Lompat ke isi

Sejarah pemikiran evolusi: Perbedaan antara revisi

k
{{Main|Thomas Aquinas}}
 
Manakala para teolog Kristen menganggap bahwa dunia alam adalah bagian dari hierarki yang terancang dan tidak berubah, beberapa teolog berspekulasi bahwa dunia berkembang melalui proses alam. Thomas Aquinas bahkan lebih jauh lagi daripada AgustinussAgustinus dari Hippo dalam berargumen bahwa teks-teks kitab suci seperti Kitab Kejadian seharusnya tidak boleh ditafsirkan secara harfiah sehingga bertentangan dan mengukung para filsuf alam dalam mempelajari cara kerja alam. Ia memandang bahwa otonomi alam merupakan tanda kebaikan Allah dan tidak mendeteksi adanya konflik antara alam semesta yang merupakan ciptaan ilahi dengan gagasan bahwa alam semesta berkembang seiring waktu melalui mekanisme-mekanisme alam.<ref>{{cite journal |last=Carroll |first=William E. |year=2000 |title= Creation, Evolution, and Thomas Aquinas |url=http://www.catholiceducation.org/en/science/faith-and-science/creation-evolution-and-thomas-aquinas.html |journal=[[Revue des Questions Scientifiques]] |volume=171 |issue=4 |accessdate=2014-10-28}}</ref> Walau demikian, Aquinas menentang pandangan filsuf lain (seperti filsuf Yunani Kuno Empedokles) yang memandang bahwa proses-proses alam yang ada menunjukkan bahwa alam semesta dapat berkembang tanpa adanya tujuan. Sebaliknya, Aquinas memandang bahwa: "Sebab itu, adalah jelas bahwa alam tiada lain adalah sejenis seni, yakni seni ilahi, yang terpatri dalam segala hal, yang darinya segala sesuatunya digerakkan untuk tujuan akhir tertentu. Hal ini seumpamanya pembuat kapal mampu memberikan kayu seni tersebut dan darinya kayu-kayu bergerak dengan sendirinya membentuk sebuah kapal."<ref>{{harvnb|Aquinas|1963|loc=[http://dhspriory.org/thomas/Physics2.htm#14 Book II, Lecture 14]}}</ref>
 
== Renaissance dan Abad Pencerahan ==