Irfan Hielmy

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Irfan Hielmy
Bismillahirahmanirahim
Kiai Haji
Irfan Hielmy
Nama dan Gelar
Semua Gelar
Gelar
(Islam/Sosial)
Kiai Haji
Nama
NamaIrfan Hielmy
Kelahirannya
Tanggal lahir (M)25
Bulan lahir (M)Desember
Tahun lahir (M)1931
Tempat lahirCijeungjing
Negara lahir
(penguasa wilayah)
Cijeungjing, Ciamis, Masa Penjajahan Hindia Belanda Bendera Belanda
Nama ayahK.H. Ahmad Fadhil
Nama ibuSiti Maemunah
Agama, Identitas, Kebangsaan
Agama Islam
Etnis (Suku bangsa)
KebangsaanIndonesia
Kewarganegaraan
KewarganegaraanIndonesia Bendera Indonesia
Bantuan kotak info

Kiai Haji Irfan Hielmy rahimahullah lahir di Ciamis, Jawa Barat, 25 Desember 1931 meninggal dunia, 18 Mei 2010) adalah seorang ulama besar di Jawa Barat Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Ciamis, pernah menjabat Ketua MUI Kabupaten Ciamis, Anggota DPRD Kabupaten Ciamis (1967-1972); Anggota MPR RI (1997-1999). Dikenal sebagai satu di antara lima ulama kharismatik Jawa Barat. Empat ulama kharismatik Jawa Barat yang lebih dulu wafat yakni KH. Ilyas Ruhiyat (sesepuh Pondok Pesantren Cipasung Tasikmalaya), KH. Anwar Musaddad (sesepuh Pondok Pesantren Al-Musaddadiyah Garut), KH. Drs.Totoh Abdul Fatah Ghazali, S.H., (sesepuh Pondok Pesantren Al-Jawami Cileunyi Bandung), serta K.H. Abdulah Abbas (sesepuh Pondok Pesantren Buntet, Cirebon). K.H. Irfan Hielmy merupakan sesepuh sekaligus ulama kharismatik Jawa Barat yang terus mengabdikan hidupnya untuk kemaslahatan umat dan bangsa. Selain itu dia pun aktif di instansi-instansi pemerintahan dan militer. K.H. Irfan Hielmy juga aktif di berbagai organisasi keagamaan baik di tingkat Kabupaten Ciamis maupun Provinsi Jawa Barat. Sampai akhir hayatnya sebagai pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Ciamis, sebuah Pesantren yang menjadi pusat pendidikan, da’wah dan pembangunan..

Kelahiran & Silsilah[sunting | sunting sumber]

Kelahiran[sunting | sunting sumber]

K.H. Irfan Hielmy bin K.H. Ahmad Fadhil Allohu yarham, dilahirkan di Ciamis pada 25 Desember 1933, adalah ulama besar dari Kabupaten Ciamis, putra dari K.H. Ahmad Fadhil rahimahullah. Lahir di kalangan keluarga yang religius, dia mulai mengkaji agama Islam klasik dari ayahanda dia, Kiai Ahmad Fadlil bin H. Abdul Jalal bin Buyut Masitoh. Dari garis keturunan ayahnya, K.H. Irfan Hielmy memiliki darah ulama. Ibunya bernama Siti Maemunah binti Siti Fatimah binti Uyut Eyang Audaya. Selain memiliki darah ulama, K.H. Irfan Hielmy juga memiliki darah bangsawan dari nenek pihak ayah yang bernama Rd. Natamirah bin Rd. Bratakusumah (Wedana Rancah pada waktu itu).[1]

Putra & Putri[sunting | sunting sumber]

K.H. Irfan Hilmy Allohu yarham mempunyai 3 putra dan 3 putri, yaitu:

  1. Dra. Hj. Eulis Fadlilah jauhar Nafisah, M.Pd.I. lahir (21-04-1957)
  2. Dr. K.H. Fadlil Munawwar Manshur,M.S. lahir (13-02-1960)
  3. Dra. Hj. Ani Hafni Zahra Fadlilah Laila, M.Pd.I. lahir ( 29-08-1963)
  4. K.H. Dr. Fadlil Yani Ainusyamsi, MBA., M.Ag. lahir (05-08-1965)
  5. Hj. Emma Ratna Kania Fadlilah Salma, S.Ag., M.Pd.I. lahir (18-07-1969)
  6. Dase Fadlil Yusdi Mubarak, S.H. lahir (23-01-1972)

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

KH Irfan Hielmy rahimahullah sejak muda menuntut ilmu di berbagai Pesantren, kemudian mendirikan Pesantren bersama ayahanda dia, K.H. Ahmad Fadhil yakni Pesantren Darussalam Ciamis, Jawa Barat. Selain belajar dan mengkaji ilmu-ilmu agama, Kyai Irfan Hielmy juga menekuni pendidikan formal. Ia mengikuti pendidikan dasar di SRN Pamalayan hingga tahun 1945. Pada 1946 belajar di MI Cidewa, kemudian SMEP pada 1952 di Tasikmalaya; 1961 mengikuti UGA di Ciamis, PGA 4 tahun di Ciamis, lulus pada 1964, dan PGA 6 tahun di Ciamis, lulus pada 1965.

