Lompat ke isi

Jay jambul

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Jay jambul
Seekor jay jambul, dengan punggung keunguan dan jambul hitam yang jelas
Di Sinaloa, Meksiko
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves
Ordo: Passeriformes
Famili: Corvidae
Genus: Cyanocorax
Spesies:
C. dickeyi
Nama binomial
Cyanocorax dickeyi
Moore, RT, 1935
Peta Meksiko yang menunjukkan sebaran jay jambul
Sebaran jay jambul      Sepanjang tahun

Jay jambul[2][3] (Cyanocorax dickeyi), yang juga dikenal sebagai jay elok dan jay dickey, adalah spesies burung dalam famili Corvidae (gagak-gagakan). Burung ini merupakan spesies endemik di wilayah kecil Sierra Madre Occidental di negara bagian Sinaloa, Durango, dan Nayarit, Meksiko. Sebagai spesies jay berukuran besar yang distingtif, burung ini memiliki jambul gelap yang menonjol di kepalanya; punggung, sayap, dan wajah berwarna biru keunguan; bintik putih di atas mata dan di pipi; bagian bawah tubuh berwarna putih; serta ekor yang sebagian berwarna putih. Panggilan khasnya berupa vokalisasi empat nada yang cepat.

Hubungan kekerabatan antara jay jambul dan anggota lain dari genus Cyanocorax telah menjadi subjek penelitian yang menarik sejak spesies ini pertama kali dideskripsikan pada tahun 1935. Karena kemiripan visual antara jay jambul dan jay ekor-putih, kedua spesies ini sempat dianggap berkerabat dekat oleh beberapa pihak. Sebuah studi DNA mitokondria tahun 2010 menunjukkan bahwa jay jambul justru berkerabat paling dekat dengan kelompok jay dari Amerika Selatan, meskipun wilayah sebaran mereka terpisah jarak lebih dari 2.000 km (1.200 mi). Kemungkinan besar, mereka merupakan keturunan dari leluhur jay yang tersebar di seluruh Amerika Tengah dan Selatan.

Jay jambul mendiami hutan pinus-ek, dan sering kali menetap tinggi di tajuk pohon. Dietnya terutama terdiri dari buah beri dan buah-buahan, serta serangga dalam jumlah yang lebih sedikit, seperti jangkrik semak (katydid). Spesies ini membentuk kawanan sosial yang berpusat pada satu pasangan pembiak, di mana beberapa kawanan tetap bersama selama beberapa generasi. Musim berbiak jay jambul dimulai pada akhir Maret, dengan kumpulan telur berjumlah dua hingga lima butir yang diletakkan di dalam sarang yang dibangun secara kooperatif oleh anggota kawanan. Jay jambul dikategorikan sebagai spesies hampir terancam oleh Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN). Populasinya kian menurun, dengan perkiraan 10.000–20.000 individu dewasa di alam liar. Ancaman utama bagi kelangsungan hidupnya adalah kerusakan habitat akibat ekspansi pertanian dan deforestasi yang disebabkan oleh pembalakan liar serta budi daya narkotika.

Taksonomi dan sistematika

[sunting | sunting sumber]

Jay jambul, yang juga dikenal sebagai jay elok atau jay Dickey,[4][5] pertama kali dideskripsikan oleh ahli ornitologi Robert Thomas Moore pada tahun 1935 berdasarkan spesimen yang dikoleksi pada 7 November 1934, di dekat Santa Lucía, Sinaloa, Meksiko. Karena wilayah sebarannya yang sangat terbatas, spesies ini tidak ditemukan selama ekspedisi pengoleksian sebelumnya, meskipun ekspedisi tersebut melintas dalam jarak 56 km (35 mi) dari habitatnya. Moore menempatkannya dalam genus Cyanocorax dan memberinya nama spesies Cyanocorax dickeyi, dengan nama spesifik yang diberikan sebagai penghormatan kepada ahli ornitologi Donald Ryder Dickey. Jay jambul tidak memiliki subspesies yang diakui.[6]

Seekor jay ekor-putih dengan bintik putih di atas dan bawah mata serta punggung biru keunguan
Jay ekor-putih (gambar) dan jay jambul pernah dianggap secara keliru sebagai spesies yang sama oleh beberapa ahli ornitologi.

