Lompat ke isi

Jembatan Kabanaran

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Jembatan Pandansimo)
Jembatan Kabanaran

꧋ꦏꦿꦼꦠꦼꦒ꧀ꦏꦧꦤꦫꦤ꧀
Jembatan Kabanaran menuju Bantul, diambil dari sisi Kulon Progo
Koordinat7°58′45″S 110°12′39″E / 7.9792451°S 110.2107031°E / -7.9792451; 110.2107031
Moda transportasi
  • Kendaraan bermotor
  • pedestarian
  • sepeda
MelintasiSungai Progo
LokalDaerah Istimewa Yogyakarta
Ujung awalNgentak, Poncosari, Srandakan, Kabupaten Bantul[1][2][3][4][5]
Ujung akhirBanaran, Galur, Kabupaten Kulon Progo
Dinamai berdasarkanDesa Banaran
Karakteristik
DesainJembatan pelengkung
Panjang total1,9–2,3 kilometer (1,2–1,4 mi)
Lebar24 meter
Sejarah
Dibangun oleh
Mulai dibangun11 Desember 2023
Selesai dibangun29 Juli 2025 (2025-July-29)
Dibuka29 September 2025 (2025-September-29)
Diresmikan19 November 2025 (2025-November-19)
Lokasi
PetaKoordinat: 7°58′47.197″S 110°12′49.410″E / 7.97977694°S 110.21372500°E / -7.97977694; 110.21372500

Jembatan Kabanaran[6] (bahasa Jawa: ꧋ꦏꦿꦼꦠꦼꦒ꧀ꦏꦧꦤꦫꦤ꧀, translit. Krětěg Kabanaran; disebut juga Jembatan Srandakan III) adalah sebuah jembatan pada ruas Jalan Lintas Selatan Jawa yang menghubungkan Kabupaten Kulon Progo dan Kabupaten Bantul di DI Yogyakarta. Jembatan ini menjadi jembatan terpanjang di provinsi tersebut dan terpanjang ketiga di pulau Jawa.

Latar belakang

[sunting | sunting sumber]
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono meninjau Jembatan Kabanaran, didampingi Gubernur DI Yogyakarta, Hamengkubuwana X dan Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih pada 9 Oktober 2025.

Pembangunan Jembatan Kabanaran merupakan inisiatif strategis Pemerintah Republik Indonesia sebagai upaya untuk merampungkan jaringan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) atau yang dikenal pula sebagai Jalan Pantai Selatan (Pansela) Jawa.[7] Proyek ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan mendesak untuk meningkatkan konektivitas di wilayah pesisir selatan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), khususnya dalam menghubungkan Kabupaten Bantul dan Kabupaten Kulon Progo.[8][9]

Sebelum dibangunnya jembatan ini, akses transportasi antara wilayah Srandakan di Bantul dan Galur di Kulon Progo, yang secara geografis terpisah oleh bentangan Sungai Progo, harus ditempuh melalui jalur memutar melewati Jembatan Srandakan yang menjadi akses utama satu-satunya.[10] Kondisi ini mengakibatkan waktu tempuh yang tidak efisien, membebani biaya logistik dan operasional kendaraan, serta secara signifikan menghambat pertumbuhan ekonomi dan aksesibilitas sektor pariwisata di kawasan selatan.[11]

Jembatan Kabanaran dimaksudkan sebagai segmen penutup yang akan menyambungkan ruas Congot–Ngremang di Kulon Progo dengan ruas PandansimoSamas di Bantul.[9][10] Peran vital jembatan ini mencakup fungsi memangkas waktu agar lebih efisien, yang awalnya memakan waktu tempuh cukup lama sekitar 30 hingga 45 menit menjadi 15 hingga 20 menit.[10] Adanya jembatan ini juga memperlancar distribusi barang dan jasa, serta mendukung pemerataan pembangunan antara wilayah utara dan selatan Daerah Istimewa Yogyakarta.[9][11]

