Jaran Goyang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Jaran Goyang adalah salah satu bagian dari sastra lisan yang berupa mantra. Mantra berjenis pengasihan ini berkembang di masyarakat Suku Osing di Banyuwangi, Jawa Timur.[1] Tidak hanya berkembang di Jawa Timur, mantra ini juga terdapat di Jawa Barat. Nama lain dari jenis mantra ini di antaranya adalah pengasihan dan pelet. Mantra ini erat kaitannya dengan ilmu gaib, metafisik, dan dunia paranormal.

Asal Usul[sunting | sunting sumber]

Suku Osing mempercayai adanya empat ilmu, yakni ilmu merah, ilmu kuning, ilmu hitam, dan ilmu putih. Ilmu merah berkaitan dengan perasaan cinta, ilmu kuning mengenai jabatan, ilmu hitam untuk menyakiti, dan ilmu putih untuk menyembuhkan.[1]

Jaran Goyang ini termasuk kategori ilmu merah atau dikenal dengan nama santet. Santet merupakan akronim dari "mesisan gantet" yang berarti sekalian bersatu atau bisa juga "mesisan bantet" atau sekalian rusak.[1]

Pengertian ini merujuk pada fungsi sosial mantra santet Jaran Goyang. Mantra ini bukanlah ilmu untuk menyakiti atau membunuh, melainkan untuk menyatukan dua orang agar bisa menikah atau memisahkan kedua orang yang mencintai agar bisa menikah dengan pasangan pilihan keluarganya.

Ada mitos yang berkembang mengenai mantra Jaran Goyang. Ketika Kerajaan Blambangan diambang kehancuran, rakyatnya terpisah-pisah. Agar keturunan tidak tercampur, mereka menikah dengan dasar kekerabatan. Namun, di antara mereka, ada yang tidak mau dijodohkan atau tidak direstui keluarga. Mantra Jaran Goyang kemudian berfungsi untuk menyatukan mereka.[2]

Selain Jaran Goyang, ada beberapa mantra lain yang berkaitan dengan ilmu pengasihan, seperti Kucing Gorang dan Kebo bodoh. Binatang liar yang menjadi binatang peliharan sering kali digunakan sebagai nama-nama mantra ilmu merah yang berkaitan dengan asmara.[1]

Begitu juga dengan nama Jaran Goyang yang diambil dari perilaku kuda yang sulit dijinakkan. Namun, jika sudah jinak, kuda dapat dikendalikan. Hal ini dianalogikan dengan perasaan cinta seseorang. Kata Jaran Goyang jika diartikan secara langsung adalah kuda goyang. Korban terbanyak dari mantra Jaran Goyang ini adalah perempuan dibandingkan laki-laki.[1]

Tarian[sunting | sunting sumber]

Tari Jaran Goyang merupakan tari pergaulan. Tarian ini menceritakan seorang pemuda yang mencintai seorang gadis. Namun sayangnya, pemuda itu mendapat penolakan atau bertepuk sebelah tangan karena gadis itu tidak mempunyai perasaan cinta terhadapnya. Pemuda itu pun merapalkan mantra Jaran Goyang lalu melempar bunga kepada sang gadis agar dapat jatuh cinta dan tergila-gila padanya.

Tari Jaran Goyang terinspirasi dari mantra Jaran Goyang. Tarian ini muncul karena adanya fenomena mantra jaran goyang yang tumbuh subur di kalangan Suku Osing saat itu. Tarian ini pertama kali dipertunjukkan pada 1966 oleh penari bernama Darji dan Parmi. Mereka berasal dari Lembaga Kesenian Nasional (LKN) milik Partai Nasional Indonesia yang saat itu ada di wilayah Kecamatan Genteng, Banyuwangi.

Tarian tersebut sempat dipentaskan di luar Kota Banyuwangi beberapa kali oleh LKN. Gerakan dalam tarian ini disempurnakan oleh pencipta tari Banyuwangi Sumitro Hadi dan Subari Sofyan.[1]

Sejalan dengan perkembangan zaman, tarian Jaran Goyang pada saat ini mengalami perubahan. Para penarinya kini terdiri atas dua orang, yaitu laki-laki dan perempuan. Pada masa lalu, Jaran Goyang ditarikan banyak orang walaupun ada dua penari utama.

Lagu[sunting | sunting sumber]

Masyarakat Banyuwangi, khususnya Osing, tidak menutup diri dengan perubahan budaya. Percampuran budaya, baik dari dalam maupun dari luar pun diterima untuk menghadirkan budaya baru yang disesuaikan dengan zaman.

Selain menjadi tarian, Jaran Goyang juga menginspirasi sebuah lagu dalam bahasa Osing yang berjudul Jaran Goyang. Lagu ini sempat populer pada tahun 2000-an dan dinyanyikan oleh penyanyi Banyuwangi, yakni Adistya Mayasari.

Nama Jaran Goyang juga dikaitkan dengan judul lagu yang dibawakan oleh penyanyi koplo bernama Nella Kharisma (sebenarnya merupakan cover dari Cornelius and Junior[3]). Tidak hanya nama, kata-kata dalam lirik lagunya pun mengarah pada jenis ilmu pengasihan ini. Berikut ini kutipan lirik lagu yang diciptakan Andi Mbendol.[4]

Kalau tidak berhasil, pakai jurus yang kedua. Semar mesem namanya, jaran goyang jodohnya. Cen rodok ndagel syarate, penting di lakoni wae. Ndang di cubo, mesthi kasil terbukti kasiate, genjrot.

