Bagagarsyah dari Pagaruyung: Perbedaan revisi

Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Menolak 2 perubahan teks terakhir (oleh Nanyadulu) dan mengembalikan revisi 11665716 oleh AABot
(Menolak 2 perubahan teks terakhir (oleh Nanyadulu) dan mengembalikan revisi 11665716 oleh AABot)
 
== Biografi ==
Pada tahun [[1815]], kaum Padri (dengan kefanatikan agama yang cukup keras) dibawah pimpinan Tuanku Pasaman menyerang kerajaan Pagaruyung, menyebabkan Sultan Arifin Muningsyah terpaksa menyingkir dan melarikan diri dari ibu kota kerajaan ke Lubukjambi.<ref>Nain, S.A., (2004), ''Memorie Tuanku Imam Bonjol (MTIB)'', transl., Padang: PPIM.</ref> Sultan Tunggal Alam Bagagar, waktu itu telah berumur 26 tahun dan berada di [[Padang]].<ref name="Safwan"/>
 
Pada tanggal [[10 Februari]] [[1821]] bersama 19 orang pemuka adat lainnya ikut menandatangani perjanjian dengan Belanda untuk bekerjasama dalam melawan kaum Padri.<ref name="Stuers">{{cite book|last=Stuers|first=Hubert Joseph Jean Lambert||coauthors=Pieter Johannes Veth|title=De vestiging en uitbreiding der Nederlanders ter westkust van Sumatra|volume=2|publisher=P.N. van Kampen|year=1850|quote = }}</ref> Beberapa sejarahwan menganggap bahwa Sultan Tunggal Alam Bagagar sebetulnya tidak berhak melakukan perjanjian dengan mengatasnamakan [[kerajaan Pagaruyung]],<ref name="Amran"/> yang kemudian akibat dari perjanjian ini, dijadikan oleh Belanda sebagai tanda penyerahan kedaulatan Pagaruyung.<ref>Kepper, G., (1900), ''Wapenfeiten van het Nederlands Indische Leger; 1816-1900'', M.M. Cuvee, Den Haag.</ref> Dan pada akhirnya kekeliruan pandangan tersebut diluruskan oleh Almarhum Buya Hamka bahwa Sultan Tunggal Alam Bagagar melakukan kesepakatan dengan Belanda adalah dalam keadaan keterpaksaan (perang saudara). Kemudian setelah Belanda berhasil merebut Pagaruyung dari kaum Padri, Sultan Tunggal Alam Bagagar diangkat oleh pemerintah [[Hindia Belanda]] hanya sebagai ''Regent Tanah Datar'', walaupun seharusnyapada sisi lain ia beliaumenganggap adalahdirinya sebagai ''Raja Alam'' Pagaruyung (sesuai darah dan garis keturunan Raja-raja), namun pemerintah Hindia Belanda dari awal telah membatasi kewenangannya atas wilayah kerajaan Pagaruyung itu sendiri.<ref name="Dobbin"/>
 
Pada tanggal [[2 Mei]] [[1833]], Sultan Tunggal Alam Bagagar ditangkap oleh pasukan Kolonel Elout di Batusangkar atas tuduhan pengkhianatan (melawan Belanda bersama-sama Pangeran Sentot Alibasya, sebagai salah satu bukti bahwa beliau tidak berkehendak untuk bekerjsama dengan Belanda). Selanjutnya dibuang ke Batavia (Jakarta sekarang) sampai akhir hayatnya.<ref name="Amran">{{cite book|last=Amran|first=R.|title=Sumatera Barat hingga Plakat Panjang|publisher=Penerbit Sinar Harapan|year=1981}}</ref> Ia dimakamkan di pekuburan Mangga Dua dalam keadaan tangan diborgol, kemudian pada tahun [[1975]] atas izin pemerintah [[Indonesia]] kuburannya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan.<ref name="Safwan"/>
 
