Insiden Pulau Ganghwa
| Pertempuran Ganghwa | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
Marinir Jepang mendarat dari Un'yō di Pulau Yeongjong yang dekat Ganghwa. | |||||||
| |||||||
| Pihak terlibat | |||||||
|
|
| ||||||
| Tokoh dan pemimpin | |||||||
| Inoue Yoshika | Komandan Lee Min-deok | ||||||
| Kekuatan | |||||||
|
Darat: 22 kelasi dan marinir Laut: 1 kapal bermeriam |
Darat: 500 infanteri Artileri | ||||||
| Korban | |||||||
|
1 tewas 1 terluka |
35 tewas[1] 16 tertangkap 36 artileri dan meriam kecil berhasil direbut 1 benteng hancur | ||||||
Insiden Pulau Ganghwa atau Pertempuran Ganghwa Jepang (Korea: 운요호 사건 [雲揚號事件] Unyo-ho sageon berarti "insiden Un'yō"; Jepang: 江華島事件 Kōka-tō jiken) adalah bentrokan bersenjata antara Dinasti Joseon Korea dan Jepang yang terjadi di sekitar Pulau Ganghwa pada 20 September 1875.
Latar belakang
[sunting | sunting sumber]Pada paruh kedua abad ke-19, Semenanjung Korea menjadi ajang perebutan kekuasaan antara beberapa kekuatan kekaisaran, termasuk Rusia dan Prancis, serta Tiongkok dan Jepang.
Restorasi Meiji tahun 1868 mengakhiri Keshogunan Tokugawa yang feodalistis yang telah berusia 265 tahun di Jepang. Pemerintah Jepang yang baru mengutus seorang duta yang membawa sepucuk surat berisi pesan dari sang penguasa yang menginformasikan pembentukan pemerintahan baru Jepang kepada pemerintahan Dinasti Joseon Korea pada 19 Desember 1868.
Namun, pihak Korea menolak menerima surat tersebut karena surat tersebut mengandung aksara Han 皇 ("kerajaan, kekaisaran") dan 勅 (titah kekaisaran").[2] Berdasarkan sistem politik pada saat itu, hanya kaisar Tiongkok yang diperbolehkan menggunakan aksara-aksara tersebut, karena menunjukkan otoritas kekaisaran Tiongkok.[2] Oleh karena itu, penggunaan kedua aksara Han ini oleh seorang penguasa Jepang dianggap tidak dapat diterima oleh Korea karena menyiratkan bahwa dia setara dengan kaisar Tiongkok.[2]
Tiongkok menyarankan kepada Korea untuk menerima surat kedaulatan dari Jepang karena Tiongkok mengetahui kekuatan Jepang pada saat itu.[3] Meskipun perundingan tingkat pemerintah diadakan pada tahun 1875 di Pusan, tidak ada kemajuan substansial yang dicapai. Alih-alih, ketegangan justru meningkat karena Korea terus menolak mengakui klaim kesetaraan Jepang dengan Tiongkok.
Pertempuran di Pulau Ganghwa
[sunting | sunting sumber]
Pulau Ganghwa telah menjadi lokasi konfrontasi sengit antara pasukan Korea dan pasukan asing selama dasawarsa sebelumnya. Pada tahun 1866, pulau ini sempat diduduki semasa ekspedisi militer Prancis terhadap Korea, dan pada tahun 1871 menjadi lokasi salah satu ekspedisi Amerika.
Pada pagi hari tanggal 20 September 1875, Un'yō di bawah komando Inoue Yoshika diberangkatkan untuk menyisir perairan pesisir Korea. Saat menyisir pesisir barat Korea, Jepang menurunkan satu rombongan di Pulau Ganghwa untuk meminta air dan perbekalan.[1] Ketika baterai pantai dari benteng Korea menembaki Un'yō, Jepang merespons dengan cepat dan keras.[1]
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]Sumber
[sunting | sunting sumber]- Duus, Peter (1998). The Abacus and the Sword: The Japanese Penetration of Korea. University of California Press. ISBN 0-52092-090-2.
- Keene, Donald (2002). Emperor of Japan: Meiji and His World, 1852–1912. New York: Columbia University Press. ISBN 0-231-12341-8.
- Jansen, Marius B. (2002). The Making of Modern Japan. Harvard University Press. ISBN 0-6740-0334-9.
- Pertempuran yang melibatkan Jepang
- Pertempuran yang melibatkan Joseon
- Pertempuran laut yang melibatkan Jepang
- Pertempuran laut yang melibatkan Korea
- Imperialisme dan kolonialisme Jepang
- Korea tahun 1875
- Laut Kuning
- Insiden pertempuran
- Ekspedisi hukuman Jepang
- Konflik tahun 1875
- September 1875
- Sejarah militer Samudra Pasifik