Iodin povidon

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Penggunaan iodin povidon pada luka bakar

Iodin povidon, atau dikenal juga dengan iodopovidon, adalah suatu antiseptik yang dipergunakan sebagai disinfektan pada kulit sebelum dan sesudah pembedahan. Iodin povidon merupakan bahan organik berbahan aktif polivinil pirolidon yang merupakan kompleks iodine yang larut dalam air. Sebagai bakterisida yang juga membunuh spora, jamur, virus dan sporozoa. Iodin povidon diabsorbsi secara sistemik sebagai iodin, dengan jumlah yang tergantung konsentrasi, rute pemberian dan karakter kulit. [1]

Efek samping yang ditimbulkannya termasuk iritasi kulit. Jika dipergunakan dalam dosis besar untuk luka yang luas bisa mengakibatkan gangguan pada ginjal, tingginya sodium pada darah dan asidosis metabolic. Penggunaannya tidak dianjurkan untuk ibu hamil dengan usia kandungan di bawah 32 minggu, atau pasien yang menjalani pengobatan dengan lithium. Penderita gangguan tiroid juga tidak dianjurkan memakai iodin povidon terlalu sering[2].

Iodin povidon masuk dalam Daftar Obat Esensial Organisasi Kesehatan Dunia sebagai salah-satu obat-obatan yang paling efektif dan aman dalam sistem kesehatan [3], di mana saat ini tersedia sebagai obat bebas dan dipasarkan oleh beragam produsen dengan berbagai merek dagang, termasuk Betadine[2].

Kegunaan Medis[sunting | sunting sumber]

Iodin povidon adalah antiseptik yang memiliki spektrum kegunaan luas untuk mengobati luka dan pencegahan infeksi. Iodin povidon dapat digunakan sebagai pertolongan pertama pada luka kecil, luka gores, luka bakar, abrasi dan lecet.

Iodin povidon juga dipakai secara luas dalam profesi medik sebagai obat pencuci tangan baik sebelum maupun sesudah operasi; untuk pengobatan luka dan luka bakar; untuk pengobatan infeksi yang ditimbulkan dari banyak sebab. Untuk itu sediaan iodin povidon di pasaran mengandung konsentrasi zat aktif sebanyak 0,45 hingga 10% dalam wujud larutan seperti semprot, scrub, salep/cream, stick, obat kumur dan gargle, pembersih daerah kewanitaan hingga pembersih kulit untuk mandi/cuci-tangan.

Antivirus[sunting | sunting sumber]

Sebagai antiseptik dengan spektrum pamakaian yang luas, dalam perkembangannya iodin povidon terbukti efektif secara in-vitro terhadap sejumlah virus.

Dalam sebuah penelitian in-vitro yang di yang dilakukan di Universitas Marburg, Jerman, dengan menggunakan PVP-I 4%, 7.5% dan 1% dalam berbagai bentuk sediaan, menunjukkan efikasi in-vitro yang terbukti secara ilmiah mematikan virus MERS dan jenis virus modifikasi tipe Ankara, yang merupakan salah satu virus berkapsul yang paling kuat (Ebola, influenza dan corona virus termasuk virus berkapsul). Studi ini dilakukan berdasarkan standar tes Eropa EN14476:2013/A1:2014 untuk pengujian antivirus jenis virus berkapsul. Ketiga produk PVP-I yang diuji dalam penelitian ini menunjukkan efek virusidal terhadap MERS dengan efikasi ≥ 99.99% hanya dalam waktu 15 detik, dan mengkonfirmasi efektivitas PVP-I terhadap spektrum luas virus peyebab infeksi pernapasan. Kebersihan tangan dan saluran pernafasan yang baik, ditambah dengan efektivitas antivirus PVP-I akan menolong membatasi transmisi virus dan melindungi tenaga kesehatan dan masyarakat dari infeksi saluran pernapasan di masa datang. [4]

Sebuah studi lain yang dilakukan secara in-vitro yang dilakukan oleh Dr Tan Eng Lee, Direktur dari Centre for Biomedical and Life Sciences, Singapore Polytechnic, menunjukkan bahwa iodin povidon 7.5% mampu mengatasi 99.99% virus penyebab infeksi Penyakit Mulut dan Kaki (HFMD9).

Mukositis oral[sunting | sunting sumber]

Dalam penanganan infeksi rongga mulut dari pasien kanker saat sebelum, selama, dan sesudah kemoterapi dan radioterapi, diperlukan pendekatan multidisiplin. Komplikasi paling umum pada rongga mulut yang terkait dengan terapi kanker adalah infeksi, disfungsi kelenjar ludah, disfungsi indra perasa, dan nyeri. Komplikasi ini secara tidak langsung dapat mengakibatkan efek samping lainnya seperti menurunnya kualitas hidup pasien dan menghambat perawatan kanker secara optimal. Sebagai contoh misalnya pengurangan dosis atau perubahan jadwal pengobatan diperlukan untuk perbaikan kondisi rongga mulut. Dalam kondisi sakit rongga mulut yang parah, pasien mungkin tidak lagi mampu melanjutkan terapi kanker sehingga biasanya pengobatan dihentikan.