Dalam deskripsi awalnya mengenai jay jambul, Moore mencatat bahwa kerabat terdekatnya secara geografis dalam genus Cyanocorax ditemukan di Kosta Rika, namun spesies ini justru paling mirip dengan jay ekor-putih yang ditemukan di Ekuador, yang berjarak lebih dari 4.800 km (3.000 mi) jauhnya.[7] Hal ini mengindikasikan bahwa jay jambul dan jay ekor-putih merupakan keturunan dari leluhur bersama yang pernah hidup di seluruh Amerika Tengah dan Selatan.[8] Ini adalah teori yang umum dipegang oleh peneliti lain yang telah mempelajari jay jambul.[9][10] Ahli ornitologi Dean Amadon mengajukan hipotesis bahwa jay jambul berkerabat paling dekat dengan kerabat geografis terdekatnya, jay dada-hitam dari Kosta Rika, dan bahwa kemiripannya dengan jay ekor-putih merupakan hasil dari evolusi konvergen.[8]

Kemiripan ini membuat beberapa peneliti berhipotesis bahwa kedua spesies tersebut pasti berkerabat lebih dekat daripada yang ditunjukkan oleh wilayah sebaran mereka. Pada tahun 1969, ahli ornitologi John William Hardy mendiskusikan sebuah teori bahwa jay jambul merupakan keturunan dari sekawanan jay ekor-putih yang secara tidak sengaja terbawa ke Meksiko oleh badai, seraya mencatat bahwa fenomena serupa terjadi pada sekelompok jay San Blas pada tahun 1937.[11] Pada tahun 1979, ahli ornitologi Paul Haemig menguraikan hipotesis dari Jean Théodore Delacour, yang diterbitkan pada tahun 1944, bahwa kedua jay tersebut sebenarnya adalah spesies yang sama.[8][12] Haemig menyatakan bahwa perbedaan pewarnaan antara kedua jay tersebut dapat dijelaskan oleh aturan Gloger, dan bahwa ukuran jambul merupakan "karakter yang sangat plastis pada burung jay" dan tidak terlalu signifikan dalam menentukan apakah keduanya adalah spesies yang sama.[4] Ia mengusulkan bahwa jay ekor-putih telah dibawa ke Meksiko melalui perdagangan antar masyarakat pra-Columbus, dan bahwa jay jambul merupakan keturunan dari populasi tersebut.[13] Sebuah studi tahun 1989 mengenai karakteristik morfologis kedua spesies tersebut tampaknya mendukung hipotesis ini dengan mengusulkan bahwa keduanya adalah spesies saudari.[14] Pada tahun 2010, sebuah studi DNA mitokondria dari genus Cyanocorax menunjukkan bahwa jay jambul dan jay ekor-putih bukanlah spesies saudari,[15] dan bahwa jay jambul adalah saudari dari sebuah klad (sekelompok spesies dengan leluhur yang sama) yang dibentuk oleh jay tengkuk-putih, jay Cayenne, jay jambul-beludru, jay tengkuk-biru langit, dan jay dada-hitam, yang semuanya ditemukan di Amerika Selatan.[16] Studi ini menyimpulkan bahwa penjelasan yang paling mungkin untuk kesenjangan geografis antara jay jambul dan kerabatnya di Amerika Selatan adalah adanya leluhur bersama yang tersebar luas.[16]

Kladogram berikut (disederhanakan dari studi tahun 2010) menunjukkan hubungan antara spesies dalam genus Cyanocorax.[17]

Jay inca (C. yncas)

Jay ekor-putih (C. mystacalis)

Jay cayenne (C. cayanus)

Jay jambul-beludru (C. chrysops)

Jay tengkuk-putih (C. cyanopogon)

Jay tengkuk-biru langit (C. heilprini)

Jay dada-hitam (C. affinis)

Jay jambul (C. dickeyi)

Jay jambul-semak (C. melanocyaneus)

Jay yucatan (C. yucatanicus)

Jay san blas (C. sanblasianus)

Jay punggung-ungu (C. beecheii)

Deskripsi

[sunting | sunting sumber]
Seekor jay jambul dilihat dari belakang, dengan punggung biru keunguan yang terlihat
Jay jambul memiliki punggung dan sayap berwarna biru keunguan.

