Jaringan Kerja Kesenian Rakyat

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (disingkat: Jaker) adalah jaringan pekerja seni budaya yang bergerak di bidang daya cipta dan kreativitas. Minat utama jaringan ini adalah sastra, seni, filsafat, agama, dan budaya populer, baik dalam bentuk pemikiran-cipta atau karya-cipta. Agenda utama Jaker adalah membentuk jaringan kebudayaan terkecil pada sanggar seni di basis buruh dan petani di kampung-kampung yang belum terjamah oleh dewan-dewan kebudayaan yang menjadi elitis di kota besar sehingga tak menjamah kebutuhan kekaryaan pekerja seni lapisan bawah.

Sejarah pendirian[sunting | sunting sumber]

Pertama kali terbentuk pada tahun 1993 oleh nama-nama Widji Thukul, Moelyono, Semsar Siahaan, Raharjo Waluyo Djati, Hilmar Farid,Linda Christanty dan masih banyak lagi. Jaringan Kerja Kesenian ini “ada” untuk menjawab tuntutan dialektika sejarah sebagai counter dari kesenian yang dikendarai oleh neokolonialis dalam penetrasi budaya melalui dewan-dewan kesenian milik rezim ORBA serta seniman-seniman “besar” kubu humanisme universal untuk kepentingan penanaman modal kapitalis-imperialis Amerika dan negara imperialis lainnya.

Masa represi[sunting | sunting sumber]

Pada peristiwa “Sabtu Kelabu” 27 Juli 1996, Jaker turut menjadi kambing hitam. Karena kondisi tersebut membuat Jaker terus bergerak dari bawah tanah dengan menyuarakan tuntutan kesenian yang anti militerisme dan anti humanisme universal dengan bendera Graphic Guerilla menggunakan media poster, paper puppet, dan selebaran.

Pasca represi[sunting | sunting sumber]

Setelah peristiwa Mei 1998, Soeharto lengser, Jaker kembali menunjukkan keberadaannya secara legal dengan mengadakan berbagai kegiatan kesenian yang berpihak kepada perjuangan rakyat untuk meluruskan budaya demokrasi dibumi tercinta ini. Di samping terlibat diberbagai aksi dengan tuntutan-tuntutan reformasi maupun isu-isu nasional lainnya, beberapa pagelaran kebudayaan digelar.

Idealisme Jaker[sunting | sunting sumber]

Jaker dibentuk di tengah situasi terpuruknya perekonomian Indonesia akibat krisis ekonomi dan politik yang semakin memperparah kondisi perekonomian rakyat. Krisis tersebut merupakan sisi kelam bagi rakyat keseluruhan dan seniman/pekerja seni tradisional khususnya,namun di sisi lain telah menghasilkan satu hal yang positif yakni bangkitnya perlawanan rakyat yang di pelopori mahasiswa untuk menuntut perubahan dari hari ke hari perlawanan terus mengalami peningkatan. Tuntutan rakyat untuk perubahan ini memaksa suharto untuk turun dari jabatannya. Sesuatu kekuasaan yang telah dibangun selama 32 tahun di atas darah dan air mata rakyat ternyata tidak mampu di pertahankan.

Tetapi seniman/pekerja seni yang merasakan dampak dari krisis ternyata belum terlibat dalam perjuangan ini. Disaat sektor rakyat lain seperti mahasiswa dan kaum miskin kota turun dalam perjuangan politik. Seniman/pekerja seni masih terkekang dengan rutinitas berkarya individualnya. Semua ini akibat dari pembodohan dan depolitisasi yang dilakukan oleh pemerintahan orde baru,yang selalu berupaya meredam perlawanan dan bangkitnya kekuatan seniman/pekerja seni dalam proses kebudayaan Nasional.

Sungguh sangat memprihatinkan,seniman/pekerja seni yang sebenarnya pernah berhasil memberi sumbangan bentuk-bentuk kebudayaan yang memiliki karakter nasional yang kuat dalam roda kebudayaan Nasional belum terbangun kekuatanya. Inlah keberhasilan utama 32 tahun rejim suharto “ mengebiri “ bangkitnya kaum buruh.

Kondisi inilah mendorong kita untuk memulai membangun kembali kekuatan seniman/pekerja seni. Menyadarkan seniman/pekerja seni untuk menghadapi setiap penindasan dengan melakukan perlawanan.melawan dan terus melawan!! Melawan sambil terus menyadarkan untuk bersatu, bersatu dan bersatu!! Karena tanpa persatuan seniman/pekerja seni tidak akan pernah memiliki kekuatan. Tak akan mampu menghadapi kekuatan besar dari kaum kapitalis dan antek-anteknya,yang teraktualisasi dalam lembaga-lembaga pemerintah,aparat keamanan ,UU,peraturan,pengadilan,penjara, dll.

Aksi Jaker[sunting | sunting sumber]

Langkah pertamanya adalah mengorganisir aksi–aksi kebudayaan, bangun sanggar ,bangun komunitas,mulai menyatukan komunitas lokal ke dalam wadah nasional. Menyadarkan dengan bacaan, selebaran, aksi kebudayaan, rapat akbar, diskusi dan pendidikan. Belajar organisasi, belajar menjadi pemimpin,belajar dan belajar. Semua pengalaman ini adalah modal yang tak ternilai bagi kita untuk melangkah ke depan dengan lebih matang. Dalam kerja sama setahun pelajaran yang sudah kita dapatkan untuk mendekati tujuan kita untuk membangun kekuatan seniman progessif.

Berdasarkan kondisi tersebut di atas kami, Jaker yang sadar bahwa harus ada perombakan terhadap sistem yang menindas hak-hak rakyat, guna mewujudkan masyarakat Indonesia yang demokratis, berkeadilan sosial dan berkedaulatan rakyat. Jaker merasa perlu untuk bekerja sama dengan semua kelompok/organisasi yang anti penindasan dan kami merasa sangat perlu untuk menjalin solidaritas dan kerja sama. Karena suatu kesadaran yang sangat rasional dan objektif bahwa kami tidak akan pernah mampu untuk berjuang sendirian dalam memenangkan tujuan perjuangan terhadap sistem yang menindas ini. Perjuangan sendiri hanya mencapai suatu kemenangan yang minimal, artinya ketika suatu kelompok berjuang sendiri (sektarian), maka hasil yang dicapai hanya untuk kepentingan subjektif kelompoknya. Akan tetapi bila perjuangan itu didukung oleh banyak pihak, maka kemungkinan memenangkan perjuangan sangat besar. Karena perjuangan ini menyangkut kepentingan banyak pihak dan elemen dalam masyarakat.