Negara Indonesia Timur: Perbedaan antara revisi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Konten dihapus Konten ditambahkan
HsfBot (bicara | kontrib)
k Bot: Perubahan kosmetika
Bali adalah Nusa Tenggara
Baris 36: Baris 36:
}}
}}
[[Berkas:Flag of the State of East Indonesia.svg|jmpl|Bendera Negara Indonesia Timur]]
[[Berkas:Flag of the State of East Indonesia.svg|jmpl|Bendera Negara Indonesia Timur]]
'''Negara Indonesia Timur''' adalah negara bagian [[RIS]] yang meliputi wilayah [[Sulawesi]], [[Sunda Kecil]] (Bali dan Nusa Tenggara) dan [[Kepulauan Maluku]], ibukotanya [[Makassar]]. Negara ini dibentuk setelah dilaksanakan [[Konferensi Malino]] pada tanggal 16-22 Juli 1946 dan [[Konferensi Denpasar]] dari tanggal 7-24 Desember 1946 yang bertujuan untuk membahas gagasan berdirinya negara bagian tersendiri di wilayah Indonesia bagian timur oleh Belanda. Pada akhir Konferensi Denpasar 24 Desember 1946, negara baru ini dinamakan '''Negara Timur Raya''', namun kemudian diganti menjadi '''Negara Indonesia Timur''' pada tanggal 27 Desember 1946.<ref>[http://books.google.co.id/books?id=J0D5OQrqAkQC&lpg=PA35&dq=borneo%20selatan&pg=PA37#v=onepage&q=borneo%20selatan&f=true Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia, Jurnal sejarah: pemikiran, rekonstruksi, persepsi, Yayasan Obor Indonesia, ISSN 1858-2117] {{id}}</ref>
'''Negara Indonesia Timur''' adalah negara bagian [[RIS]] yang meliputi wilayah [[Sulawesi]], [[Sunda Kecil]] (Nusa Tenggara) dan [[Kepulauan Maluku]], ibukotanya [[Makassar]]. Negara ini dibentuk setelah dilaksanakan [[Konferensi Malino]] pada tanggal 16-22 Juli 1946 dan [[Konferensi Denpasar]] dari tanggal 7-24 Desember 1946 yang bertujuan untuk membahas gagasan berdirinya negara bagian tersendiri di wilayah Indonesia bagian timur oleh Belanda. Pada akhir Konferensi Denpasar 24 Desember 1946, negara baru ini dinamakan '''Negara Timur Raya''', namun kemudian diganti menjadi '''Negara Indonesia Timur''' pada tanggal 27 Desember 1946.<ref>[http://books.google.co.id/books?id=J0D5OQrqAkQC&lpg=PA35&dq=borneo%20selatan&pg=PA37#v=onepage&q=borneo%20selatan&f=true Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia, Jurnal sejarah: pemikiran, rekonstruksi, persepsi, Yayasan Obor Indonesia, ISSN 1858-2117] {{id}}</ref>


Negara Indonesia Timur terbagi menjadi 13 daerah otonomi:
Negara Indonesia Timur terbagi menjadi 13 daerah otonomi:

Revisi per 11 November 2018 04.18

Negara Indonesia Timur
Negara bagian RIS
1946–1950
Flag of East Indonesia
Panji daerah

Wilayah N.I.T ditunjukkan pada warna emas
Ibu kotaMakassar
Luas 
• 1946
349.088 km2 (134.784 sq mi)
Populasi 
• 1946
10290000
Sejarah
 • JenisNegara bagian
Era sejarahPerang Dingin
• Didirikan
24 Desember 1946
• Dibubarkan
17 Agustus 1950
Didahului oleh
Digantikan oleh
Hindia Belanda
Indonesia
Bendera Negara Indonesia Timur

Negara Indonesia Timur adalah negara bagian RIS yang meliputi wilayah Sulawesi, Sunda Kecil (Nusa Tenggara) dan Kepulauan Maluku, ibukotanya Makassar. Negara ini dibentuk setelah dilaksanakan Konferensi Malino pada tanggal 16-22 Juli 1946 dan Konferensi Denpasar dari tanggal 7-24 Desember 1946 yang bertujuan untuk membahas gagasan berdirinya negara bagian tersendiri di wilayah Indonesia bagian timur oleh Belanda. Pada akhir Konferensi Denpasar 24 Desember 1946, negara baru ini dinamakan Negara Timur Raya, namun kemudian diganti menjadi Negara Indonesia Timur pada tanggal 27 Desember 1946.[1]

