Jalur kereta api Kutoarjo–Purwosari

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Jalur kereta api Kutoarjo–Purwosari
Ikhtisar
JenisJalur lintas utama
SistemJalur kereta api rel berat
StatusBeroperasi
TerminusKutoarjo
Purwosari
Stasiun21
Operasi
Dibuka1873–1887
PemilikDitjen KA, Kemenhub RI
OperatorPT Kereta Api Indonesia
Daerah Operasi V Purwokerto (Kutoarjo-Montelan)
Daerah Operasi VI Yogyakarta (Montelan-Purwosari)
Karakteristik lintasRel lintas datar dengan latar belakang pegunungan
Data teknis
Lebar sepur1.067 mm
Kecepatan operasi60 s.d. 100 km/jam
Peta rute

ke Jakarta, Bandung, Purwokerto
Stasiun Kutoarjo
Ke Stasiun Purworejo
Daerah Operasi V Purwokerto
Daerah Operasi VI Yogyakarta
Stasiun Montelan
Stasiun Jenar
Jembatan Kali Bogowonto
Stasiun Wojo
Jawa Tengah
Daerah Istimewa Yogyakarta
Stasiun Kedundang
Stasiun Wates
Stasiun Kalimenur
Stasiun Sentolo
Jembatan Progo
Stasiun Sedayu
Stasiun Rewulu
ke Depo Pertamina
Stasiun Pathukan
Flyover Jalan Siliwangi
Jalan Tentara Pelajar
ke Palbapang
ke Secang, Ambarawa
Dipo lokomotif
Stasiun Yogyakarta
Jalan Abu Bakar Ali
Jembatan Kali Code
Jalan Abu Bakar Ali
Depo barang
Stasiun Lempuyangan
Flyover Lempuyangan
Flyover Janti
Stasiun Maguwo
Stasiun Kalasan
Jembatan Kali Opak
Daerah Istimewa Yogyakarta
Jawa Tengah
Stasiun Brambanan
Stasiun Srowot
Stasiun Klaten
Stasiun Ketandan
Stasiun Ceper
Stasiun Delanggu
Stasiun Gawok
Underpass Makamhaji
ke Boyolali
Stasiun Purwosari
ke Wonogiri
ke Solo Balapan, Sumberlawang, Surabaya

Jalur kereta api Kutoarjo–Purwosari (bahasa Jawa: ꦗꦭꦸꦂ​ꦱꦼꦥꦸꦂ​ꦏꦸꦛꦲꦂꦗ​ꦱꦭ​ꦧꦭꦥꦤ꧀, translit. Jalur sepur Kuthaharja-Sala Balapan) adalah segmen jalur rel lintas selatan Pulau Jawa yang sudah menjadi jalur ganda (double-track). Dari arah barat dimulai dari Stasiun Kutoarjo (dikelola PT KAI Daerah Operasi V Purwokerto) menuju arah tenggara yang termasuk dalam Daerah Operasi VI Yogyakarta, mengitari tepian ujung selatan Pegunungan Menoreh, lalu berbelok ke arah timur laut menuju Stasiun Tugu Yogyakarta, kemudian ke timur dan timur laut hingga mencapai Stasiun Purwosari di tepi barat Kota Surakarta.

Jalur ini sepenuhnya berada di dataran rendah, dengan sedikit variasi jalur berkelok-kelok di antara Stasiun Wojo dan Stasiun Wates. Terdapat beberapa jembatan tinggi di jalur ini, yaitu yang melintasi Kali Progo dan Kali Opak. Jalur ini memiliki beberapa titik berpemandangan indah, terutama di daerah sekitar Candi Prambanan (dapat terlihat beberapa puncak candi Prambanan tersebut) dan di antara Stasiun Klaten dan Stasiun Delanggu dengan pemandangan gunung kembar (Gunung Merapi dan Gunung Merbabu) yang tampak sempurna dilatardepani oleh persawahan yang terhampar luas.

