Industri 4.0

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Revolusi industri dan pandangan masa depan

Industri 4.0 adalah nama tren otomasi dan pertukaran data terkini dalam teknologi pabrik. Istilah ini mencakup sistem siber-fisik, internet untuk segala, komputasi awan,[1][2][3][4] dan komputasi kognitif.

Industri 4.0 menghasilkan "pabrik cerdas". Di dalam pabrik cerdas berstruktur moduler, sistem siber-fisik mengawasi proses fisik, menciptakan salinan dunia fisik secara virtual, dan membuat keputusan yang tidak terpusat. Lewat Internet untuk segala (IoT), sistem siber-fisik berkomunikasi dan bekerja sama dengan satu sama lain dan manusia secara bersamaan. Lewat komputasi awan, layanan internal dan lintas organisasi disediakan dan dimanfaatkan oleh berbagai pihak di dalam rantai nilai.[1]

Nama[sunting | sunting sumber]

Istilah "Industrie 4.0" berasal dari sebuah proyek dalam strategi teknologi canggih pemerintah Jerman yang mengutamakan komputerisasi pabrik.[5]

Istilah "Industrie 4.0" diangkat kembali di Hannover Fair tahun 2011.[6] Pada Oktober 2012, Working Group on Industry 4.0 memaparkan rekomendasi pelaksanaan Industri 4.0 kepada pemerintah federal Jerman. Anggota kelompok kerja Industri 4.0 diakui sebagai bapak pendiri dan perintis Industri 4.0.

Laporan akhir Working Group Industry 4.0 dipaparkan di Hannover Fair tanggal 8 April 2013.[7]

Prinsip rancangan[sunting | sunting sumber]

Ada empat prinsip rancangan dalam Industri 4.0. Prinsip-prinsip ini membantu perusahaan mengidentifikasi dan mengimplementasikan skenario-skenario Industri 4.0.[1]

  • Interoperabilitas (kesesuaian): Kemampuan mesin, perangkat, sensor, dan manusia untuk berhubungan dan berkomunikasi dengan satu sama lain lewat Internet untuk segala (IoT) atau Internet untuk khalayak (IoP).
    • IoT akan mengotomatisasikan proses ini secara besar-besaran[8]
  • Transparansi informasi: Kemampuan sistem informasi untuk menciptakan salinan dunia fisik secara virtual dengan memperkaya model pabrik digital dengan data sensor. Prinsip ini membutuhkan pengumpulan data sensor mentah agar menghasilkan informasi konteks bernilai tinggi.
  • Bantuan teknis: Pertama, kemampuan sistem bantuan untuk membantu manusia dengan mengumpulkan dan membuat visualisasi informasi secara menyeluruh agar bisa membuat keputusan bijak dan menyelesaikan masalah genting yang mendadak. Kedua, kemampuan sistem siber-fisik untuk membantu manusia secara fisik dengan melakukan serangkaian tugas yang tidak menyenangkan, terlalu berat, atau tidak aman bagi manusia.
  • Keputusan mandiri: Kemampuan sistem siber-fisik untuk membuat keputusan sendiri dan melakukan tugas semandiri mungkin. Bila terjadi pengecualian, gangguan, atau ada tujuan yang berseberangan, tugas didelegasikan ke atasan.

Dampak Industri 4.0[sunting | sunting sumber]

Pengusul mengklaim Industri 4.0 akan mempengaruhi banyak bidang, terutama:

  1. Model layanan dan bisnis
  2. Keandalan dan produktivitas berkelanjutan
  3. Keamanan TI: Perusahaan seperti Symantec, Cisco, dan Penta Security sudah mulai membahas masalah keamanan IoT
  4. Keamanana mesin
  5. Penjualan pabrik
  6. Siklus hidup produk
  7. Industri Manufaktur: Perubahan masal pabrik menggunakan IoT, Pencetakan 3D dan Pembelajaran Mesin
  8. Rantai nilai industri
  9. Pendidikan dan skill pekerja
  10. Faktor sosio-ekonomi
  11. Peragaan Industri: Untuk membantu industri memahami dampak Perindustrian 4.0, Cincinnati Wali kota John Cranley, menandatangani proklamasi untuk menyatakan "Cincinnati menjadi Kota Peragaan Industri 4.0".[9]
  12. Sebuah artikel yang diterbitkan pada bulan Februari 2016 menunjukkan bahwa Industri 4.0 mungkin memiliki efek menguntungkan bagi negara berkembang seperti India.[10]