Nama Jembatan Pandansimo diambil dari lokasi geografisnya yang terletak di kawasan pesisir Pantai Pandansimo, yang berada di bagian selatan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.[10] Meskipun pada masa perencanaan awal dan publikasi, jembatan ini kerap secara informal disebut sebagai Jembatan Srandakan III—mengingat posisinya yang berdekatan dengan Jembatan Srandakan Lama (I) dan Jembatan Srandakan Baru (II) yang juga berada di wilayah Srandakan, Bantul. Nama Jembatan Pandansimo resmi ditetapkan untuk meminimalisasi kebingungan dan duplikasi dengan jembatan lain di sepanjang Sungai Progo.

Pada 19 November 2025, nama jembatan diubah menjadi Jembatan Kabanaran di peresmiannya. Usulan perubahan nama ini diajukan oleh Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan, yang berpendapat bahwa nama Kabanaran (atau Banaran) lebih relevan karena mengacu pada sebuah Padepokan Banaran yang bersejarah di wilayah Kulon Progo. Padepokan ini memiliki kaitan erat dengan cikal bakal berdirinya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, karena dahulu menjadi tempat Pangeran Mangkubumi[12] mesanggarah atau membentuk pasukan, bahkan diklaim mendahului berdirinya Keraton Ambar Ketawang dan Keraton Yogyakarta. Dalam praktik konstruksi awal, serta liputan media massa dan penyebutan oleh masyarakat umum, nama Pandansimo masih digunakan secara konsisten.[13]

Desain dan konstruksi

[sunting | sunting sumber]

Jembatan Kabanaran dirancang oleh Balai Geoteknik, Terowongan, dan Struktur (BGTS) di bawah Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Pelaksanaan konstruksi proyek ini dilakukan melalui Kerja Sama Operasi (KSO) antara PT Adhi Karya (Persero) dan PT Sumber Wijaya Sakti atas pengawasan Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional Jawa Tengah—D.I. Yogyakarta. Nilai kontrak pembangunan mencapai Rp814,8 miliar.[14][15]

Secara teknis, jembatan ini memiliki struktur yang komprehensif, terdiri dari jalan pendekat, bagian slab on pile, dan jembatan utama mengadopsi tipe multi arch bridge yang memanfaatkan teknologi modern untuk menjamin kekuatan dan efisiensi.[15] Dalam pembangunannya, digunakan material Corrugated Steel Plate (CSP) yang ringan tetapi kuat, serta mortar busa (foam mortar) untuk mengurangi beban struktural.[8][16] Selain itu, sebagai respons terhadap kerentanan wilayah Yogyakarta terhadap gempa, jembatan ini dilengkapi dengan Lead Rubber Bearing (LRB), yakni teknologi peredam gempa yang berfungsi melindungi struktur utama jembatan dari kerusakan parah.[8][17]

Jembatan Kabanaran juga didesain secara khusus untuk menonjolkan identitas budaya lokal yang kuat, terlihat pada penerapan gapura dengan ornamen gunungan di bagian tengah jembatan.[7] Dalam filosofi Jawa, gunungan, yang juga dikenal sebagai kayon dalam pewayangan, melambangkan awal dan akhir kehidupan; dalam konteks jembatan ini, ia dimaknai sebagai gerbang wilayah perbatasan antar-kabupaten.[18][19] Ornamen gunungan tersebut dihiasi dengan motif batik khas Yogyakarta untuk memperkuat unsur kearifan lokal. Jembatan ini memiliki warna dasar terakota—menyerupai warna bata merah—yang secara simbolis merujuk pada warna makam raja-raja di Imogiri, Astana Pajimatan Himagiri.[18][19] Selain itu, pada area jembatan ditambahkan penanaman cemara udang, jenis tanaman yang khas dijumpai di kawasan Pantai Pandansimo.[20]

Pembangunan

[sunting | sunting sumber]

