Jeruklegi Kulon, Jeruklegi, Cilacap

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Jeruklegi Kulon
Desa
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Tengah
KabupatenCilacap
KecamatanJeruklegi
Kodepos53252
Luas... km²
Jumlah penduduk... jiwa
Kepadatan... jiwa/km²

Jeruklegi Kulon adalah desa di kecamatan Jeruklegi, Cilacap, Jawa Tengah, Indonesia.


SEJARAH DESA JERUKLEGI KULON

Desa Jeruklegi Kulon terletak di Kecamatan Jeruklegi, untuk itu awal mula berdirinya Desa Jeruklegi Kulon tidak lepas dari sejarah berdirinya Kecamatan Jeruklegi.

Dahulu kala wilayah Desa Jeruklegi termasuk dalam Adipati Bono Keling, dimana daerah tersebut terdapat kademangan yang dipimpin oleh Ki Demang Wangsengrana yang merupekan putra dari Tumenggung Sawenggangpati Bin Pangeran Suta Chandra yang juga merupakn keturunan dari Adipati Bono Keling, Tumenggung Sawenggangpati menjabat sebagai Yudanegara dari Kerajaan Mataram.

Setelah Ki Demang Wansengrana wafat, jabatan Demang digantikan oleh Putra Pertama beliau ya itu Ki Demang Pancamanis yang sekarang makamnya trdapat di Desa Cilibang. Setelah Ki Demang Pancamanis wafat, Jabatan Demang di jeruklegi digantikan oleh puteranya yang ketiga yaitu Sutanangga. Silsilah selanjutnya dari Kademangan Jeruklegi dapat dilihat pada bagan dibawah ini:

Adipati Bono Keling

Tumenggung Sawenggangpati

Ki Demang Wangsengrana

Ki Demang Pancamanis

Sutanangga

Mertopati ( Penatus Jeruklegi )

Arsepati ( Penatus Jeruklegi )

Arsadikrama ( Penatus Jeruklegi )

Arsadiwirya ( Penatus Jeruklegi Kulon )

Penatus Jeruklegi Kulon merupakan cikal bakal berdirinya Desa Jeruklegi Kulon dimana Arsadiwirya berdomisili di Grumbul Wanasri. Arsadiwirya mempunyai seorang Puteri yang bernama Turah yang dinikahkan dengan seseorang pendatang yang berasal Karanglewas Kabupaten Banyumas yang bernama Setradiwirya, Setradiwirya inilah yang dinobatkan sebagai Penatus Desa Jeruklegi Kulon yang selanjutnya lebih dikenal sebagai Lurah pertama Desa Jeruklegi Kulon yang menjabat sejak tahun 1904 sampai dengan 1913. Setradiwirya juga berdomisili di Grumbul wanasri.

Setelah Setradiwirya, Penatus Desa Jeruklegi Kulon dijabat oleh Partodimedjo ( 1913-1923) yang merupakan penduduk asli Desa Jeruklegi Kulon yang berdomisili di Grumbul Wanasri. Pada waktu Pemerintahan Desa Jeruklegi Kulon dijabat oleh Partodimedjo pusat pemerintah Desa berada di Grumbul Wanasri dimana pada waktu itu jumlah penduduk baru 15 KK dengan perincian 9 KK berada di Grumbul Wanasri dan 6 KK terdapat di Grumbul Pengasinan.

Pada tahun 1923 sampai dengan 1932 Pemetintahan desa dijabat oleh Santawidjaya yang berdomisili di Cilibang. Pada saat itu pusat Pemerintahan Desa dipindah ke Grumbul Wanasri . Jumlah Penduduk pada waktu itu meningkat menjadi 25 KK dengan perincian 10 KK di Grumbul Wanasri dan 15 KK di Grumbul Pengasinan.

Pada masa Pemerintahan Santawidjaya, tanah Desa Jeruklegi Kulon yang berbatasan dengan Desa Perapagan seluas Kurang lebih 70 Ha disewakan kepada Perkebunan milik bangsa barat yang hak guna Usahanya dikeluarkan oleh Pemerintahan Belanda pada tahun 1929. Disamping tanah sewa disana juga terdapat tanah mentah ( TM ) seluas 6.25 Ha yang sekarang dimiliki oleh PT. Jeruklegi.

