Lompat ke isi

Invasi Italia oleh Sekutu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Invasi Italia oleh Sekutu
Bagian dari Kampanye Italia di Perang Dunia II

Pasukan dan kendaraan yang didaratkan di bawah tembakan mortir selama invasi daratan Italia di Salerno, September 1943.
Tanggal3–17[butuh rujukan] September 1943
LokasiSalerno, Calabria dan Taranto, Italia
Hasil Kemenangan Sekutu
Pihak terlibat
Tokoh dan pemimpin
Britania Raya Arthur Tedder
Kekuatan
189.000 (hingga 16 September) 100.000
Korban
  • 2.009 tewas
  • 3.501 hilang (diduga tewas)
  • 7.050 terluka
3.500 korban[1][1]
(termasuk 630 tewas)[1]

Invasi Sekutu ke Italia adalah pendaratan amfibi Sekutu di daratan Italia yang berlangsung sejak 3 September 1943, selama kampanye Italia pada Perang Dunia II. Operasi ini dilakukan oleh Grup Angkatan Darat ke-15 Jenderal Sir Harold Alexander (terdiri dari Angkatan Darat ke-5 Amerika Serikat pimpinan Jenderal Mark W. Clark dan Angkatan Darat ke-8 Britania Raya pimpinan Jenderal Bernard Montgomery) dan menyusul keberhasilan invasi Sekutu ke Sisilia. Pendaratan pendahuluan di Calabria (Operasi Baytown) berlangsung pada 3 September, sementara pasukan invasi utama mendarat di pesisir barat Italia di Salerno pada 9 September sebagai bagian dari Operasi Avalanche, bersamaan dengan operasi pendukung di Taranto (Operasi Slapstick).

Latar Belakang

[sunting | sunting sumber]

Setelah kekalahan Blok Poros di Afrika Utara pada Mei 1943, terjadi perselisihan di antara Sekutu mengenai langkah selanjutnya. Perdana Menteri Inggris Winston Churchill ingin menginvasi Italia, yang pada November 1942 ia sebut sebagai "perut lunak Blok Poros" (Jenderal Amerika Mark W. Clark kemudian menyebutnya "one tough gut"). Churchill mencatat bahwa dukungan rakyat Italia terhadap perang tersebut menurun dan invasi akan memisahkan Italia dari Blok Poros, sehingga melemahkan pengaruh Blok Poros di Laut Mediterania dan membukanya bagi lalu lintas Sekutu. Hal ini akan memungkinkan pengurangan kapasitas pengiriman yang dibutuhkan untuk memasok pasukan Sekutu di Timur Tengah dan Timur Jauh pada saat kapasitas pengiriman Sekutu sedang dalam krisis, sehingga memungkinkan peningkatan pasokan Inggris dan Amerika ke Uni Soviet. Selain itu, invasi akan membatasi pasukan Jerman di Italia. Joseph Stalin, pemimpin Soviet, telah menekan Churchill dan Roosevelt dengan keras untuk membuka "front kedua" di Eropa, yang akan mengurangi fokus Angkatan Darat Jerman di Front Timur, tempat sebagian besar pasukannya bertempur dalam konflik bersenjata terbesar dalam sejarah melawan Tentara Merah Soviet.

Argumen strategis Kesselring meyakinkan Hitler bahwa Sekutu harus dijauhkan dari perbatasan Jerman dan dicegah memperoleh sumber daya minyak di Balkan. Pada tanggal 6 November,[68] Hitler memerintahkan Rommel untuk mundur ke Prancis Utara dan memberi Kesselring komando atas seluruh Italia, menginstruksikannya untuk menjaga Roma di tangan Jerman selama mungkin.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]


  1. 1 2 3 Atkinson 2007, hlm. 236.