Jay jambul merupakan burung yang distingtif di dalam wilayah sebarannya. Burung ini memiliki jambul bulu hitam di kepalanya, yang memudar menjadi biru tua di bagian pangkalnya. Wajahnya sebagian besar berwarna hitam hingga biru tua dengan bintik-bintik putih di atas mata dan pipi berwarna putih. Tengkuk dan perutnya berwarna putih. Punggung dan sayapnya berwarna biru keunguan yang memanjang hingga ke sebagian ekor, lalu beralih menjadi putih di sekitar separuh bagian bawah ekor. Paruh dan kakinya berwarna hitam, dan burung ini memiliki iris berwarna kuning cerah. Burung yang belum dewasa memiliki jambul yang lebih pendek, tidak memiliki bintik putih di atas mata, serta memiliki pipi berwarna biru cerah dan iris berwarna cokelat.[18] Bulu ini bertahan hingga masa pergantian bulu yang terjadi pada tahun kedua mereka.[19] Pangkal paruh mereka berwarna seperti daging, namun warna ini berangsur menjadi hitam beberapa bulan setelah menetas.[20] Tidak ada perbedaan bulu atau pewarnaan antara jantan dan betina.[21] Gaya terbang jay jambul dideskripsikan sebagai gerakan yang "ringan mengapung", dan ia terus-menerus mengepakkan sayapnya selama terbang.[22] Rentang hidup rata-rata jay jambul tidak diketahui.[23]

Lihat keterangan
Jay jambul saat terbang

Jay jambul adalah jay berukuran besar, dengan ukuran antara 35,5–38 cm (14,0–15,0 in), di mana pejantan sedikit lebih besar daripada betina. Sebuah studi tahun 1935 menemukan bahwa pejantan memiliki panjang sayap rata-rata 180,4 mm (7,10 in), panjang ekor rata-rata 171,3 mm (6,74 in), panjang paruh rata-rata 23,5 mm (0,93 in), dan panjang tarsus rata-rata 45,3 mm (1,78 in). Betina memiliki panjang sayap rata-rata 177,1 mm (6,97 in), panjang ekor rata-rata 164,2 mm (6,46 in), panjang paruh rata-rata 23,2 mm (0,91 in), dan panjang tarsus rata-rata 45,9 mm (1,81 in).[24] Jay jambul memiliki berat rata-rata 181 g (6,4 oz), meskipun tidak diketahui apakah berat ini bervariasi antar jenis kelamin.[19]

Secara visual, jay jambul agak mirip dengan magpie-jay kerongkongan-hitam, meskipun magpie-jay tersebut lebih biru, memiliki jambul yang lebih besar, dan ekor yang jauh lebih panjang. Secara keseluruhan, warnanya juga lebih cerah dibandingkan jay jambul. Jay jambul juga mirip dengan jay ekor-putih, meskipun wilayah sebaran mereka tidak tumpang tindih. Dibandingkan dengan jay ekor-putih, jay jambul memiliki jambul yang lebih besar, tidak ada warna putih pada sayap luarnya, dan memiliki lebih banyak warna putih pada ekornya.[21]

Vokalisasi

[sunting | sunting sumber]

Jay jambul memiliki beberapa jenis panggilan, dengan yang paling umum berupa panggilan cepat empat nada yang ditranskripsikan sebagai rak, chuck, chen, atau ca. Panggilan ini disuarakan oleh anggota kawanan saat mencari makan dan oleh betina yang sedang bersarang, sementara variasi nada yang lebih tinggi digunakan sebagai panggilan pengeroyokan (mobbing). Saat bertengger di sebelah jay jambul lainnya, individu mungkin mengeluarkan panggilan aaagh yang sengau. Saat menjaga sarang, pejantan membuat panggilan tuk atau tst. Jay jambul juga diketahui meniru panggilan ajuk-ajuk biru dan grackle ekor-besar.[25]