Proses persiapan pembangunan Jembatan Kabanaran telah dilakukan sejak lama, diawali dengan pelaksanaan Feasibility Study pada tahun 2003, disusul dengan penyiapan dokumen analisis dampak lingkungan (AMDAL), dan peninjauan ulang DED (Detail Engineering Design) pada tahun 2022.[21] Tahapan penting yang melibatkan Pemerintah Daerah adalah proses pembebasan lahan, yang dilaksanakan secara bertahap oleh Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mulai dari tahun 2013 hingga 2015.[21]

Konstruksi Jembatan Kabanaran dimulai secara resmi sejak 17 November 2023,[9] ditandai dengan seremoni Groundbreaking yang dipimpin oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, pada 11 Desember 2023.[22][23] Gubernur secara aktif mendorong dan mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk berkolaborasi dan mengawal setiap tahapan pembangunan agar dapat diselesaikan tepat waktu dan mutu.[22] Proyek ini juga didukung penuh oleh Bupati Kabupaten Bantul, Abdul Halim Muslih.[24][25]

Pada awal perencanaan, jembatan ini ditargetkan selesai pada Desember 2024.[17] Namun, selama proses konstruksi, terjadi beberapa penyesuaian teknis dan penambahan panjang penanganan dari 1.900 meter menjadi 2.300 meter untuk mengakomodasi kebutuhan lajur transisi.[10][26] Selain itu, penambahan fondasi diperlukan setelah kajian ulang potensi risiko likuifaksi di lokasi. Progres konstruksi mencapai 47,32% pada Juli 2024, dan meningkat menjadi 83% pada November 2024.[17][27]

Akibat penyesuaian teknis dan tantangan lapangan, target penyelesaian resmi mengalami perpanjangan. Target rampung yang semula Desember 2024 direvisi menjadi akhir Maret 2025.[9][27] Meskipun sempat direncanakan untuk dibuka fungsional saat Lebaran 2025, rencana tersebut dibatalkan karena masih ada pekerjaan minor yang belum tuntas. Jembatan Pandansimo secara umum dinyatakan selesai dibangun pada pertengahan tahun 2025,[28] dan ditargetkan dapat beroperasi secara penuh pada September 2025, setelah seluruh proses Road Safety Audit (RSA) selesai dilakukan untuk menjamin keamanan lalu lintas.[26]

Penerimaan

[sunting | sunting sumber]

Penyelesaian Jembatan Kabanaran disambut dengan antusiasme tinggi, baik dari kalangan pemerintah maupun masyarakat, karena perannya sebagai kepingan terakhir yang merampungkan jaringan utama Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) di wilayah DIY.[9][7] Bagi masyarakat di Kabupaten Bantul dan Kulon Progo, jembatan ini dipandang sebagai katalisator ekonomi yang signifikan; akses yang lebih lancar dan waktu tempuh yang terpangkas drastis diharapkan dapat membangkitkan sektor pariwisata pesisir selatan, mendorong pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta mempermudah distribusi hasil pertanian dan perikanan.[29][30] Sebelum diresmikan, Jembatan Pandansimo telah menarik minat masyarakat, khususnya pejalan kaki, untuk memanfaatkan jalur pedestrian dan anjungan (plaza) yang disediakan di sepanjang jembatan untuk menikmati pemandangan.[28]

