Islam pada masa Dinasti Tang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Sejarah Islam di Tiongkok ditelusuri kembali pada tahun-tahun awal Islam. Menurut catatan-catatan legendaris Muslim Tiongkok, delapan belas tahun setelah kematian Muhammad, Khalifah Islam ketiga, Utsman bin Affan mengirim sebuah delegasi yang dipimpin oleh Sa'ad bin Abi Waqqas, paman dari pihak ibu Muhammad, ke Kaisar Gaozong Tiongkok.

Asal-usul[sunting | sunting sumber]

Menurut catatan-catatan legendaris tradisional Muslim Tiongkok, Islam pertama kali dibawa ke Tiongkok oleh sebuah misi yang dikirim oleh Utsman, Khalifah ketiga, pada tahun 651, kurang dari dua puluh tahun setelah kematian Nabi Muhammad. Misi dipimpin oleh Sa'ad bin Abi Waqqās, paman dari pihak ibu nabi sendiri. Kaisar Gaozong, kaisar Tang yang menerima utusan tersebut kemudian memerintahkan pembangunan Masjid Peringatan di Kanton, masjid pertama di negara ini, untuk mengenang sang nabi.[1]

Sementara para sejarawan modern mengatakan bahwa tidak ada bukti bahwa Waqqās sendiri pernah berkunjung ke Tiongkok,[1] mereka meyakini bahwa para diplomat dan saudagar Muslim tiba di Tiongkok Tang dalam beberapa dasawarsa dari permulaan Era Muslim.[1] Budaya kosmopolitan Dinasti Tang, dengan kontak intensifnya dengan Asia Tengah dan komunitas-komunitas yang signifikan dari para penduduk saudagar Asia Tengah dan Barat (awalnya non-Muslim) di kota-kota Tiongkok, yang membantu pengenalan Islam.[1]

Kontak awal antara Islam dan Tiongkok[sunting | sunting sumber]

Orang-orang Arab yang pertama kali tercatat dalam catatan-catatan tertulis Tiongkok, di bawah nama Dashi dalam sejarah Dinasti Tang (618-907), (Tashi atau Dashi adalah terjemahan bahasa Tionghoa untuk Tazi—sebutan orang Persia yang digunakan untuk orang Arab).[2] Catatan-catatan yang berasal dari tahun 713 menceritakan tentang kedatangan seorang duta besar Dashi. Permukiman besar Muslim pertama di Tiongkok terdiri dari para saudagar Arab dan Persia.[3]

Sumber-sumber Arab menyatakan Qutaibah bin Muslim secara singkat merebut Kashgar dari Tiongkok dan menarik mundur setelah tercapai sebuah perjanjian[4] tetapi para sejarawan modern sepenuhnya mengabaikan klaim ini.[5][6][7]

Kekhalifahan Umayyah Arab pada tahun 715 M mengalahkan Ikhshid, raja Lembah Fergana, dan mengangkat raja baru Alutar di atas takhta. Raja yang dikalahkan melarikan diri ke Kucha (pusat pemerintahan dari Protektorat Anxi), dan meminta intervensi Tiongkok. Tiongkok mengirim 10.000 prajurit di bawah Zhang Xiaosong ke Ferghana. Dia mengalahkan Alutar dan pasukan pendudukan Arab di Namangan dan mengangkat kembali Ikhshid di atas takhta.[8]

Jenderal Tiongkok Tang Jiahui memimpin Tiongkok mengalahkan serangan Arab-Tibet berikutnya dalam Pertempuran Aksu (717).[9] Serangan di Aksu turut disertai oleh Turgesh Khan Suluk.[10][11] Uch Turfan dan Aksu diserang oleh pasukan Turgesh, Arab, dan Tibet pada 15 Agustus 717. Karluks mengabdi di bawah komando Tiongkok, di bawah Arsila Xian, seorang Qaghan Turk Barat yang mengabdi di bawah Asisten Pelindung Agung Tiongkok Jenderal Tang Jiahui mengalahkan serangan. Al-Yashkuri, komandan Arab dan pasukannya melarikan diri ke Tashkent setelah mereka dikalahkan.[12][13]

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d Lipman 1997, hlm. 25
  2. ^ Israeli, Raphael (2002). Islam in China. United States of America: Lexington Books.
  3. ^ Israeli (2002), pg. 291
  4. ^ Muhamad S. Olimat (27 August 2015). China and Central Asia in the Post-Soviet Era: A Bilateral Approach. Lexington Books. hlm. 10–. ISBN 978-1-4985-1805-5. 
  5. ^ Litvinsky, B. A.; Jalilov, A. H.; Kolesnikov, A. I. (1996). "The Arab Conquest". Dalam Litvinsky, B. A. History of civilizations of Central Asia, Volume III: The crossroads of civilizations: A.D. 250 to 750. Paris: UNESCO Publishing. hlm. 449–472. ISBN 978-92-3-103211-0. 
  6. ^ Bosworth, C. E. (1986). "Ḳutayba b. Muslim". Dalam Bosworth, C. E.; van Donzel, E.; Lewis, B.; Pellat, Ch. The Encyclopedia of Islam, New Edition, Volume V: Khe–Mahi. Leiden: E. J. Brill. hlm. 541–542. ISBN 90-04-07819-3. 
  7. ^ Gibb, H. A. R. (1923). The Arab Conquests in Central Asia. London: The Royal Asiatic Society. hlm. 48–51. OCLC 685253133. 
  8. ^ Bai, Shouyi et al. (2003). A History of Chinese Muslim (Vol.2). Beijing: Zhonghua Book Company.
  9. ^ Insight Guides (1 April 2017). Insight Guides Silk Road. APA. ISBN 978-1-78671-699-6. 
  10. ^ René Grousset (1970). The Empire of the Steppes: A History of Central Asia. Rutgers University Press. hlm. 114–. ISBN 978-0-8135-1304-1. 
  11. ^ Jonathan Karam Skaff (6 August 2012). Sui-Tang China and Its Turko-Mongol Neighbors: Culture, Power, and Connections, 580-800. Oxford University Press. hlm. 311–. ISBN 978-0-19-999627-8. 
  12. ^ Christopher I. Beckwith (28 March 1993). The Tibetan Empire in Central Asia: A History of the Struggle for Great Power Among Tibetans, Turks, Arabs, and Chinese During the Early Middle Ages. Princeton University Press. hlm. 88–89. ISBN 978-0-691-02469-1. 
  13. ^ Marvin C. Whiting (2002). Imperial Chinese Military History: 8000 BC-1912 AD. iUniverse. hlm. 277–. ISBN 978-0-595-22134-9.