Sebelum kopulasi, pasangan pembiak jay jambul melakukan panggilan duet. Panggilan ini dideskripsikan sebagai chering-chering yang diikuti oleh bring yang terdengar metalik. Salah satu anggota pasangan memulai panggilan dan segera diulangi oleh pasangannya. Duet ini diulang kira-kira setiap 20 detik, dengan panggilan lembut yang dideskripsikan sebagai "bisikan" yang diselingi di antara pengulangan tersebut. Tidak dapat dipastikan apakah jantan atau betina yang memulai panggilan tersebut. Duet ini berlangsung sekitar 12 menit.[26]

Sebaran dan habitat

[sunting | sunting sumber]
Pohon ek yang tertutup epifit dikelilingi oleh pohon pinus
Jay jambul dapat ditemukan di hutan pinus-ek di dalam wilayah Sierra Madre Occidental.

Jay jambul adalah spesies endemik Meksiko dan hanya ditemukan di wilayah terbatas di dalam Sierra Madre Occidental, pada area seluas kurang lebih 193 km × 32 km (120 mi × 20 mi).[27][28] Di dalam pegunungan ini, mereka dapat ditemukan di bagian timur Sinaloa, bagian barat Durango, dan bagian utara Nayarit.[29] Spesies ini paling sering ditemukan pada ketinggian 1.500–2.000 m (4.900–6.600 ft), namun pernah ditemukan di ketinggian serendah 1.200 m (3.900 ft) dan setinggi 2.500 m (8.200 ft).[28][27]

Jay jambul menghuni hutan di seluruh wilayah sebarannya. Selama musim non-biak, mereka lebih umum dijumpai di hutan pinus-ek di dataran yang lebih tinggi. Pada musim berbiak, mereka lazim ditemukan di jurang-jurang dekat sumber air.[18] Mereka terkadang dapat ditemukan di ketinggian yang lebih tinggi hingga ke Dataran Tinggi Meksiko atau area bekas pembalakan. Jay jambul hampir selalu berada di dekat puncak pohon dan di dalam tajuk hutan, serta jarang terlihat di tanah.[30]

Perilaku dan ekologi

[sunting | sunting sumber]
Lihat keterangan
Seekor jay jambul sedang memakan biji ek

Jay jambul memakan buah-buahan, biji ek, dan artropoda. Sebagian besar diet mereka, sekitar 70%, terdiri dari bahan nabati, termasuk buah beri hitam, kacang-kacangan, biji ek, dan buah dari tanaman Peltostigma. Sebanyak 30% sisa diet mereka terdiri dari jangkrik semak, kumbang, tawon, dan serangga lainnya. Jay jambul telah diamati memangsa telur yang dicuri dari sarang burung lain.[31][32]

Jay jambul mencari makan dalam kawanan selama musim non-biak, dan memecah diri menjadi kelompok pencari makan yang lebih kecil pada akhir Maret saat musim berbiak dimulai.[33] Mereka menggunakan berbagai metode untuk mengakses makanan; mereka sering kali bertengger di dahan lalu mengungkit, menarik, atau mematuk sumber makanan. Dalam situasi di mana dahan tidak mampu menopang berat tubuhnya, mereka akan bergelantung dari dahan yang lebih tinggi dan menjulurkan tubuh ke bawah, atau mereka mungkin melayang diam (hovering) sejenak di depan sumber makanan untuk mengambilnya.[34] Mereka juga menimbun makanan, dan terkadang mencari makan di antara serasah tumbuhan di tanah.[22][35]

Selama musim berbiak, kawanan bekerja secara kooperatif untuk memberi makan betina yang sedang bersarang. Anggota kawanan sering melakukan perjalanan bolak-balik dari area mencari makan ke sarang. Betina yang sedang bersarang mungkin mengeluarkan panggilan meminta makan dan mengepakkan sayapnya ketika makanan dibawakan kepadanya.[36]

