Lompat ke isi

Intifadah Pertama

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Intifadah Pertama
Bagian dari Konflik Israel–Palestina
IDF roadblock outside Jabalya, 1988
Penghalang jalan IDF di luar Jabalya di Jalur Gaza, Februari 1988
Tanggal8 Desember 1987 – 13 September 1993
(5 tahun, 9 bulan dan 5 hari)
Lokasi
Hasil

Pemberontakan rakyat Palestina ditekan[1]

Pihak terlibat
 Israel PLO Didukung oleh:
Irak[3] (serangan rudal selama Perang Teluk)
Tokoh dan pemimpin
Korban
277 orang Israel tewas[5]
  • 175 warga sipil[5]
  • 102 Pasukan keamanan Israel[5]
1.962 orang Palestina tewas[5]
  • 1.603 tewas oleh orang Israel[5]
  • 359 tewas oleh orang Palestina[5]

Intifadah Pertama (bahasa Arab: الانتفاضة الفلسطينية الأولى, 'Pemberontakan Pertama'), juga dikenal sebagai Intifada Palestina Pertama, adalah pemberontakan berkelanjutan yang melibatkan protes kekerasan dan non-kekerasan, aksi pembangkangan sipil, kerusuhan, dan serangan teroris yang dilakukan oleh warga sipil Palestina dan militan di wilayah Palestina yang diduduki Israel dan Israel. Pemberontakan ini dimotivasi oleh frustrasi kolektif Palestina atas pendudukan militer Israel di Tepi Barat dan Jalur Gaza yang mendekati dua puluh tahun, dimulai setelah Perang Arab-Israel 1967. Pemberontakan ini berlangsung dari Desember 1987 hingga Konferensi Madrid 1991, meskipun beberapa pihak memperkirakan akhir pemberontakan ini terjadi pada tahun 1993, tahun ditandatanganinya Perjanjian Oslo.[6][7]

Intifada dimulai pada 9 Desember 1987 di kamp pengungsi Jabalia setelah seorang pengemudi truk Israel menabrak kendaraan sipil yang terparkir, menewaskan empat pekerja Palestina, tiga di antaranya berasal dari kamp pengungsi tersebut. Pihak Palestina menuduh tabrakan tersebut merupakan respons yang disengaja atas pembunuhan seorang warga Israel di Gaza beberapa hari sebelumnya. Israel membantah bahwa kecelakaan tersebut, yang terjadi di saat ketegangan meningkat, merupakan tindakan yang disengaja atau terkoordinasi. Respons dari pihak Palestina ditandai dengan protes, pembangkangan sipil, dan pemogokan, yang ditanggapi dengan kekerasan berlebihan oleh pasukan keamanan Israel. Terdapat grafiti, barikade, dan pelemparan batu serta bom molotov yang meluas ke arah tentara Israel dan infrastrukturnya di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Hal ini kontras dengan upaya-upaya sipil lainnya, termasuk pemogokan umum, boikot lembaga-lembaga Administrasi Sipil Israel di Jalur Gaza dan Tepi Barat, boikot ekonomi yang terdiri dari penolakan untuk bekerja di permukiman Israel dengan produk-produk Israel, penolakan untuk membayar pajak, dan penolakan untuk mengendarai mobil Palestina dengan SIM Israel.[8]

Tanggapan Perserikatan Bangsa-Bangsa

[sunting | sunting sumber]

Banyaknya korban Palestina memicu kecaman internasional. Dalam resolusi-resolusi berikutnya, termasuk 607 dan 608, Dewan Keamanan menuntut Israel untuk menghentikan deportasi warga Palestina. Pada November 1988, Israel dikecam oleh mayoritas besar Majelis Umum PBB atas tindakannya melawan Intifada. Resolusi tersebut diulang pada tahun-tahun berikutnya.

Dewan Keamanan

[sunting | sunting sumber]

Pada 17 Februari 1989, Dewan Keamanan PBB merancang sebuah resolusi yang mengecam Israel karena mengabaikan resolusi-resolusi Dewan Keamanan, serta karena tidak mematuhi Konvensi Jenewa keempat. Amerika Serikat memveto rancangan resolusi yang akan sangat mengecamnya. Pada 9 Juni, AS kembali memveto sebuah resolusi. Pada 7 November, AS memveto rancangan resolusi ketiga, yang mengecam dugaan pelanggaran hak asasi manusia oleh Israel.

Pada 14 Oktober 1990, Israel secara terbuka menyatakan tidak akan mematuhi Resolusi Dewan Keamanan 672 karena tidak memperhatikan serangan terhadap jemaah Yahudi di Tembok Barat. Israel menolak menerima delegasi Sekretaris Jenderal yang akan menyelidiki kekerasan Israel. Resolusi 673 berikutnya tidak terlalu berpengaruh dan Israel terus menghalangi penyelidikan PBB.

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Kober, Avi, Israel's Wars of Attrition: Attrition Challenges to Democratic States, p. 165
  2. Kim Murphy. "Israel and PLO, in Historic Bid for Peace, Agree to Mutual Recognition," Los Angeles Times, 10 September 1993.
  3. (dalam bahasa Turki) 'Saddam olsaydı İsrail'e dersini verirdi' Diarsipkan 10 July 2015 di Wayback Machine., Zaman
  4. "Profile: Marwan Barghouti" BBC News. 26 November 2009. Accessed 9 August 2011.
  5. 1 2 3 4 5 6 Kober, Avi. "From Blitzkrieg To Attrition: Israel's Attrition Strategy and Staying Power." Small Wars & Insurgencies 16, no. 2 (2005): 216–240.
  6. "uprising by Palestinians against Israeli occupation in the West Bank and Gaza Strip territories." Intifada Diarsipkan 2008-04-03 di Wayback Machine., Microsoft Encarta. Archived Diarsipkan 2017-12-14 di Wayback Machine. 2009-10-31.
  7. The Intifada - An Overview: The First Two Years Diarsipkan 2009-07-12 di Wayback Machine. Diarsipkan 2007-06-06 di Wayback Machine.
  8. Zachary Lockman, Joel Beinin (1989) Intifada: The Palestinian Uprising Against Israeli Occupation South End Press, ISBN 0-89608-363-2 and 9780896083639 p 38

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]