in Rural Area (INDHRRA), yang sekarang dikenal sebagai Sekretariat Bina Desa.

John Dijkstra adalah anak ke-5 dari 9 bersaudara. Berpendidikan MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), MTS (Middelbare Technical School), Gymnasium, Novisiat Serikat Yesus dan Belajar Filsafat di Kolese Kanisius Yogyakarta dan Jakarta, mengikuti Novisiat Serikat Yesus di Drongen, Belgia, Belajar Teologi di Maastricht, dan ditahbiskan menjadi Imam Yesuit pada tahun 1947.

Dijkstra pertama kali datang ke Indonesia tahun 1936, sebagai Novis Serikat Yesus, dan mengajar di SMP Kanisius Yogyakarta. Tahun 1939 John Dijkstra pindah ke Kolese Kanisius Jakarta. Ketika Jepang menduduki Indonesia, ia sempat belajar Teologi selama setengah tahun di Yogyakarta, sebelum kemudian diinternir di Muntilan bersama Frans Seda. Dari Muntilan ia dipindah ke Salatiga kemudian dipindah lagi ke Bandung.

Tahun 1946, John Dijkstra kembali ke negeri Belanda untuk melanjutkan pelajaran teologi di Maastricht. Di kota ini, pada tahun 1947, John Dijkstra ditahbiskan menjadi Imam Jesuit setelah sebelumnya kembali masuk novisiat di Drongen, Belgia. Pada tanggal 4 September 1949, ia kembali ke Indonesia dan ditugaskan di paroki Bintaran, Yogyakarta bersama Romo Danu, Pr. Ia diberi tugas untuk mengelola Karya Sosial Ekonomi. Di sinilah, John Dijkstra menjadi warga negara Indonesia.

Pada 1952 ia diajak oleh Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ, Uskup Agung Semarang pada saat itu, untuk menjadi Sekretaris Uskup dan ditugaskan sebagai Pastor Kepala di Paroki Gedangan, Semarang.

Pada 1955 John Dijkstra diangkat sebagai Sekretaris Panitia Sosial Waligereja Indonesia, yang sekarang menjadi KWI.

Pada 1956 dia dipindah-tugaskan dari Paroki Gedangan ke Paroki Randusari, Semarang.

Pada 1971 John Dijkstra dipindahkan ke Manila sebagai Sekretaris SELA (Socio Economic Live in Asia/Organisasi Sosial Ekonomi Jesuit Asia). Dijkstra menjadi salah satu pencetus diselenggarakannya DHRRA (Development of Human Resources in Rural Asia Workshop) pada 1974, di Bangkok, Thailand. Dalam workshop ini, lahirlah gagasan untuk membentuk CENDHRRA (Center for the Development of Human Resources in Rural Asia) pada tahun 1975. Dan tahun berikutnya dibentuk INDHRRA (Indonesia), MASDHRRA (Malaysia), THAIDHRRA (Thailand) dan lain-lain. Di Indonesia INDHRRA dikenal sebagai Sekretariat Bina Desa.

Pada 1977, John Dijkstra kembali ke Indonesia, ditempatkan di Jakarta dan ditugaskan sebagai Sekretaris MASRI (Majelis Antar Sarekat Religius Indonesia) yang sebelumnya bernama Konggar (Kongres Antar Religius) dan sekarang bernama KOPTARI (Konfrensi Pemimpin Tarekat Religius Indonesia).

Pada (tahun 1987) John Dijkstra diberi tugas mendampingi para calon imam diosesan di Seminari Tinggi St. Petrus, Sinaksak, Pematang Siantar, Sumatera Utara.

Pada 1991, John Dijkstra ditugaskan kembali ke Jakarta dan tinggal di Kolese Kanisius, Menteng. Tugas yang diembannya adalah Kerasulan Sosial Bebas.

Johannes Baptista Dijkstra meninggal pada tanggal 20 Mei 2003, dan dimakamkan di kompleks pemakaman Ordo Serikat Yesus di Girisonta (Ungaran), Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Pengaruh[sunting | sunting sumber]

John Dijkstra telah memberi warna tersendiri terhadap gerakan pemberdayaan ekonomi masyarakat di Indonesia. Dimulai dari kelompok gereja sendiri, pada tahun 1950 John Dijkstra memprakarsai sebuah Pilot Project Aksi Puasa Pembangunan (APP), sebuah aksi umat Katolik untuk menyisihkan sebagian dari uangnya sebagai bentuk solidaritas pada masa Prapaskah. Dana APP yang terkumpul digunakan untuk aksi sosial membantu masyarakat miskin.

Pada tahun 1954, seusai Kongres Umat Katolik Seluruh Indonesia (KUKSI), bersama dengan Sarman, Sayoga Soemaprawiro, Gito Martojo, Tarmono, M. Slamet, Supirman, Sitompul, P. Gitomartojo, P Mulyadi, Nico Susilo, dan Bambang Ismawan, John Dijkstra membidani lahirnya sebuah gerakan yang tidak beraviliasi pada agama Katolik dan bersifat umum, yang dinamakan Gerakan Pancasila. Gerakan ini kemudian sempat melahirkan Ikatan Buruh Pancasila, Ikatan Petani Pancasila, Ikatan Para-Medis Pancasila, dan Ikatan Usahawan Pancasila. Pada tahun 1967, Ikatan Petani Pancasila sebagai sebuah lembaga yang peduli pada pengembangan pertanian di Indonesia, menerbitkan Bulletin Tani Membangun, yang kemudian pada tahun 1969 menjadi Majalah Trubus.

Pada 1973, Gerakan Pancasila dipaksa melebur ke dalam beberapa organisasi bentukan pemerintah (Amalgamasi). Ikatan Petani Pancasila (IPP) masuk ke dalam Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI); Ikatan Buruh Pancasila masuk ke Federasi Buruh Seluruh Indonesia (FBSI), sekarang menjadi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI); dan Ikatan Nelayan ke Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI).

Para Aktivis Ikatan Petani Pancasila yang tidak mau bergabung dengan organisasi bentukan pemerintah, melanjutkan karya mereka dengan membentuk lembaga Yayasan Sosial Tani Membangun, yang kemudian menjadi Yayasan Bina Swadaya

Sebagai tindak lanjut dari diadakannya DHRRAW (Development of Human Resources in Rural Asia Workshop) pada 1974, di Bangkok, Thailand, Indonesia membentuk INDHRRA (Indonesian Development of Human Resources in Rural Area) yang kemudian hari lebih dikenal sebagai Yayasan Sekretariat Bina Desa. Dijkstra juga ikut membentuk beberapa lembaga di lingkungan Gereja Katolik, antara lain Yayasan Purba Danarta (YPD) di Semarang; Pendidikan Tenaga Pengembangan Masyarakat (PTPM) di Yogyakarta; Kursus Sosial Ekonomi Desa (KSED) di Bandungan; dan Kursus Pertanian Taman Tani (KPTT) di Salatiga.

Pegangan Hidup[sunting | sunting sumber]

Sebagai Imam Jesuit, Dijkstra menjalani seluruh hidupnya berdasarkan ayat Kitab Suci. Ayat yang paling disukainya adalah: "Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya…” (Yes 42:3, Mat 12:20).

Pranala luar[sunting | sunting sumber]