Ujung timur jalur ini dapat diperpanjang sejauh tiga km hingga mencapai Stasiun Solo Balapan, yang merupakan stasiun besar. Seluruh stasiun di jalur ini sudah sepenuhnya menggunakan persinyalan elektrik; untuk Kutoarjo–Patukan menggunakan persinyalan dari Westinghouse Rail Systems, Stasiun Yogyakarta dan Lempuyangan menggunakan persinyalan Siemens NX,[1] dan Maguwo–Purwosari menggunakan persinyalan produksi Len Industri yang dipasang sejak 2013.[2][3]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Awal pengoperasian[sunting | sunting sumber]

Jalur NIS[sunting | sunting sumber]

Kebutuhan kereta api untuk pengangkutan penumpang dan gula ternyata sangat mendesak apalagi setelah Tanam Paksa diberlakukan sejak 1830. Sejak 1869, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) sudah dapat mengoperasikan jalur kereta api segmen Samarang NIS–Gundih–Solo. Selanjutnya, pembangunan diarahkan ke Yogyakarta, yang dilakukan segera setelah peresmian jalur kereta api segmen Samarang–Solo Balapan. Berturut-turut ada tiga segmen yang dikerjakan, yaitu Solo–Ceper, Ceper–Klaten, dan Klaten–Yogyakarta, berturut-turut mulai beroperasi pada tanggal 27 Maret dan 9 Juli 1871, serta 10 Juni 1872.[4] Pada tanggal 2 Maret 1872, Stasiun Lempuyangan mulai diuji coba operasi.[5] Pada tanggal 21 Mei 1873, jalur Samarang–Vorstenlanden telah selesai dibangun.[6]

Jalur SS[sunting | sunting sumber]

Sementara itu, perusahaan kereta api milik negara, Staatsspoorwegen—yang dibentuk pascaevaluasi pembangunan jalur NIS Samarang–Vorstenlanden dan Batavia–Buitenzorg yang mengalami kesulitan keuangan—mulai menanamkan pengaruhnya di Jawa. Pembangunan jalur ini diprioritaskan untuk menghubungkan Jakarta–Surabaya dengan kereta api melalui lintas selatan. Untuk jalur tersebut, pada mulanya SS memutuskan untuk membangun segmen terakhir lebih dulu, Cilacap–Kroya–Kutoarjo–Yogyakarta pada tahun 1885 dan selesai pada tanggal 20 Juli 1887, beserta seluruh stasiun di lintas ini. Untuk jalur gunung Bandung–Banjar–Kasugihan baru bisa disambung pada tahun 1894 karena persoalan geometri jalan rel dan medan terjal yang membutuhkan kehati-hatian oleh teknisinya. Pada mulanya, jalur ini direncanakan oleh SS akan disambung ke Stasiun Cilacap, tetapi karena jalur Kawunganten ke tenggara kala itu merupakan rawa-rawa, maka jalurnya dialihkan ke Kasugihan.[7]

Dalam operasionalnya, jalur ini rupanya telah menghancurkan garis imajiner Kota Yogyakarta. Konon, garis tersebut menghubungkan Gunung Merapi, Tugu Pal Putih, Jalan Malioboro, Kraton, Panggung Krapyak, dan Pantai Parangtritis. Keberadaan garis yang penuh filosofi dan sangat merakyat di kalangan masyarakat Jogja ini dihancurkan oleh Pemerintah Kolonial.[8]

Dua kepemilikan[sunting | sunting sumber]

Jalur kereta api untuk segmen Jogja-Solo pernah menjadi "jalur dengan dua kepemilikan". NIS dan SS saling berbagi jalur. Permulaan jalur ganda tersebut ada di Stasiun Tugu. Di situ, peron selatan (kini jalur 1, 2, dan 3) merupakan peron NIS dengan lebar 1.435 mm, sedangkan peron utara (jalur 4, 5, 6, 7, 8, dan 9) menjadi milik SS dengan lebar 1.067 mm.