Industri kedirgantaraan kadang dikatogorikan "terdampak rendah untuk otomasi masal" namun prinsip-prinsip Industri 4.0 telah diselidiki oleh beberapa perusahaan kedirgantaraan, teknologi yang dikembangkan untuk meningkatkan produktivitas di mana biaya awal otomatisasi tidak dijelaskan, salah satu contohnya adalah proyek M4 oleh pabrik komponen penerbangan Meggitt PLC.[11] Diskusi tentang bagaimana pergeseran ke Industri 4.0, khususnya digitalisasi, akan mempengaruhi pasar tenaga kerja sedang dibahas di Jerman dengan topik Pekerjaan 4.0.[12]

Kesiapan Indonesia[sunting | sunting sumber]

Masalah kesiapan perpindahan ke industri 4.0 Indonesia terletak pada SDM dan pemerataan, beberapa sektor industri di Indonesia masih belum mendekati Industri 4.0, contoh saja pada industri agraris, masih ada petani menggunakan cangkul, walaupun beberapa daerah petaninya sudah memasuki Industri 4.0, tidak semua petani menguasai komputer.[13]

Masalah lainnya terletak pada banyaknya penduduk Indonesia yang tidak memiliki SDM memadai, karena diperkirakan dengan masuknya industri ini akan memangkas tenaga manusia dengan kemampuan SDM rendah dan kemungkinan meningkatkan angka pengangguran.[14]

Cara pemerintah mengadapi hal tersebut dimulai dari pembangunan infrastruktur untuk pemerataan distribusi di berbagai sektor dan perombakan kurikulum pendidikan guna menghadapi perkembangan industri ini.[15] [16]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c Hermann, Pentek, Otto, 2016: Design Principles for Industrie 4.0 Scenarios, accessed on 4 May 2016
  2. ^ Jürgen Jasperneite:Was hinter Begriffen wie Industrie 4.0 steckt in Computer & Automation, 19 December 2012 accessed on 23 December 2012
  3. ^ Kagermann, H., W. Wahlster and J. Helbig, eds., 2013: Recommendations for implementing the strategic initiative Industrie 4.0: Final report of the Industrie 4.0 Working Group
  4. ^ Heiner Lasi, Hans-Georg Kemper, Peter Fettke, Thomas Feld, Michael Hoffmann: Industry 4.0. In: Business & Information Systems Engineering 4 (6), pp. 239-242
  5. ^ BMBF-Internetredaktion (21 January 2016). "Zukunftsprojekt Industrie 4.0 - BMBF". Bmbf.de. Diakses tanggal 2016-11-30. 
  6. ^ "Industrie 4.0: Mit dem Internet der Dinge auf dem Weg zur 4. industriellen Revolution". Vdi-nachrichten.com (dalam bahasa Jerman). 1 April 2011. Diakses tanggal 2016-11-30. 
  7. ^ Industrie 4.0 Plattform Last download on 15. Juli 2013
  8. ^ "IOT role in industry 4.0". 19 May 2016 – via TechiExpert. 
  9. ^ "Cincinnati Mayor Proclaimed "Cincinnati to be Industry 4.0 Demonstration City"". Imscenter.net. Diakses tanggal 2016-07-30. 
  10. ^ Anil K. Rajvanshi (24 Februari 2016). "India Can Gain By Leapfrogging Into Fourth Industrial Revolution". The Quint. Diakses tanggal 2016-11-30. 
  11. ^ "Time to join the digital dots" (dalam bahasa Inggris). 22 Juni 2018. Diakses tanggal 25 Juli 2018. 
  12. ^ Federal Ministry of Labour and Social Affairs of Germany (2015). Re-Imagining Work: White Paper Work 4.0.
  13. ^ CNN Indonesia (9 Desember 2018), Wapres JK: Indonesia Belum Sepenuhnya Revolusi Industri 4.0, diakses tanggal 14 April 2019 
  14. ^ Ridwan Aji Pitoko (24 April 2018), Aprillia Ika, ed., Apindo: Revolusi Industri 4.0 Bisa Mengancam Tenaga Kerja Lokal, diakses tanggal 14 April 2019 
  15. ^ Muhammad Choirul Anwar (13 Desember 2018), Fokus Jokowi ke Depan: Realisasikan Revolusi Industri 4.0, diakses tanggal 14 April 2019 
  16. ^ Eduardo Simorangkir (12 April 2019), Hadapi 'Robot', RI Mau Rombak Habis-habisan Kurikulum Pendidikan, diakses tanggal 14 April 2019 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]