Jenderal Soedirman (film)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Jenderal Soedirman
Jenderal Soedirman (poster).jpg
Poster film
SutradaraViva Westi
ProduserSekar Ayu Asmara
Handi Ilfat
Nolizam
Ratna Syahnakri
PenulisTubagus Deddy
Viva Westi
PemeranAdipati Dolken
Ibnu Jamil
Mathias Muchus
Baim Wong
Nugie
Lukman Sardi
Annisa Hertami
Landung Simatupang
MusikIwang Noorsaid
SinematografiMuhammad Firdaus
PenyuntingSastha Sunu
Perusahaan
produksi
Markas Besar TNI AD
Padma Pictures
Yayasan Kartika Eka Paski
DistributorPadma Pictures
Netflix
Tanggal rilis
27 Agustus 2015 (2015-08-27)
Durasi
126 menit
NegaraBendera Indonesia Indonesia
BahasaBahasa Indonesia
Bahasa Inggris
Bahasa Belanda
Bahasa Jawa
Anggaran10-15 Milliar [1]

Jenderal Soedirman adalah film biopik yang menceritakan tentang Jendral Soedirman, pemimpin perang gerilya yang mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia walaupun menderita penyakit paru-paru. Film ini disutradarai oleh Viva Westi dan dibintangi oleh Adipati Dolken, Ibnu Jamil, Mathias Muchus, Baim Wong, dan Nugie.

Film ini tayang di bioskop Indonesia tepat 10 hari setelah peringatan hari kemerdekaan Indonesia ke-70 pada 27 Agustus 2015.[2]

Sinopsis[sunting | sunting sumber]

Belanda menyatakan secara sepihak sudah tidak terikat dengan perjanjian Renville, sekaligus menyatakan penghentian gencatan senjata. Pada tanggal 19 Desember 1948, Jenderal Simons Spoor Panglima Tentara Belanda memimpin Agresi militer ke II menyerang Yogyakarta yang saat itu menjadi ibu kota Republik.

Soekarno-Hatta ditangkap dan diasingkan ke Pulau Bangka. Jenderal Soedirman yang sedang didera sakit berat melakukan perjalanan ke arah selatan dan memimpin perang gerilya selama tujuh bulan.

Belanda menyatakan Indonesia sudah tidak ada. Dari kedalaman hutan, Jenderal Soedirman menyiarkan bahwa Republik Indonesia masih ada, kokoh berdiri bersama Tentara Nasionalnya yang kuat.

Soedirman membuat Jawa menjadi medan perang gerilya yang luas, membuat Belanda kehabisan logistik dan waktu.

Kemanunggalan TNI dan rakyat lah akhirya memenangkan perang. Dengan ditanda tangani Perjanjian Roem-Royen, Kerajaan Belanda mengakui kedaulatan RI seutuhnya.[3]

Pemeran[sunting | sunting sumber]

Produksi[sunting | sunting sumber]

Praproduksi[sunting | sunting sumber]

Berawal dari pertanyaan sederhana sang sutradara Viva Westi tentang alasan mengapa seluruh daerah mempunyai jalan Soedirman, ia memiliki ide untuk mengangkat kisah Jenderal Soedirman dalam sebuah film. Sayangnya, idenya ditolak di berbagai rumah produksi dengan alasan tema yang kurang diminati masyarakat. Westi mengaku film yang akan digarapnya memang tidak ada drama percintaan. Justru film ini akan memberikan inspirasi soal cinta yang besar yang ditunjukan oleh Jenderal Soedirman kepada Indonesia.[4]

Saat Westi bertemu dengan Mantan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat Kiki Syahnakri, ia mengungkapkan keinginannya untuk membuat film Jenderal Soedirman dan mendapatkan sambutan baik dari Kiki. Markas Besar Angkatan Darat melalui Yayasan Kartika Eka Paski mau mendanai film tersebut dengan dana 10-15 miliar. Tidak hanya dana, Yayasan tersebut juga memberi akses senjata dan lokasi syuting di hutan milik TNI Angkatan Darat.[1]

Westi memilih Adipati Dolken sebagai pemeran Soedirman. Ia menyatakan tak tahu lagi siapa yang pantas memerankan Jenderal Soedirman.[5] Westi menuturkan popularitas Adipati Dolken dinilai dapat menarik minat anak muda untuk menyaksikan film sejarah. Usia Adipati Dolken yang masih muda juga mewakili sosok Jenderal Soedirman yang saat melakukan perang gerilya masih dengan usia muda.[6]

Adipati mengaku hanya sekedar mengetahui Jendral Soedirman sebagai nama jalan. Hal itu membuatnya cukup sulit untuk memerankan karakter tersebut. Ia mengakui sulit untuk mengetahui cara berbicara pak Dirman. Beruntung, ia mendapat bantuan dari Pak Teguh yang merupakan anak dari Soedirman. Adi juga banyak mencari referensi sendiri di buku-buku dan berbagai situs di internet. Sampai syuting berlangsung pun ia masih melakukan proses itu.[5]

Proses syuting dan pendalaman karakter yang Adipati lalui selama kurang lebih enam bulan, membuat pandangannya terhadap Jenderal Soedirman berubah. Ia kini sangat mengagumi jenderal yang dikenal dengan taktik perang gerilya itu.[5] Westi mengaku mengapresiasi pendalaman karakter Adipati Dolken dan memuji Adi karena memerankan tokoh Jenderal Soedirman dengan sangat baik.[6]