Ke arah timur, ada dua jembatan di atas Kali Code, kemudian dahulu jalur SS bercabang ke timur laut (kini tempat menyimpan gerbong semen) kemudian melewati depan Balai Yasa Pengok (kini test track). Setelah melewati Balai Yasa, rel kembali berbelok ke selatan kembali sejajar jalur NIS. Ini berarti jalur SS tetap di utara dan berbelok ke arah balai yasa, sedangkan jalur NIS tetap lurus sejak stasiun Tugu ataupun Lempuyangan.

Pada saat mendekati Maguwoharjo, jalur SS kemudian berbelok naik kemudian menyeberangi jalur NIS, sehingga jalur SS berada di selatan jalur NIS. Sementara itu, Stasiun Gawok adalah stasiun berperon pulau. Tahun 1899, SS menambah rel baja ketiga sehingga dapat dilalui dua kereta yang berbeda lebar sepurnya. Pada tahun 1929, SS kemudian membuat jalur kereta api yang terpisah dari jalur NIS, seiring dengan peresmian Eendaagsche Express.[9]

Dikenang pada zaman revolusi[sunting | sunting sumber]

Setelah SS dan NIS dilebur dan dinasionalisasi menjadi Djawatan Kereta Api, timbul upaya pengambilalihan seluruh jalur KA menjadi milik Indonesia. Jalur Kutoarjo-Yogyakarta merupakan jalur bersejarah karena pernah dibom pada zaman Perang Kemerdekaan. Setelah perang usai, jalur dan stasiun kemudian direnovasi. Pada tanggal 3 Januari 1946 kereta api luar biasa (KLB) Presiden Soekarno melewati jalur ini dengan penuh risiko dalam rangka memindahkan ibukota ke Yogyakarta. Perjalanan ini berakhir dengan selamat hingga Stasiun Tugu dan disambut oleh Sri Sultan Hamengkubuwana IX.[10]

Pada dekade 1960-1970-an, Perusahaan Negara Kereta Api mengoperasikan layanan KA lokal yang disebut sebagai sepur bumel dan sepur grenjeng. Layanan bumel rute Kutoarjo-Jenar-Yogyakarta pp ini melayani perhentian yang saat itu masih aktif, seperti Montelan, Jenar, Karangjati, Kedundang, Pakualaman, Wates, Kalimenur, Sentolo, Sedayu, Rewulu, Patukan, dan Yogyakarta. Dengan ditarik lokomotif uap dan tarif sebesar tujuh setengah rupiah sekali jalan, KA ini menjadi primadona bagi para pedagang yang akan menjaja dagangannya di kota.[11] Sementara itu, di lintas Jogja-Solo dioperasikan kereta api Kuda Putih sebagai layanan komuter berbasis KRD pertama di Indonesia. Hingga akhirnya, kedua KA itu tak beroperasi pada 1980-an. Sempat tidak ada KA lokal dan komuter di rute Kutoarjo-Solo hingga pada dekade 1990-an digantikan dengan kereta api Prambanan Ekspres rute Jogja-Solo, kemudian, pada tahun 2007 diperpanjang hingga Kutoarjo.[12]

Penggandaan kembali[sunting | sunting sumber]

Jalur ini secara bertahap ditingkatkan menjadi jalur rel ganda sejak 2001, diawali dengan segmen Stasiun Srowot sampai Stasiun Ketandan, yang segera dilanjutkan menjadi segmen Stasiun Brambanan sampai Stasiun Delanggu. Peresmian segmen awal ini dilakukan oleh Menteri Perhubungan saat itu, Agum Gumelar, pada tanggal 15 Desember 2003, ditandai dengan prasasti yang sekarang diletakkan di Stasiun Brambanan. Selanjutnya, pembangunan dilanjutkan ke barat sampai Stasiun Tugu dan ke timur sampai Stasiun Solo Balapan, dan selesai sepenuhnya tahun 2008. Jalur ganda ini termasuk jalur KA lintas cepat.[13][14]