Pembangunan Jembatan Kabanaran menorehkan prestasi berupa pengakuan dari Museum Rekor Indonesia (MURI).[31][32] Rekor MURI diberikan kepada kontraktor, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, atas capaian kategori Jembatan Terpanjang Dengan Menggunakan Sistem Struktur Corrugated Steel Plate (CSP) dan Timbunan Ringan Mortar Busa sepanjang 675 meter.[16][31] Penghargaan ini menegaskan inovasi teknologi konstruksi yang diterapkan pada jembatan tersebut, khususnya penggunaan mortar busa yang ringan dan CSP untuk mempercepat pemasangan struktur, sekaligus memperkuat konstruksi agar tangguh menghadapi potensi bencana gempa dan likuefaksi di kawasan selatan Jawa.[21][31]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. "Jembatan Kabanaran Hadir, Presiden Prabowo Dorong Penataan Terintegrasi dan Penguatan UMKM". Presiden Republik Indonesia. 2025-11-19. Diakses tanggal 2025-11-19.
  2. "Jembatan Kabanaran Hadir, Presiden Prabowo Dorong Penataan Terintegrasi dan Penguatan UMKM". Kementerian Sekretariat Negara (dalam bahasa Inggris). 2025-11-19. Diakses tanggal 2025-11-19.
  3. Prabowo, Kautsar Widya (2025-11-19). "Resmikan Jembatan Kabanaran di Bantul, Presiden Harap Permudah Konektivitas Warga". Metro TV News. Diakses tanggal 2025-11-19.
  4. "Presiden Prabowo Resmikan Jembatan Kabanaran di Bantul: Diharapkan Mempermudah Konektivitas". Kompas.tv. Diakses tanggal 2025-11-19.
  5. Pertana, Pradito Rida. "Prabowo Resmikan Jembatan Kabanaran Penghubung Bantul-Kulon Progo". detikjogja. Diakses tanggal 2025-11-19.
  6. "Prabowo Resmikan 5 Infrastruktur Termasuk Jembatan Kabanaran, Harapan Pariwisata dan Ekonomi Tumbuh". regional.kompas.com. Diakses tanggal 19 Nov 2025.
  7. 1 2 3 "Jembatan Pandansimo: Inovasi Teknologi dan Kearifan Lokal dalam Konektivitas DIY". Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Jawa Tengah-DI Yogyakarta - Kementerian Pekerjaan Umum. 2025-03-03. Diakses tanggal 2025-09-27.
  8. 1 2 3 Agatha, Theresia (2024-07-30). Rezy, Fakhri (ed.). "The Construction Of The Pandansimo Bridge In Bantul Is Targeted To Be Completed By The End Of This Year". VOI.id. Diakses tanggal 2025-09-27.
  9. 1 2 3 4 5 6 "Jalur Selatan Yogyakarta Makin Terhubung: Progres Jembatan Pandansimo Capai 91,2%!". Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Jawa Tengah-DI Yogyakarta - Kementerian Pekerjaan Umum. 21-02-2025. Diakses tanggal 2025-09-27.
  10. 1 2 3 4 5 "Terpanjang ke-3 se-Indonesia! 7 Fakta Jembatan Pandansimo". Futake. 2025-08-18. Diakses tanggal 2025-09-27.
  11. 1 2 Botania, Rizhu (2025-05-20). "Jembatan Pandansimo Segera Selesai: Akses Bantul–Kulon Progo Makin Lancar". INCA University. Diakses tanggal 2025-09-27.
  12. "Asal-usul Nama Jembatan Kabanaran Yogyakarta yang Baru Diresmikan". tempo.co. Diakses tanggal 20 Nov 2025.
  13. "Respons Bupati Bantul Usai Kulon Progo Usul Nama Jembatan Pandansimo Diganti". detikjogja. 2025-11-19. Diakses tanggal 2025-11-19.
  14. Laksono, Muhdany Yusuf (2024-03-31). "Proyek Jembatan Pandansimo, Calon Penghubung Jalur Pansela Bantul-Kulonprogo". Kompas.com. Diakses tanggal 2025-02-10.
  15. 1 2 "Jembatan Pandansimo Berprogres 83%, Wujudkan Pemberdayaan Kawasan Selatan DIY". Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral DIY. 2024-11-16. Diakses tanggal 2025-09-27.
