Lompat ke isi

Filsafat sosial: Perbedaan antara revisi

12 bita ditambahkan ,  11 bulan yang lalu
Menambah pranala
Tidak ada ringkasan suntingan
(Menambah pranala)
 
'''Filsafat sosial''' merupakan kajian dari filsafat yang mempelajari persoalan-persoalan perilaku sosial kemasyarakatan secara kritis, radikal dan lebih komprehensif.<ref>{{Cite book|last=Rahman|first=M. Taufiq|date=September 2018|url=http://digilib.uinsgd.ac.id/14484/1/Filsafat%20sosial%20full_pages_deleted.pdf|title=Pengantar Filsafat Sosial|location=Bandung|publisher=LEKKAS|isbn=978-602-51298-8-9|pages=6|url-status=live}}</ref> Sejak Plato dan Aristoteles, kajian terhadap persoalan-persoalan kemasyarakatan sudah menjadi objek penelitian tersendiri. Menurut [[Plato]] dan [[Aristoteles]], susunan masyarakat mencerminkan susunan kosmos yang abadi, manusia berkewajiban untuk menyesuaikan diri dengan susunan itu dan mentaati demi keselamatannya, kalau tidak, ia menghancurkan dirinya.
 
Tampilnya [[Auguste Comte]] dengan bukunya ‘Sistem Filsafat Positif’ telah memberikan warna tersendiri terhadap kajian kemasyarakatan secara kritis, sistematis dan intensif secara modern pada abad ke 19. Sejak kemunculannya hingga saat ini sosiologi masih dibayang-bayangi oleh pengaruh filsafat dan psikologi, hal semacam itu wajar karena kelahiran sosiologi ditengah persaingan pengaruh antara filsafat dan psikologi.<ref name="george">George Ritzer, D. J. (2003). Sociological Theory. McGraw-Hill.</ref>
 
Harus diakui kajian terhadap persoalan kemasyarakatan bukan sesuatu yang baru, karena menunggu adanya ilmu-ilmu lain yang kemudian menyatu ke dalam suatu keseluruhan yang integral sebagai ilmu tersendiri (K.J. Veeger, hlm:3). Maka ilmu sosial terus berkembang merambah ke seluruh Eropa, dan filsuf-filsuf sosial dan mazhab sosial terus bermunculan di mana-mana, salah satu yang paling terkenal adalah mazhab Frankfurt. Mazhab ini menunjukkan pada sekelompok sarjana yang bekerja pada lembaga untuk penelitian sosial di Frankfurt. Lembaga ini didirikan oleh Felix Weil pada tahun 1923, dan mengalami puncak keemasan ketika Max Horkheimer menjadi direktur pada tahun 1930 M. Horkheimer merupakan tokoh kiri yang mengkritik teori tradisional untuk menganalisis fungsi ilmu pengetahuan dan filsafat dalam masyarakat.<ref name="sunarto">Sunarto, (2006). ‘Konstruksi epistemologi Max Horkheimer: Kritik atas masyarakat modern’, dalam. Epistemologi kiri, Yogyakarta: Ar-Ruzz</ref>
227

suntingan