Diresmikan pada tanggal 21 Januari 2008 oleh Presiden RI saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono, jalur ganda ini menghabiskan dana sebesar Rp900 miliar rupiah dengan pinjaman dana dari Jepang melalui Japan Bank for International Cooperation (JBIC). Hasilnya, ada dua stasiun kereta api yang akhirnya diganti dengan bangunan baru, yaitu Stasiun Patukan dan Stasiun Jenar. Stasiun Patukan memiliki prasasti peresmian jalur ganda.[15]

Jalur terhubung[sunting | sunting sumber]

Lintas aktif[sunting | sunting sumber]

Lintas nonaktif[sunting | sunting sumber]

Layanan kereta api[sunting | sunting sumber]

Penumpang[sunting | sunting sumber]

Kelas eksekutif[sunting | sunting sumber]

Kelas campuran[sunting | sunting sumber]

Kelas bisnis[sunting | sunting sumber]

Kelas ekonomi AC premium[sunting | sunting sumber]

Jayakarta Premium, tujuan Jakarta dan tujuan Surabaya via Purwokerto–Yogyakarta–Madiun–Jombang

Kelas ekonomi AC plus[sunting | sunting sumber]

Kelas ekonomi AC[sunting | sunting sumber]

Lokal/komuter[sunting | sunting sumber]

Barang[sunting | sunting sumber]

Daftar stasiun[sunting | sunting sumber]