  16. 1 2 Putri Shafa, Tharisa; Kartikasari, Susy; Desyanti (2025-09-03). "Rahasia Kekuatan Jembatan Pandansimo: Penerapan timbunan ringan Mortar Busa & Struktur Baja Bergelombang (CSP)". Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Diakses tanggal 2025-09-27.
  17. 1 2 3 "Pandansimo Bridge in Yogyakarta to be completed in late 2024". PWC Indonesia (dalam bahasa Inggris). 2024-07-24. Diakses tanggal 2025-09-27.
  18. 1 2 "Melintasi Jembatan Pandansimo: Pengalaman Wisata Unik di Jalur Selatan Yogyakarta". Traveloka. 2025-05-14. Diakses tanggal 2025-09-27.
  19. 1 2 "Pandansimo, Jembatan Terpanjang di Yogyakarta dengan Sentuhan Estetika Lokal". Portal Informasi Indonesia (indonesia.go.id). 2024-07-16. Diakses tanggal 2025-09-27.
  20. "Pandansimo, Jembatan Terpanjang di Yogyakarta dengan Sentuhan Estetika Lokal". indonesia.go.id. 2024. Diakses tanggal 10 Feb 2025.
  21. 1 2 3 Ursula, Lia (2023-12-12). "Design Jembatan Pandansimo Mengakomodir Mitigasi Bencana". Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Jawa Tengah-DI Yogyakarta - Kementerian Pekerjaan Umum. Diakses tanggal 2025-09-27.
  22. 1 2 Ursula, Lia (2023-12-11). "Gubernur DIY Menandai Dimulainya Groundbreaking Jembatan Pandansimo". Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Jawa Tengah-DI Yogyakarta - Kementerian Pekerjaan Umum. Diakses tanggal 2025-09-27.
  23. Hasanudin, Ujang (2023-12-11). "Hari Ini Groundbreaking Pembangunan Jembatan Pandansimo". Harianjogja.com. Diakses tanggal 2025-09-27.
  24. "Jembatan Pandansimo, Jembatan Terpanjang yang Akan Jadi Ikon Baru DIY". Pemerintah Kabupaten Bantul. 2023-12-11. Diakses tanggal 2025-09-27.
  25. Hermawati, Arinta Dwi (2025-04-29). "Dipimpin Abdul Halim Muslih, Kabupaten Bantul Akan Memiliki Jembatan Terpanjang di Yogyakarta Senilai Rp863,72 Miliar". Ayo Bandung. Diakses tanggal 2025-09-27.
  26. 1 2 Agatha, Theresia (2025-08-11). Rezy, Fakhri (ed.). "The Construction Of The Pandansimo Bridge In DIY Is Completed, Take A Peek At The Advantages". VOI.id. Diakses tanggal 2025-09-27.
  27. 1 2 "Melaju Pesat, Pembangunan Jembatan Pandansimo Berprogres 83%". Pemerintah Daerah DIY. 2024-11-13. Diakses tanggal 2025-09-27.
  28. 1 2 Irkhami, Adib Lazwar; Yuliani, Cintia (2025-06-30). "Pembangunan Jembatan Pandansimo di Perbatasan Bantul-Kulon Progo Rampung, Kini Tinggal Menunggu Uji Kelayakan sebelum Dioperasikan untuk Publik - Radar Jogja". Radar Jogja. Diakses tanggal 2025-09-27.
  29. Riyadi, Sukro (202-08-14). "Jembatan Pandansimo Dibangun, Ekonomi Masyarakat Bangkit - Krjogja". Krjogja. Diakses tanggal 2025-09-27.
  30. "Jalur Selatan Jembatan Pandansimo Beroperasi September: Peresmian, Fungsi, dan Dampak bagi Akses Bantul–Kulon Progo". Gen Amikom. 2025-08-15. Diakses tanggal 2025-09-27.
  31. 1 2 3 Rachmasari, Firda Aulia (2025-09-21). "Jembatan Pandansimo, Penghubung JJLS yang Dapat Rekor MURI". Good News From Indonesia. Diakses tanggal 2025-09-27.
  32. "ADHI Karya Raih Dua Rekor MURI: Jembatan Pandansimo dan Pulau Balang Jadi Simbol Inovasi Infrastruktur". Tempo. 2025-07-30. Diakses tanggal 2025-09-27.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]