Pasien dengan gangguan imunitas dapat mengalami mucositis oral dengan komplikasi infeksi. Kuman tertentu dapat berpengaruh terhadap peningkatan peradangan. Organisme dalam rongga mulut dapat juga menyebar secara sistemik dalam kondisi ulcerative oral mucositis, serta neutropenia yang parah dan berkepanjangan.

Dr. Jeeve Kanagalingam, Direktur The ENT Practice di Mount Elizabeth Novena Specialist Center di Singapura menyebutkan bahwa iodin povidon dapat membantu mengurangi derajat keparahan, menunda keparahan dan mempercepat pemulihan dari mukositis oral pada pasien kanker yang menjalani kemoterapi dan radioterapi. Pengurangan dan tertundanya keparahan oral mucositis memungkinkan pasien kanker untuk menghindari gangguan selama pengobatan kanker. Penanganan oral mucositis yang lebih baik membantu dalam meningkatkan kualitas hidup pasien kanker, seperti yang telah terbukti pada beberapa penelitian.

Kontraindikasi[sunting | sunting sumber]

Tidak untuk dipergunakan pada pasien yang memiliki reaksi hipersensitifitas terhadap yodium. [5] Sebaiknya juga tidak diberikan pada pasien yang menderita hipertiroid (kelebihan kelenjar tiroid) ataupun gangguan tiroid lainnya, setelah perawatan menggunakan radioiodine, serta pada pasien penderita dermatitis herpetiformis (Duhring's disease).[6]

Interaksi[sunting | sunting sumber]

Kandungan iodin pada iodin povidon akan bereaksi terhadap hidrogen peroksida, perak, taurolidin dan protein-protein seperti enzim-enzim, yang berakibat keduanya menjadi tidak efektif. Reaksi juga timbul terhadap banyak senyawa merkuri, menghasilkan senyawa karat mercury iodide, serta terhadap banyak logam, sehingga membuatnya tidak cocok sebagai disinfektan pada bekas tindikan logam.[6]

Kimiawi[sunting | sunting sumber]

Iodin povidon sepenuhnya larut dalam air bertemperatur dingin dan sedang, etil alkohol, isoprofil alkohol, polietilen glikol, and gliserol. Tingkat kestabilannya dalam larutan jauh lebih tinggi dibandingkan tinktur iodin dan larutan Lugol.

Iodin bebas, saat dilepaskan perlahan dari larutan kompleks iodin povidon, mampu membunuh sel-sel eukaryotik atau prokaryotik melalui iodinasi lemak dan oksidasi sitoplasmik dan senyawa-senyawa membran. Terdapat aktivitas mikrobisidal dengan rentang yang lebar terhadap bakteri, jamur, protozoa, dan virus. Pelepasan secara perlahan iodin dari larutan kompleks iodin povidon meminimalisir kadar racun iodin dalam sel-sel mamalia.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Iodin povidon ditemukan pada tahun 1955 di Industrial Toxicology Laboratories di Philadelphia oleh H. A. Shelanski dan M. V. Shelanski.[7] Mereka menjalankan serangkaian tes in vitro untuk mendemonstrasikan aktivitas anti-bakteri, dan menemukan bahwa kompleks tersebut lebih tidak beracun dibandingkan dengan tingtur iodin. Percobaan klinis pada manusia menunjukkan bahwa produk tersebut lebih superior dibandingkan dengan formulasi iodin lainnya.[8]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ www.mipa-farmasi.com http://www.mipa-farmasi.com/2016/05/povidon-iodin.html.  Tidak memiliki atau tanpa |title= (bantuan)
  2. ^ a b British national formulary : BNF 69 (edisi ke-69). British Medical Association. 2015. hlm. 840. ISBN 9780857111562. 
  3. ^ "WHO Model List of Essential Medicines (19th List)" (PDF). World Health Organization. April 2015. Diakses tanggal 8 December 2016. 
  4. ^ www.gulfnews.com http://gulfnews.com/news/uae/health/povidone-iodine-products-prevent-viral-respiratory-infections-research-shows-1.1580523.  Tidak memiliki atau tanpa |title= (bantuan)
  5. ^ www.mipa-farmasi.com http://www.mipa-farmasi.com/2016/05/povidon-iodin.html.  Tidak memiliki atau tanpa |title= (bantuan)
  6. ^ a b Jasek, W, ed. (2007). Austria-Codex (dalam bahasa German) (edisi ke-62nd). Vienna: Österreichischer Apothekerverlag. hlm. 983–5. ISBN 978-3-85200-181-4. 
  7. ^ U.S.patent 2,739,922
  8. ^ Sneader, Walter (2005). Drug Discovery: A History. New York: John Wiley & Sons. hlm. 68. ISBN 0-471-89979-8.