Nomor Nama stasiun Singkatan Alamat Letak Ketinggian Status Foto
Lintas 8 KroyaYogyakarta
Segmen KutoarjoYogyakarta
Diresmikan pada tanggal 20 Juli 1887 oleh Staatsspoorwegen Westerlijnen
Termasuk dalam Daerah Operasi V Purwokerto
2040 Kutoarjo KTA Jalan Stasiun Kutoarjo, Semawung Daleman, Kutoarjo, Purworejo km 478+845 lintas BogorBandungBanjarKutoarjoYogyakarta
km 0+000 (lintas cabang ke Purworejo)
+16 m Beroperasi Stasiun Kutoarjo, 2019.jpg
Termasuk dalam Daerah Operasi VI Yogyakarta
3001 Montelan MTL Kertosono, Banyuurip, Purworejo km 484+679 +19 m Tidak beroperasi Stasiun Montelan 2018.jpg
Sendang SEN km 490+599 Tidak beroperasi
3003 Jenar JN Jalan Stasiun Jenar, Bragolan, Purwodadi, Purworejo km 492+443 +18 m Beroperasi Stasiun Jenar 2018.jpg
BH 1947
Jembatan Kali Bogowonto
3004 Karangjati (Purworejo) KAR km 495+323 Tidak beroperasi
3005 Wojo WJ Nasional 3 Jalan Raya Wates-Purworejo, Dadirejo, Bagelen, Purworejo km 500+836 +14 m Beroperasi Stasiun Wojo 2018.jpg
Perbatasan Provinsi Jawa Tengah
Perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta
3006 Kedundang KDG Jalan Kedundang, Kulur, Temon, Kulon Progo km 507+615 +11 m Tidak beroperasi Stasiun Kedundang 2016.jpg
3007 Pakualam PKM km 509+383 Tidak beroperasi
3008 Wates WT Jalan Sepur, Wates, Wates, Kulon Progo km 514+488 +18 m Beroperasi Stasiun Wates 2019.jpg
3009 Kalimenur KLR Sukoreno, Sentolo, Kulon Progo km 520+265 +35 m Tidak beroperasi Stasiun Kalimenur.JPG
3011 Sentolo STL Nasional 3 Jalan Raya Wates-Purworejo, Sentolo, Sentolo, Kulon Progo km 524+633 +54 m Beroperasi Stasiun Sentolo.JPG
BH 2034
Jembatan Mbeling
panjang: 96 m
dibangun pada tahun 1886-1887
diperkuat pada tahun 1930 dan 1957
3012 Sedayu SDY Argosari, Sedayu, Bantul km 530+819 Tidak beroperasi
3013 Rewulu RWL Argomulyo, Sedayu, Bantul km 533+674 +88 m Beroperasi Stasiun Rewulu 2019.jpg
3014 Patukan PTN Ambarketawang, Gamping, Sleman km 538+253 +88 m Beroperasi Stasiun Patukan 2017.jpg
3020 Yogyakarta YK Jalan Margo Utomo 1, Sosromenduran, Gedongtengen, Yogyakarta km 167+051 lintas Semarang Tawang-Brumbung-Gundih-Solo Balapan-Yogyakarta
km 542+494 lintas Bogor-Bandung-Banjar-Kutoarjo-Yogyakarta
km 1+040 lintas Yogyakarta-Magelang Kota-Ambarawa
km 0+067 lintas Yogyakarta-Palbapang
+113 m Beroperasi Stasiun Tugu 2017.jpg
Lintas 14 Semarang TawangSolo BalapanYogyakarta
Segmen YogyakartaKlaten
Diresmikan pada tanggal 10 Juni 1872 oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij[4]
Termasuk dalam Daerah Operasi VI Yogyakarta
3030 Lempuyangan LPN Jalan Lempuyangan, Bausasran, Danurejan, Yogyakarta km 165+774 lintas Semarang Tawang-Brumbung-Gundih-Solo Balapan-Yogyakarta +114 m Beroperasi Stasiun Lempuyangan 2019.jpg
3101 Maguwo MGW Maguwoharjo, Depok, Sleman km 158+975 +118 m Beroperasi Stasiun Maguwo 2019.jpg
3102 Kalasan KLS Tirtomartani, Kalasan, Sleman km 155+578 +126 m Tidak beroperasi Kalasan train station 130812-2839 yk.JPG
Perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta
Perbatasan Provinsi Jawa Tengah
3103 Brambanan BBN Jalan Stasiun Prambanan, Kebon Dalem Kidul, Prambanan, Klaten km 151+072 +146 m Beroperasi Stasiun Brambanan 2016.jpg
3104 Srowot SWT Jalan Stasiun Srowot, Gondangan, Jogonalan, Klaten km 145+227 +152 m Beroperasi Stasiun Srowot 2018.jpg
Segmen KlatenCeper
Diresmikan pada tanggal 9 Juli 1871
3110 Klaten KT Jalan K.H. Samanhudi, Tonggalan, Klaten Tengah, Klaten km 138+493 +151 m Beroperasi Stasiun Klaten 2018.jpg
3111 Ketandan KET Ketandan, Klaten Utara, Klaten km 134+691 +148 m Tidak beroperasi 290520111254.jpg
Segmen CeperSolo Balapan
Diresmikan pada tanggal 27 Maret 1871
3112 Ceper CE Jalan Stasiun Ceper, Klepu, Ceper, Klaten km 129+200 +133 m Beroperasi Stasiun Ceper 2019.jpg
Ngawonggo NGO km 127+900 Tidak beroperasi
3114 Delanggu DL Jalan Stasiun Delanggu, Gatak, Delanggu, Klaten km 122+933 +133 m Beroperasi Stasiun Delanggu 2019.jpg
Tegalgondo TLO km 121+130 Tidak beroperasi
Wonosari (Sukoharjo) WSI km 119+869 Tidak beroperasi
3117 Gawok GW Luwang, Gatak, Sukoharjo km 117+398 +118 m Beroperasi Stasiun Gawok 2019.jpg
Mayang MYG Tidak beroperasi
Pajang PJG km 113+015 Tidak beroperasi
3120 Purwosari PWS Jalan Slamet Riyadi 502, Purwosari, Laweyan, Surakarta km 110+750 lintas Semarang Tawang-Brumbung-Gundih-Solo Balapan-Yogyakarta
km 5+840 lintas Solo Kota-Purwosari-Boyolali
+98 m Beroperasi Stasiun Purwosari 2.jpg
Kelanjutan menuju Solo Balapan
3130 Solo Balapan SLO Jalan Wolter Monginsidi 112, Kestalan, Banjarsari, Surakarta km 262+720 lintas Surabaya Kota-Kertosono-Madiun-Solo Balapan
km 107+914 lintas Semarang Tawang-Brumbung-Gundih-Solo Balapan-Solo Jebres/Yogyakarta
+93 m Beroperasi Stasiun Solo Balapan 2019.jpg