Riwayat pekerjaan/jabatan (non/semi/struktural)[sunting | sunting sumber]

Karya Tulis[sunting | sunting sumber]

  1. Bunga Rampai menuju Khairu Ummah (1994.
  2. Dakwah bi al-Hikmah (1997).
  3. Kumpulan Materi Pokok Khutbah Jum'at (1997).
  4. Masyarakat Madani: Suatu Ikhtiar Dalam Menyongsong Era Milenium Baru (1998.)
  5. Pendekatan Keagamaan Dalam Menyelesaikan Masalah Kemasyarakatan (1998).
  6. Ukhuwwah Ahlus Sunnah: Khazanah Aqidah, Moral dan Spiritual dari Pesantren (1999)
  7. Pesan Moral dari Pesantren (1999).
  8. Wacana Islam, Bahan Telaah Anak Bangsa (2000.)
  9. Sentuhan Wahyu, Penyejuk Kalbu (2003), dll.

Pesantren Darussalam[sunting | sunting sumber]

Satu hal yang acap dikenang oleh alumni Pesantren Darussalam adalah kebersahajaan pesantren ini dalam keseharian santrinya. Bahkan, seperti yang kerap terucap dari K.H. Irfan Hielmy (Alm)-pendiri Pondok Pesantren Modern Darussalam yang selalu mengajarkan kebersahajaan- setiap kali menerima kunjungan tamu, selalu disambut dengan kalimat yang sama, seolah menegaskan bagaimana seharusnya santri Darussalam mengambil posisi dengan kerendah-hatian, "selamat datang di tempat kami, pesantren yang sangat sederhana."

Ihwal kebersahajaan dan kesederhanaan Darussalam ternyata sama tuanya dengan sejarah pesantren ini. Nun di paruh 1929, 84 tahun silam, K.H. Ahmad Fadlil (wafat th. 1950), ayahanda K.H. Irfan Hielmy (wafat tahun 2010), memulai kisah kebersahajaan dengan sebuah masjid dan sebuah bilik sebagai asrama. Santri yang pertama kali mondok adalah pemuda-pemuda setempat yang tidak hanya diajari ilmu-ilmu agama, akan tetapi diajak mengolah sawah, bercocok tanam dan diberi contoh bagaimana memelihara bilik dan memakmurkan masjid. Pesantren Tjidewa, sebutan untuk komunitas baru itu, dengan cepat mendapat simpati serta dukungan dari masyarakat sekitar dan lebih banyak lagi santri yang mondok.

Adalah suami-istri Mas Astapradja dan Siti Hasanah yang mewakafkan tanahnya di Kampung Kandanggajah, Desa Dewasari, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis Jawa Barat kepada K.H. Ahmad Fadlil. Dibantu oleh masyarakat dan santri, Pesantren Cidewa menapaki guratan sejarah dengan optimisme menghilangkan benalu yang menempel dalam ajaran Islam.

Menjelang proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, di Pesantren Cidewa sudah mondok 400 orang santri yang mengaji ilmu tafsir, ilmu hadits, sejarah dan perbandingan madzhab, di samping kitab-kitab ilmu sharaf dan ilmu nahwu.

Keputusan K.H. Ahmad Fadlil dengan hanya menerima santri putra tidak terlepas dari kondisi saat itu yang tidak bisa terlepas dari kontelasi keamanan akibat penjajahan Belanda. Akan tetapi karena didorong oleh keinginan untuk melepaskan diri dari cengkraman penjajah dan ditambah dengan meluapnya semangat santri untuk menghalau Belanda, K.H. Ahmad Fadlil juga mengajarkan strategi berdiplomasi mengatasi tekanan penjajah. Apalagi dengan kemampuannya berbahasa Belanda yang didapat dari kakeknya sejak di Sekolah Rakyat (Vervolg School)- dengan mudah bisa menyerap berbagai informasi yang kelak berguna sebagai modal berdiplomasi.

Lebih dari itu, penguasaan terhadap teks berbahasa Arab telah tampak sejak Ahmad Fadlil muda berhasil menghapalkan kitab-kitab seperti Jauharul Maknun, 'Uqudul Juman, Talkhisul Miftah dan syair-syair nya. Bahkan, pada usia 31 tahun ia telah berhasil menerjemahkan Qashidah Burdah karya Muhammad Said al-Busyiri. Sampai sekarang, Qashidah Burdah berbahasa sunda yang merupakan karya terjemahan masterpiece K.H. Ahmad Fadlil masih terdengar dibaca dan didendangkan oleh santri-santri di banyak pesantren tradisional terutama di Jawa Barat.

