Hamengkubuwana I: Perbedaan revisi

Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
25 bita dihapus ,  5 tahun yang lalu
k
clean up, replaced: beliau → ia using AWB
k (clean up, replaced: beliau → ia using AWB)
== Geneologis Hamengku Buwana I ==
 
Hamengku Buwana I secara geneologis adalah keturunan Brawijaya V baik dari ayahandanya Amangkurat IV maupun dari ibundanya Mas Ayu Tejawati. Dari garis ayahandanya silsilah ke atas yang menyambung sampai Brawijaya V secara umum sudah pada diketahui namun dari pihak ibundanya masih sedikit yang mengungkapkannya. Dari Brawijaya V seorang dari puteranya bernama Jaka Dhalak yang kemudian menurunkan Wasisrowo atau Pangeran Panggung. Pangeran Panggung selanjutnya berputera Pangeran Alas yang memiliki anak bernama Tumenggung Perampilan. Tumenggung Perampilan mengabdikan diri di pajang pada Sultan Hadiwijaya dan beliauia berputera Kyai Cibkakak di Kepundung jawa Tengah. Selanjutnya Kyai Cibkakak ini menurunkan putra bernama Kyai Resoyuda. dari Resoyuda ini menurunkan putra bernama Ngabehi Hondoroko yang selanjutnya punya anak putri bernama Mas Ayu Tejawati, ibunda Hamengku Buwana I.
 
== [[Perang Tahta Jawa Ketiga]] ==
Perang antara Mangkubumi melawan [[Pakubuwana II]] yang didukung [[VOC]] disebut para sejarawan sebagai Perang Suksesi Jawa III. Pada tahun [[1747]] diperkirakan kekuatan Mangkubumi mencapai 13.000 orang prajurit.
 
Pertempuran demi pertempuran dimenangkan oleh Mangkubumi, misalnya pertempuran di [[Demak]] dan [[Grobogan]]. Pada akhir tahun [[1749]], [[Pakubuwana II]] sakit parah dan merasa kematiannya sudah dekat. Ia pun menyerahkan kedaulatan negara secara penuh kepada [[VOC]] sebagai pelindung [[Surakarta]] tanggal [[11]] [[Desember]].
 
Sementara itu Mangkubumi telah mengangkat diri sebagai raja bergelar [[Pakubuwana III]] tanggal [[12]] [[Desember]] di markasnya, sedangkan [[VOC]] mengangkat putra [[Pakubuwana II]] sebagai [[Pakubuwana III]] tanggal [[15]]. Dengan demikian terdapat dua orang [[Pakubuwana III]]. Yang satu disebut '''Susuhunan Surakarta''', sedangkan Mangkubumi disebut '''Susuhunan Kebanaran''', karena bermarkas di desa Kebanaran di daerah [[Mataram]].
== Berbagi Wilayah Kekuasaan ==
 
Pada tahun [[1752]] Mangkubumi dengan [[Raden Mas Said]] terjadi perselisihan.Perselisihan ini berfokus pada keunggulan supremasi Tunggal atas Mataram yang tidak terbagi.Dalam jajak pendapat dan pemungutan suara dukungan kepada [[Raden Mas Said]] oleh kalangan elite Jawa dan tokoh tokoh Mataram mencapai suara yang bulat mengalahkan dukungan dan pilihan kepada Mangkubumi.Dalam dukungan elite Jawa menemui fakta kalah dengan [[Raden Mas Said]] maka Mangkubumi menggunakan kekuatan bersenjata untuk mengalahkan [[Raden Mas Said]] tetapi Mangkubumi menemui kegagalan.[[Raden Mas Said]] kuat dalam dukungan-pilihan oleh elite Jawa dan juga kuat dalam kekuatan bersenjata.Mangkubumi bahkan menerima kekalahan yang sangat telak dari menantunya yaitu [[Raden Mas Said]].Akibat kekalahan yang telak Mangkubumi kemudian menemui [[VOC]] menawarkan untuk bergabung dan bertiga dengan [[Paku Buwono III]] sepakat menghadapi [[Raden Mas Said]].
 
Tawaran Mangkubumi untuk bergabung mengalahkan [[Raden Mas Said]] akhirnya diterima [[VOC]] tahun [[1754]]. Pihak [[VOC]] diwakili Nicolaas Hartingh, yang menjabat gubernur wilayah pesisir utara [[Jawa]]. Sebagai perantara adalah Syaikh Ibrahim, seorang [[Turki]]. Perudingan-perundingan dengan Mangkubumi mencapai kesepakatan, Mangkubumi bertemu Hartingh secara langsung pada bulan [[September]] [[1754]].
 
Perundingan dengan Hartingh mencapai kesepakatan. Mangkubumi mendapatkan setengah wilayah kerajaan [[Pakubuwana III]], sedangkan ia merelakan daerah pesisir disewa [[VOC]] seharga 20.000 real dengan kesepakatan 20.000 real dibagi dua;10.000 real untuk dirinya [[Mangkubumi]] dan 10.000 real untuk [[Pakubuwono III]].
 
Akhirnya pada tanggal [[13]] [[Februari]] [[1755]] dilakukan penandatanganan naskah [[Perjanjian Giyanti]] yang mengakui Mangkubumi sebagai Sultan Hamengkubuwana I. Wilayah kerajaan yang dipimpin [[Pakubuwana III]] dibelah menjadi dua. Hamengkubuwana I mendapat setengah bagian.Perjanjian Giyanti ini juga merupakan perjanjian persekutuan baru antara pemberontak kelompok Mangkubumi bergabung dengan [[Pakubuwono III]] dan [[VOC]] menjadi persekutuan untuk melenyapkan pemberontak kelompok [[Raden Mas Said]].
Hamengkubuwana I meninggal dunia tanggal [[24 Maret]] [[1792]]. Kedudukannya sebagai raja [[Yogyakarta]] digantikan putranya yang bergelar [[Hamengkubuwana II]].
 
Hamengkubuwana I adalah peletak dasar-dasar [[Kesultanan Yogyakarta]]. Ia dianggap sebagai raja terbesar dari keluarga [[Mataram]] sejak [[Sultan Agung]]. [[Yogyakarta]] memang negeri baru namun kebesarannya waktu itu telah berhasil mengungguli [[Surakarta]]. Angkatan perangnya bahkan lebih besar daripada jumlah tentara [[VOC]] di [[Jawa]].
 
Hamengkubuwana I tidak hanya seorang raja bijaksana yang ahli dalam strategi berperang, namun juga seorang pecinta keindahan. Karya arsitektur pada jamannya yang monumental adalah [[Taman Sari]] [[Keraton Yogyakarta]].[[Taman Sari]] di rancang oleh orang berkebangsaan Portugis yang terdampar di laut selatan dan menjadi ahli bangunan Kasultanan dengan nama Jawa [[Demang Tegis]].
{{kotak mulai}}
{{s-reg}}
{{kotak suksesi|jabatan = [[Raja Kesultanan Yogyakarta]]|pendahulu = [[Amangkurat_IV|Amangkurat IV]]|pengganti = [[Hamengkubuwono II]]|tahun = 1755-1792}}
{{kotak selesai}}
 
 
{{DEFAULTSORT:Hamengkubuwono I, Sultan}}
 
[[Kategori:Meninggal usia 74]]
[[Kategori:Tokoh dari Sukoharjo]]

Menu navigasi