Jalandara
| जलन्धर | |
|---|---|
| Tokoh dalam mitologi Hindu | |
| Nama | Jalandara |
| Ejaan Dewanagari | जलन्धर |
| Ejaan IAST | Jalandhara |
| Arti nama | Yang membendung perairan |
| Nama lain | Calantara |
| Kitab referensi | Purana |
| Golongan | asura |
| Senjata | trisula |
| Ayah | Siwa (pencipta) Baruna (ayah asuh) |
| Istri | Wrinda |
Jalandhara (Dewanagari: जलन्धर; IAST: Jalandhara), juga dikenal sebagai Calantarana (Dewanagari: चलन्तरण; IAST: Calantarana) adalah nama seorang asura dalam mitologi Hindu. Dia terlahir ketika Dewa Siwa membuka mata ketiganya dalam kondisi marah setelah Indra mengancam sang dewa dengan bajra. Meskipun Indra lolos dari kemarahan Siwa, energi yang keluar dari mata ketiganya akhirnya diarahkan ke samudra. Energi tersebut kemudian tumbuh berkembang menjadi anak laki-laki dan diasuh oleh Dewa Baruna, lalu setelah beranjak remaja dia diasuh oleh Sukra. Ketika dewasa, dia menaklukkan tiga dunia: Swarga (kahyangan), Bumi, dan Patala (dunia bawah). Dia menikahi Wrinda, putri asura Kalanemi. Pada akhirnya, Jalandara dibunuh oleh Siwa, penciptanya sendiri.
Kelahiran
[sunting | sunting sumber]Dikisahkan bahwa di suatu kuil Siwa, saat Indra dan Wrehaspati akan berangkat menuju Gunung Kailasa untuk menemui Dewa Siwa, mereka dihadang oleh seorang yogi tanpa busana tapi berwajah cerah. Yogi itu sesungguhnya Siwa yang sedang berubah wujud untuk menguji Indra dan Wrehaspati. Indra—yang tidak menyadari kenyataan—menghardik sang yogi agar memberinya jalan. Setelah sang yogi menolak, Indra mengancam bahwa ia akan mengeluarkan senjata bajra miliknya untuk membuka jalan. Namun sang yogi menghentikan gerakan Indra dan menunjukkan dirinya sebagai Siwa. Dia marah atas tindakan Indra, sehingga mata ketiganya—yang dapat menghanguskan apa saja, bahkan dewa sekalipun—terbuka dan bersiap untuk membinasakan Indra. Akhirnya Wrehaspati memohon agar Siwa mengampuni Indra. Hati Siwa pun luluh, lalu dia mengarahkan energi kemarahannya—yang muncul dari mata ketiga—ke samudra. Di tengah samudra, energi tersebut berubah bentuk menjadi anak laki-laki. Tangisannya menggelegar sampai Dewa Brahma turun dari kahyangannya untuk memeriksa. Dewa samudra mengaku bahwa dia tidak tahu apa pun tentang asal-usul anak laki-laki tersebut. Dengan kekuatannya, Brahma meramalkan bahwa si anak kelak menjadi pemimpin para asura dan hanya bisa dibunuh oleh Siwa. Setelah kematiannya, dia akan kembali ke mata ketiga Siwa, tempatnya berasal.[1]
Perang melawan dewa
[sunting | sunting sumber]Dewa Baruna (penguasa perairan) menamai anak laki-laki yang keluar dari mata ketiga Siwa dengan nama "Jalandara", dan mengasuhnya sebagaimana anak sendiri.[2] Jalandara tumbuh menjadi pria yang tampan dan diangkat menjadi pemimpin para asura oleh Sukra, guru mereka. Dia menikahi Wrinda, putri asura Kalanemi. Jalandara memerintah dengan adil dan mulia. Suatu hari, Sukra datang menemui Jalandara. Dia menceritakan kisah Hiranyakasipu dan Wirocana. Dia juga menceritakan bagaimana Wisnu memenggal kepala Rahu saat peristiwa Samudramantana (pengadukan Lautan Susu). Jalandara pun percaya bahwa para dewa telah mengambil harta karun ayah asuhnya, Baruna, secara licik. Dia mengirim salah satu utusannya kepada Indra untuk meminta kembali harta karun ayah asuhnya. Namun, Indra menolak.