Lirik tersebut dipercaya merujuk pada mantra Jaran Goyang yang biasa digunakan masyarakat Osing Banyuwangi. Bagian awal lagu tersebut menceritakan permasalahan yang sedang dihadapi oleh orang yang ditolak cintanya. Ada dua jenis penyelesaian yang ditawarkan dalam lagu itu. Pertama, menggunakan "jaran goyang", sedangkan yang kedua dengan menggunakan "semar mesem".[5]

Keduanya adalah sejenis ajian untuk menarik lawan jenis dengan cara yang tak kasatmata. Dalam lagu secara spesifik tidak disebut dengan 'ajian', melainkan 'jurus'. Ada ritual khusus untuk melakukan ajian Jaran Goyang. Biasanya diharuskan untuk melakukan puasa mutih selama sebulan lebih. Pada malam terakhir, harus melakukan ritual dengan Pati Geni atau menghilangkan segala nafsu sementara.[5]

Kepopuleran lagu Jaran Goyang membuat para artis menyanyikannya dengan gaya masing-masing. Lagu ini dinyanyikan ulang oleh biduan dangdut, antara lain Via Vallen, Nassar, dan Trio Macan. Bahkan, aksi pedangdut Nassar sempat menghebohkan jagad media sosial tatkala menyanyikan lagu itu sambil menari. Tidak sedikit warganet yang mengomentari penampilan artis jebolan Kontes Dangdut Indonesia atau KDI itu saat beraksi di panggung.[6]

Berbagai versi lagu dengan judul "Jaran Goyang" ini pun bermunculan. Menariknya, ada penyanyi yang membawakan ulang lagu itu dengan lirik menggunakan tiga bahasa, yaitu Indonesia, Inggris, dan bahasa daerah Jawa.

Lagu Jaran Goyang menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat. Kesan mistis yang ada di lagu ini seolah lenyap tatkala dinyanyikan di berbagai kesempatan, baik situasi formal maupun nonformal. Lagu itu kini menjadi lagu hits yang bukan hanya diputar di media massa dan media sosial, melainkan juga menjadi lagu yang wajib dinyanyikan di acara hajatan, pementasan kesenian, bahkan acara wisuda.

Keberadaan lagu ini menjadi sebuah kontroversi tatkala diaransemen ulang oleh paduan suara mahasiswa Universitas Jember. Mereka membawakan lagu Jaran Goyang dalam acara wisuda periode III tahun akademik 2017/2018 pada 4 November yang kemudian menjadi viral. Ada yang pro dan kontra mengenai aksi yang dilakukan para mahasiswa ini.[7]

Versi lain dari lagu ini adalah dalam bentuk parodi. Lagu Jaran Goyang yang dinyanyikan oleh seorang Youtuber bernama Kery Astina mempunyai lirik yang berbeda, cenderung kontradiksi dan mengandung humor.

Kery memaparkan cara untuk menangkal ajian Jaran Goyang dan Semar Mesem, yakni dengan rajin shalat malam dan baca Alquran. Melalui lagunya, dia mengajak orang untuk pergi ke masjid dan bukan pergi ke dukun atau paranormal. Dia juga membuat parodi balasan Jaran Goyang ini dengan musik yang mengusung aliran koplo versi islami, berjudul "Baca Quran".[8]

Jaran Goyang di Ciremai[sunting | sunting sumber]

Gunung Ceremai

Mantra "Jaran Goyang" juga dikenal oleh masyarakat Jawa Barat. Baik yang ada di Jawa Timur maupun yang ada di Jawa Barat, mantra ini mempunyai kesamaan nama dan fungsinya.

Ciremai atau Ceremai adalah nama gunung yang berada di tiga wilayah, yakni Kabupaten Cirebon, Kuningan, dan Majalengka, Jawa Barat. Ceremai juga menyimpan banyak mitos dan legenda mistis. Salah satunya adalah legenda Nini Pelet. Kisah ini sudah menjadi bagian tradisi lisan masyarakat sekitar gunung. Berdasarkan sastra lisan, Gunung Ceremai merupakan singgasana kerajaan Nini Pelet.[9]

Nini Pelet ini merupakan tokoh yang memiliki kesaktian khusus di bidang percintaan. Dia diceritakan merebut kitab "Mantra Asmara" milik Ki Buyut Mangun Tapa. Kitab tersebut memuat salah satunya ilmu Jaran Goyang, yang dikenal kegunaannya untuk mengikat hati lawan jenis.

Sementara itu, berdasarkan mitos yang berkembang, Ki Buyut Mangun Tapa adalah orang sakti yang merupakan pencipta ilmu "Jaran Goyang". Dia konon dimakamkan di Desa Mangun Jaya, Blok Karang Jaya, Indramayu, Jawa Barat.[9]

Masyarakat di sekitar makam pun mempercayai kehadiran seekor harimau siluman yang merupakan peliharaan Ki Buyut. Harimau itu sering muncul pada tengah malam, khususnya pada malam Jumat Kliwon dan Selasa Legi. Kisah Nini Pelet dan Ki Buyut Mangun Tapa ini menjadi populer ketika diangkat menjadi serial sandiwara radio pada tahun 1980-an.[9]

Referensi[sunting | sunting sumber]