Pada tahun 1932-1939 Pemerintah Desa Jeruklegi Kulon dijabat oleh Kartawirya yang merupakan adik kandung dari Santawidjaya yang juga berdomisili di Cilibang. Pada waktu itu jumlah penduduk meningkat menjadi 35 KK dimana pada waktu itu Lengkong yang pada mulanya merupakan “ glagah Ilalang “ ( hutan ) telah ditempati oleh pendatang yang berasal dari Pasundan Jawa Barat dan sebagian dari Kabupaten Kebumen. Sehingga Perincianya menjadi 17 KK di Pengasinan, 12 KK di wanasri 14 KK di Lengkong. Dengan adanya Grumbul Lengkong maka Kebaon Desa Jeruklegi Kulon yang pada mulanya terdiri dari 2 Wilayah yaitu Kebaon Wanasri dan Kebaon Pengasinan bertambah satu yaitu Kebaon Lengkong. Pada tahun 1935 tanah Desa Jeruklegi Kulon berbatasan dengan Desa Cilibang terkena Perluasan PERHUTANI seluas 12.350 Ha yang sekarang berada di wilayah K.R.P.H Jambusari K.P.H Banyumas Timur.

Setelah Kartawidjaya, Pemerintahan Desa dipegang oleh Madumar ( 1939-1941). Pusat Pemerintahan berpindah ke Lengkong. Jumlah penduduk sekitar 52 KK. Pemerintahan Madumar tidak begitu lama disebabkan adanya permasalahan dengan Pemerintahan Pusat Mengenai Pajak.

Kemudian setelah itu Pemerintahan Jeruklegi kulon dijabat oleh Kartameja ( 1941-1950), aeorang pendatang yang berasal dari Kabupaten Bnayumas. Pusat pemerintahan kembali ke grumbul Pengasinan . Pada masa Pemerintahan Kartameja, yaitu Pada tahun 1941 mengadakan kerja sama dengan Bupati Cilacap mendatangkan penduduk baru secara tranmigrasi yang berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta ( DIY ) tepatnya Wonosari Gunung Kidul yang berjumlah 40 KK. Lokasinya ditempatkan disebelah barat Penatusan Jeruklegi Kulon. Disamping itu penambahan penduduk juga terjadi karena adanya Keluarga Kepala Desa yang berasal dari Kabupaten Banyumasyang melakunan perpindahan secara besar-besaran sehingga jumlah penduduk mencapai 104 KK. Karena adanya kedatangan Tranmigrasi dari Gunung Kidul, maka Wanasri berubah menjadi nama Grumbul yaitu Grumbul Wanasri yang sekarang menjadi Wilayah Desa Jeruklegi Wetan.

Pada tahun 1942 pada saat Indonesia diduduki oleh tentara Jepang terjadi Kemarau panjang selama kurang lebih 9 bulan yang menyebabkan terjadi bencana kekeringan dan kelaparan yang mengakibatkan banyak kematian di desa Jeruklegi Kulon. Hal ini dikarenakan mata Pencaharian Penduduk yang hanya mengandalkan pada bidang pertanian saja. Sehingga jumlah penduduk berkurang dari 104 KK manjadi hanya 30 KK . Kemudian pada tahun 1947 desa Jeruklegi Kulon kembali kedatangan para Transmigrasi dari Wonosari Gunung Kidul yang ditempatkan ditempat yang pertama yaitu di Grumbul Wanasri. Selanjutnya secara bergelombang dating juga pendatang juga dari Kabupaten Kebumen, Banyumas dan Purbalingga.

Tahun 1950 sampai dengan 1969 Pemerintahan dijabat oleh Partoguno. Pemerintahan dibagi menjadi tiga Kebaon, yaitu Kebaon Pengasinan, Kebaon Wanasri, Kebaon Lengkong . Masing masing Kebaon dipimpin oleh seorang Bau yang dibantu oleh seorang Palesi, Seorang Kabayan dan seorang Kayim ( Mudia ). Kepala Desa dibantu pleh seorang staff Carik dan Tukang Uang Desa.