Sosialisasi dan teritorialitas

[sunting | sunting sumber]
Tiga ekor jay jambul di atas dahan
Kawanan jay jambul

Jay jambul adalah burung sosial yang hidup dalam kawanan beranggotakan 4–16 individu. Ukuran kawanan akan berubah sepanjang tahun, menjadi lebih besar selama musim non-biak dan lebih kecil selama masa pembiakan. Kawanan biasanya terdiri dari satu pasangan pembiak, burung dewasa sekunder lainnya, dan beberapa burung remaja.[37] Pejantan remaja yang menyebar meninggalkan kawanan melakukannya pada usia sekitar 13–18 bulan.[38] Kelompok jay jambul tetap bersama sepanjang tahun, dan beberapa kelompok bertahan hingga beberapa generasi. Kawanan yang berbeda cenderung berada berdekatan satu sama lain, namun memiliki teritori yang jarang tumpang tindih. Ketika perilaku teritorial terjadi, biasanya hal itu berpusat pada area yang digunakan untuk berbiak dan mencari makan.[22]

Jay jambul juga menunjukkan permusuhan yang terbatas terhadap spesies lain. Kelompok jay steller terkadang mengikuti kawanan jay jambul, di mana kedua spesies tersebut saling mengabaikan, meskipun seekor jay jambul mungkin akan menukik ke arah jay steller jika burung tersebut mendekati lokasi sarang atau saat jay jambul sedang mencari makan.[39] Sebaliknya, spesies lain seperti kolibri telinga-putih dan thrush aztec telah diamati mengeroyok jay jambul.[40]

Pembiakan dan penyarangan

[sunting | sunting sumber]

Musim berbiak bagi jay jambul dimulai pada akhir Maret, dan setiap kawanan hanya memiliki satu pasangan pembiak. Sarang dibangun secara kooperatif oleh betina pembiak, burung muda tahun kedua, dan betina lain dalam kawanan tersebut.[41] Sarang dibangun setinggi 5–15 m (16–49 ft) di pepohonan dan berdiameter sekitar 41 cm (16 in) dengan kedalaman 6 cm (2,4 in). Sarang terbuat dari ranting, dengan cawan sarang yang terdiri dari akar-akar dan cabang-cabang yang lebih kecil. Betina akan duduk di dalam sarang bahkan sebelum telur diletakkan.[41]

Telur diletakkan pada bulan April atau Mei, dengan kumpulan telur rata-rata berjumlah dua hingga lima butir.[38] Telur-telur tersebut berwarna zaitun dengan bintik-bintik cokelat, serta berukuran panjang 36–38 mm (1,4–1,5 in) dan lebar 24–254 mm (0,94–10,00 in).[42] Hanya betina yang akan mengerami telur, sementara jantan dan anggota kawanan lainnya menyediakan makanan bagi betina yang sedang bersarang. Masa inkubasi berlangsung selama 18–19 hari, dan anakan tetap berada di dalam sarang selama kurang lebih 24 hari.[38] Anakan bersifat altrisial (belum dewasa dan tidak berdaya saat lahir) dan lahir tanpa bulu.[43] Pemberian makan secara kooperatif kepada betina yang bersarang berlanjut hingga ke anakan, di mana kawanan memberikan makanan kepada betina, yang kemudian meneruskannya kepada anakan.[44] Tidak diketahui pada usia berapa jay jambul mulai berbiak.[23]

Konservasi dan status

[sunting | sunting sumber]
Sekelompok delapan jay jambul di tanah di samping jalan yang berkelok
Sekawanan jay jambul mencari makan di tepi jalan

Jay jambul terdaftar sebagai spesies hampir terancam oleh Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN). Hingga tahun 2020, populasi mereka dianggap menurun, dengan jumlah individu dewasa berkisar antara 10.000–20.000 ekor. Karena populasi jay jambul relatif terbatas secara geografis, ancaman utama bagi kelangsungan hidupnya adalah kerusakan habitat akibat ekspansi pertanian, deforestasi akibat pembalakan liar dan budi daya narkotika, serta kebakaran hutan. Fragmentasi habitat yang disebabkan oleh pembangunan jalan juga dianggap menimbulkan ancaman. Jay jambul diketahui diburu atau dibunuh oleh manusia, seperti oleh mereka yang terlibat dalam budi daya narkotika atau oleh anak-anak. Kekeringan juga menjadi ancaman bagi jay jambul karena mengakibatkan kurangnya sumber makanan. Perubahan iklim kemungkinan besar akan mengakibatkan kekeringan berkepanjangan di masa depan, yang dapat menyebabkan penurunan populasi jay jambul secara signifikan. Beberapa sumber air yang digunakan oleh kelompok jay jambul juga telah rusak akibat aktivitas manusia.[1]