Pertempuran sengit pun terjadi antara para dewa dan para asura. Banyak prajurit terbunuh di kedua belah pihak. Sukra menghidupkan kembali para asura dengan menggunakan mantra amertasanjiwani, sementara Wrehaspati menghidupkan kembali para dewa yang telah gugur dengan menggunakan ramuan obat dari gunung Drona. Sukra menyarankan Jalandhara untuk mencabut gunung itu sehingga Wrehaspati tidak dapat menggunakan ramuan obat untuk menghidupkan kembali para dewa. Jalandara menurutinya dan melemparkan gunung Drona ke laut. Karena putus asa, para dewa meminta bantuan Wisnu. Pertempuran sengit terjadi antara Jalandara dan Wisnu, yang menunggangi Garuda dan menghunus pedang sucinya, Nandaka. Wisnu terkesan dengan keberanian Jalandara dan memberinya kesempatan untuk meminta anugerah. Jalandara pun meminta agar Wisnu tinggal di kota kediaman Jalandara, dengan membawa serta para pengikut termasuk istrinya, Laksmi. Tanpa bantuan Wisnu, para dewa dikalahkan oleh para asura, dan Jalandara menjadi penguasa tiga dunia (surga, bumi, dan dunia bawah).[3] Dia menyita semua harta yang ditimbun oleh para dewa dan gandarwa yang diperoleh dari Samudramantana, dan memerintah dengan berbudi luhur, tanpa ada seorang pun di kerajaannya yang sakit atau kurus.[4]
Konflik dengan Siwa
[sunting | sunting sumber]Narada, sang resi suci—setelah berkonsultasi dengan para dewa—pergi menemui Jalandara. Narada menggambarkan keindahan Kailasa, tempat tinggal Siwa. Narada pun bertanya-tanya apakah ada tempat lain yang menyamai keindahan tempat tersebut. Sebagai tanggapan, Jalandara memamerkan kekayaannya kepada Narada, tapi sang resi malah berkomentar bahwa Jalandara tidak memiliki wanita tercantik sedunia sebagai istri. Narada kemudian bercerita lagi tentang kediaman Siwa dan tentang kecantikan Parwati.[1]
Jalandara mengirim Rahu sebagai utusan ke hadapan Siwa. Jalandara menuduh Siwa munafik, dengan alasan bahwa Siwa mengaku sebagai seorang pertapa tetapi memiliki seorang istri, Parwati. Jalandara mengusulkan agar Siwa menyerahkan Parwati kepadanya:
Bagaimana mungkin engkau bisa hidup dari sedekah tapi tetap memiliki Parwati yang cantik? Berikanlah dia kepadaku, dan berkelanalah dari rumah ke rumah dengan mangkuk sedekahmu. Engau telah mengingkari sumpahmu. Engkau seorang yogi, apa perlunya istri yang menawan? Engkau tinggal di hutan yang dijaga oleh siluman dan hantu; sebagai seorang yogi tanpa busana, engkau seharusnya memberikan istrimu kepada seseorang yang akan lebih menghargainya daripada dirimu.[5]
Mendengar penghinaan tersebut, Siwa menjadi sangat marah sehingga makhluk menakutkan (kirtimuka) muncul dari dahinya dan hampir membunuh Rahu, utusan yang menyampaikan tuntutan tersebut. Setelah perang ditentukan, mula-mula Jalandara dan pasukannya bergerak menuju Kailasa, tetapi Siwa telah pergi dan berdiam di sebuah gunung dekat Danau Manasa. Jalandara pun mengepung gunung itu dengan pasukannya. Nandini (lembu kesayangan Siwa) bergerak melawan mereka, tapi pasukan para dewa menderita banyak kerugian. Parwati kemudian mendesak Siwa untuk terjun ke rana. Sebelum berangkat, Siwa memperingatkan Parwati untuk berjaga-jaga selama ketidakhadirannya, karena ada kemungkinan para asura yang menyamar akan mengunjunginya.