Jumlah Penduduk pada awal pemerintahan Partoguno berjumlah kurang lebih 97 KK, akibat pemberontakan DI pada tahun 1951 – 1960 menyebabkan Grumbul Wanasri dan Grumbul Lengkong ditinggal Penghuninya yang menyebabkan kedua grumbul tersebut kembali menjadi Hutan Ilalang karena yang tersisa hanya grumbul Pengasinan dengan Jumlah Penduduk kurang lebih 35 KK. Setelah pemberontakan DI dapat dipatahkan oleh Pemerintahan RI. Pada tahun 1963 Grumbul wanasri sudah dapat dihuni kembali dan grumbul Cikuyah berubah nama menjadi grumbul Danasri dengan penduduk baru berjumlah 17 KK. Grumbul Lengkong berubah nama menjadi grumbul Wanadadi yang berpenduduk 10 KK. Jumlah penduduk Desa Jeruklegi Kulon pada waktu itu kurang lebih 62 KK.

Pada dasarnya Desa Jeruklegi Kulon sebelum tahun 1960 tanah dikuasai oleh tuan tanah karena kebanyakan tanah – tanah tersebut tidak bertuan karena ditinggalkan oleh pemiliknya pada waktu zaman pendudukan Jepang atau pada saat pemberontakan DI. Sehingga tanah ditelantarkan begitu saja tanpa ada yang membayar Pajak dan pada akhirnya mereka yang dapat membayar pajak yang dapat memiliki tanah tersebut.

Berdasarkan UU No. 10 tahun 1960 tentang UUPA dan UUPBH yang berbunyi bahwa pemilik tanah dibatasi maksimal 9 Ha untuk tanah datar dan 7 Ha untuk sawah dan selebihnya diserahkan kepada Pemerintah atau yang lebih dikenal dengan sebutan tanah kelebihan, maka di Deja Jeruklegi Kulon terjadi penertiban kepemilikan tanah yang diurus oleh pemiliknya dibantu oleh Aparat Desa.

Setelah terjadi penertiban kepemilikan tanah, maka banyak tanah yang masih kosong. Disamping jumlah penduduk Desa Jeruklegi kulon juga masih sedikit. Sehingga atas prakarsa Kepala Desa yang pada waktu itu masih dijabat oleh Partoguno yang dibantu olehpara bau berusaha mendatangkan penduduk dari luar Daerah yang selanjutnya untuk masing-masing KK diberi tanah garapan berserta pemukiman yang masing-masing pemohon mendapat bagian kurang lebih 0,5 Ha ( 5.000 m2 ) dengan syarat memohon kepada pemerintah . setelah berita tersebut tersebar maka berdatanglah secara bergelombang penduduk dari Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Kebumen Provinji Jawa Barat maupun dari Yogyakarta.sehingga jumlah penduduk menjadi 1.985 Jiwa atau 401 KK.

Kemudian tahun 1969 sampai dengan 1971 pemerintah Desa dijabat oleh Sanredja yang statusnya adalah Pejabat Sementara ( Pjs. ) yang berasal dari Kabupaten Banyumas.

Baru setelah tahun 1971 diangkatlah seorang Kepala Desa yang bernama Djokodjumeno yang merupakan Kepala Desa termuda di Kabupaten Cilacap pada saat itu. Pusat Pemerintahan Desa berpindah dari Grumbul Pengasinan menjadi di Grumbul Danasri. Pada masa itu keadaan masyarakat masih merupakan keluarga pra Sejahtera. Sehingga Balai Desa pun belum dimiliki oleh Warga Jeruklegi Kulon. Pada masa itu maupun sebelumnya Balai Desa selalu berpindah – pindah karena Balai Desa atau Pusat Pemerintah berada di rumah Kepala Desa. Tahun 1971 dibangunlah sebuah Kantor Desa ( balai dea ) yang terletak di Grumbul Danasri. Pada masa itu Desa Jeruklegi Kulon telah mengalami kemajuan secara signifikan yang ditunjukan dengan pembangunan Perkotaan desa di jalan Perkebunan Karet Kubang Kangkung sepanjang 2,5 Km dimana dimana masing – masing KK yang mau menghuni jalur tersebut diberi sebidang tanah kurang lebih 1.000 m 2 yang sekarang lebih dikenal dengan jalan Provinsi Jalur Cilacap – Pengandaran. Pembangunan yang lain yang terjadi di Desa Jerulegi Kulon adalah dibangunnya Masjid Mafatul Huda di grumbul Danasri, didirikanya Sekolah Dasar Cikuyah yang sekarang menjadi SD Negeri Jeruklegi Kulon 01, didirikanya Sekolah Dasar pengasinan yang sekarang bernama SD Negeri Jeruklegi Kulon 02, dan didirikanya Sekolah Dasar di Kemit yang sekarang menjadi SD Negeri Jeruklegi Kulon 05. Pada masa itu juga terjadi penanaman Pohon Kelapa secara masal yang berjumlah kurang lebih 700 batang dan penghijauan tanaman ditepi jalan serta adanya penyelesaian administrasi kepemilikan tanah.