== Cap mohor ==
 
Cap mohor Sultan Tunggal Alam Bagagar dibahas dalam disertasi Annabel Teh Gallop,<ref name="Annabel Teh Gallop">{{cite book|last=Gallop|first= Annabel Teh|coauthors=|title=Malay seal inscriptions: a study in Islamic epigraphy from Southeast Asia|publisher= School of Oriental and African Studes, University of London|volume=Volume II|part=1|page=137|year=2002|id= [[British Library]], [[Integrated library system|ILS catalogue number]]: 12454119|ISBN=}}</ref> sebagai satu dari ratusan cap mohor yang telah ditelitinya. Beberapa ahli berbeda berpendapat tentang legitimasi cap mohor tersebut, apakah sebagai bukti pengukuhan atau bukan merupakan bukti dari legitimasi kekuasaan atau hanya merupakan "barang perhiasan" saja,<ref name="FDK Bosch">{{cite book|last=Bosch|first= FDK|coauthors=|editor:|title=De rijkssieraden van Pagar Roejoeng Overdr.|publisher= uit het Oudheidkundig Verslag 1930, Batavia|volume=|part=|page=49-108|year=1931|id= }}</ref> serta cap mohor tersebut pada hakekatnya hanya merupakan representasi dari diri yang bersangkutan sendiri.<ref name="Jane Drakard"> {{cite book|last=Drakard|first= Jane|coauthors=|editor:|title=A kingdom of words: language and power in Sumatra|publisher= Oxford University Press|volume=|part=|page=137|year=1999|id=|ISBN=9789835600357 }}</ref> Kroeskamp dalam ''De Westkust en Minangkabau'' (1931) menyebutkan bahwa laporan sumber Hindia Belanda hanya mencantumkan Sultan Tunggal Alam Bagagar sebagai ''Regent Tanah Datar''.<ref name="Exhibitum">Laporan kepada Gubernur Jendral, 30 Agustus 1825, ''Exhibitum'', 24 Agustus 1826, No. 41.</ref><ref>Kroeskamp, H., (1931) ''De Westkust en Minangkabau'' Terbitan State University of Leiden, halaman 110</ref><ref name="Christian Lambert Maria Penders">{{cite book|last=Penders|first=Christian Lambert Maria|coauthors=|title=Indonesia: selected documents on colonialism and nationalism, 1830-1942|publisher=University of Queensland Press|volume=|chapter=|page=|year=1977|id=|ISBN=0702213241 }}</ref> Walau sebelumnya dalam laporan [[Hubert Joseph Jean Lambert de Stuers|de Stuers]] <ref group="Note">Penders dan Colombijn menyebutkan dalam laporan [[Hubert Joseph Jean Lambert de Stuers|de Stuers]] mengatakan beberapa kerabat [[kerajaan Pagaruyung]] yang berhasil melarikan diri dari pembantaian pada saat [[perang Padri]], dan tidak pernah menyebutkan adanya nama Sultan Tunggal Alam Bagagar sebagai seseorang yang mempunyai kedaulatan atas sebuah wilayah</ref><ref name="Freek Colombijn">{{cite book|last=Colombijn|first=Freek|coauthors=|title=Patches of Padang: the history of an indonesian town in the twentieth century and the use of urban space|publisher= Research School CNWS, University of Michigan|volume=|part=|page=44|year=1994|id=|ISBN=9073782236 }}</ref><ref name="Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde">{{cite book|last=Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (Netherlands)|first=|coauthors=|title=Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde, Volume|publisher=M. Nijhoff|volume=132|chapter=|page=|year=1976|id=|ISBN= }}</ref> telah menyebutkan bahwa dia melihat Sultan Tunggal Alam Bagagar tidak layak menjadi penguasa<ref group="Note">Regent Tanah Datar</ref> Minangkabau dan mengusulkan salah seorang kerabat raja lainnya yang bergelar ''[[Tuan Gadang]]''.<ref name="Exhibitum"/>
 
Pendapat para ahli tersebut tidak sesuai dengan fakta bahwa Sultan Tunggal Alam Bagagar adalah keturunan langsung dari Raja Muningsyah II. Jelas beliau berhak atas tahtanya sebagai Raja terakhir Pagaruyung. Dan hanya Sultan Tunggal Alam Bagagar sendiri beserta keturunan sedarahnya yang memahami arti Cap Mohor tersebut. Darul Qarar.
<!--
Bagian ini memerlukan tambahan rujukan & untuk sementara disembunyikan
10.467

suntingan

Menu navigasi