Keterangan:

  • Stasiun yang ditulis tebal merupakan stasiun kelas besar dan kelas I.
  • Stasiun yang ditulis biasa merupakan stasiun kelas II/menengah, III/kecil, dan halte.
  • Stasiun yang ditulis tebal miring merupakan stasiun kelas besar atau kelas I yang nonaktif.
  • Stasiun yang ditulis miring merupakan halte atau stasiun kecil yang nonaktif.

Referensi: [16][7][17]


Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Susanti, D.M. (Januari 2008). Kajian atas Pengelolaan Pengetahuan dalam Pengoperasian Teknologi Persinyalan Kereta Api (Studi Kasus Daop 2 Bandung) (S2). Program Magister Studi Pembangunan, Sekolah Arsitektur, Pengembangan, dan Perencanaan Kebijakan, Institut Teknologi Bandung. 
  2. ^ Mohamad, Ardyan (21 Juni 2013). "Kalahkan Siemens, BUMN Elektronik Raup Pendapatan Rp23 Triliun". Merdeka.com. Diakses tanggal 5 Oktober 2017. Saat ini, masih ada pesanan proyek dari Kemenhub untuk menggarap persinyalan kereta di jalur Jogja-Solo, Duri-Tangerang, dan Parung-Maja. 
  3. ^ "Len Tandatangani Dua Kontrak dengan Nilai Total Rp 464 Milyar | PT Len Industri (Persero)" (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-02-12. 
  4. ^ a b Archiv Für Eisenbahnwesen. 48. 1925. 
  5. ^ Gunawan, Riyadi; Harmoko, Darto (1993). Sejarah Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta: Mobilitas Sosial DI Yogyakarta. Jakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaan, Depdikbud RI. hlm. 21. 
  6. ^ Perquin, B.L.M.C. (1921). Nederlandsch Indische staatsspooren tramwegen. Bureau Industria. 
  7. ^ a b Staatsspoorwegen (1921–1932). Verslag der Staatsspoor-en-Tramwegen in Nederlandsch-Indië 1921-1932. Batavia: Burgerlijke Openbare Werken. 
  8. ^ Media, Kompas Cyber. "Disorientasi Ruang Yogyakarta akibat Patahnya Simbol Halaman all". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2019-08-25. 
  9. ^ Ballegoijen de Jong, Michiel van, 1941-. Spoorwegstations op Java. Amsterdam. ISBN 9067073180. OCLC 905471690. 
  10. ^ Soviana, N. (2015). "KLB Presiden 3 Januari 1946: Sebuah Sejarah Penting yang Terlupakan". Majalah KA. 96: 28–29. 
  11. ^ Media, Kompas Cyber. "Mari Menelusuri Kejayaan Kereta Masa Silam". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2019-08-25. 
  12. ^ "KRD MCDW 300". Heritage Kereta Api Indonesia. Diakses tanggal 2019-08-25. 
  13. ^ "Jalur Ganda Tunjang Kelancaran Lintas KA". Suara Merdeka. 
  14. ^ "Uji Coba Rel Ganda Yogya-Solo Bikin Bikers Senewen". detiknews. Diakses tanggal 2019-08-25. 
  15. ^ <asep.muhamad[at]torche.co.id>, Asep Muhamad. "PRESIDEN RESMIKAN REL GANDA KUTOARJO-YOGYAKARTA". dephub.go.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-02-21. 
  16. ^ Subdit Jalan Rel dan Jembatan (2004). Buku Jarak Antarstasiun dan Perhentian. Bandung: PT Kereta Api (Persero). 
  17. ^ Arsip milik alm. Totok Purwo mengenai Nama, Kode, dan Singkatan Stasiun Kereta Api Indonesia