Karena terjadi sesuatu hal, maka Djokodjumeno diberhentikan dengan hormat oleh pemerintah dan digantikan oleh sukisno (1977-1780) seorang pendatang dari Kabupaten Banyumas yang statusnya merupakan Pejabat Sementara ( Pjs. ). Masalah yang mengemuka pada masa itu adalah tentang kepemilikan tanah yang belum jelas batas-batasnya sehingga sempat menjadi permasalahan yang rumit dan penyelesaianya memakan waktu yang relative lama ( Kurang lebih 7 bulan ) dengan melibatkan 60 tenaga kerja setiap hari untuk menertibkan administrasi Pertanahan.

Pada tahun 1980 diangkatlah seorang Kepala Desa yang bernama K. Hadimasturi seorang pendatang dari Kabupaten Banyumas. Walaupun pembangunan desa telah mengalami kemajuan namun bukan berarti penduduk desa Jeruklegi kulon kehidupanaya sudah makmur. Karena pada kenyataanya masih banyak warga desa yang berada dibawah garis Kemiskinan. Untuk itu untuk meningkatkan kesejahteraan Penduduk, Kepala Desa mengadakan Kerjasama dengan Pemerintah maupun Lembaga-lembaga non Pemerintah ( yayasan ).

Kerjasama dengan Pemerintah menghasilkan perbaikan DAS Citanduy kurang lebih 550 Ha, perbaikan tanah kritis ( penghijauan ) serta terasering dan pembuatan Cekdam di Grumbul Pengasinan I dan Grumbul Cikembulan. Sedangkan kerjasama dengan lembaga-lembaga non Pemerintah ( yayasan) antara lain: dibukanya Lapangan pekerjaan dengan menggali sumber daya alam yang berupa Batu gunung yang luasnya kira kira kurang lebih 25 Ha di Grumbul Lengkong Wanadadi. Pada tahap awal untuk memudahkan pengangkutan, maka dibuat jalan tembus antara Grumbul Danasri dengan Grumbul Wanadadi Lengkong sepanjang 1950 m dan lebar 3 m jalur Lengkong Selatan, 600 m jalur Lengkong Utara, panjang 615 m dan Lebar 3 m jalan Palem Grumbul Cikembulan, sepanjang 530 m dan lebar 3 m jalan Johar, Panjang 1850 m dan Lebar 4 m menghubungkan dengan Desa Brebeg, sepanjang 2000 m dan lebar 3 m menghubungkan dengan Desa Sawangan. Kesemua jalan tersebut dibangun melalui Swadaya Masyarakat dan bantuan dari sebuah yayasan.

Pembangunan lainya adalah dibangunya jembatan kali ciurang yang merupan Program AMD ( Abri Masuk Desa ), adanya pembangunan jalan macadam di grumbul Pengasinan ( Jalan Jati ) dengan Panjang 500 m dan lebar 3 m, Jalan Katilayu di Pengasinan dengan Panjang 250 m dan lebar 3 m. kesemua jalan tersebut merupakan bantuan dari pemerintah serta swadaya Masyarakat. Jadi total jalan yang dibangun adalah 9045 m.