Meskipun tidak ada rencana konservasi aktif yang diberlakukan untuk jay jambul,[1] mereka dianggap terancam punah oleh pemerintah Meksiko, dan berisiko tinggi mengalami kepunahan menurut Partners in Flight.[45][46] Sejak tahun 2004, ejido El Palmito di Sinaloa telah memiliki rencana konservasi berbasis komunitas. Sejumlah besar jay jambul ditemukan di dekat lokasi ini, dan rencana konservasi tersebut bertujuan untuk mendorong ekowisata dan pendidikan sekaligus membatasi aktivitas pembalakan.[47]

  1. 1 2 3 BirdLife International (2020).
  2. Zapino, Tomi; Fitri, Chairi (2022). Kamus Nomenklatur Flora & Fauna. Bumi Aksara. hlm. 53.
  3. Campbell, Neil A.; Reece, Reece; Mitchell, Mitchell (2004). Biologi Jl. 3 Ed. 5. Erlangga. ISBN 9789796884704.
  4. 1 2 Haemig (1979), hlm. 81.
  5. Lepage ().
  6. Moore (1935), hlm. 274–275.
  7. Moore (1935), hlm. 277.
  8. 1 2 3 Amadon (1944), hlm. 9.
  9. Haemig (1979), hlm. 82.
  10. Haffer (1975), hlm. 146.
  11. Hardy (1969), hlm. 364.
  12. Haemig (1979), hlm. 82–84.
  13. Haemig (1979), hlm. 81, 86.
  14. Kittelson & Ghalambor (2020), Systematics.
  15. Bonaccorso et al. (2010), hlm. 897.
  16. 1 2 Bonaccorso et al. (2010), hlm. 905.
  17. Bonaccorso et al. (2010), hlm. 902.
  18. 1 2 Goodwin & Gillmor (1976), hlm. 297.
  19. 1 2 Kittelson & Ghalambor (2020), Plumages, Molts, and Structure.
  20. Crossin (1965), hlm. 17.
  21. 1 2 Kittelson & Ghalambor (2020), Identification.
  22. 1 2 3 Kittelson & Ghalambor (2020), Behavior.
  23. 1 2 Kittelson & Ghalambor (2020), Demography and Populations.
  24. Moore (1935), hlm. 276.
  25. Kittelson & Ghalambor (2020), Sounds and Vocal Behavior.
  26. Crossin (1965), hlm. 34–35.
  27. 1 2 Crossin (1965), hlm. 6.
  28. 1 2 Kittelson & Ghalambor (2020), Distribution.
  29. Miller et al. (1957), hlm. 128.
  30. BirdLife International (2024), Ecology.
  31. Crossin (1965), hlm. 20–27.
  32. Kittelson & Ghalambor (2020), Diet and Foraging.
  33. Crossin (1965), hlm. 23.
  34. Crossin (1965), hlm. 21.
  35. Lammertink et al. (1996), hlm. 51–52.
  36. Crossin (1965), hlm. 53–56.
  37. Crossin (1965), hlm. 15–19.
  38. 1 2 3 Kittelson & Ghalambor (2020), Breeding.
  39. Crossin (1965), hlm. 28–29.
  40. Moore (1938), hlm. 234.
  41. 1 2 Crossin (1965), hlm. 37-46.
  42. Moore (1938), hlm. 237.
  43. Crossin (1965), hlm. 62.
  44. Crossin (1965), hlm. 63–64.
  45. Escalante & Nequiz (2004), hlm. 179.
  46. Berlanga et al. (2010), hlm. 38.
  47. Kittelson & Ghalambor (2020), Conservation and Management.

Referensi

[sunting | sunting sumber]

Prananala luar

[sunting | sunting sumber]