Melalui sejarah yang panjang (berdiri tahun 1929 oleh K.H. Ahmad Fadlil), kini Pondok Pesantren Darussalam telah berkembang dan mencapai kemajuan yang sangat menggembirakan. Pondok Pesantren yang pada awal berdirinya hanya memiliki sebuah rumah tempat tinggal Kiayi, sebuah masjid dan sebuah asrama (pondok) yang sederhana, kini telah memiliki fasilitas bangunan yang relatif lengkap dan beberapa di antaranya cukup megah.

Disamping peningkatan fasilitas dan sarana pendidikan untuk santri, hal yang sangat penting lain adalah pengembangan sistem pendidikannya. ketika di banyak Pondok Pesantren lain masih mengkhususkan pada pengajian kitab, Pesantren Darussalam mulai merintis untuk menyelenggarakan pendidikan formal. Maka sejak dasawarsa 60-an, Pesantren Darussalam mulai memodernisasikan sistem pendidikannya dengan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan formal.

Pada tahun 1967, mulai dirintis penyelenggaraan sistem pendidikan modern dengan mengadaptasi model klasikal dan sampai saat ini semua jenjang pendidikan dar mulai Taman Kanak-kanak (TK) (di Pesantren Darussalam disebut Raudlatul Athfal/RA) hingga perguruan tinggi telah ada di pesantren ini.

Lembaga pendidikan formal yang pertama didirikan adalah Raudlatul Athfal (Taman Kanak-kanak) pada tahun 1967, kemudian pada tahun 1968 berdiri Madrasah Ibtidaiyah/MI (setingkat SD), lalu Madrasah Tsanawiyah Darussalam/MTsD (setingkat SMP) pada tahun 1968. kemudian berdiri Madrasah Aliyah Negeri Darussalam (setingkat SMA) pada tahun 1969. Selanjutnya didirikan SMA Plus Darussalam yang merupakan lembaga pendidikan swasta pada tahun 2003. Sedangkan Pendidikan Tinggi (PT) di Pondok Pesantren Darussalam adalah berbentuk Institut yang didirikan pada tahun 1970, dengan nama Institut Agama Islam Darussalam Ciamis (IAID) yaitu Perguruan Tinggi Agama Islam yang menggabungkan pendidikan akademik dengan pendidikan kepesantrenan, yaitu Pondok Pesantren Darussalam. Disamping itu, pada tahun 1995 diselenggarakan pula Ma'had 'Aly, yaitu pendidikan tinggi Pesantren Darussalam. Mahasantri Ma'had 'Aly ini terdiri dari lulusan Madrasah Aliyah dan para mahasiswa Institut Agama Islam Darussalam dari berbagai fakultas yang memenuhi persyaratan, di antaranya telah mampu membaca kitab-kitab kuning.[2]

Kini sudah ribuan alumni yang tersebar di berbagai penjuru nusantara dan berkiprah dalam berbagai bidang kehidupan dengan tidak melupaka pesan-pesan dia rahimahullah. Satu di antara tokoh muda alumni Pondok Pesantren Darussalam Ciamis di bidang pendidikan diantaranya, Dr. Abad Badruzaman, Lc., M. Ag, kelahiran Ciamis 4 Agustus 1973 adalah Dekan Fakultas Ushuluddin, Adab & Dakwah IAIN Tulungagung Jawa Timur.[3]

Meninggal[sunting | sunting sumber]

K.H. Irfan Hielmy rahimahullah, Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Ciamis Jawa Barat Indonesia, wafat, Selasa, 04 Jumadilawal 1431 Hijriah/ 18 Mei 2010, pukul 06:10 WIB dalam usia 79 tahun.[4] di kediaman putra ketiganya, K.H. Dr. Fadlil Yani Ainusyamsi, MBA., M.Ag, di Pondok Pesantren Darussalam Ciamis . Kepergian almarhum untuk selama-lamanya menyisakan tangis bagi ribuan santri, alumni, dan warga Ciamis yang memadati kompleks Pondok Pesantren Darussalam waktu itu. Sebelum kepergiannya, almarhum sempat dirawat di berbagai rumah sakit yang berbeda. Dia pernah dirawat di RSHS Bandung karena penyakit liver. Sejak lama dia memang mengidap penyakit liver dan gangguan pencernaan lain. Bahkan sebelum kepergiannya, dia juga sempat dirawat di rumah sakit di Tasikmalaya.

K.H. Irfan Hielmy dalam Pandangan Tokoh[sunting | sunting sumber]

Prof. Dr. H. Endang Soetari Ad, M.Si,Rektor IAIN Sunan Gunung Djati periode (1995-2003) yang lahir di Ciamis, 11 Agustus 1945 menyatakan, bahwa K.H. Irfan Hielmy rahimahullah adalah ulama teladan yang menjadi panutan dan pigur keilmuan dan keluhuran akhlak, ‘Ulama yang menjadi pewaris nilai-nilai kejuangan Rasulullah S.A.W.. Kami dari jajaran Wargi Galuh Puseur, baik rengrengan Pangaping, Pakar, dan Pangurus, sering mendapat nasihat dia untuk turut memikirkan pengembangan Tatar Galuh, untuk menuju Mahayunan Ayuna Kadatuan.[5]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]