Disamping pembangunan jalan didesa Jeruklegi Kulon juga mengalami pembangunan di bidang pendidikan. Hal ini ditunjukan dengan berdirinya Sekolah Dasar Pengasinan I yang sekarang menjadi SD Negeri Jeruklegi kulon 3, Sekolah Dasr Lengkong yang sekarang menjadi SD Negeri Jeruklegi Kulon 5 dan SD Negeri Jeruklegi Kulon 6. Pembangunan lain yang mengalami kemajuan pada masa itu adalah pembangunan dibidang Keagamaan yaitu dengan berdirinya beberapa masjid, antara lain: kerjasama dengan yayasan Al Irsyad menghasilkan Masjid digrumbul Pengasinan I dengan Luas 9 x 15 m diatas tanah wakaf seluas 2300 m2, Swadaya dari masyarakat menghasilkan Masjid Al Ikhsan di Dusun II yang luasnya 7 x 4 m2 diatas tanah wakaf seluas 400 m2, di Grumbul Danasri berdiri masjid Al Amin dengan Luas 8 x 12 m diatas tanah wakaf seluas 700 m2, Masjid Baitul Mukhsinin yang berada di Grumbul Cikembulan ( Kadus VI ) dengan luas 7 x 8m, Masjid Baitul Rohman yang berada di grumbul cikembulan ( Kadus VI ) dengan luas 9 x 9 m yang berada diatas tanah wakaf seluas 420 m2, masjid Wanasri yang berada di grumbul Danasri dengan Luas 7 x 7 m diatas tanah wakaf 300 m2. Disamping berdiri masjid juga berdiri langgar langgar ( Mushola ) di masing masing RT dan merupakan swadaya masyarakat.

Pada tahun 1990 berakhirlah mas jabatan K. Hadimasturo, yang kemudian digantikan oleh Wartam ( 1990-1999) seorang pendatang dari Banyumas, pada masa pemerintahan Kepala Desa Wartam pembangunan Desa yang menonjol adalah Pembangunan jembatan yaitu jembatan kali brokeh yang panjangnya 20 m dan lebar 3 m, jembatan kali keben agung yang panjangnya 6 m dan lebarnya 3 m yang merupakan hasil swadaya masyarakat dan bantuan dari pemerintah, Pembangunan lainnya adalah Pembangunan jalan macadam sepanjang 1250 m dan lebar 3m antara grumbul Wanasri dan Grumbul Wanasri dan Grumbul Danasri yang merupakan swadaya masyarakat dan bantuan Pemeritah, jalan aspal sepanjang 1850 m Jurusan Brebeg yang merupakan swadaya masyarakat dan bantuan pemerintah.

Pada tahun 1999 berakhirlah masa jabatan Wartam yang kemudian digantikan oleh Lasimun Wijaya ( 1999-2012 ) yang berasal dari Cilacap. Jumlah penduduk 6725 jiwa dengan jumlah KK 1400.

Selama Pemerintahan Kepala Desa Lasimun Wijaya, pembangunan yang telah Nampak antara lain:

 Pada tahun 2000 Pembangunan yang telah dilaksanakan antara lain:

Pembangunan Pagar Klir Permanen, panjang 30 m di depan Balai Desa wilayah Kadus IV dengan Biaya swadaya masyarakat, renovasi kantor Desa 10 x 5 m2 yang merupakan biaya BPD/K dan Swadaya Masyarakat, Pembangunan Jembatan Kali Kebon agung dengan ukuran 4 m x 6 m dengan biaya dari PPK ( Program Pembangunan Kecamatan ) dan Swadaya Masyarakat.

 Pada Tahun 2001 Pembangunan yang telah terlaksana antara lain:

Pelebaran Lapangan Sepak Bola yang berada di Kemit ( Kadus IV ) dengan biaya dari swadaya masyarakat dan bantuan dari PT Semen Cibinong Cilacap, Pembangunan Jalur Air minum Grumbul Lengkong 900 m dan Grumbul Pengasinan 300 m dengan biaya dari swadaya masyarakat dan pemerintah daerah, pembangunan jalan baru sepanjang 1950 m dan lebar 4 m digrumbul lengkong tembus jeruklegi wetan dengan biaya Swadaya murni, pembangunan Jalan Makadam 450 m di ciurang ( Lengkong ), pembangunan Jalan Makadam ( jalan Jati ) Dusun Pengasinan I dengan biaya dari PPK dan Swadaya Masyarakat, pembangunan jalan macadam dengan panjang 500 m dan lebar 3 m diwilayah kadus IV dengan biaya dari Swadaya Murni, Pembangunan Jalur Air Minum lewat PDAM di wilayah kadus VI 600 m Yng dibiayai oleh Daerah sepanjang 300 m dansisanya adalah swadaya masyarakat, Pengerosokan Jalan Waringin sepanjang 450 m dan lebar 3 m dengan biaya berasal dari PPK dan swadaya Masyaraka di wilayah kadus III