Negara Indonesia Timur terbagi menjadi 13 daerah otonomi:

  1. Daerah Sulawesi Selatan
  2. Daerah Minahassa
  3. Daerah Kepulauan Sangihe dan Talaud
  4. Daerah Sulawesi Utara
  5. Daerah Sulawesi Tengah
  6. Daerah Bali
  7. Daerah Lombok
  8. Daerah Sumbawa
  9. Daerah Flores
  10. Daerah Sumba
  11. Daerah Timor dan kepulauan
  12. Daerah Maluku Selatan
  13. Daerah Maluku Utara

Menurut hasil Konferensi Denpasar, wilayah Negara Indonesia Timur meliputi Keresidenan berikut, seperti termaktub dalam Staatsblad 1938 nomor 68 jo Staatsblad nomor 264, kecuali Irian Barat, yang akan ditetapkan kemudian hari.[2]

  1. Keresidenan Sulawesi Selatan
  2. Keresidenan Sulawesi Utara
  3. Keresidenan Bali
  4. Keresidenan Lombok
  5. Keresidenan Maluku

Negara Indonesia Timur didirikan untuk menyaingi dan memaksa Republik Indonesia untuk menerima bentuk negara federasi; dengan tujuan mengecilkan wilayah Republik Indonesia sehingga hanya menjadi salah satu negara bagian dari Republik Indonesia Serikat. Negara Indonesia Timur bubar dan semua wilayahnya melebur ke dalam Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1950.

Presiden

Presiden Soekawati dari Negara Indonesia Timur bersama istri (orang Perancis) dalam kunjungan ke Minahasa (1948)
Presiden Periode
Dari Sampai
Tjokorda Gde Raka Soekawati
24 Desember 1946
17 Agustus 1950

Perdana Menteri dan Kabinet

No Perdana Menteri Kabinet Periode
Dari Sampai
1
Nadjamuddin Daeng Malewa
Kabinet Malewa I
13 Januari 1947
2 Juni 1947
Kabinet Malewa II
2 Juni 1947
11 Oktober 1947
2
Semuel Jusof Warouw
Kabinet Warouw
11 Oktober 1947
15 Desember 1947
3
Ida Anak Agung Gde Agung
Kabinet Gde Agung I
15 Desember 1947
12 Januari 1949
Kabinet Gde Agung II
12 Januari 1949
27 Desember 1949
4
J.E. Tatengkeng
Kabinet Tatengkeng
27 Desember 1949
14 Maret 1950
5
D.P. Diapari
Kabinet Diapari
14 Maret 1950
10 Mei 1950
6
Martinus Putuhena
Kabinet Putuhena
10 Mei 1950
17 Agustus 1950

Peristiwa

Tanggal Peristiwa[3]
27 Mei 1947 Pengunduran diri ketua DPRS Tadjoeddin Noer
3 Desember 1947 DPRS mengirim misi persaudaraan ke Republik Indonesia di Yogyakarta
30 Desember 1947 Pihak oposisi mendirikan Gabungan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia (GAPKI) di Makasar, dipimpin oleh A. Mononutu
22 Januari 1948 RI mengakui NIT sebagai negara bagian dari RIS yang akan dibentuk
18 Februari 1948 Misi persaudaraan dari GAPKI tiba di Yogyakarta
Oktober 1948 RI mengirim misi persaudaraan ke NIT yang diketuai Mr.Sartono
Desember 1948 Kabinet NIT memprotes keras Agresi Militer II ke wilayah RI
6 Februari 1949 PM Ide Anak Agung Gde Agung selaku penghubung BFO menemui Wapres Bung Hatta yang ditawan Belanda di Bangka

Catatan kaki

  1. ^ Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia, Jurnal sejarah: pemikiran, rekonstruksi, persepsi, Yayasan Obor Indonesia, ISSN 1858-2117 (Indonesia)
  2. ^ Ensiklopedi Umum, Penerbit Kanisius, Edisi Kedua dengan EYD, 1977, hal.586, ISBN 978-979-413-522-8
  3. ^ Ensiklopedi Umum, Penerbit Kanisius, Edisi Kedua dengan EYD, 1977, hal.587, ISBN 978-979-413-522-8