Manumanasa: Perbedaan revisi

Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
2 bita ditambahkan ,  12 tahun yang lalu
k
tidak ada ringkasan suntingan
(menambhakan sub judul akhir hayat)
k
 
== Asal-usul ==
 
Manumanasa adalah putra [[Prabu]] [[Parikenan]] raja Kerajaan Gilingwesi dan Dewi Brahmaneki putri Kerajaan Wirata. Ia memiliki seorang kakak perempuan bernama Kaniraras, dan dua orang adik laki-laki bernama Manonbawa dan Paridarma.
 
Nama asli Manumanasa sewaktu lahir adalah Raden Kanwa. Ia kemudian diadopsi oleh [[Prabu]] [[Basupati]], kakak ibunya yang menjadi raja [[Kerajaan Wirata|Wirata]]. Ia dipersaudarakan dengan [[Basumurti]] dan [[Basukesti]], putra-putra Basupati. Kanwa pernah dijadikan jago para [[dewa]] untuk menumpas musuh [[kahyangan]]. Sejak itu namanya diganti manjadi Kaniyasa. Setelah ayahnya terbunuh oleh serangan Prabu Srikala raja Medangkamulan, ibu dan adik-adiknya pindah pula ke Negeri Wirata, sementara kakaknya, yaitu Kaniraras telah menikah dengan seorang pembuat pusaka bernama Empu Kanomayasa.
 
Kanwa pernah dijadikan jago para [[dewa]] untuk menumpas musuh [[kahyangan]]. Sejak itu namanya diganti manjadi Kaniyasa. Setelah ayahnya terbunuh oleh serangan Prabu Srikala raja Medangkamulan, ibu dan adik-adiknya pindah pula ke Negeri Wirata, sementara kakaknya, yaitu Kaniraras telah menikah dengan seorang pembuat pusaka bernama Empu Kanomayasa.
 
== Menjadi pendeta ==
Rupanya Kaniyasa tidak tertarik dengan kehidupan istana. Ia memilih membangun pertapaan di daerah Saptaarga, yaitu sebuah pegunungan yang memiliki tujuh buah puncak. Di sana ia menjadi pendeta bergelar Resi Manumanasa.
 
Rupanya Kaniyasa tidak tertarik dengan kehidupan istana. Ia memilih membangun pertapaan di daerah Saptaarga, yaitu sebuah pegunungan yang memiliki tujuh buah puncak. Di sana ia menjadi pendeta bergelar Resi Manumanasa. Pada suatu hari Manumanasa bertemu seseorang bertubuh bulat bernama [[Semar|Janggan Smarasanta]] yang sedang dikejar-kejar oleh dua ekor harimau betina, berwarna merah dan putih. Manumansa kemudian memanah kedua binatang tersebut sehingga musnah dan berubah wujud menjadi dua orang [[bidadari]].
 
Keduanya mengaku sebagai putri Batara Hira, masing-masing bernama Kanistri dan Kaniraras. Mereka berterima kasih telah dibebaskan dari kutukan. Keduanya pun siap melayani keperluan Manumanasa. Manumanasa mengambil Kaniraras sebagai istri. Karena kakaknya juga bernama Kaniraras, maka Manumanasa pun mengganti nama istrinya menjadi Retnawati. Sementara itu Kanistri diserahkan kepada Smarasanta dan biasa dipanggil Kanastren. Sejak saat itu, Smarasanta mengabdi di Pertapaan Saptaarga. Namanya biasa disingkat [[Semar]].
 
== Kelahiran putra ==
Sejak saat itu Smarasanta mengabdi di Pertapaan Saptaarga. Namanya biasa disingkat [[Semar]].
 
== Kelahiran putra ==
Retnawati akhirnya mengandung putra Manumanasa. Ia mengidam makan buah Sumarwana. Manumansa berhasil menemukan pohon Sumarwana namun dijaga oleh seorang makhluk [[Gandharwa]] bernama Satrutapa. Satrutapa bersedia menyerahkan buah Sumarwana asalkan ia diizinkan menitis kepada putra yang dikandung Retnawati. Manumanasa setuju. Satrutapa pun melesat memasuki kandungan Retnawati.
 
 
== Keluarga dan musuh ==
Sebagaimana disebutkan di atas, Resi Manumanasa menikah dengan Batari Kaniraras, yang namanya diganti menjadi Retnawati. Dari perkawinan itu lahir tiga orang putra bernama Satrukem, Sriati, dan Manumadewa.
 
Sebagaimana disebutkan di atas, Resi Manumanasa menikah dengan Batari Kaniraras, yang namanya diganti menjadi Retnawati. Dari perkawinan itu lahir tiga orang putra bernama Satrukem, Sriati, dan Manumadewa. Manumanasa memiliki kakak ipar sekaligus pembantunya, bernama [[Semar]]. Ia juga memiliki cantrik atau murid berwujud kera putih bernama Supalawa. Supalawa ini terkenal sakti dan sering menumpas para raksasa yang mencoba mengganggu pertapaan.
 
Musuh besar Manumanasa bernama Resi Dwapara. Ia seorang pendeta yang berhati licik, penuh iri dan dengki. Antara lain, Dwapara pernah mengadu domba Manumanasa dengan Partawijaya, mertua cucunya, [[Sakri]]. Dalam sebuah adu kesaktian akhirnya Dwapara berhasil ditewaskan oleh Supalawa.
 
== Akhir hayat ==
Manumanasa merupakan seorang resi suci yang berhasil mencapai [[moksa]]. Ia sempat terlebih dahulu mewariskan [[Pertapaan Saptaarga]] kepada [[Satrukem]], putra sulungnya.
 
Ketika Manumanasa hendak naik ke [[kahyangan]], ia dihalangi [[Semar]] yang mengaku kesepian jika berpisah dengannya. Padahal saat itu Semar sudah didampingi dua orang anak angkat bernama [[Gareng]] dan [[Petruk]].
 
Manumanasa merupakan seorang resi suci yang berhasil mencapai [[moksa]]. Ia sempat terlebih dahulu mewariskan [[Pertapaan Saptaarga]] kepada [[Satrukem]], putra sulungnya. Ketika Manumanasa hendak naik ke [[kahyangan]], ia dihalangi [[Semar]] yang mengaku kesepian jika berpisah dengannya. Padahal saat itu Semar sudah didampingi dua orang anak angkat bernama [[Gareng]] dan [[Petruk]]. Manumanasa pun menjawab bahwa Semar tidak akan kesepian karena bayangannya akan selalu menyertainya. Seketika itu pula bayangan Semar tercipta menjadi seorang laki-laki bertubuh bulat yang mirip dengannya. Manumanasa memberinya nama [[Bagong]].
 
Versi lain menyebut Bagong diciptakan dari bayangan Semar oleh [[SanghyangSang Hyang Tunggal]].
 
== Lihat pula ==
* [[Wasista]], leluhur Wyasa versi ''Mahabharata''.
 
[[Kategori:MahabharataTokoh Wayang]]
22.593

suntingan

Menu navigasi