 Tahun 2002 pembangunan yang telah dilaksanakan antara lain:

Pembangunan Jalur Air Minum PDAM Seluas 1400 m dan lebar 3 m diwilayah kadus IV yang berasal dari swadaya murni, pembangunan turap lapangan Olahraga dengan panjang 50 m dan lebar 2 m di kemit ( Kadus IV ) sepanjang berasal dari bantuan P2MPD, Pengaspalan Jalan Johar ( Kadus V ) sepanjang 50 m dan lebar 3 m yang berasal dari bantuan Pemerintah Daerah dan Swadaya masyarakat, Pengaspalan jalan Kemit ( kadus IV ) sepanjang 250 m dan lebar 3 m yang berasal dri bantuan Pemerintah Daerah dan Swadaya Masyarakat, Pembangunan Turap dan pengaspalan jalan di waringin sepanjang 100 m yang merupakan hasil dari swadaya masyarakat, pemabnunan baru ( Makadam ) jalan laban doyong ( Kadus II ) sepanjang 850 m dengan lebar 3 m yang berasal dari bantuan Pemerintah Daerah dan swadaya masyarakat, berdirinya masjid al mujahidin ukuran 9 x 11 m2 yang berdiri diatas tanah wakaf 300 m2 yang berasal dari swadaya murni masyarakat.

SILSILAH KEPALA DESA JERUKLEGI KULON

Tabel 1

NO NAMA NAMA ISTRI/SUAMI MASA JABATAN DOMISILI ASAL

1 Setradiwirya Turah 1904-1013 Wanasri Banyumas

2 Partodimejo Turinah 1913-1923 Wanasri Cilacap

3 Santawidjaya Ganiyem 1923-1932 Cilibang Cilacap

4 Kartadiwirya Atem 1932-1939 Cilibang Cilacap

5 Madumar Sukunem 1939-1941 Lengkong Kebumen

6 Kartamedja Ranis, Tumirah 1941-1950 Pengasinan Bayumas

7 Partoguno Raniyem 1950-1969 Pengasinan Kebumen

8 Sanredja Turisem 1969-1971 Pengasinan Banyumas

9 Djokodjumeno Daisah, atem, Turin 1971-1977 Danasri Cilacap

10 Sukisno Sutiyem 1977-1980 Danasri Banyumas

11 K. Hadimasturi Darisem 1980-1990 Lengkong Banyumas

12 Wartam Dalimah 1990-1999 Cikembulan Banyumas

13 Lasimun Widjaya Raminah 1999-2012 Cikembulan Cilacap

14 Ita Rosita Suparno 2013-2019 Danasri Bandung

2.1.2. Sumber Daya Alam

Desa Jeruklegi Kulon merupakan salah satu desa di Kecamatan Jeruklegi Kabupaten CILACAP, Provinsi Jawa Tengah, memilik luas km2. Secara geografis Desa Jeruklegi Kulon berbatasan dengan wilayah sebagai berikut:

1. Sebelah Utara, berbatasan dengan Desa Cilibang

2. Sebelah Timur, berbatasan dengan Desa Jeruklegi Wetan

3. Sebelah Selatan, berbatasan dengan Desa Brebeg

4. Sebelah Barat, Berbatasan dengan Desa Sidaurip

Secara Administratif, wilayah Desa Jeruklegi kulon terdiri dari 6 ( Enam ) Dusun, dan 50 ( Lima puluh ) Rukun Tetangga.

Secara umum Tipologi Desa Jeruklegi Kulon terdiri dari persawahan, perladangan, perkebunan, peternakan dan home indrustri kecil.

Topografis Desa Jeruklegi Kulon secara umum termasuk daerah wilayah dataran rendah, dan berdasarkan ketinggian wilayah Desa Jeruklegi Kulon diklasifikasikan kepada dataran rendah / 18 m diatas permukaan laut.

Penggunaan lahan Desa Jeruklegi Kulon dapat dilihat pada tabel 1.1 dan 1.2 sebagai berikut:

(diisi sesuai hasil pendataan terkini)


sumber: https://www.facebook.com/pg/Pemerintahan-Desa-Jeruklegi-Kulon-Jeruklegi-Cilacap-764681193907062/about/?ref=page_internal