Dengan ditemani oleh Wirabadra dan Manibadra—dua manifestasi kemarahannya—Siwa pergi ke medan perang. Kartikeya dan Ganesa ikut membantu Siwa, tetapi dikalahkan. Melihat Siwa dan anak buahnya mendominasi medan perang, Jalandara menciptakan ilusi. Hal ini mengalihkan perhatian pasukan Siwa, tetapi tidak untuk Siwa. Sementara itu, Jalandara menyamar sebagai Siwa dan pergi menemui Parwati untuk menipunya.[6] Namun Parwati mengenali penyamarannya dan melarikan diri. Sang dewi berdoa kepada Dewa Wisnu. Ketika Wisnu muncul, ia memohon agar sang dewa menipu Wrinda (istri Jalandara), sebagai pembalasan terhadap Jalandara yang telah mencoba menipunya.[1][2]
Wisnu membuat Wrinda bermimpi bahwa Jalandara telah dibunuh oleh Siwa. Dengan menyamar sebagai seorang pertapa, ia menciptakan ilusi bahwa Jalandara dihidupkan kembali olehnya. Senang melihat suaminya hidup kembali, Wrinda bercengkerama dengannya selama berhari-hari di hutan. Namun pada akhirnya Wrinda mengenali bahwa itu adalah Wisnu yang menyamar, dan mengutuk agar seseorang kelak menipu istri Wisnu (Laksmi). Dia juga mengutuk agar Wisnu kelak berkeliaran dalam kesusahan bersama Sesa, dan akan mencari bantuan dari para monyet. Setelah berkata demikian, dia melakukan bakar diri. Setelah kematian, jiwanya bersatu dengan Parwati.[7] Kutukan Wrinda menjadi kenyataan sebagai kisah Ramayana. Dalam kisah tersebut, Wisnu menitis sebagai Rama, Laksmi sebagai Sinta, dan Sesa sebagai Laksmana. Sinta diculik karena ditipu Rahwana, lalu Rama mengembara bersama Laksamana untuk menemukannya, dengan dibantu para wanara (monyet).
Kematian
[sunting | sunting sumber]Setelah mendengar kematian istrinya dan tipu daya para dewa, Jalandara menjadi murka dan meninggalkan Gunung Kailasa. Dia pun mengakhiri penyamarannya sebagai Siwa dan kembali ke medan perang. Di rana, Siwa bertempur melawan raksasa Sumbha dan Nisumbha, tetapi mereka segera melarikan diri. Mereka kemudian dibunuh oleh Parwati.
Jalandara kemudian bertempur melawan Siwa. Menjelang akhir pertempuran—ketika sebagian besar pasukan Jalandara telah dibantai—Siwa memenggalnya dengan senjata cakram yang tercipta dari jempol kakinya. Setelah kematian, jiwanya menyatu dengan Siwa, seperti halnya jiwa Wrinda yang menyatu dengan Parwati.[1][8]
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]- 1 2 3 4 Stella Kramrisch (1992). The Presence of Siva. Princeton University Press. hlm. 388, 389, 391. ISBN 978-0-691-01930-7.
- 1 2 "Hindu Mythology, Vedic and Puranic: Part III. The Inferior Deities: Chapter VI. The Asuras".
- ↑ "Shiva Purana".
- ↑ www.wisdomlib.org (2018-10-16). "The fight between Viṣṇu and Jalandhara [Chapter 17]". www.wisdomlib.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-07-16.
- ↑ Wendy Doniger O'Flaherty, "Asceticism and Sexuality in the Mythology of Siva, Part II." History of Religions, Vol. 9, No. 1. (Aug., 1969), pp. 1–41.
- ↑ www.wisdomlib.org (2018-10-16). "Description of Jalandhara's Battle [Chapter 22]". www.wisdomlib.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-07-16.
- ↑ www.wisdomlib.org (2018-10-16). "Outraging the modesty of Vṛndā [Chapter 23]". www.wisdomlib.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-07-16.
- ↑ www.wisdomlib.org (2018-10-16). "Jalandhara is slain [Chapter 24]". www.wisdomlib.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-07-16.