Syuting[sunting | sunting sumber]

Proses syuting dilakukan selama 43 hari dimulai pada 25 Januari 2015 dan berlangsung di Magelang, Yogyakarta, Situ Lembang dan Bandung.[2]

Penayangan[sunting | sunting sumber]

Film ini tayang di bioskop Indonesia tepat 10 hari setelah peringatan hari kemerdekaan Indonesia ke-70 yaitu pada 27 Agustus 2015.[2] Dalam sepekan perilisannya, film ini berhasil mendapatkan jumlah penonton sebanyak 82.776 orang. Di minggu kedua penyangan, jumlah penonton berhasil sampai di angka 152.425 orang.[7]

Film Jenderal Soedirman juga kerap ditayangkan di televisi nasional setiap memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia. Film ini juga ditayangkan di situs streaming Netflix.[8]

Kontroversi[sunting | sunting sumber]

Setelah ditayangkan di bioskop, film ini mendapat tanggapan baik dari penonton. Namun muncul protes besar dari Didi Mahardika, cucu dari presiden pertama Indoensia Soekarno. Ia menganggap terdapat banyak kekeliruan sejarah dalam film ini.[9]

Beberapa hal yang ia permasalahkan adalah:

  1. Adegan dialog antara Presiden Soekarno dengan Jenderal Soedirman atau Pak Dirman, yang mendramatisasi perbedaan antara perjuangan melalui perundingan dengan melalui perang frontal. Hal itu, disebut oleh Didi, berpotensi menghilangkan makna persatuan dan kesatuan bangsa.
  2. Adegan Presiden dan Wakil Presiden mengaku berbohong, berdosa atas janji dengan tidak bergerilya. Hal itu bisa menimbulkan kontroversi.
  3. Adegan tentang Bung Karno yang meminta difoto ulang ketika berangkulan dengan Pak Dirman juga bertentangan dengan fakta sejarah
  4. Adegan tentang peran Tan Malaka beserta tentaranya memberi kesan bertentangan dengan status Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional.
  5. Adegan Pak Dirman membanting tongkat keris (tak sesuai dengan aslinya sebagai orang Jawa yang santun). Pak Dirman memakai kopiah ditodong senapan, dibentak Belanda, itu tidak jelas sumber sejarahnya.
  6. Peran Sri Sultan Hamengkubowobo lX dan figur Pak Harto sebagai orang dekat Pak Dirman tidak digambarkan dalam film tersebut.

Menanggapi protes tersebut, Westi selaku sutradara sangat terbuka dengan segala pujian termasuk kritikan yang masuk untuk film ini. ia memastikan semua hal dalam film ini telah melalui berbagai pertimbangan dan dasar-dasar yang bisa dipertanggungjawabkan.[10]

Penghargaan[sunting | sunting sumber]

Penghargaan Tahun Kategori Penerima Hasil
Festival Film Indonesia 2015 Penata Suara Terbaik Yusuf Patawari Nominasi
Piala Maya Aktor Pendatang Baru Terpilih Gogot Suryanto Nominasi
Festival Film Bandung 2016 Pemeran Utama Pria Terpuji Film Bioskop Adipati Dolken Nominasi

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Warman Adam, Asvi (2 September 2015). "Kontroversi Film Jenderal Soedirman". Tempo. Diakses tanggal 26 September 2020. 
  2. ^ a b c Fikri, Chairul (25 Agustus 2015). "Film Jenderal Soedirman Siap Dirilis". Berita Satu. Diakses tanggal 30 Juni 2020. 
  3. ^ Irwansyah, Ade (2 September 2015). "4 Hal yang Jadi Alasan Film Jenderal Soedirman Wajib Tonton". Liputan6. Diakses tanggal 30 Juni 2020. 
  4. ^ Amelia, Rizky (21 Januari 2015). "Cerita Sutradara Film "Jenderal Soedirman" Dapat Dukungan TNI AD". Berita Satu. Diakses tanggal 26 September 2020. 
  5. ^ a b c Faiz, Dhio (26 SAgustus 2015). "Jenderal Soedirman, Kalau Bukan Adipati Dolken Siapa Lagi?". CNN Indonesia. Diakses tanggal 26 September 2020. 
  6. ^ a b Nur Alfi, Azizah (25 Agustus 2015). "Ini Alasan Pemilihan Adipati Dolken dalam Film Jenderal Soedirman". Bisnis Indonesia. Diakses tanggal 26 September 2020. 
  7. ^ "Data Penonton 10 September 2015, Gangster-Soedirman Masih Berjaya". Fimela. 10 September 2015. Diakses tanggal 26 September 2020. 
  8. ^ Widiyani, Rosmha (10 Agustus 2015). "Di Netflix, 5 Film Bertema Kemerdekaan Indonesia Ini Bisa Ditonton". Detik. Diakses tanggal 26 September 2020. 
  9. ^ Palupi, Amrikh (9 September 2015). "Cucu Bung Karno Protes Keras Film `Jenderal Soedirman`". Dream. Diakses tanggal 26 September 2020. 
  10. ^ Baso Djaya, Andi (9 September 2015). "Jawaban atas kritik terhadap film Jenderal Soedirman". beritagar. Diakses tanggal 26 September 2020. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]